
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketokan terdengar samar - samar ditelinga Sandi.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Papa bangun ..." Seru Randi dari luar yang wajahnya sengaja di tempel ke kaca mobil hingga mengecap dan terlihat jelek. Sementara Sandi mulai menggeliat dan secara perlahan membuka matanya.
"ARRGGHH ..." teriak Sandi, terkaget - kaget saat begitu membuka mata menangkap sosok Randi yang wajahnya tertempel di kaca mobil.
"Randi!." serunya kemudian saat tersadar sambil mengelus dadanya. Dari luar terlihat Randi sedang terpingkal melihat reaksi sang ayah.
"Hahahaha, papa kanget ya?" pungkas sang anak masih terkikik pada Sandi yang sudah berdiri dihadapannya.
"Iya, kamu bikin kaget papa aja." timpal Sandi dengan nada gemas dan membalas sang anak dengan mencubit pipinya. "Uh, dasar!."
"Hehehe, Papa, kok udah disini pagi - pagi? Mau jemput aku sekolah, ya?" tanya Randi masih dengan sisa tawanya.
"Iya, papa mau jemput kamu." jawab Sandi bohong, padahal sebetulnya dia tak sengaja tertidur disini semalam.
"Yey, hari ini berangkat sekolah sama papa dong?" tanyanya dengan raut bahagia dan diangguki oleh Sandi.
"Pa, ayo pa, kalau gitu, kita masuk ke dalam, Pa." ajak Randi riang menarik sang papa tapi tertahan, Karna Sandi tak mau bergerak.
"Papa tunggu sini aja, kamu masuk aja sendiri kedalam,"
"Kenapa? takut sama Bunda?"
"Iya," saut Sandi mengangguk sembari tersenyum.
"Bunda gak bakal marah, ayo ..." Tarik Randi lagi sekuat tenaga hingga akhirnya Sandi membiarkan tubuhnya terseret masuk ke dalam rumah.
"Bunda ..." teriak Randi menggema didalam rumah, berlari meninggalkan Sandi yang tengah berdiri di depan pintu rumah sambil memperhatikan sekeliling rumah untuk menghampiri sang bunda didapur yang sedang memasak.
"Bunda, bunda ..." serunya lagi.
"Iya, ada apa pagi - pagi kok udah ribut."
"Bunda, ada papa didepan."
"Papa?" Tara mengernyit.
__ADS_1
"Iya papa, papaku!."
"Papamu? siapa?" Tara semakin mengernyit.
*"*Papa Sandi, Bunda!." tegas Randi, membuat mata Tara terbelalak dan kaget hingga tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri saat memotong sayur. "Aaahhhh ..."
"Bunda," pekikan Randi sampai terdengar keruang tamu, membuat Sandi yang berada disana mengarahkan pandangannya kesumber suara tapi sayang terhalang tembok jadi tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bunda gak apa - apa?" tukas Tara dengan gerakan cepat meraih tisu yang ada disampingnya dan membalut luka dijarinya. Rasanya, lebih besar rasa kagetnya karna Randi sudah memanggil Sandi dengan sebutan papa dari pada luka yang baru saja didapatkannya.
"Bunda, berdarah." Randi yang wajahnya berubah cemas.
"Iya, bunda gak apa - apa. Kamu ambilin bunda plaster ya di laci, sama betadin juga." perintah Tara pada Randi. Dan setelah kepergian anaknya, Tara pun langsung menggenggam jarinya dan meletakkannya didada, berusaha menetralisir perasaannya.
"Sebentar ya Pa, Bunda jarinya kena pisau. Papa tunggu disini ya ..." pesan sang anak yang di sempat - sempatkan ditengah kesibukannya menjalankan tugas dari bundanya.
Setelah Randi kembali berlari memasuki ruangan demi ruangan. Kini terdengar suara pintu kamar yang berhadapan langsung dengan ruang tamu baru saja dibuka.
"Lo, ..." seru Kila yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut karna keberadaan Sandi. "Mas, kok ada disini?"
"He, iya." Sandi meringis, tak tahu harus menjelaskan bagaimana.
"Eh, Tar, kayaknya si Sandi mulai semalaman deh ada didepan." tukas Kila yang berdiri disamping Tara yang sedang menyiapkan sarapan dengan mulut mengunyah nuget tapi mata memperhatikan Sandi yang kucel dengan baju kusut sisa kemarin.
"Hem, kayaknya mereka udah akrab banget tuh. si Randi udah manggil papa kayaknya." seru Kila membuatnya seolah - olah baru tahu, padahal sebetulnya sudah sejak kemarin dia tahu.
