POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Pelakor


__ADS_3

Lily merasa Regan sengaja menjauhinya. Entah kenapa melihat Regan yang menghindar di detik-detik terakhir dirinya berada di Paris Lily merasa tak nyaman.


Buru-buru Lily membalas pesan Regan.


[" Re, bisa kerumah sakit sebentar tidak?, aku sedang ingin makan bersama dengan mu"]


Pesan Lily hanya centang satu, itu berarti Regan sedang offline.


Lily mengigit bibirnya resah, bagaimana jika sampai kepulangan nya besok, Regan benar-benar tidak menemuinya. Lily belum mengucapkan terimakasih dengan benar pada pria itu.


Sampai menjelang sore Regan benar-benar tidak datang kerumah sakit. Padahal sore ini Lyga sudah di izinkan pulang dan akan bermalam di rumah nyonya Lubis sebelum mereka pulang ke Indonesia besok.


Udgam melihat Lily yang resah, tetapi Udgam tidak bisa berbuat banyak karena ada Anastasya di sampingnya dan Lyga yang berada di kursi roda yang sedang dia dorong.


" Ayo!" Ozzu sudah mengangkat semua barang-barang milik adiknya, Alfaaro ada didalam gendongan Romania, diantara mereka semua hanya Lily seorang yang tidak tersenyum.


Udgam tidak pernah benar-benar berpaling dari Lily. Udgam tau wanita yang sudah memberinya seorang putri cantik itu sedang mencari sosok sahabatnya. Sebenarnya Udgam juga tidak tau pasti apa hubungan Lily dan Regan sebenarnya, tetapi menurut yang Udgam dengar mereka tidak lebih hanya seorang sahabat. Pria itu kebetulan selalu ada untuk Lily dan putrinya, mengingat itu sebenarnya Udgam merasa sesak.


Saat Lily bersedih karena khawatir dengan kondisi putrinya, wanita itu justru mencurahkan keluh kesahnya pada pria itu bukan padanya yang sebenarnya lebih berhak, tetapi Udgam juga tidak bisa menyalahkan Lily karena hal itu.


Saat ini Udgam hanya berharap Lily mau menikah dengannya demi Lyga.


Pada akhirnya Lily memang harus membawa keluar Lyga tanpa bertemu dengan Regan.


Paginya, Lily sudah berusaha menghubungi Regan, tetapi ponsel Regan tidak aktif.


Lily sudah putus asa barang kali ini yang terbaik untuk mereka. Lily tau mungkin Regan takut tidak bisa menahan perasaannya, karenanya Lily berusaha memaklumi dan hanya mengirimkan sebuah pesan untuk Regan.


[" Kami pergi Re.. terimakasih atas semua yang pernah kamu lakukan untuk kami, jaga kesehatan ya Re, semoga kita masih di beri kesempatan untuk bertemu." ]


Terasa aneh memang, ketika kita sudah terbiasa akan sesuatu tiba-tiba sesuatu itu menghilang, sama halnya dengan Lily yang terbiasa dengan kehadiran Regan yang selalu menemani kesehariannya beberapa bulan terakhir, Lily merasa sedikit kehilangan. Lily memang tidak bisa memaksakan Regan selalu bersama nya, karena Lily juga tidak bisa membalas perasaan pria itu.

__ADS_1


Lily akan mengambil berkas yang dia letakkan di laci lemari, ketika pandangannya terarah pada satu benda yang terselip di samping lemari, benda itu adalah sebuah payung berwarna hitam silver, yang memiliki bordiran huruf R. Lily tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Regan.


Kini dia akan pergi, dan Lily tidak bisa mengembalikan payung itu pada pemiliknya.


Saat bergelut dengan pikirannya tiba-tiba Udgam datang menghampiri Lily.


Udgam menghapus air mata Lily yang keluar tanpa di minta. Lily tidak menolak karena memang tidak sempat dan malas menimbulkan keributan.


" Ayo menikah Li, kita besarkan anak-anak bersama!"


" Kak Udgam Lily...


