
Tuan Sean hanya manusia biasa yang memiliki emosi, dirinya butuh menenangkan pikiran nya, agar tak berkata-kata salah yang bisa menyakiti hati Lily nantinya.
Dia butuh menata hati, mendinginkan pikiran nya dari hebatnya gelombang rasa cemburu yang membuat hatinya terombang-ambing.
Lily akan terus mengingat pesan Bi Sum, agar selalu menjadi istri yang baik untuk suaminya. Meski sedang merasa di abaikan.
Lily menatap sisi ranjang yang kosong, lantas meraba diatas dada, hatinya terasa dingin, sedingin tubuhnya yang tidur tanpa pelukan tuan Sean. Belum apa-apa Lily sudah sangat merindukan kehadiran suami nya. Tatapan nya, sentuhannya, bahkan aroma tuan Sean begitu Lily rindukan.
Lily duduk di sisi ranjang, menikmati susah hatinya, ternyata menahan rindu itu berat, tetapi suaminya tidak ingin dia mendekat, Tuan Sean justru memilih tidur di ruang kerjanya.
Tiba-tiba hati Lily meragu, apa benar ia harus tetap bertahan? Bagaimana nanti dia menjelaskan tentang kejadian sebenarnya?, tidakkah itu akan membuat tuan Sean kecewa?
Tidak mudah untuk menyadarkan Ozzu. Dan saat ini pemuda itu pasti tengah berusaha memperbaiki diri dan sedang berjuang untuk berubah. Haruskah dia mengadukan kesalahan Ozzu juga, sedangkan Ozzu sudah menyadari kesalahannya?.
Di tengah keresahannya, Lily mendengar suara tuan Sean .
" Ya, aku akan datang besok pagi, istirahat lah, tidak baik Ibu hamil tidur terlalu malam"
Tuan Sean sedang berjalan ke arah kamar saat mendapat telepon, sehingga beliau menjawab panggilan telepon sambil terus melangkah mendekat, membuat Lily bisa mendengar suara nya.
" Kita perlu bicara"
Lily sampai luput hingga dia menjatuhkan gelas yang baru saja di raih, hingga terjatuh dan pecah berantakan sampai-sampai kakinya ikut terluka karena percikan kaca itu.
Sebenarnya Lily sempat melamun saat mendengar tuan Sean akan mengunjungi seseorang yang tadi menghubungi tuan Sean, sehingga suara tuan Sean yang sudah di dekatnya membuat Lily kaget.
Ternyata tuan Sean tidak bisa membohongi perasaannya, saat melihat kaki Lily berdarah , dengan begitu cekatan, tuan Sean langsung berjongkok untuk memeriksanya bahkan tampak begitu khawatir.
" Apa aku mengejutkan mu?"
Lily ikut menunduk untuk melihat tuan Sean yang berlutut memeriksa kakinya.
Setelah mengobati luka Lily, tuan Sean membawa Lily duduk di bibir ranjang.
" Aku besok harus pergi ke Sidney, sebelum itu aku akan menemui Natalia, ini sudah kita bicarakan sebelumnya" ujar tuan Sean membuka percakapan.
Lily masih diam dan menunduk, sama sekali tidak berani untuk menatap wajah tuan Sean, Lily merasa takut saat ini, takut untuk jujur, juga takut di tinggalkan, perasaannya jadi melankolis
__ADS_1
" Kenapa kau mengoda Ozzu?"
Sebenarnya tuan Sean pun merasa sakit hati saat harus menanyakan perihal ini pada istrinya, akan tetapi dia butuh pencerahan agar pikiran nya kembali jernih dan bisa pergi me ngurus pekerjaan nya dengan tenang.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Lily saat ini, dia seperti direndahkan ke dasar sedasar-dasarnya
" Bukankah sebelum ini aku memintamu berjanji untuk setia padaku?"
Tatapan tuan Sean begitu lembut, namun Ucapnya begitu menyakiti perasaan Lily.
" Mas Sean tidak percaya padaku?" Tanya Lily ikut mendongak
" Aku ingin." Ujar tuan Sean sambil menarik napas dalam-dalam" Akan tetapi ini terlalu rumit, kamu masih muda tidak menutup kemungkinan kamu bertindak tanpa pikir panjang"
Lily tersenyum " Itu berarti mas Sean tidak percaya pada ku" lirih Lily yang membuat tuan Sean berpaling untuk menatap sisi wajah Lily dari samping.
