Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 40


__ADS_3

Hari minggu, seperti biasanya Randi di jemput oleh supir Bu Yanti untuk pergi kerumahnya. Beberapa waktu dalam perjalanan. Akhirnya mobil yang ditumpangi Randi sampai dikediaman keluarga tersebut.


Randi turun dari mobil. Belum sempat melangkahkan kakinya. Suara mesin mobil mengalihkan perhatiannya. Mobil itu kemudian berhenti tepat dibelakang mobil yang baru saja Randi naiki.


Dari kaca depan mobil. Terlihat bayangan seorang pria duduk di kursi kemudi terlihat sedikit sibuk mematikan mesin dan juga melepas sabuk pengaman sebelum keluar.


Dan, inilah awalnya. Awal pertemuan antara ayah dan anak. Keduanya tak saling mengenali satu sama lain meskipun kala itu mata mereka sedang beradu. Mereka saling memandang lekat seolah muncul kemistri terselubung dihati masing - masing.


Sandi berjalan masuk ke dalam rumah dengan pandangan tak lepas sedikit pun dari anak lelaki yang masih berdiri mematung membalas pandangannya. Tak ada senyuman atau pun tegur sapa yang keluar dari mulut keduanya.


"Akhirnya, anak sulung mama pulang juga." Suara Bu Yanti membuyarkan temu pandang keduanya.


"Kamu udah makan?" tanya Bu Yanti kemudian.


"Itu siapa Ma?" Sandi tak menghiraukan perkataan ibunya, dia malah bertanya tentang Randi.


"Oh itu Randi, temannya Sofia." jawab Bu Yanti.


"Randi, sayang, ayo masuk jangan berdiri disitu terus." Panggilnya sambil melambaikan tangannya agar Randi segera masuk dalam rumah.


"Randi?" Sandi malah bergumam sendiri. Namanya benar - benar mirip dengannya hanya beda awalnya saja, sambil berlalu masuk ke dalam kamar miliknya yang kini sudah lama tak ditidurinya.


Tak lama berselang, datanglah Mita dan Sofia yang menuruni tangga. Kebetulan kamar mereka ada dilantai atas.


"Kak Randi ...." pekik gadis kecil itu begitu melihat Randi yang sudah duduk di meja ruang tengah, melepas genggaman tangan ibunya untuk cepat menghampiri Randi.


"Sofia ati - ati jangan lari ..." seru Mita khawatir, tapi tak didengarkan.


"Kak Randi, kita belajar apa hari ini?" tanya Sofia yang sudah duduk disampingnya.


Em. Matematika?"


"Kok matematika?" protes Sofia yang tak suka pelajaran matematika. "Gambar aja, ya?"


"Jangan gambar. Kalau gambar itu bukan belajar."


"Tapi aku gak suka matematika, aku gak bisa."

__ADS_1


"Mangkannya biar bisa Kak Randi ajarin."


"Ah, ahhh..." rengek Sofia. "Gak mau matematika, pokoknya mau gambar."


"Kalau gak mau belajar matematika, Kak Randi pulang aja." ancam Randi yang akhirnya dituruti oleh Sofia, sementara Mita dan Bu Yanti yang ada di meja makan menyiapkan makan tersenyum mendengarnya. Memanglah cuma Randi yang bisa membuat Sofia menurut.


"Mas Sandi mana Ma? kayaknya tadi udah datang?" tanya Mita diselah aktifitasnya membantu sang ibu menyiapkan makan siang.


"Masih di kamarnya kayaknya,"


Baru saja di omong, Sandi saat itu keluar dari kamarnya. Dia kemudian duduk disalah satu di sofa ruang tengah dimana di hadapannya ada Sofia dan Randi yang sedang belajar.


"Sofia, ini salah! jawabannya bukan ini." pekik Randi sedikit meninggikan suaranya gemas, membuat Sandi jadi mengarahkan pandangannya pada kedua anak tersebut.


"Coba dihitung ulang, masak udah diajari beberapa kali masih gak ngerti." Randi yang sudah terlihat gemas dan menghapus jawaban di buku sedikit kasar.


"Sofia, coba liat Kak Randi!" perintah Randi sambil melipat kedua jarinya untuk menunjukkan angka 8. Dan Sofia menuruti sementara Sandi ikut memperhatikan.


"23 + 8 \=, 23 di kepala, 8 ditangan." Randi memperhatikan Sofia sejenak. "24,25,26,27,28,29,30,31." Randi melipat jemarinya satu persatu hingga habis.


