Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 54


__ADS_3

Randi sedang duduk diatas meja belajar yang ada dikamarnya. Diatas meja itu, ada beberapa buku bacaan yang sedang terbuka. Malam itu, Randi sedang membaca buku - buku itu, tapi sepertinya sedang tak fokus.


Randi menghelai nafasnya lesu. Ekspresi wajahnya tiba - tiba berubah ditekuk. Tangannya juga menompang kepalanya dengan telapak tangan yang menutup kedua pipi gembul anak tampan itu.


"Ran, kok belum tidur?" Suara bundanya dari balik pintu yang baru saja dibuka, membuyarkan pikirannya tapi masih tak bisa menghilangkan ekspresi murungnya.


"Bunda..." Sautnya menoleh dan matanya mengikuti Tara yang berjalan menghampirinya.


"Masih belajar?" tanya Tara yang sudah berdiri disamping anaknya. Sementara Randi menggeleng.


"Terus lagi ngapain? baca buku?"


"Iya."


"Buku apa?" tanya Tara melirik buku yang ada diatas meja, dimana merupakan buku bacaan cerita rakyat.


"Udahan ya baca bukunya." Tara melipat buku - buku itu dan mengemasinya. "Sekarang kan udah malam. Besok kamu harus sekolah berangkat pagi - pagi."


"Ayo, Bunda temenin boboknya." imbuh Tara yang memperhatikan raut wajah Randi yang sedari tadi ditekuk, jadi tak tega meninggalkan si anak kecil itu sendiri.


Kini kedua ibu dan anak itu sudah tidur diatas kasur. Tubuh mereka sudah ditutupi selimut dan Randi terlihat memeluk bundanya manja. Sementara sang Bunda membelai sayang rambut sang anak.


"Bunda..." seru Randi yang wajahnya berada di antara ketiak dan dada sang bunda.


"Hm..."


"Aku mulai besok sekolahnya disekolah baru ya?"


"Iya." jawab Tara lirih. Ada rasa tak tega juga dalam hatinya.


"Bunda..."


"Hm ..."


"Bunda masih sedih?" tanya Randi.

__ADS_1


"Enggak, emang siapa sih yang sedih." tampik Tara.


"Bunda." jawab cepat Randi.


"Emangnya kenapa bunda harus sedih?" Tara sedikit menjauhkan badannya agar bisa menatap anaknya. "Bunda itu sedihnya kalau kamu nakal, terus gak mau dengerin bunda ngomong, itu baru bunda sedih." imbuhnya sambil mencolek hidung Randi.


"Tapi beberapa minggu ini bunda selalu nangis, sendiri."


"Kapan? bunda gak pernah nangis. Iya kalau kamu." jawab Tara dengan kembali mendekap anaknya dan mengelus rambutnya lagi.


"Bunda." seru sang anak lagi.


"Hem..."


"Apa karna Om Sandi bunda sedih?" tanya Randi membuat Tara sedikit tersentak. Tak diduganya Randi bertanya seperti ini.


"Om Sandi? Emang kenapa Om Sandi?"


"Karna Om Sandi itu sebenernya papaku, kan bunda?" tanya Randi mendongakkan kepalanya dari dalam dekapan sang ibu, dan menatap sang bunda yang matanya terlihat gusar.


Tara tersenyum tipis, tapi senyumannya tampak getir. Bimbang antara jujur atau harus berbohong.


"Udah malem Ran, udah jam 10. Kita tidur aja yuk..." Tara memilih menghindar dan kembali mendekap anaknya dalam pelukan.


"Bunda. Apa Bunda benci sama Om Sandi karna udah ninggalin kita?"


"Ssstttt, udah malam, kita bobok yuk ..."


"Bunda, aku juga, juga benci sama Om Sandi karna udah ninggalin kita." ungkap Randi, jelas menohok hati sang ibu. Entah dari mana anaknya bisa menarik kesimpulan seperti itu. Padahal sebetulnya dalam hatinya Tara tak ingin Randi ikut bersikap kasar pada ayah kandungnya.


"Sttttt. Randi! Udah yuk, tidur. Jangan ngomong terus." timpal Tara, membuat Randi tak berani membantah lagi.


Beberapa saat kemudian. Randi sudah tertidur lelap. Sedangkan Tara masih terjaga.


