POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Tuan Sean dan Lily


__ADS_3

Lily sedang merintih lembut dibawah naungan tubuh besar tuan Sean, jiwanya seperti diaduk-aduk dengan berbagai rasa. Bukan hanya sentuhan fisik, tapi hati serta pikiranya juga sedang dibuai oleh rasa cinta. Lily merasa sangat di cintai, merasa tersanjung dengan cara pria itu menyentuh nya, meskipun rindu menggelora suaminya tetap tidak terburu-buru, Lily terlena merasa di butuhkan dengan wujud ciuman yang seolah tanpa puas, dan merasa dimiliki begitu dominan ketika tubuh pria itu terus mengerang dan merintih serta menyebut namanya berkali-kali, tuan Sean seolah ingin membuktikan bukti nyata kerinduan yang sudah bertumpuk-tumpuk, ingin Lily melihat betapa rindunya pria itu dengan segala miliknya.


" Aku mencintaimu" bisik pria itu ketika bagian darinya telah mencair di dalam pemiliknya.


"Istirahat dulu," pesan tuan Sean sebelum bangkit lebih dulu untuk turun dari ranjang.


Lily berbaring miring untuk menyaksikan pria itu berjalan memungut lagi pakaian mereka yang tercecer, sebelum menumpuk di atas keranjang dan berjalan kedalam kamar mandi.


Setelah suaminya masuk kedalam kamar mandi Lily kembali berbaring memandangi langit-langit kamarnya, meremas gumpalan selimut di dadanya dan berpikir. Lily bahagia melihat kebahagiaan yang hadir pada suaminya, bagaimanapun pria itu telah mencuri hati Lily, membuat Lily jatuh cinta sedalam- dalam nya.


Setiap kali Lily Lily hanya bisa kembali berdoa untuk suaminya agar selalu dilimpahi kesehatan, panjang umur dan kebahagiaan. Karena kebahagiaan suaminya kebahagiaan nya juga.


Lily baru saja akan hanyut kedalam mimpi ketika tiba-tiba lengan dingin melingkar di perutnya yang hanya tertutup selimut.


" Aku hanya ingin memelukmu, tidurlah!" bisik pria itu.


Lily tidak bicara apa-apa dia hanya ingin semakin merapat dan baru sadar jika suaminya tidak hanya harum tapi juga segar. Dadanya masih terasa agak lembab, pria itu baru selesai mandi dan langsung menyusul ke atas ranjang untuk memeluknya.


" Mas..." Lily pasrah ketika tuan Sean kembali merampas bibir nya, Lily membiarkan tuan Sean kembali menindihnya. Pria itu ternyata juga hanya memakai jubah mandi yang tinggal ia singsingkan, untuk kembali menaungi istrinya yang memang belum memakai apa-apa.


Rasanya Lily sampai lupa jika suaminya baru saja keluar dari rumah sakit, lihatlah kini entah dari mana pria itu mendapatkan tenaga dadakan seperti ini, padahal empat hari yang lalu berbagai alat penopang hidup terpasang di tubuhnya.


" Mas Sean..." rintih Lily ketika tuan Sean kembali mendapatkan pelepasannya.


" Seperti ini dulu!" tuan Sean mengganjal pinggul Lily dengan bantal supaya sedikit lebih tinggi, entah apa yang pria itu lakukan dan Lily sama sekali tidak membantah.


*********


Pagi hari Lily baru selesai melaksanakan shalat ketika suaminya terbangun.


Awal mula Lily taat ibadah ketika gadis itu tinggal di kediaman Udgam, nyonya Duby dan Udgam adalah orang-orang yang taat agama.


Lily membantu suaminya untuk duduk, padahal kenyataannya pria itu terlihat sehat walafiat.

__ADS_1


" Aku akan memasak untuk kita" seru pria itu ketika bangun.


Lily terkejut, apa itu tidak kebalik?


" Aku mau masak spesial untuk istriku tercinta" Tambah pria itu yang sudah mencuri kecupan di bibir istrinya.


Di rumah mereka memang belum ada asisten rumah tangga nya, karena tuan Sean ingin tidak ada seorangpun yang menganggu mereka, jadilah mereka hanya benar-benar tinggal berdua saja.


Lily menatap horor menu yang sedang di siapkan sang suami, pria itu dari belakang tampak seksi ketika memakai apron di dapur, terlihat lihai mengotak atik bahan dapur, namun ketika di perhatikan hasilnya sungguh di luar ekspektasi.


