Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 17


__ADS_3

Jam 9 pagi, setelah diperiksa oleh dokter, Tara sudah bisa pulang kerumah di pagi itu juga. Dia kemudian bersama dengan Mbak Desi, Mas Ilham dan Kila berkemas untuk bersiap pulang.


"Kamu beneran mau langsung kekampus?" tanya Mas Ilham pada Tara yang ada disampingnya.


"He'e Masku sayang, aku langsung ke kampus, kan aku udah bilang, ujiannya bentar lagi jam 10, ini udah jam 9. Kalau gak langsung berangkat nanti aku telat, kalau telat gimana dengan masa depanku??" jawab Tara karna pertanyaan tersebut sudah diajukan berkali - kali oleh Mas Ilham.


"Tapi kamu beneran gak apa - apa? gak sakit kepala atau pusing, atau badannya masih greges, nyeri - nyeri?"


"Mas," Dengan nada sedikit menekan. "Aku gak apa - apa. Aku udah sehat beneran, jadi Mas Ilham gak usah khawatir, oke?" Tara meyakinkan.


"Ya udah deh kalau gitu," Mas Ilham pasrah. "Nanti kalau ada apa - apa langsung telpon Mas Ilham ya... Kil, hati - hati lo, jangan ngebut" Mas Ilham yang secara bergantian memandang Tara dan Kila.


"Iya, iya, pak bos, siap..." jawab Kila sembari memberi hormat pada Mas Ilham.


Mereka secara bersama - sama keluar dari rumah sakit dan kemudian berpencar dihalaman parkir. Mas Ilham dan Mbak Desi menaiki mobil panther buntutnya menuju kedai, sedangkan Kila dan Tara pergi ke kampus.


15 menit perjalanan dari rumah sakit, Tara dan Kila akhirnya sampai. Dan seperti hari - hari biasanya, saat berjalan menyusuri lorong kampus, keduanya berjalan beriringan dengan Kila yang menautkan tangannya ke lengan Tara.


"Kamu kuliah jam berapa?" tanya Tara disela - sela langkahnya.


"Jam 11" Jawab Kila yang raut wajahnya malas karna ada jam kuliah.


"Oh, kalau gitu ntar aku tunggu di perpus aja ya" Yang dijawab anggukan oleh Kila.


"Eh, Tar, Kamu denger kabar gak?"


"Kabar? Apa?"


"Tar, ini masih katanya lo ya, jadi jangan terlalu dipikirin" Menekan ucapannya agar Tara tak salah sangkah.


"Ada apa emangnya?" Tara sedikit menautkan alisnya.


"Soalnya ini tentang pacar kamu"


"Pacar? emang kenapa?"


"Tar, katanya, prima grup lagi limbung, sahamnya turun terus, jadi katanya mereka lagi minta bantuan sama wiraka grup. Terus aku denger - denger wiraka mau bantu tapi syaratnya mereka harus ngelanjuti perjodohan anak - anak mereka." Kila menjedah sejenak untuk mengambil nafas.


"Tar, seandainya nih ya, kabar itu bener. Mas Sandi sama Sasa harus nikah, nanti kamu gimana?" tanya Kila hati - hati sembari memandang sahabatnya dengan rasa khawatir.


"Ya mau gimana lagi, cari yang lain" jawab Tara seolah sedang baik - baik saja padahal dalam hatinya sedang tersentak.


"Huft, syukur deh kalau gitu. Seenggaknya kamu masih belum cinta banget sama Mas Sandi. Soalnya aku takut kamu udah cinta mati sama, terus nekat ngajakin kawin lari"


"Emang kamu kira aku udah gila ya, pakai kawin lari segala." Meskipun terpaksa Tara tersenyum menjawabnya.


Selama 2 jam saat tes, Tara mencoba memfokuskan dirinya mengerjakan semua soal dihadapannya. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikirannya tentang perjodohan yang disebutkan Kila tadi. Untungnya meskipun begitu, sebelum waktu ujian habis Tara sudah bisa menjawab semua soal yang ada.


Kini Tara sudah menyusuri lorong kampus menuju perpustakaan sambil berkirim pesan dengan Sandi.


"Yang, lagi apa? masih ujian ya?" Pesan dari Sandi dan hanya dibalas dengan emoji 😏


"Hahaha, masih ngambek ya?"

__ADS_1


"G!" balas Tara singkat tapi sudah bisa menjelaskan maksudnya.


"Hem, kalau gak ngambek jawabnya kok singkat gitu? Yang, boleh minta cium gak?"


"Emang anda siapa minta - minta cium?"


