Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 18


__ADS_3

"Hai..." Sapa Sandi mengawali panggilannya dengan senyum yang lebar sambil sedikit clingak clinguk curi pandang ke Tara yang katanya sedang bersama dengan adiknya, namun sayangnya saat itu yang tampak dalam layarnya cuma wajah Mita saja membuat Sandi sedikit kecewa.


"Tumben telpon? VC lagi, habis mimpi apa?" balas Mita dengan wajah yang sedikit ditekuk.


"Hahaha" Sandi tertawa renyah melihat adiknya seolah sedikit ngambek. "Emang kenapa? gak boleh ya Mas Sandi telpon kamu?"


"Ya aneh aja, gak biasanya. Kayak ada maunya."


"Hahahha, kamu kok gitu sih Mit? Eh Mit, Mas Sandi gak bisa liat wajah kamu nih, bisa gak ganti angel ke yang lebih terang" Sandi mencoba melempar umpan tanpa Mita tahu kalau tujuannya agar bisa melihat Tara.


"Gini?" Meskipun enggan Mita pun merubah posisinya.


"Terus ... terus, kekanan dikit, terus, ke kiri, ke kiri lagi, lah sip, gitu" Sandi mengarahkan Mita, sampai akhirnya bayangan Tara bisa masuk dalam layar.


"gimana udah kelihatan?"


"Sip, udah keliatan cantiknya" kata Sandi yang sebetulnya tunjukkan pada Tara yang sedang duduk diam, sementara Tara yang tahu kalau dirinyalah yang dimaksud berusaha menahan senyumnya.


"Idih tumben bilang cantik, ngimpi beneran kayaknya nih orang"


"Astaga Mita, kamu ini kok gak bisa percaya sih sama Mas Sandi."


"Ya mau percaya gimana orang Mas Sandi gitu, gak jelas blas"


"Hahaha, iya deh suka - suka kamu." Sandi menjedah sejenak ucapannya. "Mit, kamu gak kangen sama Mas? Mas Sandi kangen banget tahu sama kamu, kemarin aku pulang kita gak ketemu" Sandi yang bicara tanpa melepaskan pandangannya pada Tara.


"Alah, omong kosong bilang kangen. Wong kemarin pulang aja juga bukan gara - gara kangen sama aku, gitu bilangnya kangen!" dengus Mita kesal.


"Kemarin pulang sebenernya gara - gara kangen sama pacarmu kan? iya kan? ngaku deh, gak usah ngeles" Mita yang semakin menampakkan wajah juteknya.


"Hahaha kamu ini ya, tahu aja..." Sandi tertawa lebar mengakui.


"Lah kan, bener! gitu bilang kangen! Awas aja, udah dibelain sampe nomor duain aku terus nanti Mas Sandi bawah pacar modelan Sasa lagi, huft! aku pastiin, aku telen dia hidup - hidup biar cepet ngilang!" eram Mita sudah gregetan.

__ADS_1


"hahahaha, gitu ya?" Sandi terlihat menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Mitaku sayang, kamu jangan jahat - jahat gitu dong nanti kalau calon istrinya Mas Sandi kabur gara - gara kamu gimana?"


"Idih calon istri..." Mita menggoyangkan badannya geli.


"Eh, serius ini, kalau yang ini udah bukan pacar lagi sebutannya tapi calon nyonya Sandi" Sandi menegaskan.


"Iya terserah" Mita tak mau tahu.


"Asal kamu tahu, kalau sekarang calon istrinya Mas Sandi udah spek bidadari, kamu pasti suka. Mas Sandi berani jamin. Kalau kamu tahu, dia itu udah cantik, manis, pinter, baik hati, sederhana, senyumnya manis, bikin kangen" ungkap Sandi dengan pandangan yang masih tak lepas dari Tara mengamati sikap kekasihnya yang kini terlihat kembali menahan senyum sambil geleng - geleng mengarahkan pandangannya membelakanginya. Sementara Mita memutar bola matanya jengah.


Ditengah - tengah pujian yang dilontarkan Sandi pada pacarnya, mata Mita mengikuti arah pandang kakaknya. Diliriknya sebentar Tara yang sedang duduk disampingnya, lalu mencebik manggut - manggut.


