POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Kejujuran Lily


__ADS_3

"Kak Udgam, aku butuh bantuan Kaka untuk menyelamatkan putriku!" ucap Lily dengan segala kekuatan yang dia mampu ucapkan, meskipun saat ini benteng ketegarannya telah runtuh.


" Putriku mengidap Leukemia, dan dia butuh donor Sum-sum tulang belakang yang mungkin kak Udgam bisa berikan untuk menyelamatkan nyawanya"


" Apa maksud semua kata-kata mu ini, Lily?"


Semua orang cukup terkejut, sehingga tidak mampu ikut menimbrung obrolan keduanya.


Lily sudah kembali banjir air mata, dirinya tetap mencoba tegar dan fokus untuk jujur pada Udgam.


" Kaka dan aku memiliki anak. Saat ini Lyga berusia hampir enam tahun. Beberapa bulan ini dia diketahui mengidap Leukemia, aku sudah mencoba membawanya ke berbagai macam pengobatan, bahkan sampai kemoterapi, tetapi keadaan Lyga tidak memiliki kemajuan, saat ini hanya kak Udgam satu-satunya harapan ku untuk menyelamatkan nyawa putri ku."


Lily membekap wajahnya sendiri untuk meredam tangis.


" Maaf jika kabar ini mengejutkan. Lily dua bulan yang lalu urung pulang karena tiba-tiba Lyga kejang. Dan saat ini Dokter mengatakan Lyga hanya memiliki waktu satu tahun."


Seperti di tusuk sebuah belati saat Udgam mendengar perkataan Lily. Dia baru saja tau jika dia memiliki anak. Dan sekarang ia juga di beri tahu bahwa anaknya tidak memiliki umur panjang.


Lily segera memeluk Ibu mertuanya, wanita yang melahirkan tuan Sean itu masih mematung. Lily sadar, informasi yang ia sampaikan akan membuat semua orang terkejut, dan Lily juga sudah mengantisipasinya, bila nanti mereka akan marah dan bahkan membencinya.


" Maaf, Mi. Maafkan Lily." Isak Lily.


Sementara Udgam masih tidak bergeming dari tempatnya duduk. Ini terlalu mengejutkan untuk nya dan juga sangat tak terduga bahkan mungkin seperti berita hoax.


Lily mengambil ponsel milik nya. Lily segera menunjukkan foto Lyga yang sedang tersenyum manis di ponselnya. " Ini, Lyga."


Tubuh Udgam membeku sekali lagi. Bagaimana dia bisa menyangkal gadis kecil itu adalah putrinya. Lihat bagaimana miripnya Lyga dengan dirinya waktu kecil.


Nyonya Duby dan nyonya Valeria ikut menatap foto Lyga di ponsel Lily, dan tidak satupun dari mereka yang bisa mengelak bahwa Lyga adalah putri Udgam.


Meskipun mereka berdua jelas tidak mengerti bagaimana ceritanya Udgam dan Lily memiliki seorang anak yang usianya lebih tua dari Alfaaro.


Udgam menarik tangan Lily dengan linangan air mata.


"Jika Lyga tidak terkena leukemia, apakah kamu tidak akan pernah memberitahu ku jika aku memiliki anak dengan mu?"


" Tidak!" Jawab Lily jujur dan apa adanya.

__ADS_1


" Kenapa?" Tanya Udgam nanar.


" Kaka tau posisi Lily, jikapun Lily jujur tidak akan mengubah apapun, Lyga hadir bukan atas kehendak kita, Kak. Malam kejadian itu Lily masih mampu melihat semuanya, Lily hanya tidak mau memecah hubungan keluarga."


" Bukankah kamu egois?"


" Aku hanya....."


Lily tidak jadi melanjutkan ucapannya karena harus menunjukkan Udgam foto terbaru Lyga.


" Ini adalah foto terbaru Lyga" Lily menggulir ponselnya. Disana ada sebuah foto Lyga yang terlihat lebih tirus dan tak ada sehelai rambut pun di kepalanya.


Hati Udgam seperti diremas saat melihat foto itu.


" Lyga telah menjalani kemoterapi yang menyebabkan nafsu makannya berkurang dan juga kehilangan rambut indahnya" Lily tersiksa mengatakan itu pada Udgam, air matanya kembali tumpah.


Perasaan Udgam campur aduk . Ia masih tidak menyangka bahwa ia telah memiliki seorang putri yang sangat cantik yang kini berusia lima tahun.