Pelan - pelan. Tara kemudian menarik tangannya yang sedari tadi digunakan untuk menompang leher anaknya. Dia kemudian bangun dan menyelimuti Randi. Sementara Randi terlihat menggeliat karna gerakannya.

__ADS_1


Tara membelai sayang rambut anaknya. Tatapannya tampak sendu, serasa merasa bersalah kepada sosok anak lelaki yang sedang terlelap itu. Dikecupnya kening anaknya yang kemudian setelah itu Tara pun keluar dengan pelan - pelan.


***


Esok harinya. Tara dan Randi sudah tiba disekolah yang baru. Mereka duduk di dalam ruang kepala sekolah bersama dengan kepala SD yang baru.


"Maaf Bu, jadi maksudnya ibu Randi gak bisa sekolah disini?" tanya Tara yang terpengarah dengan ucapan Ibu Kepala Sekolah tadi.


"Iya Bunda, mohon maaf sekali. Bukannya kita mau menolak Randi yang sudah jelas - jelas Randi akan jadi kebanggaan disekolah kita nantinya. Tapi memang karna regulasinya yang begitu. Ini sudah semester akhir, sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Kalau Randi pindah sekarang, takutnya malah tertinggal dan tidak naik kelas."


"Tapi, kemarin ibu bilang bisa. Tapi kenapa sekarang tiba - tiba bilang tidak bisa? Kalau seperti ini, Randi jadinya harus sekolah dimana Bu? Randi kan sudah keluar dari sekolah yang lama?" tukas Tara bingung dengan keputusan yang tiba - tiba berubah.


"Randi tetap bisa bersekolah disekolah yang lama Bunda, kemarin dokumennya sudah saya kembalikan kesana. Jadi bunda tidak perlu khawatir. Dan juga, ini ..." Kepala sekolah mengeluarkan sebuah amplop putih berisikan uang. "Ini uang pendaftaran Randi kemarin, saya kembalikan ke Bunda karna Randi tidak jadi sekolah disini. Sekali lagi saya mohon maaf Bunda, karna keputusan kita yang sepihak ini."


Tara pun pasrah. Meskipun sebetulnya kecewa.


"Ya sudah Bu kalau gitu, kalau memang Randi tidak bisa pindah. Tapi, ini, gak apa - apa gak perlu di kembalikan. Toh kemarin Randi juga dapat seragam dan juga perlataan sekolah." Tara menggeser uang tersebut lagi kehadapan ibu kepala sekolah.


"Jangan Bunda, ini tolong Bunda ambil. Nanti kalau tidak Bunda ambil saya bisa dimarahi ketua yayasan. Karna, katanya, Randi ini cucunya, ya?"


"Maksudnya Bu?" Tara mengernyit.


"Bu Yanti, kemarin bilang, katanya Randi ini cucunya. Jadi saya disuruh buat mengembalikan uang ini." ungkap Ibu Kepala Sekolah, membuat Tara yang tadi sedang duduk tegak berubah lemas.


Hal ini sungguh diluar dugaan. Tak disangkanya Bu Yanti secepat ini tahu siapa Randi sebenarnya. Bahkan dia juga menghentikan Randi yang akan pindah sekolah.


Dengan perasaan berat, Tara kemudian berpamitan kepada Ibu kepala sekolah. Setelah itu, Tara kemudian mengantar Randi ke sekolahnya yang lama.


Setelah bertemu dengan kepala sekolah dan juga Pak Danu. Randi akhirnya masuk kembali disekolah tersebut. Bersama dengan Pak Danu, Randi pun masuk kedalam kelasnya dan disambut riuh teman - temannya yang terlihat ikut senang karna Randi yang tak jadi pindah.


Melihat hal itu, ada rasa lega tersendiri dihati Tara. Apa lagi, Randi juga tampak bahagia karena tak jadi pindah sekolah.


Beres dengan urusan Randi, Tara pun berpamitan pada kepala sekolah dan juga Pak Danu. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan gedung sekolah.


Kala itu, Tara baru saja berjalan melewati gerbang sekolah. Dan tengah berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan datang. Tiba - tiba, sebuah mobil mewah yang tampak tak asing berhenti tepat di hadapannya. Dan seutas senyum langsung dilontarkan oleh Bu Yanti yang baru saja turun dari mobil menyapa Tara yang berdiri dipinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2