POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Tuan Sean


__ADS_3

Ketika dulu tuan Sean memutuskan setuju menikahi gadis semuda Lily, saat itu dia memang tidak pernah berpikir sama sekali untuk membawanya keluar kemampuan atau bertemu dengan siapapun di lingkungannya sebagai seorang istri, karena Lily yang masih sangat terlalu muda untuk bersanding dengan Pria seusia nya.


Namun untuk sekarang tuan Sean tidak bisa untuk menahan keinginannya yang justru ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa dialah pemilik gadis belia itu, sebuah perasaan yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak bisa dimaafkan karena dia benar-benar ingin egois.


Tuan Sean yang baru ingin menginjak pedal gas melihat Lily yang berjalan dengan seorang teman untuk melihat kearah mobilnya, buru-buru pria itu keluar dari mobil untuk melambaikan tangan nya, karena hari ini tuan Sean membawa mobil baru yang sebenarnya di belikan nya khusus untuk Lily.


Lily langsung mencium punggung tangan suaminya, sebelum memperkenalkan teman barunya.


" Teman ku ingin ikut sampai asrama "


" Ya" jawab pria itu tersenyum ramah.


Lily duduk di depan, biar bagaimanapun dia ingin menghargai suaminya dan Rika duduk di bagian belakang. Melihat dari mobil yang menjemput Lily Rika tau bahwa keluarga Lily dari keluarga berada, bahkan pria yang menjemput Lily juga selalu berpakaian rapi dan tentu saja dengan merk dan atribut yang tersohor. Rika juga tidak pernah menduga pria yang duduk di samping temannya adalah suami temannya, Rika berpikir tuan Sean adalah paman atau Ayah Lily.


Begitu turun Rika juga tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Lily dan tuan Sean dengan santun.


" Kau mau langsung pulang atau makan dulu?" tanya tuan Sean saat meraih jari tangan Lily untuk ia genggam sambil mengemudi dan menciumnya sebentar.


" Terserah mas Sean saja" jawab Lily yang juga ikut mengenggam tangan suaminya.


" Apa itu tadi salah satu teman baru mu?"


" Sebenarnya, Lily baru mengenal Rika saja, karena kebanyakan dari mereka memiliki kelompok tersendiri, karena mereka banyak yang tinggal di asrama" Lily ikut melihat tuan Sean yang masih fokus menyetir.


" Apa kau ingin seperti mereka?" Tuan Sean ikut memberi Lily pilihan.


" Mereka kebanyakan masih lajang, jadi tinggal di manapun tidak jadi masalah, Lily sudah berumah tangga bukankah lebih baik tinggal di rumah?"


Mendengar jawaban Lily tentu saja menimbulkan reaksi tak terduga untuk tuan Sean


Tidak ada tempat yang nyaman bagi Lily selain tinggal bersama suaminya.


"Sebenarnya aku juga tidak mau berpisah dengan mu" ucap tuan Sean sebelum menghentikan mobilnya di halaman restoran.


Tuan Sean meraih tangan Lily untuk di genggam sebelum pria tinggi itu menoleh untuk melihat reaksi Lily.

__ADS_1


" Apa kau tidak malu bergandengan tangan dengan pria tua seperti ku di tempat umum?"


Nampaknya Lily juga langsung paham dengan kecemasan suaminya meskipun suaminya tidak mengatakan terus terang.


" Tidak ada batasan usia untuk pasangan suami istri berkencan dimanapun dan kapanpun"


Mustahil jika dada tuan Sean tidak bergemuruh mendengar penuturan istri mudanya, sungguh sebuah jawaban yang membuat pria seperti Tuan Sean hampir sesak napas karena terlalu bahagia.


Tuan Sean benar-benar sudah merasa tua untuk tergila-gila pada gadis muda yang sedang memeluk lengannya untuk menyampaikan perasaan nyaman jalan bersamanya.


Selepas makan siang mereka pulang, Lily mengira suaminya akan kembali ke kantor, namun sepertinya tuan Sean tidak berniat begitu.


" Aku tidak ingin terlalu membatasi pergaulan mu, namun jika boleh aku ingin agar kau bisa berhati-hati dengan teman pria mu nantinya" Tuan Sean duduk sambil menggulung lengan kemejanya.


Lily yang baru saja meletakkan tasnya ikut duduk di samping suaminya.


