
Mobil yang dikendarahi Sandi baru saja sampai dihalaman rumah keluarganya. Hari ini, Sandi mampir kerumah untuk menemui Pak Dani yang sudah sejak kemarin memintanya untuk datang.
"Ma, papa mana?" tanyanya pada Bu Yanti yang kebetulan ada di halaman rumah, sibuk dengan bunga - bunganya.
"Didalam, diruang kerja kayaknya." saut Bu Yanti ditengah kesibukannya bercocok tanam.
"Oh." jawab Sandi sambil lalu.
Sandi masuk kedalam rumah dan langsung menuju ruang kerja papanya. Tanpa mengetuk, Sandi membuka pintu ruang kerja yang di dalamnya sudah ada Pak Romi dan Pak Dani duduk di sofa.
"Pa," sapanya, lalu duduk bergabung dengan keduanya.
"Gimana persiapan sidang besok?" tanya Pak Dani.
"Udah mateng."
"Berapa persen kemungkinan kita menang?"
"100%."
"Kamu yakin 100%? karna papa denger Sasa dan tim hukum terbaiknya besok yang akan langsung mengawal persidangan."
"Yakin banget, bukti - bukti yang kita punya kuat, saksi mata juga, hakim dan jaksa juga ada dipihak kita. Jadi papa gak perlu khawatir. Kalau pun kita kalah, nanti kita bisa nyerang mereka lewat PT beton jaya."
"Bagus kalau gitu," jawab Pak Dani puas.
"Terus untuk prima mart gimana?" tanya Pak Dani yang beralih pada pekerjaan yang lain.
"Kita udah kerjasama sama PT Java, jadi sepertinya gak ada masalah."
Saat itu, Sandi, Pak Dani dan Pak Romy mulai membahas sejumlah pekerjaan. Mereka melakukan rapat kecil bertiga didalam ruang rapat. Tak terasa begitu banyaknya pekerjaan sampai membuat ketiga orang tersebut lupa akan waktu. Jam didinding sudah pukul 12 siang, dan pintu sudah di ketuk oleh sang ibu agar ketiganya keluar untuk makan siang.
"Rom, kamu gak ikut makan?" tanya Bu Yanti ke pak Romy yang terlihat sudah hendak pergi.
"Saya hari ini juga mau makan siang sama keluarga Bu, jadi hari ini saya gak bisa gabung."
"Oh, ya sudah kalau gitu, padahal saya tadi udah masak agak banyak."
__ADS_1
"Iya maaf bu, kalau gitu saya pamit dulu Bu,"
"Iya, hati - hati ya pak ..."
Kini, Bu Yanti, Pak Dani, dan Sandi sudah duduk bersama dimeja makan. Terlihat Bu Yanti dengan perhatian mengambilkan nasi untuk suami dan juga anak sulungnya tersebut.
"Pak Romi mana? udah pulang?" tanya Sandi yang sudah tak melihat Pak Romi.
"Katanya mau makan siang sama keluarganya juga." jawab Bu Yanti, sedangkan Sandi manggut - manggut.
"Kalau Mita sama Sofia?" tanyanya lagi.
"Mita lagi bujuk Sofia, dia lagi ngambek karna hari ini Randi gak datang." jawab Bu Yanti.
Tak berselang lama, dua orang yang dibicarakan pun datang dan duduk bergabung bersama. Tampak wajah Sofia yang masih masam dan cemberut. Dan tampak juga wajah Mita yang menahan kesal karna anaknya tersebut.
"Udah dong sayang, jangan cemberut terus, nanti gak cantik lagi lo kalau cemberut terus." bujuk Bu Yanti pada cucu yang sudah duduk disampingnya. "Ini, Oma ambilin makannya, ya ... Sofia mau apa? ini ada ikan mujaer, ada kepiting, ada telur, mau sama apa?"
"Enggak, aku gak mau makan. Aku maunya ketemu kak Randi!." tungkas anak kecil itu, dengan nada merengek.
"Sofia! Tadi kan Pak Ono udah bilang, kalau Kak Randi udah gak bisa kesini, karna kalau minggu harus ikut Bundanya pergi. Kamu kok masih gitu sih?" Mita menaikkan nada bicaranya setingkat karna sudah merasa sebal dengan anaknya yang terus merengek.
"Sofia!" hardik Mita.
"Pokoknya aku mau sama kak Randi. Pokoknya Kak Randi!." seru Sofia yang kemudian berlari sambil nangis, membuat Mita yang lelah jadi pasrah.
