
Jam 1 siang, bel pulang sekolah berbunyi. Para siswa mulai mengemasi barang - barangnya lalu berdoa bersama. Setelah itu, semuanya secara bergantian bersalaman pada Pak Danu dan kemudian keluar sekolah.
Randi yang baru saja keluar dari kelasnya, tanpa sengaja menangkap sosok Sofia yang berada di dibangku depan kelasnya. Sofia saat itu terlihat sibuk mengerjakan sesuatu. Padahal seharusnya dia sudah pulang mengingat jam pulang kelas 1 adalah jam 11.
"Sofia..." sapa Randi yang berjalan mendekat, membuat Sofia menoleh kearahnya dan berdiri menyambut kedatangan Randi dengan riang.
"Kak Randi. Kak Randi mau pulang?"
"Iya aku mau pulang, kamu kok belum pulang? Apa masih belum dijemput?"
"Iya, aku belum dijemput. Kak Randi udah dijemput?"
"Belum."
"Kalau gitu, Kak Randi temenin Sofia, ya? Sofia lagi ngerjain PR." Sofia duduk kembali dan membungkuk untuk menulis jawaban dibukunya yang di ikuti Randi, duduk disamping menghadap Sofia.
"Sofia, ini kamu salah semua" kata Randi yang tadi memperhatikan sejenak buku Sofia yang tulisannya acak - acakan dan jawaban banyak yang salah.
Sofia menatap Randi dengan pandangan polos tak mengerti sementara Randi membuang nafasnya kasar karna paham maksud dari tatapan Sofia.
"Sini" Randi menggeser buku Sofia dan kemudian menghapus semua jawaban yang sudah disalin Sofia sampai bersih.
"Aku ajarin ya, coba kamu baca dulu soal nomor 1"
"Yang ini ya Kak?" tanyanya sambil menunjuk soal yang dimaksud.
"Iya"
Sofia menggeser bukunya kembali dan mulai membacanya.
"Sebelum pulang, Udin melihat penjual donat.Udin membeli 3 buah donat cokelat. Udin juga membeli 5 buah donat keju. Berapakah jumlah donat yang udin beli?" baca Sofia dengan terbata - bata.
"Berapa hayo jumlahnya? Udin beli 3 donat. Terus beli lagi 5. Jadi 3 + 5 \=?" Randi sambil mencontohkan agar Sofia mengerti.
"Emmmm..." Sofia berfikir. "8?"
__ADS_1
"Iya betul ada 8, jadi jumlah donat yang dibelu udin ada 8" jelas Randi dan Sofia manggut - manggut.
"Oh gitu ya" Sofia yang kemudian menulis jawabannya dibuku.
"Haduh Sofia, kalau nulis jangan gitu, yang kecil - kecil didalam kotaknya, Sebentar sini .." Randi kembali menarik buku Sofia dan memberikan contoh lagi. "Lah, seperti ini biar rapi"
Tanpa bersuara Sofia kemudian mengikuti arahan dari Randi. Dan setelah selesai dia menatap Randi menunggu hasil dari pekerjaannya.
"Lah gitu, bisa kan?" tanya Randi yang dijawab anggukan. "Sekarang yang nomor 2, dibaca dulu soalnya terus jawabannya nanti ditulis disini"
Randi pun mengajari Sofia dengan telaten. Saat Sofia melakukan beberapa kali kesalahan dia juga sedikit marah tetapi kemudian langsung memakluminya. Ditengah kesibukan keduanya. Tara sudah datang menjemput Randi dan kemudian menghampiri keduanya yang sedang duduk didepan kelas.
"Bunda..." sapa Randi yang melihat kedatangan Bundanya, sementara Tara tersenyum membalas sapaan anaknya dan mengelus sebentar rambutnya.
"Ini lagi ngapain?" tanya Tara pada keduanya.
"Aku lagi ngerjain PR" saut Sofia yang melirik sejenak pada Tara dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Aku lagi ajarin Sofia Bunda." saut Randi juga. "Bunda, Bunda, Bunda tahu gak, Sofia ini ternyata bodoh Bunda, masak 3+ 5 dia gak bisa" bisik Randi agar Sofia tak mendengar.
