Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 46


__ADS_3

Hari minggu kembali datang. Tara dan Kila masih saling tidak bertegur sapa. Randi juga masih berwajah murung karna kedua orang tuanya. Hari itu, meskipun dengan wajah ditekuk Randi bersiap untuk kerumah Sofia.


Tin ... Tin ...


Suara klakson mobil di depan rumah terdengar. Membuat Kila yang dikamar mengangkat pandangannya, dan mengintip dari balik jendela melihat siapa yang datang. Sementara Randi yang mendengar lantas cepat - cepat menutup resleting tasnya dan mengenakannya untuk segera keluar.


Baru sampai di depan pintu rumah. Randi melihat Tara yang sudah berbincang dengan si supir, dan setelahnya si supir pun pergi tanpa membawa Randi yang sudah berdiri di teras.


"Lo, kok Pak Ono pergi Bunda?" tanya Randi dengan wajah polos.


"Pak Ono tadi bukannya mau jemput kamu, tapi dia mau bilang kalau mulai hari ini, kamu gak perlu lagi kerumahnya Sofia. Soalnya Sofia setiap hari minggu mau ikut Mamanya berpergian." jawab Tara tersenyum, membuat alasan.


"Tapi, kemarin aku sama Sofia udah janjian kalau mau belajar nahasa inggris bareng."


"Sofia kan gak tahu Randi, kalau Mamanya mau ngajakin dia. Udah yuk .. kita masuk, kamu belajarnya sama Bunda aja, atau bantuin Bunda didapur."


Brakk...


Suara pintu kamar baru saja ditutup sedikit kasar oleh Kila yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Sengaja, menarik perhatian Tara dan Randi.


"Ran, mau ikut Mami gak? Mami mau kesupermarket belanja." tanyanya pada Randi, tqpi mata yang melirik tajam pada Tara, kesal karna tahu Tara sengaja berbuat begitu hanya untuk menjauhkan Randi dari keluarga ayahnya.


Randi menatap sejenak ke bundanya sebeum menjawab. Dan Tara memberi senyuman pada anaknya berusaha menutupi kegusaran hatinya.


"Mau, Mami ..." jawab Randi.


"Ya udah yuk, kamu taruh tasnya terus langsung ke mobil."


Kila melangkahkan kakinya melewati Tara begitu saja yang masih berdiri diteras rumah. Rasanya sebal sekali dengan sikap Tara yang sampai segitunya pada Randi.


Kila dan Randi sudah berada didalam mobil. Berkali - kali Kila terlihat menghela nafasnya kasar. Temannya yang pintar jadi begitu Oon dimatanya. Membuat Randi yang disampingnya cuma bisa menatapnya dengan wajah ditekuk.


"Mami, Mami masih marah ke Bunda?"


"Iya, kenapa? kamu mau belain Bundamu?" dengus Kila sudah tak ingin menutup - nutupin lagi dan lebih memilih untuk melampiaskan perasaannya.


"Emangnya kenapa sih kok Mami sama Bunda marahan? gara - gara aku ya?"


Kila kembali menghela nafasnya kasar sebelum menjawab.


"Ran, seharusnya kamu jangan mau kalau mau dipindahin sekolah sama Bundamu. Seharusnya kamu lawan Bundamu itu kalau lagi gila gitu!."


"Katanya kalau ngelawan orangtua jadi anak durhaka?"


"Enggak. Kalau sekarang bukan durhaka namanya." saut Kila cepat. Tak peduli dengan ajaran yang diberikan olehnya salah atau tidak. Yang pasti, dirinya tak rela kalau Randi harus pindah kesekolah yang kualitasnya lebih buruk dan dikelilingi anak - anak nakal nantinya.


"Ran, sekarang Mami tanya ya, emang kamu mau sekolah di SD Kartika?" sergah Kila dan Randi menggeleng.


"Kamu mau jauh dari temen - temenmu sekarang, terutama sama Sofia?"


Randi kembali menggeleng.


"Mangkannya itu, Mami minta kamu lawan Bundamu itu. Bilang ke Bundamu kalau kamu gak mau. Karna di sekolah yang baru sekolahnya jelek, anak - anaknya nakal. Sekalian tanyain Bundamu, Bunda mau gak kalau nanti aku ikut nakal?, gitu." Kila mengajari Randi dengan menggebu - gebu. Sedangkan Randi hanya diam dengan wajahnya yang murung.

__ADS_1


"Huft," Kila lagi - lagi menghembuskan nafas kasarnya melihat reaksi Randi yang cuma diam menunduk murung.


"Udahlah Ran..." ucapnya akhirnya pasrah.


Bagi Kila, semuanya sudah percuma. Randi hanyalah seorang anak kecil yang polos dan tak mengerti apa - apa. Dan pemilik keputusan juga bukanlah dirinya.