"Jadi, jawabnnya 31. ngerti?" tanya Randi dengan seksama, sementara Sofia mengangguk.


"20+6. 20 dikepala, 6 ditangan. 21,22,23,24,25,26." Sofia mengikuti cara Randi. "26." jawabnya kemudian.


"Lah, betul. Itu, bisa kan, kamu." Randi memuji.


Sandi tersenyum simpul memperhatikan keduanya. Pandangannya terlihat kagum pada sosok Randi yang meskipun kecil tapi sudah bisa mengajari Sofia belajar dengan cara yang muda dimengerti.


Sekarang semua orang sudah ada di meja makan untuk makan siang.


"Randi, makan yang banyak, ya ..." kata Bu Yanti perhatian, sambil memberikan beberapa lauk ke piring Randi dan kemudian ke piring Sofia juga dan kemudian tersenyum sayang.


Selepas makan. Ketiga orang dewasa masih duduk di meja makan. Sementara mereka para anak kecil sudah kembali ke ruang tengah sibuk menggambar sambil bercanda.


"Ma, Mama ini kenapa sih dari tadi kalau ngeliatin Randi pakai pandangan cinta terus. Segitu sukanya ya Mama sama itu anak?" tanya Mita yang duduk disampingnya, sementara Sandi duduk menghadap keduanya dan membelakangi Randi dan Sofia.


"Iya, Mama sendiri juga gak tahu, kenapa bisa suka banget sama Randi." Bu Yanti tertawa kecil. "Mama itu suka soalnya dia anaknya pinter, sopan, nurut terus wajahnya mirip kamu San waktu kecil. Bahkan lesung pipitnya juga sama." Membuat Sandi yang sejak tadi main hp jadi melirik ke ibunya karna disebut - sebut.

__ADS_1


"Coba deh liat, kalian bandingin sama foto yang ada di dinding itu." Bu Yanti menunjuk lagi foto Sandi di dinding seperti saat menunjukkan pada Pak Dani.


"Emang iya? kayaknya enggak deh." tampik Mita.


"Coba liat deh yang betul, kamu perhatikan, mulai dari mata, hidung, dahi, bibir." dekte Bu Yanti, dan Mita mengikuti mengarahkan matanya secara bergantian pada Randi dan Sandi. Sementara Sandi cuma geleng - geleng merasa ibunya ada - ada saja.


"Ah, gak tahu deh. Anggep aja gitu." jawab Mita merasa tak bisa mendapat gambaran yang jelas.


"Ah kamu ini. Pasti gitu." seru Bu Yanti.


"Oh iya San, kalau kamu gak sibuk, besok mau gak makan siang sama Mama di mall?" tanya Bu Yanti tiba - tiba pada Sandi.


"Liat besok Ma" jawab Sandi datar.


"Kalau gak bisa siang, makan malam juga gak apa - apa."


"Sandi biasanya kalau malam ada di kantor bukan di mall."


"Kalau lusa?"


"Lusa Sandi ada sidang."


"Lusanya lagi?"


"Emang kenapa sih Ma? maksa banget," timpal Mita.


"Gini." Bu Yanti sedikit menggeser posisinya dan lebih mendekat pada anak sulung yang duduk dihadapannya. "Mama mau kenalin kamu sama Bundanya Randi."


"Mama gila ya?" pekik Mita cepat sedangkan Sandi wajahnya berubah mengeras.


"Cuma kenalin aja, biar sama - sama tahu, kebetulan dia kerja di butik yang ada di lantai 2 mall kita."


"Ma, jangan aneh - aneh deh Ma. Itu sama aja Mama mau jodohin Mas Sandi sama ibunya Randi." Malah Mita yang protes.


"Ya, Mama kan cuma berandai - andai, siapa tahu kalau Masmu kenal sama Bundanya Randi bisa berubah gak keras hati lagi." timpal Bu Yanti. "Lagian kamu belum kenal sama Bundanya Randi, kalau kamu udah kenal, Mama juga yakin kamu pasti juga suka sama dia."


"Jadi, gimana? kapan kamu punya waktu?" tanya Bu Yanti yang kini memaksa.

__ADS_1


"Sandi gak punya waktu!" jawab Sandi dengan wajah dingin tak habis pikir dengan arah pikiran ibunya. Bisa - bisanya menjodohkannya dengan seorang wanita yang sudah punya anak.


__ADS_2