"Terserah Mas Sandi deh, mau serius mau enggak, apa katamu, asal kamu bahagia. Lagian juga serius, serius ujung - ujungnya dapat yang lain terus yang lama dibuang juga." Mita menelan savilanya sejenak.


"Mas, jaga dulu pandangannya, baru bilang serius. jangan lirik - lirik yang lain, muji - muji ceweknya tapi matanya ngelirik yang lain" dengus Mita yang ternyata selama ini memperhatikan kakaknya yang tak bisa melepas pandangannya pada Tara yang duduk disampingnya, kemudian memberi kode agar tak memperhatikan Tara lagi.


"Hahaha habisnya cantik, bikin lupa daratan" kata Sandi yang menyulut emosi Mita.


"Tuh kan!" hardik Mita melotot dan mengarahkan layarnya kesisi lain agar Tara yang disampingnya tak lagi masuk dalam layar ponselnya.


Celetukan Mita tadi seolah secara tak langsung membongkar rahasianya didepan Tara.


"Aiiissshhh, kamu ini, malah diomongin" Sandi ikut kesal.


"Ya Mas Sandi duluan, aku kan udah peringatin kalau sama temenku ini NO! Dia terlalu baik buat Mas Sandi!" kata Mita yang ditekan diujung.


Panggilan diputus secara tiba - tiba oleh Sandi.


"Lah dimatiin" gerutu Mita kesal.


Ponsel Tara bergetar. 1 pesan masuk dari Sandi yang dilayarnya bisa dibaca meskipun tak dibuka.


"Yang, jangan dipikirin ya omongannya Mita, Mita lagi kumat soalnya, he .." isi pesan yang sengaja diabaikan oleh Tara.

__ADS_1


"Eh, sorry ya Tar, kebawa suasana, abis Masku nyebelin soalnya" seru Mita sembari memasukkan ponselnya kedalam saku.


"He'e gak apa - apa" Tara senyum.


"Kamu keliatannya akrab banget ya sama Masmu?" Tara mencoba membuka pembicaraan.


"Em, gimana ya..."Mita berpikir sejenak. "Dibilang akrab si enggak, cuma dibilang gak akrab ya akrab, ya ... selayaknya hubungan kakak beradik pada umumnya. Suka ribut, berantem, rebutan tapi kalau gak ada suka pada nyariin."


"Oh," Tara senyum sambil manggut - manggut.


"Eh, Tar sorry ya... aku tinggal dulu, soalnya tadi masih disuruh ke Bu Rahma" Pamit Mita sambil berdiri.


"He'em, iya"


"Aku duluan ya, see you ..." Mita berjalan dan melambaikan tangannya dan dibalas lambaian juga.


Sepeninggalan Mita, Tara kemudian juga melanjutkan tujuannya ke gedung perpustakaan.


Dalam perjalanan, ponsel disaku celananya kembali bergetar. 1 pesan dari Sandi kembali masuk. Pesan itu kali ini dibaca oleh Tara.


"Astaga..." Tara yang tak bisa menahan tawa kecilnya.


Pesan itu berisi sebuah bukti tranfer uang 50rb yang bercatatankan buat beli es boba.


"Dasar pelit!" balas Tara masih tak bisa melepas sisa tawanya.


Kini, jam di dinding masih menunjukkan pukul 1 siang saat Tara baru saja turun dari mobil Kila yang mengantarnya sampai depan rumah.


"Kamu gak mampir dulu?" Tara yang membungkukkan badannya ke arah jendela mobil untuk bicara ke Kila yang masih duduk di kursi kemudi.


"Enggak, aku bentar lagi mau temenin Mama belanja soalnya. Jadi aku langsung balik ya"


"Oh, ya udah kalau gitu. ati - ati Kil"

__ADS_1


"He'e, bye ... aku duluan ya..." pamit Kila melambaikan tangannya sebelum akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan Tara yang berdiri dihalaman rumah.


Setelah mobil Kila hilang dari pandangannya, Tara pun membuka gerbang rumahnya dan masuk kedalam rumah. Hari ini sepertinya Mas Ilham atau Mbak Desi sedang ada dirumah karna pintu depan rumahnya yang terbuka saat dirinya pulang.


__ADS_2