Beberapa waktu diperjalanan. Kila dan Randi sampai disalah satu kafe.


"Katanya mau belanja Mi? kok malah ke kafe?"


"Mami laper mau makan dulu,"


"Tapi kan Bunda udah masak?" tanya Randi polos.


"Kamu tahu kan kalau Mami sama bunda lagi marahan?"


Randi mengangguk.


"Gengsilah, Mami kalau harus makan masakan bundamu." timpalnya kemudian.


Kila dan Randi masuk ke dalam kafe. Mereka kemudian duduk disalah satu meja yang ada didalam kafe, dan kemudian memesan beberapa makanan dan minuman.


"Ran," desis Kila dan Randi mengarahkan pandangannya pada wanita yang dipanggilnya mami itu.


"Kamu kalau dirumah Sofia ngapain aja?" tanya Kila ingin tahu. Randi sudah pernah bertemu ayahnya atau belum.


"Main, belajar, kadang diajak jalan - jalan."


"Oh. Terus, disana satu keluarga ada siapa aja?"


"Mereka baik ke kamu?"


Randi mengangguk.


"Em, katanya Sofia punya Om, ya ... kamu pernah ketemu?" tanya Kila lebih dalam lagi dan Randi kembali mengangguk.


"Gimana orangnya?"


"Ganteng." jawab Randi, dipikirnya Kila ingin tahu fisiknya.


"Bukan wajahnya, tapi sikapnya ke kamu, baik atau jahat?"


"Baik."


"Terus, terus, udah punya istri belum? atau udah punya anak?" Kila mencondongkan tubuhnya ke Randi menanti jawaban.


"Em," Randi berpikir sejenak. "Gak tahu."


"Kok gak tahu? katanya pernah ketemu."


"Ya gak tahu, orang aku ketemunya cuma 1 kali." Kila menjauhkan kembali badannya, sedikit kecewa.


"Oh 2 kali, Mami. Waktu nganterin aku pulang sama kemarin."

__ADS_1


"Apa? nganterin kamu pulang?" Kila kembali terpengarah. "Maksudnya pulang kerumah kita?"


Randi lagi - lagi mengangguk. Berarti dari situ Kila jadi tahu kalau Sandi sebetulnya sudah tahu rumah mereka.


"Bentar, bentar, Itu, waktu Om Sandi nganterin kamu, bundamu ada dirumah apa enggak?"


"Ada, tapi Om Sandi buru - buru pergi jadi gak sempet ketemu sama bunda."


Kila tampak lega tapi kecewa.


"Terus kalau kemarin? kok bisa ketemu? bukannya kemarin hari sabtu?"


"Kalau kemarin ketemu di mall."


"Di mall?"


"Iya, aku kan duduk - duduk di timezone terus ada Om Sandi datang. Terus aku diajak main sama Om Sandi."


"Oh ya? main timezone bareng?"


"Iya, terus kasih aku kartu vip timezone." pamer Randi.


Sementara Kila manggut - manggut, dipikirnya Sandi lumayan juga dan perhatian juga pada anak kecil.


"Mami, mami tahu gak, kalau yang punya mall itu Om Sandi."


"HAH?" Kila terperajat." Apa, apa kamu bilang? yang punya mall siapa? Sandi?"


"Iya."


Kila melebarkan matanya serta mengangah tak percaya. Fakta ini sungguh sangat mengejutkannya. Bagaimana mungkin selama ini dia tak tahu menahu soal ini.


"Kamu tahu dari siapa Ran?"


"Ya tahulah, kan teman mami yang biasanya ke butik itu kemarin sama Om Sandi. Dia minta tandatangan terus matanya mau rapat."


"Temen mami? siapa? Om Gilang?"


"Iya."


"Bentar, bentar," Kila tampak berpikir.


Kalau yang punya mall adalah Sandi. Jadi selain Randi yang tertaut dengan keluarganya, Tara juga tertaut langsung dengan Sandi. Mengingat Tara yang setiap harinya membersihkan apartemen Sandi.


Merasa hal itu tampak tak nyata dimata Kila. Kila kemudian langsung menelpon Gilang, saat itu juga.


"Hallo, Gilang," sautnya setelah telponnya diangkat.


"Ada apa Kil? ada masalah lagi sama blower?"


"Lang, gue mau tanya, bener bos lu itu Sandi dari prima grup?"


"Iya, bener, emang kenapa?"

__ADS_1


Jawaban Gilang cukup untuk menunjukkan fakta dihadapannya. Kila pun cuma bisa mengangah dengan apa yang ada dihadapannya. Bagaimana mungkin Tara bisa lari dari takdirnya kali ini.


__ADS_2