
Mobil yang dikendarahi Kila masuk kedalam komplek perumahan sederhana. Setelah melewati beberapa belokan gang, Kila kemudian langsung memarkirkan mobilnya di garasi yang berdampingan dengan teras rumah. Terlihat waktu itu dari dalam mobil, pintu rumah sedang terbuka lebar dan hanya pintu tralis saja yang ditutup rapat.
"Ran, bundamu beneran udah datang, kamu langsung lari ke kamar mandi terus mandi jangan lupa juga seragamnya langsung di cuci besok masih dipakai biar bundamu gak ngamuk lagi" ingat Kila pada Randi sambil melihat situasi rumah dengan tangan yang sibuk melepas seatbel serta mengemasi barang - barang yang akan dibawah masuk.
"Iya Mami, siap" Randi mengangguk mantap siap menjalankan misi.
"Mami masuk dulu, buat ngalihin perhatian bundamu, nanti begitu aman kamu langsung masuk kamar mandi ya..." Randi mengangguk cepat.
Kila berjalan lebih dulu masuk kerumah untuk mengecek keadaan. Dibelakangnya ada Randi yang lalu berlari sembunyi ditembok samping pintu masuk dan kemudian sedikit mengintip ke dalam.
Saat itu, Kila clingak clinguk mencari keberadaan Tara. Membuka tiap semua pintu kamar dengan sedikit mendongak. Sepi tak ada orang. Cuma suara gemericik dari dalam kamar mandi yang terdengar. Tara sedang di kamar mandi, batinnya.
"Aiiisshhh" keluhnya.
Kila lantas menghampiri Randi lagi yang sembunyi di balik tembok sebelah pintu yang mukanya mendongak sedikit mengintip ke dalam lewat pintu.
"Em, ..." Kila berfikir sambil menggigit kuku dengan salah satu kaki yang bergetar.
Harus disembunyikan dimana anak cowok satu ini agar tak ketahuan ibunya. Karna kalau sampai ketahuan bisa berabe urusannya. Bukan cuma Randi aja yang kena semprot. Dirinya juga bakal disikat habis. Itu semua karna Randi yang punya badan ringkih, gak bisa kecapekan sedikit dan gampang sakit.
"Mami, Bunda dimana?" Randi bertanya dengan nada berbisik.
"Ssstttt, Dikamar mandi" jawab Kila menengok sejenak kedalam rumah.
"Ran, kamu cepet bersihin badan kamu dipancuran situ. Lepasin bajunya, Mami masuk ambil baju dulu"
"Siap Mi," Randi mengangguk nurut dengan mantap.
Dengan terburu - buru, keduanya menjalankan tugas masing - masing. Kila masuk kedalam mengambil baju ganti sementara Randi langsung membuka bajunya dan mengguyur kepalanya dikran yang ada dihalaman rumahnya.
Kila keluar dari dalam rumah dengan handuk dan baju ganti untuk Randi. Terlebih dulu, Kila membantu Randi membersihkan sisa - sisa kringat yang ada di sekitar leher Randi agar tak bau. Kemudian dia juga membantu menghanduki Randi yang badannya sudah separuh basah.
__ADS_1
"Cepet, cepet, cepet. Bundamu udah keluar" Kata Kila sambil nendang seragam Randi yang ada di lantai supaya lebih kepinggir dan tak kelihatan.
Dengan perasaan was - was dan juga tergesah - gesah Randi memakai bajunya. Untung saja saat itu, Tara baru muncul saat Randi sudah memakai baju dan Kila berhasil meminggirkan seragam Randi yang kotor.
"Lah, ini dia, kok baru pulang?" Tara menghampiri keduanya yang masih berdiri dihalaman rumah.
"Iya, tadi mampir dulu ke food court" saut Kila berjalan ke samping halaman menjemur handuk ditangannya.
"Bunda, ini Randi belikan es boba sama burger buat Bunda" Randi mendekat dan mengambil kantong kresek berisi makanan yang tasi diletakkan oleh Maminya di meja yang ada diteras.
"Hem" Tara mencebik. "Es boba lagi es boba lagi, kemarin es boba sekarang es boba, awas nanti kalau batuk lagi, terus sakit lagi, terus kamu manja - manja, Bunda gak bakal mau" sungutnya pada anak semata wayangnya yang lagi cengar cengir.
