Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 21


__ADS_3

Tara duduk dihalte bus setelah pertemuannya dengan Sasa. Wajahnya begitu murung dan terlihat pucat pasi. Dengan mata sendunya, dia memandang perut yang sedang disentuhnya.


Tak mungkin baginya kalau sampai harus menggugurkan kandungannya. Karna bagaimanapun ini bukanlah salah bayi dalam kandungannya. Tapi ini adalah salahnya sendiri karna sudah berbuat yang seharusnya tak diperbuat.


Bus datang dan berhenti didepan halte. Sejenak, Tara masih menatap bus itu dengan tatapan kosong sebelum kemudian dia ikut berdiri dan mengantri bersama yang lain untuk naik bus.


Baru selangkah, kepalanya tiba - tiba merasa pusing. Pusing yang teramat sampai rasanya Tara tak mampu menahannya meskipun sudah ditahan dengan kedua tangannya di kening.


BRUUUUKKKKKK!



*Tubuh itu jatuh pingsan. Membuat sedikit kegaduhan ditengah antrian bus yang ramai.



***


Beberapa saat kemudian, Tara terbangun di UGD salah satu rumah sakit dengan Kila yang sudah cemas setengah mati berdiri disampingnya.


"Syukurlah Tara, akhirnya kamu sadar juga" Kila meniupkan nafasnya lega.


"Kil, ini dimana?" Tanya Tara sambil berusaha duduk dan bersandar di ranjang.


"Dirumah sakit,"


Suasana hening sejenak, karna sedari tadi Kila hanya diam menatapnya.


"Kenapa?" tanya Tara mengernyit melihat ekspresi Kila seolah sedang menunggu penjelasan darinya.


"Tar, kamu ..." ucap Kila meskipun tak dilanjutkan tapi cukup menjelaskan kalau sahabatnya itu sudah tahu kalau dirinya sedang mengandung.


Tara menunduk. Jemarinya memainkan kuku seperti mau dikupas. Yang kemudian menangis.


"Ya Tuhan Tara ..." seru Kila yang melihat reaksi Tara.


Bingung harus bagaimana, Kila pun memeluk sahabatnya itu dan menepuk - nepuk punggungnya dengan sesekali bernafas keras.


Beberapa saat tangis Tara meredah dan Kila pun melepaskan pelukannya.


"Itu anaknya siapa Sandi?" tanya Kila yang dijawab anggukan.


"Terus kamu udah kasih tahu?" Dan kali ini dijawab gelengan.


"Belum??" Kila membelalakan matanya. "Kenapa belum kasih tahu?"


Melihat Tara yang hanya diam, Kila yang tak sabar kemudian meraih tas Tara dan mengeluarkan ponselnya dan membuat Tara bereaksi merebut hpnya.

__ADS_1


"Kil, jangan..."


Kila berhenti mendengar ucapan Tara. Wajahnya mengeras.


"Jangan??" Kila tak percaya. "Kamu bilang jangan? Tar, kamu ini lagi hamil, terus kamu bilang jangan?"


"Iya, jangan. Kila please ... jangan" Tara memohon dan kembali menangis.


"Ya Tuhan Tara, kamu ..." Kila yang kesal tak sanggup berkata - kata. Wajahnya berubah masam karna terlalu kesal.


"Jangan, aku gak apa - apa Kil. Aku gak apa - apa" suara Tara yang terdengar bergetar.


"Tar, kamu ini lagi hamil. Hamil Tara. Hamil." ucap Kila mempertegas. "Itu bayi dalam perutmu, bukan mainan. Dia butuh ayah, dan kamu butuh seseorang buat tanggung jawab. Jadi kenapa kamu bilang jangan?"


"Jangan, aku mohon jangan" Tar bersikukuh membuat Kila kesal dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Oke, sekarang kamu jelasin apa alasannya kamu bilang jangan?"


"Mas Sandi, bulan depan, mau nikah" jawab Tara terbata - bata.


"What????" Kila tercengang.


"Itu bukan karna kemauan Mas Sandi Kil" ralat Tara cepat. "Tapi memang karna aku sama dia gak mungkin bersama. Seperti kamu bilang, prima grup merugi terus - terusan. Kemarin juga beberapa pabrik udah ditutupkan?. Terlebih sekarang Mas Sandi udah jadi penerus resminya, jadi aku gak mau dengan kehadiranku apa lagi ada janin diperutku buat Mas Sandi semakin disituasi yang sulit. Jadi aku mohon Kila, demi aku dan juga demi anakku, tolong jangan beritahu dia"


Melihat Kila tak bergeming. Tara kemudian langsung turun dari ranjangnya. Tak peduli pandangan orang terhadapnya, Tara kemudian bersujut didepan Kila.