"Wah, lumayan juga nih, si Sandi, bisa cepet ngeluluhin hatinya Randi. Padahal baru kemarin kan dia bilang kalau benci sama papanya?" timpal Kila lagi - lagi. Sementara Tara cuma diam saja, tampak acuh. Membuat Kila jadi mencebikkan bibirnya karna reaksi sang sahabat masih menolak.
Sarapan sudah siap. Makanan sudah ada diatas meja. Randi juga sudah memakai seragam sekolahnya.
"Papa, ayo makan sama aku." ajak Randi kembali menarik sang ayah menuju meja makan, dimana disana ada Tara dan Kila sudah duduk lebih dulu.
"Papa, nanti saja sarapannya, Papa bisa makan diluar."
"Kenapa? papa masih takut dimarahin bunda?" celetuk Randi dihadapan semua orang dewasa.
"Hah, enggak," elak Sandi cepat, sambil melirik Tara yang acuh, tak memperdulikan keberadaannya. "Papa cuma belum lapar,"
"Bunda, bunda marah kalau papa ikut sarapan sama kita?" todong Randi tiba - tiba pada sang ibu, membuat sang ibu tersentak dan menengok canggung pada sang anak.
"Apa Bunda marah?" ulangnya lagi.
__ADS_1
"Enggak, bunda gak marah. Soalnya ini masih pagi. Jadi gak boleh ada yang marah - marah." saut Kila cepat menengahi situasi.
"Mas, duduk aja." Kila memberi kode dengan mengerutkan wajahnya ke Sandi.
Perlahan. Sandi mulai duduk disamping Randi. Matanya masih mengarah pada Tara yang duduk tepat dihadapannya. Sementara Tara masih acuh. Jangan kan melihat, melirik pun tak mau.
"Pa, aku mau itu ..." pintah Randi, terlihat manja pada sang papa, sesaat mereka sudah mulai makan.
"Mana? itu?" Sandi secara bergantian melihat Randi dan ayam kecap dimeja yang mana posisinya sudah pasti tak bisa dijangkau olehnya kecuali dibantu oleh Tara.
"Iya."
"Oh, iya, sebentar." jawab Sandi kikuk, menggerakkan tangannya ragu - ragu untuk menjangkau makanan yang dimaksud. Mau minta tolong, takut malah menghancurkan suasana pagi ini.
"Tolong ..." seru Sandi hati - hati yang akhirnya menyerah, karna sudah tak bisa menjangkau.
Tanpa di duga. Tara menerima menerima permintaan Sandi meskipun dengan sikap acuh dan menggeser ayam kecapnya kehadapan Randi. Tapi, itu sudah cukup membuat Sandi jadi mengumbar senyum di pagi itu.
Selesai sarapan. Randi pun berangkat sekolah dengan diantar oleh Sandi meskipun awalnya Tara tak mengijinkan. Tapi karna Randi yang terus merengek. Mau tak mau Tara akhirnya menuruti keinginan anaknya itu.
"Ran, mau bantuin papa gak Ran?" tanya Sandi diselah perjalanan menuju sekolah Randi.
"Bantu apa pa?"
"Bantuin papa deketin bunda, biar bunda gak marah lagi sama papa."
"Ciye ... papa mau pacaran lagi ya sama bunda?" goda Randi yang berhasil membuat Sandi tertawa renyah.
"Boleh kan kalau papa pacaran sama bunda?"
"Boleh, boleh," Randi menjawab cepat dengan mengangguk - angguk senang.
"Oke, kalau gitu, kita susun rencana, ya... besok hari minggu ajak bundamu jalan - jalan."
"Jalan - jalan, kemana pa?"
"Em, jangan jauh - jauh dulu. Yang masuk akal dulu." Biar bundamu gak curiga." jawab Sandi sambil mikir. "Em, gimana kalau kamu ajakin bunda berenang?"
"Renang, mau, mau pa aku mau ..." jawab Randi antusias.
"Ok, kalau kamu mau, hari minggu besok kita berenang bertiga, ya ... oke?" Sandi menengadakan telapak tangannya kehadapan Randi. Mengajak tos sang anak sebagai tanda kesepakatan. Sementara Randi membalas tos itu sekuat tenaga, sampai tangan Sandi sedikit terpental dan kesakitan. Tapi meskipun begitu Sandi tetap tertawa renyah, mengucel - ngucel rambut sang anak, gemas.
__ADS_1