
"Lang, hari ini gue gak ke kantor, kalau ada apa - apa, lu urus sendiri." Kata Sandi yang saat itu sedang menelpon Gilang.
"Yang bener aja San, ini urusan ganti rugi kompensasi gimana?" seru Gilang protes daei balik telponnya.
"Lu urus dulu, tolong juga beberapa hari ini setiap jam 1 lu kosongin jadwal gue."
"Hah? kosongin gimana? Kita kan besok jam 1 harus rapat sama vendornya prima mart, San." omel Gilang lagi yang terdengar samar karna ketika Gilang berbicara, Sandi menjauhkan ponsel daei telinganya dan langsung mematikan.
Bagi Sandi, urusan yang paling penting adalah tentang Randi dan Tara. Karna seperti katanya kemarin, Sandi sudah bertekad untuk meluluhkan hati Tara dan Randi.
Maka dari itu, siang itu. Sandi sudah memarkir mobilnya di depan sekolah Randi dan menunggu sang anak keluar saat jam pulang sekolah tiba.
Beberapa saat menunggu. Terdengar suara bel yang nyaring bunyinya dari dalam sekolah. Suara bel itu, membuat Sandi yang tengah duduk bersandar dikurai kemudi langsung bangun dan keluar dari dalam mobil.
Berbondong - bondong, para murid mulai keluar dari dalam kelas. Mereka secara bergantian bersalaman dengan para guru dan kemudian langsung pulang kerumah masing - masing.
Sandi tak mendapati Randi keluar dari banyaknya anak - anak tadi. Karna itu, Sandi pun akhirnya berjalan ke gerbang dan menengok kedalam halaman sekolah.
"Randi," Suara Sandi memanggil Randi, yang saat itu sudah berada didekat sang anak yang tengah bermain dengan anak - anak lain.
Randi mengangkat arah pandangnya dan menangkap sosok sang ayah. Seketika, wajah Randi berubah masam dan tak bersahabat. Selain itu, Randi juga sempat melengos tak mau memandang sang ayah.
"Randi," sapa Sandi lagi dengan raut muka yang jelas kecewa, tapi berusaha ditahan.
"Aku gak mau ngomong sama Om Sandi!." jawab Randi semakin melengos.
Sandi menghela nafasnya. Tak mengira akan dapat penolakan dari Randi, padahal kemarin mereka sudah cukup akrab.
"Kenapa? kamu marah sama Om?" Sandi berjongkok dihadapan Randi, menatap sang anak yang tak bereaksi dan tetap masam.
"Ran, hari ini ada film spiderman di bioskop, kamu mau liat?" Sandi berusaha membujuk Randi. "Em, atau mau main ke wahana? naik go cart? roller coaster? bombomcar? atau yang lainnya?"
Randi tetap tak menatap Sandi, dia malah membuka bukunya.
__ADS_1
"Atau mau ke kebun binatang? Em, liat dinosaurus mungkin?"
Randi tetap tak bergeming. Anak itu cuma melirik sebentar. Dan kemudian kembali membuang mukanya.
"Ran kamu belum makan kan? kamu mau makan apa?" bujuk Sandi lagi dengan sabar. "Mau gak Om belikan es boba sama sosis bakar? kamu suka kan es boba sama sosis bakar?"
Sandi diam untuk beberapa saat, berfikir.
"Ran, kamu tahu gak? dirumah Om, Om juga punya banyak hot wheels. Om juga punya tracknya. Kalau kamu mau, kamu bisa ambil semuanya. Nanti kalau kamu mau kita bisa main bareng sama Sofia juga disana."
"Sofia?" pekik Randi, malah nama Sofia yang berhasil membuat Randi bereaksi.
"Iya, Sofia, kamu mau main sama Sofia?" tanya Sandi bersemangat.
Randi diam sejenak, raut mukanya sedang berfikir. Ikut atau tidak. Tapi akhirnya Randi pun mengangguk, hingga Sandi pun tersenyum lega karna berhasil membujuk Randi.
Sepanjang perjalanan Sandi pun tersenyum melirik Randi yang duduk disampingnya ditengah dirinya yang memperhatikan jalanan yang ramai. Sampai sekitar 30 menit perjalanan, mereka pun tiba dirumah keluaraga Sandi.
"Lo, San, tumben ..." sapa Bu Yanti yang saat itu tengah meladeni sang suami yang duduk dimeja makan hendak makan siang, dan matanya langsung terara pada sosok anak lelaki yang ada di belakang sang anak.