Melihat sahabatnya sampai seperti itu. Kila hanya bisa mendesah dan memaki. Sampai akhirnya karna tak tega, Kila pun menuruti kemauan sahabat satu - satunya itu.


Hari sudah gelap saat mereka keluar dari rumah sakit dan kini dalam perjalanan pulang.


"Sekarang rencana kamu gimana?" Tanya Kila yang pandangannya tetap lurus kedepan memperhatikan jalan karna sedang menyetir.


"Ngaku ke Mas Ilham dan Mbak Desi"


"Terus setelah itu?"


"Pengen pergi yang jauh" jawab Tara menerawang menatap keluar jendela.


"Pergi? pergi kemana?" Kila mengerutkan keningnya.


"Gak tahu, yang penting jauh dan gak disini lagi"


"Terus kuliahnya?"


"Drop out"


Kila tak berkomentar dan hanya menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Terus kalau yang diperut?" tanya Kila lagi.


"Aku mau rawat dia" jawab Tara sembari menatap perutnya yang masih kecil sambil mengelusnya.


"Kamu yakin beneran mau rawat dia sendiri? beneran gak mau kasih tahu Sandi?"


Tara tersenyum tipis lalu mengangguk.


Seperti apa yang dikatakannya pada Kila saat dimobil. Sesampainya dirumah, Tara pun langsung mengaku pada Mas Ilham dan Mbak Desi kalau sedang hamil. Dia juga mengungkapkan keinginannya jika akan merawat anaknya seorang diri. Walaupun Mas Ilham awalnya emosi dan kecewa, tapi akhirnya dia pun menerima dan tak menuntut Tara terlalu banyak.


Dihari berikutnya, setelah melalui semua hal yang terjadi. Tara pun memutuskan untuk pergi dan tinggal di surabaya dengan bantuan dari Kila. Dan dihari itu juga, untuk terakhir kalinya Tara datang kekampus untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya dan juga surat pernyataan kalau tidak akan menerima beasiswa untuk kuliah S2nya. Berat, memang. Tapi inilah pilihannya, yang merelakan impiannya asal tak mengorbankan anaknya.


"Kil, kamu udah berangkat? ini aku baru selesai" Tara yang sedang telponan dengan Kila sambil menyusuri lorong kampus hendak pulang.


"Ni mau berangkat. Kamu mau aku jemput atau aku langsung kerumahmu?"


"Kamu langsung kerumah aja, aku naik bus, biar kamu gak wira wiri"


"Oke kalau gitu, aku tunggu dirumahmu ya... barang - barang yang mau dibawah udah beres semua kan?"


"He'e, udah kok, tinggal angkut aja"


"Oke deh siap, kalau gitu aku berangkat ya. Kamu ati - ati"


"Iya, kamu juga ati - ati" Dan panggilan telpon pun berakhir.


Belum juga dimasukkan dalam saku, ponsel Tara kembali berdering membuat langkahnya terhenti sejenak. Telpon itu masih dari Sandi yang terus berusaha menghubunginya dan berhenti dengan sendirinya karna tak diangkat dan hanya dibiarkan saja.


Klenting.


1 pesan kembali masuk, yang meskipun tak dibuka bisa dibaca lewat notifikasinya.


"Yang, aku ada di depan kampus, kamu dimana? ayo kita bicara, aku mohon"


Deg. jantungnya serasa akan berhenti ketika membaca pesan itu. Sontak saja Tara mengarahkan pandangannya kesekeliling karna posisinya sekarang juga sudah didepan kampus. Hingga akhirnya matanya terpaku pada satu titik.


Itu dia kekasihnya. Berdiri didepan gerbang masuk kampus yang terlihat mondar mandir dengan ponsel ditelinganya.


Tara masih diam memaku dengan mata yang sudah berkaca - kaca. Tubuhnya seolah tak bisa digerakkan padahal sejujurnya dalam hatinya ingin sekali berlari sekencang mungkin lalu memeluk lelaki tersebut. Tapi, karna ucapan Sasa waktu itu, Tara memutuskan untuk berbalik dan berjalan menjauh dari Sandi.


Bersama dengan langkah lunglainya, air matanya juga mulai jatuh membasahi pipi. Merasa sesak dan bimbang. Apa lagi deringan hpnya yang sedari tadi terus terbunyi ditelinganya membuat dirinya seolah menjadi ragu dan ingin berbalik.


Tara menghentikan sejenak langkah kakinya. Ditariknya nafas yang dalam sambil memejamkan matanya. Menata perasaan agar tak ragu mengambil keputusan.


Braaakkk


Ponsel digenggamannya dibuang kedalam tong sampah dengan perasaan inilah pilihan yang benar.

__ADS_1


__ADS_2