"Coba kamu hubungi orangtuanya si Randi, siapa tahu, nanti bisa bawah Randi kesini." celetuk Pak Dani membuka suaranya karna ingin cucunya terus menangis.
"Gak usah." sanggah Mita. "Ini paling juga karna sama Bundanya gak dibolehin."
"Lo, emangnya kenapa kok sampai gak dibolehin?" saut Bu Yanti.
"Ma, tahu enggak?" Mita menggantung ucapannya menunggu reaksi Bu Yanti agar lebih memperhatikan. "Ternyata Bundanya si Randi itu, temen kuliahku."
"Temen kuliah? temen kuliah yang gimana maksudnya?" tanggap Bu Yanti.
"Ya temen kuliah. satu kampus, satu jurusan."
__ADS_1
"Oh, iya, bagus dong kaau gitu, terus kenapa?" tanya Bu Yanti.
"Ma, Mama inget gak? dulu aku pernah cerita ke Mama kalau ada salah satu temenku yang cantik, yang paling pinter tiba - tiba DO di semester akhir karna gosipnya lagi hamil?"
Perkataan Mita itu jelas membuat telinga Sandi jadi melebar. Bukankah yang diceritakan Mita kali ini adalah Tara. Tara pacarnya. Karna itu, seketika Sandi menghentikan makanannya dan mengarahkan pandangannya ke Mita yang duduk dihadapannya. Menanti info lebih dari adiknya.
"Oh ... iya, mama inget, dulu kamu pernah cerita. Jadi itu terus kenapa?" tanya Bu Yanti lagi yang ingin tahu lebih.
"Ya itu dia. temen Mita yang hamil itu, ya bundanya si Randi. namanya Tara kan?" celetuk Mita membuat Sandi sontak terpengarah ketika nama Tara disebut.
"Iya, betul, nama Bundanya Randi Tara" jawab Bu Yanti seolah mempertegas. "Ya Tuhan, jadi dia itu temen kamu Mit? Berarti kalau gitu..." Bu Yanti menggantung ucapannya.
"Iya, kemungkinan dulu dia lagi hamil si Randi." Kila memperjelas.
"Bener itu Tara?" pekik Sandi dengan suara bergetar dan jantung berdegup kencang ditengah obrolan ibu dan adiknya.
Rasanya ini semua masih tidak nyata baginya. Seseorang yang sudah lama dicari ternyata selama ini ada di dekatnya. Dan sesuatu yang dikhawatirkan selama ini benar terjadi. Tara benar - benar hamil anaknya dan sekarang anak itu sudah besar.
"Benerlah, masak aku bohong." jawab Mita santai, karna tak tahu tentang fakta yang terjadi antara kakaknya dan temannya itu.
Dapat jawaban pasti. Tanpa pikir panjang, Sandi lantas langsung bergegas meninggalkan meja makan begitu saja. Dia tak peduli lagi meskipun dipanggil - panggil dan ditatap heran oleh semua orang dari meja makan. Yang pasti saat itu, pikiran Sandi cuma satu. Cepat - cepat menemui Tara.
"Lang, tanya temen lu sekarang lagi ada dimana?" perintah Sandi yang menelpon Gilang sambil masuk dalam mobil.
"Temen? temen yang mana?"
"Bundanya Randi."
"Bundanya Randi? bukannya kalau jam segini lagi di butik?" jawab Gilang yang langsung diputus begitu telponnya setelahnya.
Sandi menginjak gas dalam. Mobilnya melaju cepat menyalip semua kendaraan yang ada didepannya. Meskipun matanya fokus kejalan, tapi sebetulnya pikirannya sedang kacau. Apa yang membuat Tara selama ini bersembunyi darinya. Bahkan saat ada anak diantara mereka.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mobil Sandi akhirnya sampai di lobi mall. Dengan bergegas Sandi lantas turun dari mobilnya dan mengkode pada satpam mall yang berjaga di pintu masuk agar seseorang memarkir mobilnya dengan benar.
Sandi sampai di butik milik Kila. Saat itu matanya tertuju pada seorang wanita yang tengah berdiri dimeja kasir.
Deg. Jantungnya tersentak. Matanya bergetar. Begitu juga wajah dan tubuhnya. Wanita dihadapannya itu adalah wanita yang selama ini dicari sekaligus wanita yang begitu dirindukan. Sekarang wanita itu sudah ada dihadapannya.
__ADS_1
"Tara ..." desisnya lirih, tapi dapat didengar oleh beberapa telinga yang ada disana termasuk wanita yang dipanggil.