" Ini agak kemasakan!" pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Lily melirik nugget ayam yang berwarna coklat agak kehitaman di piring saji, ada satu piring nasi goreng yang bahkan bawangnya masih berwarna unggu, alias belum masak, potongan cabe yang masih utuh dan yang lebih parah mentimunnya ikut di goreng.


Bibir Lily tertarik keatas , Lily menarik tangan suaminya untuk duduk di meja makan dan kembali ke dapur untuk mengambil dua piring hasil karya suaminya.


Masakan tuan Sean memang jauh dari khayalan Lily, namun dia jelas tidak ingin mematahkan semangat suaminya.


" Kita makan sama-sama" Seru Lily tampak bersemangat, meskipun dalam hatinya ragu untuk menyuap makanan itu pada suaminya, jika Lily jelas tidak pilih-pilih makanan, apapun wujudnya bagaimanapun rasanya bisa saja dicerna, karena dirinya dulu bisa makan saja syukur, tetapi tentu tidak untuk suaminya.


" Ke-kenapa nasi gorengnya manis?" Lirihnya karena masakan itu benar-benar mirip rasa obat diare.


" Apa kebanyakan gulanya?" tanya tuan Sean polos.


Lily berpaling untuk melihat wajah suaminya. Oke jika dirinya paksakan pasti bisa, tapi ini tidak mungkin jika suaminya yang makan.


" Coba aku cicipi!" tuan Sean sudah hampir menyendok nasi goreng itu sebelum Lily menjauhkannya dari jangkauan tuan Sean.


" Tidak!" seru Lily. " Mas Sean masak untuk Lily maka biar Lily yang habiskan!" tambah Lily.


" Tapi aku tadi belum sempat cicipin Li"


" Mas makan nugget ayam nya saja!" saran Lily.

__ADS_1


Sepertinya itu lebih bisa di konsumsi dari pada nasi goreng rasa oralit menurut Lily.


" Oke!" tuan Sean menurut dan meraih satu nugget untuk di arahkan ke bibirnya. Beberapa detik kemudian pria itu menyemburkan makanannya.


" Ini pahit!" serunya.


Lily yang menikmati nasi goreng manis, gurih, ala-ala menengok, dia tidak tau jika tuan Sean sengaja mengecoh fokus nya dan berhasil menyuap dirinya dengan nasi goreng yang sudah pria itu masak. Seketika mata pria itu melotot merasakan betapa kacaunya rasa masakan buatan nya, bagaimana mungkin istrinya tetap memaksakan untuk memakannya? .


' Prangg'


Tuan Sean segera menepis piring berisi nasi goreng yang hendak Lily sendok. Seketika itu membuat Lily terkejut.


Tuan Sean menarik Lily untuk masuk kedalam pelukannya, entah terbuat dari apa hati istri nya, bagaimana mungkin tetap ingin menyenangkan nya, meski hal itu terlalu buruk untuk di lakukan.


" Mas kenapa?" lirih Lily karena tuan Sean tidak melepaskan pelukannya beberapa menit berlalu.


" Aku memang tidak pernah memasak Li, maaf aku gagal menyenangkan mu, kita pesan go food saja"


Akhirnya mereka sarapan dengan makanan yang di beli online.


Tuan Sean berubah menjadi pendiam tiba-tiba, entah apa yang salah, dan Lily tidak ingin mengusik suaminya.


Ketika Lily akan ke dapur untuk membawa bekas makan mereka, tangannya di tarik oleh tuan Sean.


" Jangan mencoba menyenangkan orang lain, jika itu tidak nyaman untuk mu!" nasehat Tuan Sean.


" Aku takut ini semua adalah kepalsuan!" lirih tuan Sean.


Lily berjongkok di hadapan suaminya.


" Soal makanan tadi?" tanya Lily.


" Aku menyadari satu hal dari kejadian tadi Li!. Aku jadi tau kamu bisa tersenyum di depanku namun sesungguhnya hatimu sebenarnya menangis." Tuan Sean menangkup kedua pipi Lily dengan telapak tangannya yang besar. "Tolong katakan apakah pernikahan ini kamu juga menginginkan nya?"

__ADS_1


" Jawab!" tegas tuan Sean.


" Aku.....


__ADS_2