Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 70


__ADS_3

Esoknya, berita tentang penangkapan Sasa menjadi headline di TV. Hampir semua chanel selalu menayangkan berita tentang Sasa dan juga wiraka grup. Bahkan di twitter dan IG juga rame. Para nitizen berlomba - lomba berkomentar maupun menghujat, sampai akhirnya menjadi tranding topik.


***


Pagi itu. Seolah kehidupan baru akan dimulai. Tara dan Randi berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan riang gembira. Saat itu, keduanya hendak menjenguk seseorang yang sekarang sedang terbaring disalah satu kamar vvip yang ada disana.


"Papa..." seru Randi memasuki ruangan vvip tempat Sandi dirawat. Sambil berhambur menghampiri ayahnya.


"Hai, sayang ..." saut Sandi sumringah melihat kedatangan sang anak, tapi sepertinya tak digubris karna pekikan dari sang ibu.


"Randi... sayang ..." pekik Bu Yanti menyambut Randi. Dan langsung memeluknya.


"Randi, kamu gak apa - apa kan? kamu gak terluka kan? Oma khawatir sama kamu."


"Iya, Oma, aku gak apa - apa."


"Beneran, kan kamu gak apa - apa? Oma khawatir sekali sama kamu, nak." Bu Yanti memeluk Randi beberapa kali, melampiaskan rasa rindu juga khawatirnya. "Syukurlah kalau kamu gak apa - apa, Oma bisa lega."


Tak berselang lama dari Randi yang masuk. Terdengar kembali suara gagang pintu dibuka. Dimana suara itu mengalihkan perhatian beberapa orang yang sedang ada didalam.


"Tara ..." Lagi - lagi Bu Yanti berseru heboh.


"Ya Tuhan, Tara ... lihat wajah kamu. Kenapa lebam semua?" ucap Bu Yanti dengan nada khawatir sembari menyentuh wajah Tara. Sementara Tara jadi kikuk.


"Enggak kok bu, ini gak apa - apa." jawab Tara lirih.


"Jangan bilang gak apa - apa! Ini jelas - jelas pasti sakit." pekik Bu Yanti.


"Sekarang, ayo kamu ikut mama, kita periksa ke dokter dulu, biar lukamuitu bisa cepet sembuh." Bu Yanti mencoba menggiring Tara untuk mengikutinya.


"Bu, gak usah bu, saya gak apa - apa." tolak Tara.


"Kamu tahu kan kalau mama ini gak suka sama kata tidak sama enggak? Jadi, kamu jangan bilang enggak. Pokoknya kamu harus ikut mama." kata Bu Yanti tegas kembali menyeret Tara keluar ruangan. Sementara Sandi yang memperhatikan tersenyum bahagia. Ibunya itu memang perhatian.


"Randi, sini kamu sama papa, papa mau tahu kondisi kamu hari ini." panggilnya kemudian pada sang anak.


Beberapa saat kemudian. Tara dan Bu Yanti kembali ke kamar Sandi. Saat itu, ditangan Tara sudah memegang kantong plastik berisi obat untuk wajahnya.


"Sini, kamu duduk sini, mama olesin salepnya." kata Bu Yanti pada Tara agar duduk didekatnya.


"Gak apa - apa bu, nanti aja, biar saya oles sendiri."

__ADS_1


"Udah, sini kamu jangan suka membantah. Kok kayak Sandi aja. Sukanya ngebantah mama terus..." tukas Bu Yanti sembari membuka obat dan menyemprotkannya sedikit di telunjuk tangannya. Hingga membuat Tara tak bisa menolak lagi.


"Mama pelan - pelan. Kalau sakit kamu bilang,." Ucapnya lagi yang sekarang sudah sambil mengolesi semua luka diwajah Tara dengan lembut. Sementara Tara yang diperlakukan seperti itu, sedikit canggung tapi juga merasa bahagia.


"Udah. Ini kamu simpen nanti bisa kamu olesin lagi, biar cepet sembuh." seru Bu Yanti membereskan obatnya dan kemudian beranjak dari duduknya.


"Ma, mama ..." seru Sandi pada sang ibu agar segera mendekat.


"Iya, ada apa San? lukanya sakit lagi?" tanya Bu Yanti mendekat pada anaknnya dan Sandi langsung memberi kode dengan sedikit bergumam.


"Mama cepet pulang sana." gumam Sandi.


"Apa? mama gak denger."


