
Jika aku boleh jujur aku sama sekali tidak ingin menunda kepergian ku dari rumah ini. Namun apa daya saat mas Sean justru mendapat telepon darurat yang membuatnya harus pergi ke kantor , bahkan asisten mas Sean juga sudah datang menjemput, meski aku kecewa, namun aku bisa apa?
Aku menguatkan hati untuk masuk kedalam rumah, nyonya Natalia menatap ku dengan tatapan matanya yang tampak menghina, seringai itu membuatku sedikit takut
Ozzu juga berdiri tak jauh dari tangga saat aku melihatnya, dia buru-buru berpaling
Ya Allah, semoga urusan mas Sean cepat selesai, sehingga aku tak harus terus berada di posisi sulit seperti ini
" Zu, coba lihat pilihan Papa mu sangat kampungan!" Aku membiarkan Nyonya Natalia menilai ku sesuka hatinya, aku sama sekali Tidak perduli, toh aku tidak menganggu nya
" Kurang ajar" Ya Allah....Aku sudah tidak menghiraukan hinaan nya tapi lagi-lagi istri pertama mas Sean menyakiti fisik ku.
" Nyonya tolong lepaskan" Aku mengiba saat rambutku kembali di Jambak dengan brutal, luka-luka kemarin belum sembuh mengapa wanita ini tidak ada rasa iba sedikit pun padaku, kepalaku rasa nya ingin terkelupas.
" Tolong" Iba ku sekali lagi dengan tangan yang mencoba mengenggam tangan nyonya Natalia
" Lihat saja akan ku bikin hidup mu seperti di neraka karena kamu berani mengibarkan bendera perang padaku"
" Nyonya, tolong ampuni Lily, kasihan!" Bi Sum tergopoh-gopoh mencoba menolongku dari cengkraman tangan istri pertama mas Sean
" Hai...siapa kau yang berani menentang ku ha...??Jangan besar kepala kamu pembantu, jangan karena suamiku baik pada keluarga mu kamu melunjak!" tatapan tajam dilayangkan Nyonya Natalia pada Bi Sum.
" Sudah bi" Aku mengeleng pada Bi Sum, supaya beliau tidak ikut campur, aku kasian dengan beliau, jangan sampai karena membantu ku nantinya bi Sum terkena masalah.
Aku pasrah saat tubuhku di dorong hingga menyebabkan kepala ku terbentur meja, tak lagi terasa sakit tubuhku karena memang rasanya sudah seperti remuk redam sejak awal
Sama sekali tidak meringis atau mengaduh, rasanya sudah seperti luka yang berlapis, sakit di tambah sakit hingga ditambah luka baru, seperti luka bakar yang kembali tersiram air panas, rasanya sudah tidak bisa ku jabarkan.
" Ma, sudah.!" Setelah mataku memberat, aku mendengar Ozzu bersuara
" Ck, Mama belum puas!"
" Tadi katanya Mama mau belanja, ngak jadi,?"
Hening beberapa saat
" Sial, gara-gara wanita udik Papamu ini Mama jadi lupa"
Aku dapat mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga, Nyonya Natalia pergi kelantai dua, bi Sum terburu-buru membantuku duduk di sofa
" Ya Allah Gusti..." Bi Sum tampak menitihkan air matanya saat melihat ku
" Lily tidak apa-apa bi" Aku mencoba mengukir senyum, meski rasanya mata ini sulit terbuka lebar akibat rasa pusing yang begitu terasa.
Dari arah dapur Yuyun datang dan ikut duduk di bawah sofa seperti bi Sum, bukan maksud tidak sopan tapi untuk menegurnya aku sama sekali tidak memiliki tenaga
__ADS_1
Mataku semakin lama semakin berat, aku berusaha untuk memijit pangkal hidung ku, tetapi rasanya sama sekali tidak membantu, hingga aku seperti di tarik kedalam kegelapan.
Author POV
Lily pingsan di atas sofa, bi Sum dan Yuyun langsung panik, terlebih dari hidung Lily mengalir cairan berwarna merah
Ozzu yang sejak tadi memperhatikan Lily juga terlihat cemas, dengan kedua tangan kekarnya Ozzu mengendong Lily masuk kedalam kamar Papa nya.
" Panggil dokter bi"
" Tidak perlu, gembel sepertinya pasti sudah terbiasa sakit begitu" Nyonya Natalia masuk kedalam kamar tidur Tuan Sean Pramajha, dengan tatapan mencemooh
Ozzu yang tadinya tampak begitu cemas, merubah wajah nya datar
" Ada apa dengan mu, kau mulai kasian dengan wanita yang merampas kebahagiaan Mama?" tanya Nyonya Natalia pada Ozzu yang berdiri di samping tubuh Lily yang terbaring lemah.