Mau menyalahkan Lily juga dia tidak sanggup, wanita itu sudah melalui banyak hal, Udgam sudah mendengar jawaban Lily jika dia memang tidak berniat memberitahu tentang Lyga seandainya musibah ini tidak datang pada putrinya.


Dan akhirnya mengalir lah cerita bagaimana Lyga bisa hadir di antara mereka.


Nyonya Duby dan nyonya Valeria hanya mampu menyapu pipi mereka yang basah. Mungkin jika mereka di posisi Lily mereka juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin mereka tidak bisa setegar Lily.


" Mas Sean tau tentang Lyga" Lirih Lily di saat ingin berdiri.


" Kak Sean tau?" Tanya Udgam.


Lily mengangguk dengan bibir bergetar. " Sebelum tiada mas Sean ingin kami menetap di sana, Lyga sangat bahagia bisa memiliki seorang Ayah!" Lily masih ingat bagaimana antusias nya putrinya ketika tuan Sean meminta putrinya itu memanggilnya Papa.


Tangan Udgam ikut terkepal kuat hingga buku-buku jemarinya memutih.


" Itu berarti Lyga akan sangat senang jika bisa bertemu Kak Udgam sebagai Ayah kandungnya".


Tangan Udgam melemas tiba-tiba mendengar ucapan Lily.


" Maaf" Ucap Lily menunduk. " Maaf jika dulu Lily egois dan sekarang justru merepotkan Kak Udgam."

__ADS_1


Dering ponsel Lily membuat mereka sedikit lepas dari kesedihan.


" Halo, Re.."


" Kamu sudah bertemu dengan Ayah Lyga?" Tanya Regan dari pangilan video.


" Ya" Jawab Lily sambil berusaha tersenyum.


" Lihatlah, princess sudah sadar!" Regan mengarahkan kameranya pada Lyga.


Lily segera berpaling untuk menatap Udgam berada.


" Kak, dia Lyga. Putri kita!"


Udgam ikut melihat ponsel Lily, disana Udgam bisa melihat gadis kecil jiplakan dirinya sedang berbaring dengan segala peralatan kesehatan.


Tidak bisa di cegah air mata Udgam ikut tumpah, rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera merengkuh tubuh kecil itu kedalam pelukannya, Udgam ingin memperkenalkan diri pada putrinya, Udgam ingin memberikan apapun dan akan melakukan apapun untuk kesembuhan putri nya yang selama ini hadir tanpa disadarinya.


" Lyga, ini, Om Ayah.!" ucap Lily memperkenalkan Udgam.


Putri kecil Lily tersenyum.


" Mama Lyga kedinginan, bibir Lyga pahit, kaki Lyga ngak bisa di gerakin. Lyga udah nggak bisa jagain adek lagi!" Lyga merengek dan menangis.


Jangan tanya bagaimana hancurkan hati Udgam melihat dan mendengar suara putrinya untuk pertama kali, bukan suara ceria riang, justru suara keluhan yang menyakitkan.


Udgam tidak tahan untuk tetap menatap ponsel Lily, pria itu memilih berlalu pergi keluar kamar.


Lily menatap sendu kepergian Udgam. Lily sebenarnya tidak kalah hancurnya, hanya saja dia bisa apa, sudah dua Minggu belakangan Lyga selalu seperti itu, membuat Lily sedikit mampu menebalkan telinganya dan membentengi hatinya agar terus dan terus tampak tegar di mata putrinya.


Sebenarnya tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Lyga, Lily juga membuat kepalanya sendiri plontos, wanita itu melakukan berbagai hal agar putri nya tetap bisa tersenyum.


Lyga yang tadinya sangat terpukul karena kehilangan rambut indahnya, akhirnya bisa tersenyum begitu melihat kepala Mamanya ternyata sama botak dengan nya. Lily mengatakan pada putrinya itu lagi tren di musim hujan, para wanita cantik memotong rambutnya untuk memakai wig saat keluar.


Gadis kecil jiplakan Udgam itu langsung tersenyum riang, karena ucapan Mamanya, biar bagaimanapun seusia Lyga belum terlalu paham apa arti efek samping, Lily harus terus menguatkan putrinya, meski dirinya oleng di luar sana dirinya jatuh tetap berdiri tegak untuk kedua anaknya.


" Aku tidak mau mas pergi menemui anak wanita itu..." Suara melengking membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


__ADS_2