Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 63


__ADS_3

"Randi, ... sarapan dulu, nak." panggil Tara, dari meja makan.


"Iya, bunda ..." saut Randi yang ada didalam kamar. Masih mengenakan kaos dalam, dan asik dengan ponselnya sambil sesekali terkikik.


"Ran, sarapan dulu..." seru sang ibu kembali.


"Iya ..." jawab Randi lagi, tapi lagi - lagi cuma menyaut saja, tak segera beranjak.


"Randi, kamu belum selesai?"


"Iya, bunda sebentar."


Ternyata saat itu. Randi sedang asik videocallan dengan sang papa hingga tak menggubris sang bunda yang sejak tadi berkoar - koar.


Tara menoleh beberapa kali kearah pintu kamar Randi. Wajahnya tampak penasaran apa yang sedang dilakukan sang anak sampai - sampai beberapa kali di panggil tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Randi, kamu masih belum selesai?" ulang Tara lagi dari balik pintu yang baru saja dibuka.


"Astaga, Randi! kamu ngapain aja dari tadi? kok masih belum pakai seragam sih? ini udah jam 6 lebih lo, Ran!" omel Tara. Sementara Randi reflek menyembunyikan ponselnya dibalik buku yang ada dimeja.


"Heh, iya, bunda, maaf. Ini aku mau pakai baju." Randi meringis dan meraih seragam yang sedari tadi nangkring diatas kasur.


"Ya udah, ayo cepet pakai seragamnya, terus sarapan, biar gak telat sekolahnya."


"Bunda, sekali - sekali telat, kan gak apa - apa."


"Ehhh kok gitu? kamu mau belajar jadi anak nakal?" Tara mulai melotot. "Udah ayo cepet, pagi - pagi kamu jangan bikin bunda emosi. Cepet pakai seragamnya terus sarapan, Kalau dalam waktu 5 menit kamu gak keluar, hari ini Bunda gak mau kasih kamu uang jajan!." Tara menutup pintu dengan kasar.


"Hahaha, ternyata kayak gitu ya kalau bundamu lagi marah." Suara sang ayah terdengar lagi dari balik panggilan videocallnya.


"Iya, Bunda kalau marah kayak mak lampir. hiii ..."


"Hahaha, tapi gak apa - apa Ran, untung mak lampirnya cantik."


"Iya, Bundaku emang cantik, tapi suka ngomel." imbuh Randi kembali terkikik bersama sang papa.


"Ya udah kalau gitu, kamu sekarang cepet pakai seragamnya sana sama sarapan, biar mak lampirnya gak ngamuk lagi. Terus nanti pulang sekolah, biar papa yang jemput, ya?"


"Iya, Pa, Oke."


"Terus Ran, jangan lupa kata Papa yang tadi, besok bundamu ajakin berenang beneran, oke?"


"Oke. Siap laksanakan pak bos." Randi memberi hormat dengan kembali diiringi tawa dibelakangnya. Begitu pula Sandi membalas hormat sang anak dengan tawa sumringah diwajah.

__ADS_1


Panggilan berakhir. Randi menyimpan ponselnya dalam tas. Dia kemudian memakai seragamnya dengan cepat dan keluar untuk sarapan.


"Bunda, aku nanti ada ulangan bahasa indonesia lo Bunda." kata Randi diselah mulutnya yang sedang mengunyah nasi.


"Iya, kenapa, ada yang kamu gak bisa?"


"Enggak Bunda, bukan itu maksudnya. Kalau itu aku udah belajar, aku bisa semua." jawab Randi.


"Iya, terus?"


"Em, Bunda," seru Randi tampak ragu - ragu.


"Hem."


"Em, Bunda, nanti kalau aku ulangannya dapat 100 lagi, Kita besok berenang yuk Bunda."


"Renang?" Tara mengernyit.


"Kamu mau renang? Mami ikut ya..." celetuk Kila yang baru saja datang dan duduk disalah satu kursi yang berada disamping Randi.


"Jangan! Mami jangan ikut. Gak boleh!" sanggah Randi cepat.


"Lah, emang kenapa? Mami kan juga udah lama gak renang."


"Kenapa sih kok gak boleh ikut?" tanya Kila malah mengernyit tak mengerti. Sementara Randi semakin intens memberi kode, malah sampai menggunakan bibir, membuat Tara yang ikut mempehatikan juga bingung.


"Hem," Kila mencebik. Akhirnya dia paham apa yang dimaksud oleh anak lelaki yang duduk disampingnya itu.


