Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 28


__ADS_3

Hari itu, para pelanggan mulai berdatangan. Silih berganti satu demi satu dan tak terlalu ramai seperti biasanya. Karna itu, Tara, Yuni dan Nila jadi lebih banyak diam dan mengobrol hari ini.


"Hem, tumben yak sepi?." gumam Nila yang mendekat ke meja kasir menghampiri Tara dan Yuni yang sedang mengobrol.


"Udah jam 11.30, makan seblak enak nih kayaknya." celetuknya lagi sambil memegang perutnya.


"Wah, iya, terus yang puedes kayaknya mantep, tuh." saut Yuni yang berdiri bersender di meja kasir disebelah Tara.


"Terus minumnya es kewut, atau sogem yang dingin, hem" Nila meneguk air liurnya. "Seger kayaknya."


"Hem, iya, pesen gih, Nil." Yuni yang juga ikut menelan air liurnya.


"Eh, berangkat sendiri aja, gih! sekalian aku titip bayar tagihan bisa, gak?" imbuh Tara. "Kan, enak kalian bisa makan ditempat, pumpung butik lagi sepi, jadi aman."


"Oke, oke Mbak, siap. Mana kalau mau titip, aku terima dengan senang hati. saut Nila girang.


"Hem, emang deh, seneng ya kalau disuruh kayak gini..." Tara mencebik, tapi sambil senyum. Sementara Nila malah cekikikan.


"Ini," Tara menyerahkan beberapa lembar uang. "Jangan lupa aku bungkusin seblaknya sama jeruk anget juga."


"Iya mbak siap, kita berangkat ya Mbak, gak lama kok mbk tapi tetep kita menikmati, hahaha..." celetuk Nila. Sementara Tara cuma mengerlingkan mata sambil geleng - geleng kepala.


Dasar kelakuan si Nila. Batinnya.


Yuni dan Nila berangkat makan seblak. Sedangkan Tara menjaga butik sendirian. Karna sudah sendirian. Tara menyibukkan dirinya menata baju yang terlihat sedikit acak - acakan di rak. Sampai akhirnya terdengar suara alarm pintu yang menandakan kedatangan pembeli.


"Selamat siang, selamat datang, Bu ..." sambut Tara pada ibu - ibu paru baya yang baru masuk ke dalam butik. Dimana ibu itu adalah Bu Yanti, ibunya Sandi.


"Selamat siang juga" Bu Yanti tersenyum membalas sapaan Tara.


Hari itu, Tara dan Bu Yanti bertemu. Pertemuan itu, layaknya pertemuan dengan orang asing yang tidak saling kenal.


"Mbak" panggil Bu Yanti pada Tara yang saat itu masih sibuk menata beberapa baju di rak.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" sautnya yang kemudian berjalan menghampiri Bu Yanti dan berdiri disampingnya.


"Bisa ambilkan baju yang itu, gak? itu bagus kayaknya tapi ada diatas."


"Yang mana Bu?"


"Itu, yang dimanekin. Warna hijau. Itu bagus kayaknya." kata Bu Yanti sambil mendekati baju yang dimaksud.


Bu Yanti tiba - tiba kepleset kakinya sendiri. Dan sedikit terjengkal hingga jatuh.


BRAKKK...


"Aaahhhhh!!!" pekik Bu Yanti saat itu juga.

__ADS_1


"Ya Tuhan Ibu..." seru Tara cepat dan dengan sigap langsung menolong Bu Yanti.


"Awww ... aduh, aduh, kakiku ..." Bu Yanti mengerang sambil memegangi kakinya yang sakit.


"Sebentar Bu, biar saya bantu." tukas Tara membopong Bu Yanti ke bangku yang tak jauh dari sana.


"Aduh ... awww..."


"Awas Bu, pelan - pelan, Bu ..." Tara mengarahkan Bu Yanti agar duduk secara perlahan.


"Aduh, sakitnya, Ya Tuhan..."


"Sebentar ya, Bu." Tara mulai jongkok dihadapan Bu Yanti. "Permisi saya lepas dulu sepatunya." Dan kemudian mulai memijat lembut kaki Bu Yanti.


"Kalau sakit bilang, ya Bu ..."


"Iya, hati - hati ya, ini sakit banget soalnya" saut Bu Yanti yang raut mukanya tampak kesakitan dan tangannya terus memegangi kakinya yang sakit.


Dengan telaten Tara memijit kaki Bu Yanti. Setelah itu, dengan pelan Tara juga memutar beberapa kali pergelangan kaki Bu Yanti. Sampai akhirnya rintahan rasa sakit dari mulut Bu Yanti mulai berkurang.


"Gimana Bu? apa masih sakit?"


