
"Maksud kamu apa Kil??" pekik Tara yang wajahnya sudah mengeras.
"Maksudku, biarin aja mereka tahu kalau Randi itu sebenarnya anaknya Sandi."
"Kila!." Tara sedikit meninggikan suaranya.
"Tar, emangnya kenapa?" potong Kila cepat.
"Karna Randi emang gak perlu tahu!. Randi cukup tahu kalau ayahnya udah mati!"
"Tapi Tar, ini itu udah 10 tahun lamanya. Mau sampai kapan kamu nyembunyiin fakta ini?"
"Sampai aku mati." saut Tara cepat membuat Kila menghembuskan nafasnya kasar, mencoba bersabar.
"Tar, kamu gak kasian sama Randi?"
"Justru karna itu aku gak mau dia tahu! Kalau sampai tahu, aku takut dia jadi sedih. Apa lagi belum tentu juga Mas Sandi akan terima kehadiran Randi."
"Kil, aku gak mau kalau nantinya kehadiran Randi malah mengacaukan keluarganya Mas Sandi. Aku gak mau Randi dicap sebagai anak haram atau dikatain mau ngerebut warisan atau apapun itu. Cukup Kil, cukup aku aja yang kayak gitu, jangan anakku." imbuh Tara lirih.
Sementara Kila wajahnya sudah pasrah.
"Kil, kamu kan tahu gimana hidupku selama ini. Jadi, please Kil, jangan lagi kamu bilang kayak gitu."
Setelah berkata begitu. Tara kemudian pergi meninggalkan Kila yang masih duduk dengan ekspresi yang tak tahu harus bagaimana. Disisi lain dia mengerti bagaimana perasaan sahabatnya. Tapi disisi lain bukankah Randi juga perlu tahu siapa sebetulnya ayahnya.
Setelah perdebatan dengan Kila di butik. Tara duduk disebuah kursi yang mana dihadapannya ada sebuah playground. Playground itu begitu ramai dikunjungi anak - anak kecil berusia balita bersama dengan kedua orang tuanya. Tampaknya, semua orang yang ada disana begitu bahagia dimata Tara.
Tara tersenyum, tapi senyumnya tampak getir saat menyaksikan keharmonisan beberapa keluarga dihadapannya. Perhatian yang diberikan oleh sosok ayah kepada anaknya. Dan perhatian yang diberikan oleh sosok suami pada istrinya membuat batinnya serasa iri.
Beberapa saat duduk menenangkan diri disana. Tara secara perlahan beranjak dari tempatnya. Di berjalan secara perlahan kembali ke butik dengan wajah yang masih sedikit muram.
Bertepatan dengan itu. Dari lantai atas. Beberapa rombongan pria berjas sedang menuruni lantai menggunakan ekskalator. Rombongan itu pastinya adalah rombongan Sandi bersama dengan para karyawannya yang seperti biasanya, diselah langkah mereka, mereka selalu membahas beberapa pekerjaan yang perlu diselesaikan.
"Berarti rehab gedung sisi selatan besok udah selesai, kan?" tanya Sandi pada Bagas yang ada di belakangnya, tapi tatapannya fokus pada beberapa lembar dokumen ditangan.
__ADS_1
"Iya Pak, kalau yang sisi selatan besok udah rampung, dan lusa udah bisa disewain lagi." jawab Bagas.
"Oke, berarti masalah kita sekarang cuma proses pindah blower. Nanti kamu hubungi lagi Pak Yuda, kapan pastinya dia mau datangin alatnya." perintah Sandi lagi sambil menyerahkan dokumen tersebut pada Bagas.
"Iya Pak, siap."
Sandi pun menengadakan pandangannya lurus kedepan. Saat itu matanya menabrak pada sesok wanita yang tak lain adalah Tara yang saat itu sedang berjalan perlahan.
Sandi terpaku untuk beberapa saat. Matanya terus menatap lekat mengikuti sosok Tara. Batinnya antara percaya dan tak percaya. Benarkah itu Tara, gadis yang sudah 10 tahun ini hanya ada dalam bayangannya saja?.
Tak menunggu lebih lama lagi. Sandi yang tersadar, berlari menuruni ekskalator dengan cepat membuat mereka para karyawan jadi bingung dengan apa yang terjadi.
Sandi bergerak cepat tak ingin kehilangan sosok gadis itu lagi. Sandi yang terburu - buru, menyalipi orang - orang yang sedang berjalan santai didepannya. Tampak juga saat itu dia beberapa kali menabrak beberapa orang juga dan hanya mengucapkan maaf sambil lalu.