" Aku hanya ingin Mama terhindar dari masalah, jika Papa tau Mama menyakiti wanita ini, Papa pasti akan sangat marah. Bahkan bisa saja Papa benar-benar mengusir Mama"
Seringai di wajah nyonya Natalia menghilang, digantikan dengan wajah kesalnya
" Brengsek" Umpatnya, sebelum berlalu meninggalkan ruangan itu.
" Panggil Dokter bi" Perintah Ozzu pada bi Sum
Bi Sum gegas pergi untuk menelepon Dokter keluarga Tuan Sean
Kini tinggallah Ozzu dan Lily yang berada di kamar
Ozzu memperhatikan wajah gadis yang berada di hadapannya. Lily yang terbaring tak sadarkan diri begitu tampak memprihatinkan, luka lebam di sudut bibirnya masih ada, kini hidungnya malah mimisan. Bibirnya yang sedikit terbuka menampakkan satu luka kecil di bagian dalam bibir Lily yang membuat Ozzu menelan ludah, Ozzu masih belum bisa melupakan rasa bibir itu dan dia tau betul itu adalah luka akibat ciumannya yang brutal.
" Oh, sial." Ozzu sadar, dia harus menyingkirkan pikiran kotornya
Ozzu menarik Lily agar lebih mendekat dengan nya, tangan nya terulur untuk merapikan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Ozzu masih terus memperhatikan Lily saat bi Sum dan Yuyun datang bersama
" Tuan muda"
" Hum?" Ozzu menatap keduanya dengan alis terangkat
" Biar kami saja yang menjaga Lily, Tuan muda bisa kembali"
" Kenapa jika aku masih ingin di sini?" Tanya Ozzu datar
Jujur bi Sum cukup terkejut dengan pertanyaan Tuan muda nya , bukankah sebelumnya Ozzu begitu membenci kehadiran Lily? bahkan terus berusaha membuat Lily mengerjakan banyak hal yang tidak masuk akal, meskipun dia merasa simpati sekarang, apa sampai pada tahap khawatir seperti ini?
" Mana Dokter nya"
__ADS_1
" Beliau sudah dalam perjalanan menuju ke sini" jawab bi Sum
Bi Sum ingin membersihkan luka di kening Lily dengan waslap, akan tetapi Ozzu mencegahnya.
" Tunggu dokter saja, jangan sembarang menempelkan sesuatu pada lukanya bisa infeksi"
Bi Sum dan Yuyun terperangah melihat perhatian yang di tunjukkan Ozzu pada Lily, ada apa dengan pemuda pemarah itu, mengapa jadi pengertian sekali.
Dua puluh menit kemudian Dokter Nicko datang.
" Kenapa malah loe yang datang?" Ozzu tampak tak suka melihat dokter yang datang malah laki-laki. Keluarga Tuan Sean memiliki dua dokter pribadi, satu wanita dan satu dokter laki-laki.
" Dokter Risma sedang kurang sehat"
Ozzu mendengus. " Dokter itu musti sehat, ngapain jadi Dokter kalo masih sakit juga!"
" Dokter juga manusia" Jawab Dokter Nicko sabar
" Apa Tuan Sean Pramajha sakit?" Tanya dokter Nicko
" Apa bi Sum tidak mengatakan siapa yang sakit ?" Ozzu bukanya menjawab malah balik tanya
" Aku hanya diminta segera datang"
" ****" kesal Ozzu
Melihat Ozzu yang kesal, Dokter Nicko akhirnya bertanya.
" Jadi siapa yang sakit?"
" Nyonya yang sakit" Jawab bi Sum dari dalam kamar
" Nyonya Natalia Javen?"
" Bukan, tapi Nyonya Lily Sasmita."
Bibir Dokter Nicko berkedut.
" Pantas saja, Tuan Ozzu Tampak begitu cemburu setelah tahu jika Dokter yang datang laki-laki, ternyata yang sakit istri nya"
Semua mata tertuju pada Ozzu, sementara Ozzu begitu terkejut dengan ucapan Dokter Nicko. 'Apa katanya... ' Istrinya?, Cemburu?'
######
Please....jangan lupa jejak cintanya untuk author yaaa..biar semangat ngetiknya...
__ADS_1
love you reader...