POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
POV Pelakor


__ADS_3

Fitrah manusia, baik lelaki maupun perempuan, tidak peduli tua atau muda akan saling membutuhkan kehendak alam berputar dan berurutan. Segala kebutuhan hidup menuntut untuk di penuhi. Terutama kebutuhan batin yang kasat mata.


Semua manusia tidak hanya butuh sandang, pangan dan papan. Namun juga butuh dicintai dan mencintai, butuh bahagia, butuh perhatian, butuh dihargai, butuh keamanan dan butuh penyaluran hasrat libidonya. Baik sekedar pelampiasan ataupun mengembangkan keturunan.


Demikian pula dengan mas Sean dan aku saat ini, jujur aku mulai ketagihan akan kelembutan suamiku, belaian tangan nya pada tubuhku mulai membuatku merasa nyaman, salahkan jika aku mengimbangi keinginannya, agar tidak membuatku seperti mengharapkan tanpa berusaha menyenangkan nya.


Namun tak pernah aku memikirkan hal ini, saat kebersamaan kami yang baru akan ku mulai untuk saling membalas, ternyata ada mata lain yang melihat kejadian diantara kami yang membuatku merasa malu dan marah.


Ozzu menatapku dengan pandangan nya yang terlihat menahan sesuatu


Aku ingin marah sebenarnya, apalagi saat tiba-tiba dia memandangku dengan tatapan lapar, namun aku sadar mungkin dia terbawa arus perasaan, terlebih setelah melihat adegan live yang bahkan rasanya aku ingin meminta pada Allah untuk menghilangkan ingatan pemuda itu pada apa yang baru saja dilihatnya.


" Lupakan apa yang baru saja kamu lihat" ucapku menatap Ozzu yang juga tak putus menatap ku


" Kalian sama sekali tidak perduli dengan perasaan ku" jawab Ozzu dengan napas berdesis penuh emosi dan kemurkaan


" Aku tidak menyadari keberadaan mu Zu, Maaf.!" Aku benar-benar tidak memprediksi semuanya, kedatangan mas Sean yang tiba-tiba dan ajakannya yang juga tiba-tiba.


" Apa kau perduli, akan seperti apa perasaan ku setelah apa yang kalian pertontonkan tadi?"


" Kau egois, Li! kau hanya perduli dengan dirimu sendiri"


" Kita bicara di bawah Zu, Papamu sedang tidur" Aku mengajak Ozzu untuk bicara di bawah.


Akhirnya Ozzu mau turun kebawah, aku hanya ingin bicara dari hati ke hati, aku tidak ingin selamanya Ozzu memandang ku dengan penuh kebencian. Jika saja diberi pilihan, aku akan memilih hidup sederhana seorang diri di banding bersama mereka yang tidak mengharapkan kehadiran ku

__ADS_1


" Zu, Maaf. Sungguh aku sama sekali tidak tau kamu masih di dalam sana, tapi kamu juga pasti tau Zu, apa yang kami lakukan itu tidak salah, aku dan Papamu adalah suami istri, kamar adalah tempat privasi kami, itu sebabnya sejak awal aku melarang mu masuk, karena...


" Kamu menyalahkan ku?"


Tiba-tiba Ozzu memotong ucapan ku


" Bukan, Zu..." Aku malah bingung menjelaskannya, disini harusnya aku yang marah. Tapi kenapa jadi begini


Bibir Ozzu bergetar dan napasnya berdesis penuh kemurkaan, aku merasa sangat buruk, karena melupakan keberadaan Ozzu tadi


Ozzu meninggalkan aku beberapa langkah, namun tiba-tiba berbalik , buru-buru menghampiriku dengan langkah lebar, aku diseret dan di dorong ke sofa dan tiba-tiba diciumnya dengan brutal


Aku berusaha mendorongnya sekuat tenaga, memberontak penuh, akan tetapi Ozzu tidak bisa ku kalahkan begitu saja. Ozzu terus menciumi dan bahkan mengigit bibirku, merasa tidak akan menang, aku mulai pasrah, dan saat itu Ozzu melepaskan ku


" Oh, Brengsek," Ozzu mengumpat keras, sepertinya dia menyadari ke bodohannya


" Li"


Aku sampai terperanjat saat tiba-tiba mas Sean sudah membungkuk untuk mencium keningku, 'ya Allah, sejak kapan mas Sean disini?', rasanya hari ini benar-benar penuh kejutan untuk ku


" Kamu tidak apa-apa?"


