
Sandi duduk didalam mobilnya. Jemarinya sibuk mengotak - ngatik hp Tara, mengusap layarnya mencari nama Kila pada kontak yang tersimpan. Setahunya, Kila adalah orang yang paling dekat dengan kekasihnya. Kemana - mana selalu dengan Kila dan apa - apa selalu Kila. Jadi seandainya bisa berbicara dengan Kila, kemungkinan besar dia akan tahu dimana keberadaan Tara saat ini.
tut ... tut ... tut ...
"Halo, Kila?" Sandi mengawali telponnya, dengan harapan tinggi.
"Iya hallo"
"Kil, boleh tanya? Tara ada dimana ya?"
"Ini siapa ya? Apa ini yang nemuin hpnya Tara?" tanya Kila, tak menyangka dapat telpon dari nomor Tara yang katanya sudah dibuang.
"Kil, ini aku Sandi pacarnya Tara, Kil kamu tahu Tara dimana?"
"Hah? sorry, sorry, tadi kamu bilang siapa?" Kila memastikan lagi.
"Aku Sandi Kil, pacarnya Tara. Kil, kalau boleh ..." Ucapan itu tak diteruskan karna tiba - tiba panggilannya direject.
"Lo kok?" Sandi menatap hpnya sambil mengernyit heran kenapa tiba - tiba telponnya direject?.
Penasaran, dicobalah lagi. Tapi lagi - lagi direject dan akhirnya diblokir.
"Huft!!" Sandi menghela nafas kasar.
Tak kehilangan akal, Sandi lantas menghubungi yang lain. Kali ini pilihannya hanya ada Mas Ilham atau Mbak Desi yang pasti akan tahu keberadaan Tara.
tut ... tut ... tut ...
"Hallo..." Suara Mas Ilham akhirnya terdengar.
"Hallo. Mas Ilham?" kata Sandi berusaha sesopan mungkin.
"Iya saya Ilham. Ini ngomong - ngomong kok nomor adikku ya? Ini apa kamu yang nemu hpnya? karna kemarin anaknya bilang kalau hpnya hilang"
"Iya Mas ini nomornya Tara, kemarin ada yang nemuin hpnya terus dikasih aku"
"Oh, iya, iya, syukur kalau gitu ada yang nemuin, jadi gak perlu beli lagi. Oh iya namamu siapa? terus gimana caranya kalau saya mau ambil hpnya?"
"Em, Mas, saya Sandi pacarnya Tara. Mas, kalau boleh tahu Tara dimana ya?"
"Pacar? kamu bilang pacarnya Tara?" Mas Ilham mulai meradang.
"Iya Mas, saya pacarnya. Mas, maaf kalau boleh tahu .." Sandi yang sudah gugup semakin gugup ketika omongannya dipotong.
"Pacar? Kamu pacarnya? kamu bilang pacarnya?!" Mas Ilham semakin murka. "Aku peringatkan ya. Kamu, jangan pernah temui adikku lagi. Jangan pernah dekat - dekat lagi dan jangan pernah menghubunginya lagi. Sudah cukup kamu menyakiti dia, dan aku gak akan membiarkannya lagi. Bangsat!!"
Deg. Perkataan Mas Ilham menohok perasaan Sandi. Sandi langsung menciut. Pikirannya semakin gelisah tak disangkahnya dia malah mendapatkan sebuah peringatan dari kakak kandung orang yang dicintainya.
'Apa yang sebetulnya sudah terjadi hingga orang - orang dekat Tara juga ikut membencinya. Apa benar karna gosip yang sedang beredar tentangnya' batin Sandi.
__ADS_1
Tak mau berlama - lama lagi. Sandi kemudian memacu mobilnya kencang pulang kerumah agar bisa segera menanyai Mita.
Sandi memarkin mobilnya tetap di depan pintu rumah. Dengan sedikit berlari Sandi menaiki tangga dan membuka pintu kamar adiknya. Saat itu, Mita sedang bermain game, dengan headset ditelinganya, jadi tak memperhatikan Sandi yang masuk kedalam kamarnya.
"Aduh, Mas Sandi!" seru Mita geram, karna headset yang sedang dipakainya ditarik paksa oleh Sandi.
"Mit, kamu tahu gosip yang beredar tentang Mas Sandi?" Sandi to the point, tak mengidahkan seruan Mita.
"Gosip apa?" lirik Mita sebel, mengenakan kembali headsetnya tak memperdulikan kakaknya.
"Mit, Mas Sandi serius!" hardik Sandi tiba - tiba dengan muka masam, membuat Mita melirik dan melepas kembali headsetnya.
"Gosip apa?" jawab Mita merengut.
"Gosip Mas Sandi yang katanya mau nikah bulan depan"
"Oh, itu, iya kenapa?"
"Jadi beneran ada gosip kayak gitu?"
"Iya, ada, rame banget malah dikampus"
Sandi menautkan kedua alisnya, minta penjelasan lebih.