" Sebenarnya Lily tidak begitu suka berteman dengan lawan jenis, karena sedari dulu Ibu dan Ayah berpesan supaya Lily tidak terlalu dekat dengan lawan jenis, kata mereka seorang pria dan wanita tidak boleh dekat selain ada hubungan keluarga"


Rasanya agak aneh jika tuan Sean ingin membatasi pergaulan Lily, akan tetapi sebagai seorang suami dia juga memiliki rasa cemburu, apalagi Lily yang memang masih sangat muda dan cantik. Tuan Sean kerap kali melihat pandangan memuja dari tatapan para pria kampus pada istrinya namun tuan Sean mencoba mengerti karena siapapun berhak melihat orang lain.


" Aku hanya sedikit tidak suka jika kamu terlalu dekat dengan laki-laki lain!" Tuan Sean berterus terang


" Jangan khawatirkan apapun, ketika mas Sean bersedia menikahi Lily, sejak saat itu Lily menutup mata untuk pria lain, karena mas Sean lah yang mau menerima Lily dengan segala kekurangan yang Lily punya"


" Andai aku mendengar ini sepuluh tahun lalu mungkin aku tidak malu mengakui jika aku sedang bahagia mendengar ucapan mu"


" Mas Sean "


Lily yang ingin mengecup pipi tuan Sean langsung menjauhkan wajahnya saat suara Nyonya Natalia terdengar.


Lily buru-buru berdiri ketika nyonya Natalia berjalan mendekati mereka dan segera buru-buru duduk untuk merangkul pinggang Tuan Sean persis apa yang dilakukan Lily tadi.


" Malam ini anak kita ingin di temani Ayahnya" Keluh nyonya Natalia dengan mengusap perutnya yang rata.


" Malam ini dan besok masih waktu yang dimiliki Lily" tegas tuan Sean.

__ADS_1


" Tapi ini keinginan anak kita mas, Lily pasti bisa mengerti, Ya kan Li?" nyonya Natalia menatap Lily mengiba.


" Eh" kaget Lily.


" Tetap pada batasan mu Natalia." tuan Sean menekankan ucapannya.


" Mas Sean Lily tidak apa-apa, sepertinya nyonya Natalia lebih membutuhkan mas"


" Apa kamu baru saja mengatakan tidak membutuhkan ku?" Tuan Sean terlihat kecewa dengan perkataan Lily.


" Mas bukan begitu" Lily buru-buru menjelaskan namun tuan Sean sudah terlanjur masuk ke ruang kerjanya.


Nyonya Natalia tersenyum melihat kepanikan Lily.


Lily buru-buru menyusul suaminya masuk ke ruang kerja pribadi milik pria itu saat tiba-tiba pintunya tertutup rapat.


Lily kaget saat melihat suaminya lah yang menutup pintu.


Pria itu membawa kedua tangan di depan dada.


" Hanya butuh dua belas detik" kata tuan Sean yang membuat Lily bingung.


" Hanya butuh dua belas detik untuk membuat mu menyusul ku" ulang Tuan Sean yang kini tengah tersenyum menatap istri muda nya.


Lily terseyum ketika menyadari dia telah di kerjai suaminya, buru-buru Lily mendekat dan menjinjitkan kakinya untuk mencium pipi tuan Sean.


Tuan Sean meraih pinggang Lily untuk semakin di rapatkan ke tubuhnya.


" Tanggung jawab, karena kau berani mencium ku kau harus bisa membuatku menyebut namamu berkali-kali seperti semalam"


Lily tidak bisa untuk tidak merona, bisikan pria besar di hadapannya begitu intim dan mustahil tidak menimbulkan gejolak yang menggelitik.


Untuk tuan Sean sendiri rasanya sangat lucu jika dipikirkan ketika dia harus bermain kucing-kucingan hanya untuk bisa terus bersama istri mudanya, namun begitulah ketika hati sudah memilih dimana tempat ternyaman yang bisa menenangkan lahir dan batinnya.


Begitu juga dengan Lily.

__ADS_1


Walaupun tuan Sean terlalu besar dan keras di setiap keinginannya terhadap tubuh Lily yang rapuh, tapi nampaknya gadis muda itu sudah dapat beradaptasi untuk menampung segala kebutuhan dan keinginan suaminya.


Lily dan tuan Sean sedang saling merampas kepuasan, sementara nyonya Natalia sedang tertawa karena menyangka bisa membuat Lily dan suaminya berselisih lagi. Nyonya Natalia pergi dengan hati penuh kemenangan.


__ADS_2