
" Ayo kita menikah."
Lily tersenyum, senyum indah yang muncul di bibir manisnya.
" Apa seumur hidup Lily akan terus menjadi yang kedua dan selalu menjadi Pelakor kak, apa takdir Lily tidak bisa lebih baik daripada itu?" ucap Lily, menjawab ajakan Udgam.
" Demi Lyga Li, Lyga butuh kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya"
Lily mengangguk. " Memberikan Lyga kasih sayang tidak harus kita menikah kak, Lily tidak akan pernah larang Kaka untuk menemui Lyga"
" Yang terbaik untuk Lyga adalah hidup satu atap dengan kedua orang tuanya Li, aku, kamu dan Lyga, aku juga menyayangi Alfaaro Li, aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi Lyga."
" Meskipun benar, tetapi kita tidak bisa bersama Kak , kak Udgam ada Anastasya, dan Lily ada mas Sean!"
" Kak Sean sudah tidak ada Li, aku yang hidup dan aku yang akan menggantikan peran kak Sean untuk anak-anak kita. Aku janji!"
Lily menitihkan air matanya.
" Mas Sean selalu ada di hatiku Kak. Dia tetap hidup di hati ini, sampai kapanpun. Dan peran suamiku tidak pernah bisa tergantikan, bahkan Kak Udgam sekalipun."
Lily pergi membawa Alfaaro, dia tidak mau menikah dengan Udgam, karena Lily tidak mencintai Udgam, Lily hanya menganggap Udgam Kaka laki-lakinya, tidak lebih. Meskipun mereka memiliki Lyga Lily hanya menganggap itu anugrah yang diberikan Tuhan untuk nya.
Pencangkokan sumsum tulang belakang Lyga berjalan dengan lancar, Lyga sudah dipindahkan ke ruang rawat.
Anastasya menyusul ke Paris ikut mendampingi suaminya, Wanita itu juga memohon maaf kepada nyonya Duby, nyonya Valeria, bahkan pada Lily.
Lily memaafkannya, dia juga sudah melupakan hinaan Anastasya padanya.
Saat mendengar Udgam di pindahkan ke ruang rawat, Anastasya juga langsung menyusul dan mendatangi suaminya.
Regan datang sedikit terlambat karena pria itu baru saja melakukan operasi kecil pada pasien giginya.
" Li.." Panggil Regan menghampiri Lily yang tampak tersenyum mengamati ruang sang anak.
" Ree, Semuanya berjalan lancar"
Regan tersenyum dan ikut mengintip kedalam ruangan yang ada Lyga yang sedang terlelap.
" Jadi kalian akan membawa nya ke Indonesia?" Tanya Regan menatap wajah Lily.
" Ya, Lyga biar terbiasa dekat dengan keluarga Ayahnya."
__ADS_1
" Aku pasti akan sangat merindukan nya!" ucap Regan menatap putri kecil Lily dari pintu kaca.
" Kamu boleh berkunjung jika ada waktu" ucap Lily yang kini sudah menatap Regan dengan senyum lembutnya.
Regan mengangguk kecil.
" Aku berdoa agar kalian bahagia dimanapun berada Li" tutur Regan, sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
" Terimakasih Pak Dokter!" Jawab Lily tersenyum lebar.
" Kamu jangan berharap aku mengantar kalian ke bandara seperti waktu itu ya!" kata Regan saat mereka duduk lebih santai.
" Kenapa?" Tanya Lily.
" Ya aku ngak mau aja ketahuan nangis ditinggal pujaan hati" Kelakar Regan yang membuat Lily tertawa.
" Aku seneng Re, bisa kenal seseorang seperti kamu, aku bersyukur banget!" Jujur Lily.
" Semua pria dewasa pasti pernah memimpikan seorang wanita, dan aku hanya pernah memimpikan mu!"
" Apa itu tidak terdengar seperti kau sedang merayu ku, Re?"
" Sebagian, ya. Dan aku juga senang merayu mu Li."
Setelah lama bercanda berdua, Regan akhirnya pamit pergi karena ada urusan di luar. Ini pertama kalinya Regan meninggalkan Lily sendiri setelah selama ini pria itu selalu menemaninya. Mungkin Regan tega meninggalkan Lily karena ada keluarga Lily yang lain.