"Randi ..." seru Bu Yanti yang seolah menggema seluruh isi ruangan.
Bu Yanti kemudian langsung mendekat ke arah Randi. Dia kemudian menarik sang cucu untuk duduk di sofa yang ada didekatnya.
Bu Yanti menatap Randi dengan air mata yang sudah ada diujung mata. Dibelainya sayang, rambut Randi beberapa kali. Dan diusap juga pipi Randi yang gembul, putih mulus.
"Pa ..." Bu Yanti menoleh pada sang suami yang masih duduk di meja makan, berharap suaminya bisa mendekat dan mengelus cucunya juga.
Bu Yanti kemudian menarik tubuh Randi. Dia memeluk Randi sambil beberapa kali memandang wajah Randi.
"Pa, ..." seru Bu Yanti lagi setelah sang suami duduk disalah satu sofa di dekat mereka. Sementara Pak Dani cuma tersenyum dan mengacak - ngacak rambut sang cucu, yang baru ditemuinya itu.
Melihat pemandangan itu, Sandi yang berdiri tak jauh dari mereka pun tersenyum. Ada rasa lega dalam hatinya karna kedua orangtuanya yang mau menerima Randi dengan hangat.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian. Saat Randi dan Sofia sedang bermain di kamar bermain milik Sofia. Sandi, Mita, Bu Yanti dan Pak Dani duduk di ruang tengah.
"Mas, sampai detik ini aku gak habis pikir. Gimana ceritanya Mas Sandi sama Tara bisa pacaran? Terus diem - diem lagi dibelakangku?" pekik Mita dengan nada juteknya.
"Sorry, Mas Sandi gak maksud buat nutupin hubungan Mas Sandi sama Tara ke kamu. Sebetulnya waktu itu rencananya, setelah urusan kerjaan di korea selesai Mas Sandi mau bawah Tara ke rumah buat ngenalin dia ke keluarga besar. Tapi berhubung seperti ini. Jadi ... ya ..." ucap Sandi yang tak melanjutkan ucapannya dan kembali menunjukkan ekspresi merasa bersalahnya.
"Udah, udah ... jangan bahas yang dulu - dulu." Bu Yanti menengahi. "Untuk sekarang, karna sekarang ada Randi, jadi mama minta semuanya baik - baik sama Randi sama Tara." ucap sang ibu yang tak bisa dibantah lagi oleh Mita.
"Oh iya San, kalau Tara gimana?" tanya Bu Yanti, menatap sang anak sulung. Sementara yang ditanya memberi jawaban menggeleng.
"Huft," Yanti membuang nafasnya kasar. "Gak apa - apa, kamu sabar aja, karna memang pastinya gak muda buat Tara membuka hatinya lagi. Jadi kamu jangan menyerah." Bu Yanti memberi dukungan.
"Iya Ma." jawab Sandi mengakhiri obrolan tentang dirinya.
"Gimana masalah kompensasi?" tanya Pak Dani sambil melirik Sandi.
"Lagi diurus sama Gilang. Dan lagi diusahin biar perusahaan gak terlalu banyak ruginya." jawab Sandi.
"Berapa yang harus dibayar?" tanya Pak Dani lagi.
"Sekitar 2,5 M"
"Perusahan kamu mampu?" pekik Pak Dani mendengar nominalnya yang besar. Sementara Sandi mengangguk ragu.
"Kemarin, yang 1,5 M udah bisa diambil dari keuntungan perusahaan dan juga penjualan beberapa anak perusahaan yang merugi terus. Tinggal cari sisanya. Mungkin nanti Sandi ambilin dari penjualan barang - barang pribadi."
"Kalau nanti kamu butuh bantuan, bilang ke Papa nanti Papa usahakan."
Malam akan datang. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 5 malam. Tidak ingin, Tara marah lagi karna terlalu lama membawa Randi. Sandi pun mengantarkan Randi kembali ke sang ibu.
Beberapa waktu dalam perjalanan. Sandi dan Randi akhirnya sampai di baseman mall. Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan Sandi yang merangkul bahu sang anak.
Langkah mereka berhenti. Terdengar pekikan dari seorang wanita dari belakang memanggil Sandi.
__ADS_1
"San," seru Sasa yang tadi mengikuti mereka, Dengan mata yang melirik ke Randi dengan seutas senyuman sinis yang lagi - lagi diuraikan di bibirnya.
Sementara Randi yang dilirik perlahan mencondongkan tubuhnya kebelakang sang ayah sambil menggenggam erat lengan sang ayah.