Positif Denganmu

Positif Denganmu
ban 34


__ADS_3

Di apartemennya, Sandi yang baru saja selesai mandi sedang berdiri dihadapan kaca yang tingginya sama seperti tingginya dan memakai kemejanya. Ditelinganya tertempel sebuah airpod yang sedang berdenyut menyambungkan sebuah panggilan.


"Lang, kita rapat dulu jm 7 di kantor, baru nanti ke mall. Ada yang harus kita bahas dulu." kata Sandi saat telponnya tersambung, tapi dengan mata yang fokus memperhatikan pantulan dirinya di kaca.


"Oke kalau gitu, gue kabari dulu yang lain" jawab Gilang.


"Oke, terus yang mau bersihin rumah mau datang jam berapa?"


"Katanya mereka udah dijalan"


"Oke"


Panggilan terputus. Sandi kembali melanjutkan aktifitasnya mengenakan kemeja, dasi dan merapikan tampilannya. Setelah itu, dia menuju meja makan dan mengambil sepotong roti yang di olesinya dengan selai dan menyantapnya sambil menunggu orang yang katanya akan membersihkan apartemennya.


Sepotong roti sudah habis, jam ditangan sudah jam hampir setengah 8 tapi yang ditunggu tak datang juga. Sandi pun memutuskan untuk tetap berangkat ke kantor dan meninggalkan sebuah catatan.


"Meja kerja jangan diberesin, biarin begitu!"


Sandi pun berjalan dengan langkah cepatnya keluar dari apartemen dan turun menaiki lift, apartemennya ada di lantai 8. dan kemudian langsung menuju parkiran mobil dan menaikinya untuk berangkat kekantor.


Sandi baru saja naik kedalam mobilnya saat mobil yang dikendarai Kila baru saja sampai disana dan diparkir tak jauh dari mobil Sandi terparkir.


"Sebentar, liat alamatnya dulu" kata Kila mengecek ponselny untuk memastikan alamat apartemen yang harus mereka bersihkan.


"Lantai 8, nomor 3" gumamnya yang bisa didengar Tara.


"Oke, lets go,," Kila mengajar Tara untuk turun dari mobilnya.


Tara dan Kila baru saja turun dari mobil dan menutup pintunya. Tepat saat itu, mobil Sandi baru saja melewatinya.


Tanpa keduanya tahu, Tara dan Sandi baru saja berpapasan. Kaca mobil Sandi yang hitam tak memungkinkan seseorang dari luar bisa melihat dalam. Sedangkan Sandi, yang sudah terburu - buru hanya fokus pada jalan didepannya tak menoleh kearah lain.


***


Tara dan Kila masuk kedalam apartemen. Mereka sudah menaiki lift dan sekarang ada dilantai 8. Kila yang berjalan didepan memperhatikan satu persatu pintu yang didepannya tertempel nomor masing - masing unit. Hingga langkahnya pun berhenti saat sudah berada didepan apartemen yang pintunya tertulis nomor 3.


"Lah ini," kata Kila lalu menekan bel yang ada disampingnya.


ting tung ...

__ADS_1


ting tung ...


ting tung ...


"Kok gak ada?" Kila bertanya - tanya.


"Masih tidur kali, coba pencet lagi"


ting tung ...


ting tung ...


"Mungkin udah peegi kerja kali Kil" komentar Tara.


"Bentar, aku telpon dulu"


Tut .... tut....


"Eh, gue udah dilokasi nih, tapi orangnya gak ada" Kata Kila ke Gilang yang ada di ujung telpon.


"Udah berangkak kayaknya, soalnya emang kita ada meeting pagi. Bentar ya tunggu, gue telpon dulu"


"Oke"


"He'e, ada meeting katanya." Kila ikut bersandar juga.


Beberapa saat menunggu. Ponsel Kila berbunyi. Pesan dari Gilang masuk yang menunjukkan sandi pintu apartemen.


"170892" ucap Kila sambil mengusap lalu menekan tombol pada gagang pintu sesuatu yang dari Gilang.


"Eh, kok kayak tanggal lahir kamu ya Tar?" Kila yang sadar lantas berkomentar.


"Masak?"


"He'e, 170892. 17 agustus 1992, kayaknya sama deg tanggal lahir kamu sama yang punya ini apartemen"


"Ha, iya, jodoh kali aku sama dia" ucap Tara iseng.


"Kalau jodoh beneran, asik gak tuh, kamu bisa langsung tinggal di apartemen mewah, terus jadi nyonya besar" Kila yang menanggapi, sambil masuk kedalam dan melebarkan tangannya berputar.