Harusnya mereka sedang menyiapkan diri untuk sebuah perpisahan, sebagai bekal karena harus terpisah untuk beberapa waktu, namun yang ada mereka malah hanya duduk berdampingan dan tanpa kemesraan yang selama ini terus terlihat.
" Aku tidak punya waktu untuk terus memikirkan hal ini Li, aku hanya ingin kau terus terang padaku , apa kau menyesal sudah menawarkan diri menjadi istri ku?"
" Jika dihadapkan pada pilihan, kau ingin aku yang mengusirmu atau kamu pergi dengan suka rela"
Lily mengerjap, apa itu berarti tuan Sean mengusirnya?
" Beri jawaban jika kau sudah memikirkan nya" tuan Sean hendak berdiri, namun Lily langsung menjawabnya.
" Aku memilih pergi dengan suka rela" jawab Lily
" Kamu memiliki harga diri dengan memilih itu, lantas mengapa kamu tidak memikirkan perasaan ku saat kamu mengoda putraku?"
Napas Lily berderu kasar
Ini yang tuan Sean takutkan jika memaksakan diri untuk saling bicara di saat hatinya masih panas, dia tidak bisa mengontrol emosi yang ingin meluap, namun esok dia harus pergi membuatnya mau tidak mau harus tau kebenaran nya.
Tuan Sean melihat kisi-kisi jendela yang berada di kamarnya lantas kembali berpaling untuk menatap Lily
********
__ADS_1
Pagi itu Tuan Sean segera menemui Nyonya Natalia, sekedar memenuhi rengekan wanita itu sebelum berangkat ke bandara.
Sepanjang perjalanan tuan Sean selalu memikirkan Lily
Melihat Lily hanya diam saat di sudut kan membuat dirinya semalam meradang bahkan mengatai kasar istri kecilnya, sampai dimana dia melihat air mata Lily menetes baru membuatnya menahan diri dan memilih pergi, bahkan tuan Sean sama sekali tidak berpamitan pada Lily pagi ini dan langsung kerumah Nyonya Natalia sebelum kini duduk di mobil yang akan membawanya pergi ke bandara.
Tuan Sean ingin mengurai benang kusut masalahnya bersama Lily, namun kesulitan, karena kamera cctv yang berada di ruang tengah dan ruang tamu belum dipasang, sedangkan yang berada di dapur dan di ruang keluarga tidak menjangkau area tersebut.
Ozzu juga tidak bisa di hubungi, membuat tuan Sean semakin galau, dia bertekad untuk segera menyelesaikan pekerjaan nya dan menyusul Ozzu nanti.
" Sepertinya ada kecelakaan tuan" kata pak sopir pada tuan Sean yang ikut melihat di samping jendela.
Ada seorang wanita muda yang masuk kedalam selokan pembuangan air dan di tolong oleh pria yang memakai jaket ojol , melihat adegan itu membuat tuan Sean mengingat pertemuan pertamanya dengan Lily.
Lily yang bahkan menangis karena takut dengan candaannya soal ular.
Tiba-tiba hati tuan Sean merasa cemas luar biasa, dan buru-buru meminta sopir untuk putar balik, dia tidak bisa meninggalkan Lily dengan hati yang bimbang.
" Pak, putar balik, saya tiba-tiba merasa tidak enak badan"
Sang sopir juga tanpa bantahan langsung mematuhi perintah Tuan Sean.
Entah mengapa perasaan tuan Sean jadi tidak enak seperti itu, melihat adegan tukang ojol yang menarik tangan wanita muda itu membuatnya tak berhenti membayangkan Lily di pelupuk matanya.
Sesampainya di pintu rumah, tuan Sean melihat Bi Sum lari tergopoh-gopoh.
" Tuan Sean, Lily...
Bi Sum sudah bersimbah air mata, membuat tuan Sean bergegas masuk.
" Liliiiiiiiii....!!" baru saja melewati pintu suara jeritan tuan Sean langsung terdengar.
##########
Banyak like, banyak komentar, di usahakan dowble upp
happy reading....
__ADS_1