"Semua pada ngomongin keluarga kita, gara - gara 2 pabrik yang ada di bandung sama jogja dijual. Dikiranya kita beneran bangkrut gara - gara jual pabrik itu. Terus karna kemarin papa kerjasama lagi sama wiraka dikiranya demi perusahaan Mas Sandi balikan sama Sasa terus cepet - cepet nikahin dia"
"Terus?" Sandi mendengarkan dengan seksama.
"Ya terus kamu gak ngeralat gosip itu gitu? biar gak semakin aneh?" dengus Sandi kesal sendiri.
"Ya buat apa Mas, udah aku coba sekali tapi mereka gak peduli. Jadi biarin aja. Toh nantinya juga muncul kebenaran dengan sendirinya" jawab Mita merengut.
"Aiiisshhh... kamu!" Sandi gregetan.
"Apaan sih!" Tara ikut geram memberikan lirikan tajam.
"Terus, sekarang kamu tahu kabar Tara?" akhirnya Sandi bertanya.
"Tara?" Mita mengernyit. "Kenapa tanya Tara? apa hubungannya sama Tara?" Mita curiga.
"Udah jawab aja!"
Mita tak bergeming, hanya menatap Sandi dengan pandangan menyelidik.
"Mit!" pekik Sandi.
"Tara, DO. Katanya mau pindah keluar kota" Mita akhirnya menjawab.
"Pindah? kapan?"
__ADS_1
"Mana ku tau ..."
Sandi mengusap wajahnya kasar. Kini di benar - benar sudah tak ada harapan lagi.
"Tapi Mas, kayaknya ada yang aneh deh"
"Aneh? aneh kenapa?"
"Ya aneh tiba - tiba udah semester akhir terus DO habis itu pindah keluar kota. Soalnya waktu itu aku sempet lihat, Tara bawah tespek terus ditespeknya ada 2 garis"
Sandi langsung terpengarah terkejut. Cerita Mita benar - benar membuat jantungnya serasa berhenti. Sejenak Sandi tak bereaksi hanya mengusap wajahnya kasar dengan beberapa kali menelan ludah.
"Jadi, maksudmu sekarang dia lagi hamil?" tanya Sandi ingin memastikan.
"Iya, kayaknya."
Dapat jawaban pasti dari mulut adiknya. Tanpa permisi Sandi langsung bergegas berlari ke mobil. Ditengah langkah cepatnya, Sandi mencoba menghubungi Mas Ilham lagi tapi ernyata sudah diblokir.
"Aaaiiissshhh!!" dengusnya ditengah langkah kaki yang menuruni tangga rumah.
Didalam mobil, merasa sudah tak bisa menghubungi orang - orang terdekat. Sandi pun mengacak nomor kontak yang ada. Sekenanya dia telpon dan dia tanyai alamat rumah Tara dengan alasan akan mengembalikan ponsel Tara yang dia temukan ini.
'Dapat' batin Sandi sedikit mengurangi rasa frustasinya. Salah satu teman Tara terkecoh dan memberikan informasi dimana tempat tinggal pacarnya.
Mobil dijalankan dengan kecepatan tinggi menyalip dari kanan dan kiri tanpa peduli nyawa bisa melayang kapan saja asal bisa segera bertemu dengan sang pacar.
Sandi turun dari mobilnya sambil memastikan kebenaran alamat yang sudah didapatnya dari salah satu teman Tara. Setelah pasti benar, Sandi lantas mengetuk gerbang besi dihadapannya dengan kunci mobil.
tek ... tek ... tek....tek...
"Tar, Tara ..." Sandi mengencangkan suaranya agar bisa didengar oleh pemilik rumah.
tek ... tek ... tek ...tek
"Tar, please keluar Tar ..." serunya lagi membuat tetangga samping malah keluar.
"Orangnya udah gak ada dek, Baru aja pindah kemarin" timpal ibu - ibu tetangga samping rumah itu.
Jleb. Seketika hati Sandi runtuh.
"Udah pindah bu?" tanyanya dengan wajah kecewa. "Kalau boleh tahu, pindah kemana ya bu?"
"Gak tahu ya kemana, ke surabaya apa ke sulawesi ya? Eh, sumbawa kayaknya" katanya asal nyeplos.
"Oh, udah bu, kalau gitu, makasih bu" kata Sandi dengan yang kembali bergetar.
Sandi berjalan lunglai masuk dalam mobil. Matanya terlihat gusar dan wajahnya jelas sangat kecewa. Kali ini dia benar - benar down setelah tau Tara benar - benar pergi.
"Aaarrrgggghhh!! erangnya geram memukul - mukul stir mobil didepannya sekuat tenaga.
__ADS_1
"Aaarrrrggggghhhhhh!!!!"
Tak kuasa menahan perasaannya. Dengan nafas tersengal - sengal, Sandi mulai menangis pilu.