"Oke, oke, Mami gak akan ikut kalau gitu. Besok Mami mau nyalon aja. Mau manipedi biar lebih cetar." Kila mengibaskan rambut lurus panjangnya. Sementara Randi langsung lega.


"Gimana Bunda? mau ya Bunda besok berenang? aku kan udah lama Bunda gak berenang." bujuk Randi lagi. "Terus Bunda, kemarin Noval juga cerita kalau katanya hari minggu kemarin habis berenang sama bundanya, jadi sekarang aku juga pengen kayak Noval Bunda, ya Bunda, ya ..." Kali ini Randi memasang wajah memelas.


"Hm, gitu. Jadi kamu iri sama temenmu, karna habis berenang." simpul Tara. "Ya ... kalau gitu, kalau memang pengen berenang, kamu ijinin Bunda sama bu bos. Boleh gak Bunda nemenin kamu besok berenang."


Sigap, Randi langsung membalik badannya menghadap ke Kila. Dia memasang wajah memelas dan sok imut dihadapan sang Mami. "Bu bos, boleh, ya ...?"


"Hem, dasar!" Kila mencebik.


"Boleh kan mami?" Randi mengedip - ngedipkan mata. Sementara Kila membuang muka dengan tersenyum kecut.


"Iya, iya, bawah sana, tapi jangan lupa hari senin suruh kerja lagi. Full time!."


"Yey ..." Randi girang. "Mamiku buaik deh, aku sayaang sama mami."

__ADS_1


Dan Kila pun mengerlingkan matanya, geli.


***


Esoknya. Randi dan Tara baru saja sampai di waterboom. Randi, tiba - tiba menarik tangan Tara agar menepi dibawah pohon yang ada di parkiran.


"Bentar, Bunda jangan beli tiket" tukas Randi.


"Lo, emang kenapa? gak jadi renangnya?"


"Sebentar Bunda, tunggu sebentar." jawab Randi dengan mata yang memperhatikan sekeliling mencari keberadaan seseorang.


"Kenapa, emang masih ada yang mau datang?"


"Iya, ada papa."


"Papa?" desis Tara yang wajahnya seketika mengeras seketika.


"Papa," seru Randi menaikkan suaranya dengan tangan melambai. Membuat Tara yang tadi masih terpengarah jadi semakin terpengarah lagi. Apa lagi anaknya itu sekarang sedang berlari menghampiri sosok lelaki yang dipanggilnya.


"Bunda, Papa udah datang, ayo masuk." ajak Randi tanpa peduli pada Tara yang masih diam membatu.


"Ran, ini kamu sengaja, ya?" pekik Tara menatap sang anak dengan wajah dingin.


"Bunda," Randi mulai bergelantung manja pada sang bunda. "Hari ini kita berenang bareng, ya?Bunda jangan marah, ya? Aku kan kepengen sama bunda sama papa, kayak mereka." Randi menunjuk salah satu keluarga yang tampak bahagia. Dimana semua anggota keluarga sedang berkumpul.


Tara mengarahkan pandangnya ke keluarga yang dimaksud. Dia tiba - tiba termanguh sejenak. Begitu juga dengan Sandi yang disampingnya.


"Ya, Bunda ya ..." bujuk Randi lagi. "Jangan marah, ya bunda? sekali ini aja."


Tara masih diam. Dia melirik pada Sandi, begitu juga Sandi yang tampak berdiri canggung tapi terlihat berharap.


"Bunda ..."


"Huft..." suara hembusan nafas kasar dari hidung Tara. "Iya, ayo ..." desis Tara lirih, membuat Randi tersenyum lebar. Begitu juga dengan Sandi, tapi senyumannya berusaha ditahan padahal dalam hati sudah bersorak girang.


Tara, Randi dan Sandi masuk kedalam waterboom. Mereka bergandengan tangan dengan Randi ditengah. Randi dan Sandi mengayunkan tangan mereka kuat - kuat. Kadang Randi juga sesekali diangkat. Mereka terlihat bahagia bersama.


Diam - diam, Sandi memberi kode pada sang anak agar mengganggu sang ibu yang wajahnya masih terlihat datar. Randi mengangguk kecil. Dia menerima kode dari sang ayah dengan senyuman lebar.


"Bunda..." Randi tiba - tiba berlari memutar sampai sang bunda terpental.


"Aahhhh..." Tara sontak berteriak.

__ADS_1


"Randi!." pekik Tara, melotot, setelah terpental. Sementara dua orang disampingnya malah menanggapi dengan tertawa puas.


__ADS_2