"Aku kan calon suamimu yang paling ganteng. hehehe"


"Calon suami? sejak kapan? perasaan semalam udah aku batalin deh"


Ponsel Tara bergetar. Saat itu Sandi menelponnya karna merasa terpancing dengan pesan terakhir yang dikirimnya.


Tara menengadahkan pandangannya sebelum menerima telponnya. Dilihatnya bangku yang ada di depan salah satu kelas dan kemudian dia duduk disana.


"Apa telpon - telpon" suara jutek Tara mengawali panggilan tersebut.


"Yang, udah dong jangan marah lagi, ya ..."


"Emang yang marah siapa? bukannya bapak ya yang mulai marah - marah duluan semalam?"


"Semalam? perasaan semalam aku gak marah lo. Kemarin kan aku cuma ngasih wejangan sedikit ke kamu, biar kamu gak salah langkah, biar hidupmu lebih baik dan lebih sempurna plus lebih bahagia"


"Alesan! dasar!"


"Ih, siapa yang alesan? orang itu faktanya"


"Halah, orang semalam udah marah - marah ngatur - ngatur juga! gitu bilang ngasih wejangan. Mas, asal Mas Sandi tahu, aku gak butuh wejangan!"


"Hahaha" Sandi tertawa renyah. "Iya aku tahu, yang kamu butuhkan bukan wejangan, tapi cinta kan dari aku..."


"Beneran gak butuh?"


"Iya, ngapain juga, cinta, cintaan. alay!"


"Kalau sayang butuh gak?"


"Gak butuh juga!"


"Kalau duit butuh gak?"


"Pastilah!"


"Hem, dasar mata duitan"


"Biarin! orang aku realistis" Tara mencebik. "Mana kasih aku duit yang banyak!"


"Hem, minta duit, semalam ditawarin gak mau"


"Emang semalem Mas Sandi nawarin aku duit?"


"Lo, iya kan? aku kan bilang kalau kamu mau kuliah S2 atau S3 aku yang nanggung, biar kamu gak capek - capek lagi, masih sakit tapi harus ikut tes buat dapat beasiswa kan bikin aku khawatir"


"Itu nawarinnya kuliah bukan nawarin duit"

__ADS_1


"Ya kan sama aja dong sayang, kan sama - sama ngeluarin duit"


"Ya beda dong, aku kan mintanya duit buat jajan bukan buat kuliah. Bentar ya tunggu" Tara kemudian mengirimkan nomor rekeningnya pada Sandi.


"Itu, masukkan, itu nomor rekeningku, jangan lupa dikirimi uang yang banyak"


"Hahaha, gitu ya ..." Sandi mengeluarkan tawanya lagi. "Oke, buat sayangku apa sih yang enggak. nanti aku kirim uang yang banyak, buat jajan, ok"


"Bagus, harus gitu kalau mau tanggungjawab"


"Oh, iya yang, gimana kamu udah baikan?"


"Udah"


"Udah sehat beneran? atau masih ada yang sakit?"


"Udah baikan kok, aku udah sehat, jadi Mas Sandi gak perlu khawatir, oke"


"Syukur kalau gitu,Oh ya kalau tesnya gimana? lancar?"


"He'e lancar kok Mas"


"Syukur kalau gitu"


"Em, Mas Sandi boleh tanya?" ucap Tara ragu - ragu.


"He'e emang mau tanya apa?"


"Mas Sandi yakin mau nikahin aku?"


"Yakinlah, emang kenapa sih kok ditanyain? kamu gak percaya sama aku?"


"Enggak, bukannya gitu, soalnya kan aku merasa gak sebanding sama keluarganya Mas Sandi"


"Maksud kamu gak sebanding?"


Belum sempat menjawab, dari dalam kelas keluarlah gerombolan mahasiswa yang diantaranya ada Mita. Mita kemudian menyapa Tara yang sedang duduk asyik telponan bersama Sandi. Sehingga membuat onrolan keduanya jadi terhenti.


"Mas, ada Mita, aku matiin ya, nanti lagi" ucap Tara lantas mereject panggilannya.


"Eh, Mit" balas Tara. " Baru selesai?"


"Iya. Kamu?"


"Sama"


Panggilan yang tadinya terputus, sekarang berganti ke ponsel yang ada digenggaman Mita. Sebuah panggilan videocall dari Sandi melalui ponse Mita. Membuat adiknya jadi heran. Tak biasanya Sandi menelponnya apa lagi membuat panggilan videocall dengannya.


"Tumben nih orang telpon? videocall lagi" Mita mengerutkan keningnya heran.


"Siapa Mit?" tanya Tara.


"Kakakku"

__ADS_1


'Em, dasar, Mas Sandi' Batin Tara yang merasa memang segaja menghubungi Mita karna tadi dia memutus telponnya.


__ADS_2