Aku buru-buru mengeleng dan gegas duduk karena tidak ingin membuat mas Sean cemas


" Istirahat lagi" Ucap mas Sean dengan tangan yang siap mengendong ku

__ADS_1


" Lily bisa jalan sendiri mas" Kataku menatap wajahnya yang selalu di hiasi senyum


" Baiklah Ayo" Mas Sean menyodorkan tangan nya untuk segera ku sambut, aku pun segera menyambutnya dengan senyum. Meskipun sebenarnya hatiku sedang tak karuan.


Sebenarnya aku tiba-tiba merasa sangat takut saat ini, setiap yang hidup pasti akan bereaksi, begitu juga dengan jantung ku yang belum berhenti berdebar-debar karena ciuman brutal Ozzu tadi, rasanya seperti sebuah dosa yang harus ku tanggung setelah apa yang Ozzu lakukan tadi.


Meskipun bukan kemauan ku, aku ikut merasa bersalah dan berdosa pada mas Sean, aku hanya ingin mencintai suamiku secara utuh, cinta yang belum pernah ku berikan pada siapapun dan aku ingin memberikannya kepada pria ini, pria yang mau mengangkat derajatnya dari seorang fakir miskin menjadi hidup berkecukupan, pria yang rela membelaku di hadapan istri pertamanya bahkan mau menerima gadis aneh seperti ku.


" Ku pikir aku sangat keterlaluan, jika ku katakan aku masih ingin menyentuh mu" mas Sean mencium pipiku setelah masuk kedalam kamar


Aku hanya mampu tersenyum. Karena tidak ingin menolak dan rewel, meskipun saat ini hatiku sangat risau


" Lily sama sekali tidak keberatan jika mas masih ingin melakukannya". Aku mencium pipi mas Sean kiri dan kanan, seperti yang sering beliau lakukan saat sedang bersama ku


Author POV


Tuan Sean tersenyum lebar. Rasanya perhatian kecil istri mudanya itu mustahil tidak meluluhkan hatinya, tak perlu ada yang di cemaskan, rasa khawatirnya akan kejenuhan Lily menjadi tidak penting saat istri mudanya terlihat tenang dan bahagia.


Tuan Sean kembali menghisap jemari Lily seperti yang dilakukannya tadi, menghisapnya dalam sampai suara decak basah dari hisapan bibir pria itu mensugesti otak Lily untuk kembali mengulang momen kemesraan mereka tadi yang di saksikan oleh Putra suaminya.


Lily menatap Tuan Sean yang mulai merampas bibirnya tanpa mengerjap, merasakan deru napasnya yang bergemuruh panas hingga ke rongga dada, merasakan bibir tebal berisi yang bergerak hidup untuk mendapatkan seluruh keinginannya, rahang pria itu terasa kasar dan membuat Lily merinding lagi dan lagi


Lily masih saja terkesiap saat Tuan Sean melakukan penetrasi. Karena perbandingan tubuh mereka yang sangat tidak seimbang. Tuan Sean terlalu besar untuk Lily. Bahkan mungkin kebutuhan hasrat pria dewasa itu juga membuat Lily sedikit kwalahan, mungkin juga karena Lily yang belum terbiasa. Atau mungkin karena Tuan Sean yang baru merasakan lagi hal seperti ini, mendapatkan kebutuhan khusus yang selama ini tidak di pikir kan nya lagi


Berbeda dengan Tuan Sean yang bergemuruh bahagia, Lily justru begitu gelisah. Ciuman brutal Ozzu menimbulkan jejak pedih di bibirnya. Lily berharap Tuan Sean tidak mencurigai penyebab bibirnya yang terluka, terlebih ciumannya sangat lembut meskipun terburu-buru Tuan Sean tidak pernah sampai mengigit nya.

__ADS_1


" Li, bibirmu mengapa terluka?"


DEG'


__ADS_2