Sementara di ruangan Udgam, pria itu sedang menatap wajah istrinya yang terlelap di sampingnya.
Perasaan Udgam campur aduk, dirinya sudah melamar Lily tetapi Anastasya justru datang padanya, namun mau menolaknya, wanita itu memang masih berstatus sebagai istrinya.
Jika boleh jujur sebenarnya Udgam memang mencintai Lily, bahkan Udgam pernah secara langsung meminta Lily pada tuan Sean, yang merupakan sepupu Udgam, yang kala itu bahkan tuan Sean masih berstatus sebagai suami Lily.
Saat ini, setelah mengetahui bahwa dia dan Lily memiliki Lyga jelas saja Udgam ingin benar-benar memiliki Lily, tetapi wanita itu justru menolak.
Dibandingkan cintanya pada Anastasya, cintanya pada Lily lebih besar. Wanita itu memiliki banyak kesamaan dengan nya, hobby mereka sama dan yang pasti Lily wanita yang lembut dan juga penyayang. Sosok yang sangat Udgam impikan untuk menjadi pendamping hidup nya.
Besok mereka akan pulang ke Indonesia, setelah nyonya Duby dan nyonya Valeria lebih dulu pulang karena suatu hal.
Ozzu sedang mengendong Alfaaro saat tiba-tiba Lily ikut bergabung bersama mereka.
" Alfaaro manja banget sih sama kamu?" Tanya Lily pada putra pertama suaminya.
__ADS_1
" Aku melihat Papa di mata Alfaaro, menyayanginya seperti ini caraku untuk berbakti pada Papa, jangan larang caraku menyayangi nya, dia sudah seperti belahan jiwa ku!"
Ozzu mencium kedua pipi adiknya.
Lily memperhatikan mereka dan tersenyum. Lily juga tau seberapa besar usaha Ozzu dan Romania untuk mendapatkan kesempatan lagi untuk memiliki calon buah hati.
Meskipun Lily diam dirinya, tau jika Romania sampai ikut program kehamilan, namun hingga kini mereka belum mendapatkan kabar baik.
" Mana Dokter yang selalu menemani Momy?" Tanya Ozzu.
" Regan sedang ada urusan di luar!" ucap Lily.
" Aku berani bersumpah jika aku melihat Dokter itu selalu menatapmu diam-diam, kadang aku juga memergokinya meski sesibuk apapun dirinya akan langsung datang menemui Lyga jika Lyga mencarinya, apakah kalian memiliki hubungan?"
" Ya, kami bersahabat!"
" Pria itu mencintaimu Li, apa kau tidak mengetahuinya?" tanya Ozzu.
" Aku tau, dia juga mengatakan rasanya!" Jujur Lily.
" Kau menerima nya?"
" Tidak."
Ozzu sampai menjatuhkan rahangnya karena kaget, apa kurangnya pria itu sampai Lily menolaknya.
" Mengapa?" Tanya Ozzu.
Lily tidak menjawabnya.
Lily melihat Udgam yang sedang bermain dengan Lyga, Lily tersenyum melihat putrinya mulai ceria lagi, bahkan keadaannya semakin membaik.
Lily menatap ponselnya yang menyala, satu pesan masuk dari Regan.
[" Aku sudah mengirimkan makanan, jangan lupa di makan. Hari ini aku tidak bisa datang kerumah sakit. Sampaikan salam ku pada princess!"]
Di rumah sederhana terletak di samping hotel berbintang, seorang pria sedang meringkuk di atas lantai.
Pria yang terlihat sempurna Dimata siapapun, tetapi tidak ada yang tau jika dia memiliki kekurangan yang membuatnya tidak berani berkomitmen.
Sudah beberapa jam dirinya tidak bergerak dari posisinya. Tampilannya yang biasanya rapi tampak kusut, melihat waktu yang mulai siang pria itu memesan makanan untuk dikirimkan pada seseorang.
__ADS_1
Setelah memilih menu sehat untuk seseorang tersebut, pria itu segera melunasinya agar makanan itu segera di antar kepada orang yang dia pesankan.
Tidak lupa pria itu mengirimkan pesan pada wanita yang dikirimkannya makanan dan izin tidak bisa menemani, karena sebenarnya keadaan pria itu saat ini sedang kacau.