"Ih, nyengir lagi," Tara yang gemas mencubit pipinya. "Ya udah yuk masuk, Bunda tadi udah masak capcay kesukaan kamu"
"Aaahhh,, capcay..." Mata Randi berbinar.
"Mau Bunda, mau ..." Sekarang sambil lompat - lompat girang.
Randi, Kila dan Tara makan bersama di meja makan. Tara yang melihat Randi makan dengan lahab tersenyum simpul. Tak lupa juga dia menuangkan lagi capcap ke piring Randi.
"Bunda, tahu gak, tadi di sekolahku ada anak baru, anak kelas 1, cantik" cerita Randi diselah makannya.
"Hah?" Tara tersentak. "Cantik?" Tara memperjelas ucapan anaknya, bagaimana bisa anak 9 tahun sudah tau cewek cantik.
"Eh, kamu ini masih kecil udah tau cewek cantik" celetuk Kila yang juga merasa sama dengan Tara.
"Ahhh, orang emang cantik Mami, kayak boneka. Aku suka" ungkap Randi dengan kali ini dengan polosnya, membuat Tara sedikit cengong.
"Ih, ini masih kecil, udah suka - suka" omel Kila. "Gak boleh ya anak kecil pacaran. Sekolah dulu yang pinter, nanti kalau udah gede baru boleh pacaran"
"Yang pacaran siapa sih Mami, orang aku gak pacaran. Dia itu cantik kayak boneka!" jelas Randi
__ADS_1
"Heh, lucu Bunda, rambutnya keriting dikuncir 2, badannya gemuk, kalau jalan gini ..." Randi mempraktekkan cara jalan Sofia yang terlihat megal megol.
"Kok gitu kalau jalan?" Tara akhirnya menanggapi.
"Iya, kayak bebek" Randi yang girang saat membayangkan sosok Sofia dibenaknya. "Aku pengen punya adik kayak dia"
Mendengar penjelasan Randi, dan juga ekspresi anaknya yang polos, rasanya jadi lega. Maksud Randi bukanlah suka kepada lawan jenisnya. Maksudnya adalah rasa suka karna sosok Sofia yang terlihat menggemaskan seperti seorang adik dimatanya.
"Besok ya Bunda kalau nganterin aku kesekolah, Bunda lihat, lucu"
"Iya besok Bunda liat," jawab Tara menanggapi. "Sekarang habisin dulu makannya"
***
Hari sudah berganti malam. Jam didinding sudah jam 9 malam. Saat itu, terlihat Randi sudah tertidur lelap dikamarnya dengan memeluk guling. Tara yang menengok lalu menyelimutiny dan mematikan lampu kamar anaknya. Tak lupa juga dia membelai sayang kening Randi dan memberi ciuman hangat sebelum keluar.
"Udah tidur?" tanya Kila yang saat itu duduk di ruang tengah main HP.
"Iya, udah" jawab Tara yang kemudian duduk disamping Kila.
"Randi tidur, langsung sepi nih rumah"
"Iya," jawab Tara sambil tersenyum simpul.
Kila tertawa kecil. "Dasar si Randi, ada aja kelakuannya. Bisa, bisanya dia bilang cantik sama suka gampang banget gitu ke kita. Kayak gak ada takut - takutnya"
"Ya itu, aku juga heran. Selalu ada aja yang bikin aku spot jantung" Tara juga tertawa kecil karna kelakuan anaknya.
"Tapi syukurlah Tar, sejak ada dia paling enggak sekarang kamu udah balik jadi kamu yang dulu. Jadi Tara yang ceria, udah gak sedih lagi" ucap Kila menatap sahabatnya dengan tulus, dan syukur.
"Iya, rasanya aku juga bersyukur banget ada Randi. Paling enggak karna dia emang aku bisa bertahan" Tara membalas tatapan sabahatnya. "Tapi, bukan cuma karna Randi aja, tapi karna kamu juga yang sampai sekarang suport aku" Tara membalas tatapan sabahatnya.
__ADS_1
"Aaawwwww, so sweet ..." Kila kemudian merangkul Tara memberikan pelukan persahabatan.