"Udah enggak begitu, udah lumayan baikan."


"Kalau gitu, Ibu tahan sebentar ya. Ini mungkin rasanya sakit, soalnya mau saya tarik sedikit, tapi nanti sehabis ditarik, sakitnya hilang."


Tara kembali memutar - mutar kaki bu Yanti untuk melakukan ancang - ancang. Wajahnya tersenyum lembut pada Bu Yanti dengan tujuan agar Bu Yanti lebih tenang dan yakin padanya.


KRETEK ...


"AWWWWW ..." pekik Bu Yanti kesakitan selepas Tara menarik pergelangan kakinya. Sementara Tara tertawa kecil.


"Aduhhhhh..."


"Sakit ya Bu? Maaf ya Bu ..." ucap Tara dengan sisa tawanya.


"Iya, sakit."


"Bu, coba ibu sekarang digerakan kakinya. Kayaknya tadi udah lemes." pintah Tara setelah Bu Yanti berhenti mengadu.


Mendengar perkataan Tara. Pelan - pelan, Bu Yanti mulai memutar pergelangan kakinya. Gerakan itu semakin cepat hingga terasa seperti sedang menghempaskan sesuatu dari pergelangan kakinya.


"Lo, kok bisa hilang sakitnya?" Tanya Bu Yanti menatap heran Tara.


"Syukurlah Bu kalau udah gak sakit lagi." jawab Tara tersenyum lega.


"Kok bisa sih?" Lagi - lagi Bu Yanti bertanya. "Ini sudah gak sakit lagi, lo ..."

__ADS_1


"Kamu, hebat ya... belajar dari mana?"


"Gak belajar Bu, cuma karna sering mijit ayah sama ibu dulu, jadi lumayan paham." jawab Tara, sementara Bu Yanti menatap takjub Tara yang berdiri dihadapannya.


Tara dan Bu Yanti sudah ada dimeja kasir. Beberapa potong baju terlihat menumpuk di meja kasir dan di scan satu demi satu oleh Tara. Sedangkan Bu Yanti yang berdiri di depannya diam - diam tersenyum memperhatikan.


'Cantik, baik, sopan, lembut ' batinnya.


"Ngomong - ngomong, nama kamu siapa?"


"Saya Tara, Bu" jawabnya sambil senyum.


"Kamu sudah menikah?"


"Saya? saya sudah punya anak Bu." jawabnya lagi sambil tersenyum lagi.


"Yah, sayang banget kalau gitu." gumam Bu Yanti yang wajahnya berubah kecewa. Padahal dalam benaknya sudah mau dikenalkan ke Sandi.


"Tapi, sebelumnya Ibu ucapkan terima kasih, ya ... kamu sudah membantu Ibu, ini kakinya ibu benar - benar sudah gak sakit lagi, berkat kamu" ucap Bu Yanti tampak begitu tulus.


"Iya Bu sama - sama, saya juga terima kasih sudah borong banyak baju disini." jawab Tara yang sudah menyelesaikan scan baju dan memasukkannya kedalam paperbag.


"Oh ya berapa totalnya? terus tolong yang ini disendirikan, ya ...." kata Bu Yanti, memilah baju di hadapannya.


"Ini totalnya 3.4jt, Bu."


Bu Yanti mengeluarkan black card miliknya. Yang lalu diterima Tara dan digesek pada EDC.


"Bu, ini bajunya." Tara menyerahkan 2 paperbag pada Bu Yanti. Tapi yang 1 malah didorong lagi olehnya.


"Ini buat kamu. Ini sebagai ucapan terima kasih daei Ibu karna kamu sudah bantuin Ibu."


"Lo, Bu, jangan, Bu." Tara kembali menjulurkan paperbag di ats mejanya. "Ini terlau berlebihan. Jangan bu. Lagian saya juga gak bantu banyak."


"Udah, jangan ditolak!" potong Bu Yanti cepat.


"Lo, Bu, jangan ..."


"Ibu bilang jangan ditolak! Sudah sepantasnya ibu membalas kebaikan kamu. Jadi Ibu minta tolong, Ini kamu terima."


"Tapi,..."


"Nama Ibu, Bu Yanti. Tolong kamu ingat karna kita akan sering ketemu, soalnya ibu mau jadi pelanggan tetap disini. Oke."


Tara masih menunjukkan wajah tak enak hatinya.


"Ibu pergi dulu ya, sudah diterima saja. Sampai ketemu lagi" ucap Bu Yanti yang pergi dengan tersenyum dan melambaikan tangannya meninggalkan Tara yang masih berdiri dengan paperbag ditangan dengan wajah tak enak hati sekaligus berterima kasih.

__ADS_1


__ADS_2