
"Bunda, coba liat ini," Randi menunjukkan sebuah boneka dengan riang kehadapan Bundanya. "Ini tadi aku berhasil main bineka capit Bunda, cuma sekali langsung dapat Bunda."
"Wah, hebat dong kamu. Coba tante liat." Sasa yang malah menyauti perkataan Randi, sembari meraih boneka itu dari tangan Randi. "Ini boneka dolphin kan?"
Randi mengangguk dan menatap Sasa yang tiba - tiba nyamber ditengah obrolannya. Wajahnya heran dengan wanita dihadapannya itu. Baru pertama kali ini dia bertemu wanita yang terlihat gaya di mata Randi.
"Ran, kamu masuk kedalam, ya ..." pintah Tara pada Randi yang langsung dituruti tapi dengan pandangan mata yang masih belum lepas dari Sasa, yang tersenyum manis padanya.
Setelah Randi masuk. Tara kemudian membalikkan badannya lagi dan menatap Sasa kembali.
"Anakmu sudah besar ya sekarang. Selain itu, dia juga tampan." celetuk Sasa yang seolah sibuk memilih baju, tapi tatapannya seolah jijik pada baju - baju tersebut.
"Oh, iya, gimana kabar kamu selama ini? baik, kan?" katanya lagi, yang kali ini kembali menatap Tara.
Tara tak bergeming. Dia juga diam, menatap menahan emosi dengan ******* ujung rok yang sedang dikenakan.
Seutas senyum seringai kembali dilontarkan dibibir Sasa yang berwarna merah lekat.
"Jangan tegang gitu ah, gak seru!" ucapnya dengan nada mengejek.
"Oh, iya. Kamu masih inget kan soal ucapanku waktu itu?" Sasa melangkah mendekati Tara dengan sikap mengintimidasi. "Itu, masih berlaku ya, sampai sekarang." bisiknya kemudian ditelinga Tara yang setelahnya diselipi tawa jahat.
Jelas saja Tara jadi geram. Dia pun menatap tajam Sasa. Tangannya semakin mengencangkan rematan pada ujung roknya. Berusaha tetap tenang dan tak peduli.
"Dan satu lagi. Sekedar info. Sandi juga ada di kota ini. Jadi aku harap kamu bisa siap - siap. Kemasi barang - barang kamu dan tolong pergi yang jauh lagi, oke..."
Usai memberi ancaman lagi. Sasa lantas melenggang pergi. Dikala Sasa baru saja melangkah keluar. Kila baru saja masuk ke butik. Membuat keduanya jadi berpapasan tanpa Kila tahu kalau itu adalah Sasa.
"Weesss... ckckckck gila." decaknya sendiri, memperhatikan Sasa dari atas sampai kaki. Dimatanya Sasa pastilah orang kaya, karna seluruh tubuh Sasa yang dipenuhi barang branded.
Tapi kemudian wajahnya langsung mengernyit ketika mendapati wajah Tara yang tampak menahan emosi. "Kamu kenapa?"
Tara mengatur nafasnya sebelum menjawab. Tangannya menyentuh dada agar lebih cepat dinetralisir. Sementara Kila masih mengernyit menunggu jawaban Tara.
__ADS_1
"Bunda," seru Randi baru saja keluar dari ruang belakang, dan kelihatannya Randi sejak tadi memperhatikan bundanya yang mengobrol dengan Sasa. "Tante tadi siapa? kok kayaknya jahat sama Bunda?"
Pertanyaan Randi cukup menjawab pertanyaan Kila tadi.
"Tar, tadi itu Sasa?" tukas Kila dengan mata melebar, tak menduga Dan Tara mengangguk.
"Aiiisshhh!" dengus Kila berubah geram. "Terus dia ngomong apa lagi? ngancam kamu lagi?"
Tara tersenyum getir. Menunjukkan kalau jawabannya adalah iya.
"Aarrrggghhhhhh!!!! dasar iblis!!!" Kila berang sendiri, sampai - sampai beberapa orang dalam butik memperhatikannya.
"Ran, dengerin Mami." Kata Kila memegang pundak Randi dan menatapnya lekat. "Kalau kamu ketemu sama ibu - ibu tadi jangan mau diajak ngobrol, ya ... Kalau harus langsung lari yang jauh, menghindar, soalnya dia itu jahat."