"Mama cepet pulang sana sama Randi." gumamnya lagi.


"Kamu kalau ngomong yang kenceng dong." celetuk Bu Yanti, malah membuat Sandi jadi kesal. Terlebih saat itu Tara dan Randi sedang memperhatikan.


Sandi jadi frustasi. Dia kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan kasar. Sambil sekali lagi merengutkan wajah dihadapan sang ibu.


"Oh, iya, iya ..." seru Bu Yanti akhirnya paham setelah melihat ekspresi frustasi Sandi.


"Ran, kamu ikut oma, ya ...oma mau jemput Sofia. Kamu mau, kan?" seru Bu Yanti membalikkan badan dan merangkul Randi.


"Oke, kalau gitu. Tar, tolong kamu jagain Sandi dulu ya hari ini. Mama soalnya masih harus jemput Sofia. Terus Randi biar mama bawah juga. Nanti biar main sama Sofia. Jadi kamu gak usah kepikiran." kata Bu Yanti pada Tara. Dan kemudian bergegas pergi meninggalkan Tara dan Sandi berdua.


Setelah kepergian Randi. Suasana kamar berubah sepi. Kedua orang itu terlihat canggung. Tara berusaha biasa saja. Dia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sementara Sandi mencuri pandang pada Tara, sambil berfikir cara mencairkan suasana.


"Aduh ..." Sandi mengadu, berpura - pura kesakitan sambil memegang luka bekas sayatan di perutnya.


"Kenapa Mas?" tanya Tara yang terpedaya sampai mendekati Sandi.


"Sakit, aduh ..." seru Sandi berekting. "Aduh ..."


"Apa sakit banget?" tanya Tara dan Sandi mengangguk.


"Aku panggilin dokter, ya?"


"Enggak, enggak, gak usah." tolak Sandi masih dengan mood ekting.


"Tapi kalau sakit gitu gimana?"

__ADS_1


"Enggak, gak apa - apa. Aku bisa tahan."


"Aku panggilin dokter aja, ya?" Dan Tara hendak melangkah pergi, tapi tangannya diraih oleh Sandi.


"Jangan, gak usah. Ini udah baikan." kata Sandi yang tiba - tiba sembuh dengan sendirinya.


"Mas, pura - pura ya?" Tara mengernyit.


"Enggak, siapa yang pura - pura. Emang tadi sakit kok."


"Jangan bohong!." dengus Tara.


"Siapa yang bohong. Aku gak bohong. Kalau aku bohong ngapain aku merintih tadi."


"Ya biar aku percaya."


"Ya memang kamu harus percaya. Masa kamu gak percaya sama aku."


"Iya, aku gak percaya. Soalnya Mas Sandi tukang bohong!." jawab Tara cepat sambil melengos dan kemudian menghempaskan dirinya ke sofa kembali.


Melihat Tara yang ngambek seperti itu, Sandi jadi tertawa kecil. Wanita dihadapannya ini sungguh menggemaskan. Sampai membuatnya tak sadar saat membalik posisinya malah menindih perutnya yang sedang terluka.


"Ahhhh ..." seru Sandi kesakitan tiba - tiba. Tapi Tara tak peduli.


"Ahhhh ... " desahnya lagi, menahan sakit.


"Gak usah ekting!" dengus Tara.


"Ahhhh ... kalau ini sakit beneran, cepet panggilin dokter."


Tapi Tara tak percaya. Dia malah memalingkan muka dan asik main hp.


"Tar, cepet Tar, keluar darah ini ..." desah Sandi.


"Hah?" Tara melonjak kaget dan mendekat ke Sandi. Ternyata memang benar. Luka Sandi kembali terbuka dan mengeluarkan darah lagi.


Tara bergegas keluar dan kemudian datang bersama dokter. Dokter itu langsung memberi tindakan. Dia membersihkan dan menjait ulang luka Sandi. Dan setelahnya pamit pergi.


"Huft!." Sandi bernafas lega.


"Mangkannya jangan suka bohong, akhirnya kemakan karma kan? Rasain!." Tara mencebik.

__ADS_1


"Kamu kalau sewot gitu jadi cantik ..." goda Sandi, sambil tersenyum manis.


"Udah tahu! gak usah diomongin!." dengus Tara sambil mencebik, entah kenapa membuat Sandi jadi bahagia. Rasanya, kini Tara sudah benar - benar membuka hati untuknya.


__ADS_2