"Tapi memang bener Bunda, sudah diajari beberapa kali dia gak ngerti - ngerti"
"Iya kan memang begitu, mangkannya Bunda bilang, kalau sering belajar pasti pinter tapi kalau jarang belajarnya atau gak pernah belajar pasti gak pinter. Jadi kamu gak boleh ngatain orang kayak gitu, kalau orangnya tahu nanti tersinggung gimana?" Tara yang mencoba menasehati anaknya.
"Iya Bunda maaf" jawab Randi menyesal dan sedikit menundukkan wajahnya. Sedangkan yang dibicarakan tetap tenang mengerjakan PRnya.
"Oh iya, ini kamu kok belum pulang?" tanya Tara yang tersadar karna sekolah sudah sepi pada Sofia.
"Sofia belum dijemput" jawab Sofia.
"Belum dijemput?" Tara mengernyit, setahunya anak kelas 1 pulangnya jam 11 sedangkan sekarang sudah jam 1. "Terus kamu tahu kenapa kok masih belum dijemput?" Yang dijawab oleh Sodia dengan mengangkat bahunya.
Tak dapat jawaban, Tara jadi sedikit khawatir mengingat sekarang sekolah sudah sepi dan kasus penculikan anak juga sedang parah kalau dengar berita.
"Sofia punya nomor mama atau papa atau omanya yang bisa dihubungi? biar Tante telpon terus biar Sofia cepet dijemput"
__ADS_1
"Aku gak punya, biasanya Pak guru yang telponin Oma" jawab Sofia polos.
"Oh ya udah kalau gitu, Tante ke ruang guru dulu ya"
Tara pun berjalan menuju ruang guru. Sesampainya disana ruangan gurunya sudah sepi tak ada seorang pun. Pintunya juga sudah tertutup rapat. Di bagian papan pengumuman terdapat sebuah kerras tertempel yang memberitahu kalau guru sedang ada meeting diaula pertemuan.
"Huft..." Tara menghembuskan nafasnya keras.
Jam di tangannya sudah menunjukkan 1.40 sore. Tara harus kembali ke butik tapi tak mungkin. Dilihatnya Sofia dan Randi dari tempatnya berdiri yang masih sibuk mengerjakan PR. Tak ada pilihan lain, Tara pun menghampiri keduanya.
"Sofia, pak guru dan bu guru lagi rapat jadi Tante gak bisa tanya. Jadi sekarang dari pada disini sendirian, kamu ikut tante sama Kak Randi ke cafe depan sana ya. Belajarnya disana biar lebih nyaman sambil makan es cream sampai yang jemput datang, oke?" kata Tara sambil membantu gadis kecil itu mengemasi buku - bukunya.
"Es cream?? Sofia diajak tante?" Tanya Sofia lagi.
"Iya" jawab Tara.
"Yyyyeeee, bisa makan es cream sama Kak Randi..." Sofia meloncat - loncat kegirangan begitu pula dengan Randi yang disamping.
Tara, Randi dan Sofia duduk diberanda cafe. Tara memang sengaja memilih beranda agar kalau ada yang menjemput Sofia dia bisa langsung tahu. Disana mereka menikmati es cream dan beberapa camilan lainnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 pas saat Tara akhirnya melihat sebuah mobil mewah tampak berhenti di depan sekolah. Tampak juga seorang wanita paruh baya baru daja keluar mobil dan berjalan ke dalam sekolah.
"Sofia, itu bukan yang jemput kamu?" tanya Tara sambil menunjukkan mobil yang parkir di depan gerbang sekolah.
"Iya itu Oma, tante"
"Ya udah kalau gitu, sekarang cepet beresin terus kita kesana ya" Tara membantu berkemas. "Ran, bantuin masukin bukunya Sofia"
"Iya Bunda..." jawab Randu.
Randi, Sofia dan Tara kembali kesekolah.
"Omaaa.... " teriak Sofia memanggil sosok wanita paru baya yang berdiri didepan kantor sambil berlari menghampirinyaz
"Sofia, dari mana saja Oma bingung carinya ..." jawab Bu Yanti, wanita paru baya tersebut yang menyambut kedatangan cucu tercintanya.
__ADS_1