"Terus," lanjutnya lagi. "Seandainya gak bisa kabur dan terpaksa harus bareng, hidupin perekam di hp, rekam kalau dia lagi ngomong. Biar kalau ada apa - apa kita punya bukti."
"Tapi, aku kan, gak punya hp Mi," jawab Randi.
"Kalau gitu minta belikan sama Om Sandi." timpal Kila.
"Bilang ke Om Sandi, biar kamu sama dia bisa telponan." Kila tak menggubris.
"Kil!" Tara menaikkan nada suaranya.
"Bilang juga, ada orang jahat yang gangguin bundamu." imbuh Kila, masih terus memberi arahan ke Randi.
"Kila..." pekik Tara lebih tinggi lagi.
"Kamu ngerti, kan?" tukas Kila dan Randi mengangguk mantap.
Tara membuang muka. Tangannya menyentuh wajah dengan ekspresi tak percaya. Bagaimana bisa Kila mengajari Randi begitu.
"Tar, ini yang terbaik, biar Randi sama kamu ada yang ngelindingi." pungkas Kila.
__ADS_1
"Tapi, walaupun iya kamu gak harus, ngajari Randi gitu ..." ucap Tara lirih.
"Terus aku harus gimana? aku gak punya kekuatan buat ngelawan dia. Kamu liat tadi kan gimana penampilannya? dia orang kaya, pewaris perusahaan besar yang pastinya punya kekuasaan. Jadi yang bisa ngelawan dia itu ya Sandi, yang sama - sama kaya dan sama - sama punya kekuasaan." jelas Kila.
"Dan lagi." Kila melanjutkan. "Sandi gak mungkin biarin kamu sama Randi kenapa - kenapa."
"Jadi Tar," Kila memegang lengan sahabatnya. "Stop ketakutan sendiri, dan ngerasa menderita sendiri. Ini udah 10 tahun, sekarang waktunya kamu bahagia sama anakmu dan sama orang yang kamu cintai. Dan juga, cuma ini yang bisa aku lakuin sebagai sahabatmu."
Mendengar omongan Kila, Tara tertawa getir. Pikirannya tak tahu harus bagaimana. Apa yang benar apa yang salah, sudah tak tahu lagi.
***
Malam mulai larut. Tapi saat itu masih pukul 7 malam. Sandi lagi - lagi tengah duduk diruangan gelap. Kalau kemarin dia duduk sendiri dikantor, sekarang dia duduk sendiri diruang tengah apartemennya.
"Ya ampun... Astaga ..." seru Bu Yanti yang baru saja datang, menghidupkan lampu, melihat anaknya sudah kusut dengan banyak kaleng bir bercecaran di meja.
"Mama udah duga kalau kamu pasti bakalan kayak gini, tapi mama gak menduga kalau yang kamu minum sebanyak ini." decak Bu Yanti dengan tangan yang bergerak memunguti semua kaleng bir itu, tanpa terkecuali yang masih utuh.
"San, mama tahu kalau kamu lagi stres karna kalah sidang. Tapi meskipun begitu, kamu harus tetep waras." Omel Bu Yanti ditengah aktifitasnya. Sementara Sandi cuma diam saja.
"Apa lagi yang minumnya sebanyak ini." Bu Yanti mengangkat kaleng - kaleng yang dirangkulnya. Tanpa lupa menghela nafas frustasi.
"Kamu mau ketergantungan lagi?" selorohnya lagi sambil melangkah mendekat ke tong sampah dan membuang semua kaleng bir kosong itu termasuk yang masih utuh.
"Padahal Kamu baru aja sembuh, jadi jangan sampai kamu ketergantungan lagi." timpalnya lagi saat kembali melangkah ke anaknya.
"Ma," desis Sandi lirih dengan suara bergetar, menghentikan omelan ibunya.
Sandi menatap ibunya dengan wajah sendu dan muram. Di ujung mata, sudah terdapat bendungan air yang siap meluncur kapan saja. Bu Yanti mengamati sejenak ekspresi anaknya. Entah kenapa dimata wanita paru baya itu, Sandi terlihat begitu terpuruk.
Tanpa bertanya dan berkata. Bu Yanti mendekat dan memberikan sebuah pelukan. Pelukan itu serasa begitu hangat dengan tepukan pelan di lengan. Dalam dekapan ibunya, Sandi sudah tak kuasa menahan air matanya.
"Ma," desisnya lirih ditengah isaknya.
__ADS_1
"Hm..." jawab Bu Yanti.
"Randi itu anakku."