Sayang, mall yang ramai membuat jaraknya semakin jauh hingga akhirnya Sandi harus kehilangan Tara saat itu.
"Aaaiiiissshhhh!!!" umpatnya frustasi tanpa peduli pada orang - orang sekitar yang sedang memandanginya.
Tapi kemudian, sosok seorang gadis yang baru saja memasuki sebuah stand yang tampak mirip Tara mengalihkan perhatiannya. Sandi kembali berlari kearah gadis tersebut. Dia kemudian meraih tangan gadis itu hingga membuat gadis dihadapannya membalikkan badan kearahnya.
Wanita itu mengernyit, karna tiba - tiba ditarik tangannya.
"Maaf," ucap Sandi lirih, dengan wajah kecewa karna ternyata dia bukanlah Tara melainkan orang lain.
Sandi kembali ke kantornya dan langsung masuk dalam ruangannya. Dihempaskannya tubuh dan kepalanya diatas kursinya tanpa lupa juga menutupi mata dengan lengan tangannya. Rasanya tak mungkin dia salah mengenali orang. Tadi itu wajahnya benar - benar mirip sekali dengan Tara. Tapi, entah kenapa malah bukan.
"Kenapa San?" tanya Gilang yang memang tadi begitu melihat bosnya datang langsung mengikutinya masuk dari belakang.
"Tadi lu kenapa? katanya bagas, lu tiba - tiba lari ngejar cewek." tukasnya lagi. "Cari siapa?"
Sandi pun mengangkat tangannya yang tadi manutupi matanya. Setelah itu menghembuskan nafasnya yang berat.
"Tara..." desis Sandi, jujur tak perlu berbohong pada Gilang, karna Gilang adalah satu - satunya orang yang tahu hubungannya dengan Tara.
"Tara?" Gilang menautkan kedua alisnya. "Tara pacar lu itu?"
__ADS_1
Sandi mengangguk.
"Terus?"
"Ternyata bukan." desis Sandi lirih, sementara Gilang yang tadinya berharap ikut kecewa juga.
"Mungkin tadi cuma bayangan lu aja kali, Lu ngira orang itu Tara padahal sebetulnya bukan. Apa lagi gak mungkin juga dia ada disini." kata Gilang dan Sandi cuma diam merasa ucapan temannya mungkin benar.
"Udah, lu jangan banyak pikiran. Hari ini tolong fokus jangan mikirin Tara. Soalnya gue denger sidang besok Sasa yang mau turun tangan langsung." timpal Gilang.
"Sasa?" Sandi mengernyit, perkataan Gilang benar - benar berhasil membuat perasaannya jadi teralihkan. "Bukannya Sasa lagi di korea?"
"Udah disini. Kemarin dia datang. Sekarang udah ada dijakarta. Dan katanya besok mau terbang kesini."
Mendengar jawaban Gilang. Sandi mengusap wajahnya kasar.
"Lu gak apa - apa kan?" tanya Gilang khawatir.
Bagaimana tak khawatir. Gilang tahu semuanya. Gara - gara Sasa, Tara meninggalkan Sandi. Gara - gara Sasa, bisnis Sandi bangkrut. Baginya, Sasa adalah wanita gila yang rela melakukan segala cara demi mendapatkan Sandi dan membuat Sandi bertekuk lutut.
"Gue gak apa - apa." saut Sandi, walaupun sebetulnya dalam hatinya risau.
"San, kalau sampai ada apa - apa. Buku hijaunya ..."
"Iya, gue paham." Sandi memotong ucapan sahabatnya. "Lu gak usah khawatir."
Buku hijau adalah buku yang berisi bukti - bukti kejatahan yang sudah dilakukan oleh Wiraka grup. Buku itu terlalu beresiko kalau dikeluarkan hanya karna dirinya yang selalu dikuntit oleh Sasa.
Gilang memandang sahabatnya dengan tatapan cemas. Tapi dirinya tak bisa apa. Cuma bisa menurut.
"Ya udah kalau gitu, aku pastiin kalau Sasa besok gak akan punya cela buat deketin kita lagi." kata Gilang mencoba menenangkan.
"He'em."
"Ok, gue keluar dulu. Lu istirahat aja ...." kata Gilang yang kemudian meninggalkan Sandi yang masih duduk di mejanya dengan wajah yang penuh beban pikiran.
__ADS_1