__ADS_1


"Iya, terus gak taunya dia udah punya istri sama anak, habislah aku bukan jadi nyonya besar tapi jadi nyonyor gara - gara digebukin."


Tara dan Kila kemudian tertawa bersama. Tapi tawa itu terhenti ketika sadar apa yang harus mereka benahi. Semua barang masih ada didalam kardus, sementara sofa hanya pertumpuk disatu sisi. Begitu juga dengan lemari dan bupet - bupetnya.


"Kayaknya nasibku bukan jadi nyonya besar deh Kil, tapi jadi pembantunya si nyonya besar" keluh Tara dengan mata yang syok.


"Asyeemmm, dasar si Gilang, katanya cuma beres - beres biasa gak taunya masih belum apa - apa"


Keduanya kemudian menarik nafas bersama. Dan juga membulatkan tekat bersama menyelesaikan misi sebagai jasa pindahan.


"Oke, lets go! huuff!!!" Kila yang menghembuskan nafasnya keatas sampai poninya terangkat sementara Tara hanya mengikat rambutnya yang panjang agar bisa lebih fokus.


Keduanya kemudian mulai bersih - bersih. Dimulai dari ruang tamu yang ditata lebih dulu dan kemudian keruang tengah. Butuh waktu hampir 4 jam untuk membersihkan kedua tempat itu. Masih ada dapur, 2 kamar dan juga balkon yang harus mereka kerjakan. Tapi karna sudah hampir jam 1 dan waktunya makan siang, Tara dan Kila pun berhenti sejenak istirahat.


"Huft, gila demi 5 juta apapun kulakukan" gerutu Kila yang kesal sendiri sambil menghempaskan tubuhnya disofa ruang tengah yang kemudian diikuti Tara disampingnya merebahkan dirinya kesisi yang lain.


"Aku bilang apa kemarin, gak mungkin juga orangnya mau ngasih 5 juta secara cuma - cuma" omel Tara yang serasa sudah tak bertenaga.


"Eh, udah jam 12 lebih, waktunya jemput Randi Kil," Tara reflek bangun karna ingat anaknya.


"Aku yang jemput, sekalian aku beli makan. Kamu disini aja terusin kerjaannya, oke?"


"Enggak ah, aku jemput sendiri aja. Kamu yang disini"


"Eh, enggak gak bisa, kalau kamu yang jemput pasti lama pakai ojol pakai angkot gak kelar - kelar. Kamu disini terusin kerjaannya, yang nurut sama bos" Kila tak mau kalah.


"Huh, menyalah gunakan kekuasaan mulu, lama - lama kalah bos mafia sama kamu" Tara dengan wajah masamnya.


"Ingat ini dibayar 5 juta jadi harus kerja yang bener, oke? dan aku berangkat dulu, jangan khawatir aku bawain makanan ntar pulangnya, bye ... selamat bekerja.." Kila dengan sikap menggodanya yang dibuat - buat sampai Tara sebel sekali.


"Dasar, gila!" umpat Tara sambil mengerlingkan mata yang ditanggapi dengan tawa terbahak - bahak karna puas.


Sepeninggalan Kila menjemput Randi dan membeli makan. Tara pun melanjutkan pekerjaannya. Kali ini Tara masuk ke dalam kamar utama tempat tidur Sandi. Didalam kamar terdapat 3 koper besar berisikan baju dan juga 1 buah kardus besar berisi buku dan juga dokumen serta beberapa barang seperti dadi, jam tangan dan aksesoris lainnya.


Satu persatu Tara membenahi semua barang - barang itu. Menata dokumen / buku pada rak yang ada didalam kamar, membersihkan kasur dan meja, menata rapi semua aksesoris dan membereskan baju dari dalam koper.


1 jam bersih - bersih dikamar, Tara pun berhasil menyelesaikan semuanya. Kamar sudah terlihat rapi dan lantai juga bersih. Puas dengan hasilnya dia kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Huft, tinggal dapur sama balkon" gumamnya sendiri.

__ADS_1


Aroma wangi parfum mulai terdengus dihidungnya. Aroma wangi yang mirip seseorang yang tak bisa hilang dari ingatannya. Tara mendekatkan wajahnya kesprei kasur dan lantas terkesiap. Dia reflek bangun dari posisinya yang sedang tiduran dan bergegas ke lemari untuk menciumi aroma pada bajunya. Aromanya benar - benar mirip sekali dengan aroma parfum dan badan Sandi.


Tara kembali berwajah sendu. Sekelebat ingatan muncul dalam benaknya. Rindu sekaligus benci.


__ADS_2