" Hussstttt.. Udgam memandang wajah Lily dengan tatapan mata teduh, pandangan mata itu yang dulu sering Lily dapatkan dari tuan Sean, mengingat itu Lily melepaskan tangan Udgam dari pipinya.


" Keluarlah dari kamar Lily kak, tidak enak jika sampai ada yang melihat."


Melihat Udgam yang sepertinya tidak perduli dengan ucapannya, Lily memilih keluar lebih dahulu.


Saat keluar dari kamar, Lily berpapasan dengan Anastasya yang melihatnya penuh kecurigaan, Lily ingin berlalu begitu saja tetapi suara Udgam menghentikan langkahnya.


Lily menatap wajah pria di ambang pintu itu dengan tatapan kecewanya.


Bagaimana Udgam bisa se egois itu.


Lily berpaling menatap wajah Anastasya yang kini menatapnya dengan tatapan kebencian. Lily benci kondisi seperti ini, ingin menyesal sudah membongkar rahasianya pada Udgam tetapi karena Udgam juga Lyga pulih.


" Kak Udgam tega!" ucap Lily dengan bibir bergetar.


Udgam tersenyum manis pada Lily.


" Tega mana dengan perlakuan mu selama ini yang memisahkan seorang Ayah dengan putrinya?"

__ADS_1


" Keadaan yang memaksa Lily kak!"


" Itu juga yang sedang ingin ku jelaskan padamu Li.!"


Lily menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangan nya.


" Jika aku ingin menikah bukan Kak Udgam yang ku inginkan!"


" Lantas siapa? Laki-laki yang berstatus sebagai Dokter itu?" tanya Udgam dengan lantang.


Lily dan Anastasya sampai terperanjat karena suara Udgam yang bernada tinggi tidak seperti biasanya.


Udgam sendiri menyesal sudah membuat Lily takut padanya. Tetapi hanya dengan cara seperti itu Lily bisa mengerti keadaan dan tidak terus egois merasa bisa melakukan banyak hal sendiri.


Lily tidak membalas. Ia hanya berbalik dan hendak pergi. Namun Udgam segera meraih tangan Lily.


" Aku tidak bermaksud membentak mu!" Udgam segera merasa bersalah.


Lily melepaskan tangan Udgam, wanita itu kembali meneruskan langkahnya. Lily tidak mau terlihat lemah di depan Udgam.


Akan tetapi Udgam kembali menahannya, bahkan Udgam langsung memeluk tubuh wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan putrinya.


Udgam awalnya tidak ingin memaksa sampai seperti ini, tetapi mendengar cerita Nyonya Lubis tentang Lily yang sempat koma berbulan-bulan paska melahirkan Lyga, Udgam bertekad akan tetap menikahi Lily meskipun wanita itu akan membencinya.


" Mas, aku tidak ingin bercerai dengan mu, aku mencintaimu Jangan meminta ku untuk pergi, aku sakit. Aku menderita" Anastasya melerai pelukan Udgam pada Lily.


Lily memejamkan matanya menikmati rasa sakit yang terus membuatnya menderita, terkadang Lily merasa tidak bisakah hatinya menjadi mati rasa sehingga dia tidak harus terus menelan rasa sakit seperti ini.


" Anastasya, kata cerai yang semalam mas ucapkan, itu menjadi talak ketiga untuk mu, kita sudah bukan lagi suami istri!" Jelas Udgam yang melepas tangan Anastasya yang menghalanginya menyentuh Lily.


" Kenapa mas Udgam tega melakukan ini padaku, aku sudah datang untuk meminta maaf, tetapi kenapa mas tega menceraikan ku demi wanita pelakor ini!"

__ADS_1


Hal yang paling di khawatirkan Lily terjadi. Kata-kata Pelakor itu akan kembali tersemat pada dirinya, jika dulu dia tidak masalah, beda dengan saat ini, karena Lily tidak ingin anaknya sakit mendengar label yang orang berikan pada Mamanya.


Lily menyesal tadi setuju diantarkan Udgam kembali kerumah untuk mengambil beberapa barang miliknya dan milik anak-anak nya, harusnya tadi Lily minta diantar supir nyonya Lubis saja.


__ADS_2