POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Rencana


__ADS_3

" Li..." Tuan Sean sampai harus ikut berjongkok untuk merengkuh tubuh Lily yang sudah menangis di bawah kakinya.


" Bagaimana kalian bisa sampai memiliki anak?"


Flashback On


Lily melihat kepanikan Udgam saat dirinya tidak bisa merespon semua yang pria itu katakan.


"Li, jawab Kaka Li, kamu oke..?" Udgam mengosok-ngosok telapak tangannya pada telapak tangan Lily, terasa sedikit hangat tetapi tak mampu meringankan rasa dingin yang Lily rasakan.


Lily merasa seluruh tubuhnya kebas.


" Ya Allah...!" Panik Udgam, saat Lily benar-benar tak mampu membuka matanya.


" Maafkan Kaka Li, Semoga dengan cara ini kamu merasa lebih baik."


Lily hanya pasrah seperti boneka manekin, ketika Udgam mulai membuka pakaiannya, walaupun Lily tidak sanggup membuka matanya, namun sebenarnya Lily sangat malu. Lily merasa tubuhnya di tarik kedalam pelukan pria itu yang masih berpakaian lengkap, sementara dirinya sudah polos di telanjangi.


Lily di dekap dengan erat, dipeluk dan digosok-gosok punggungnya.


Merasa tidak terlalu berpengaruh pada keadaannya, Udgam ikut membuka pakaiannya sendiri, beberapa saat kemudian Lily merasa tubuhnya di angkat dengan enteng. Lengan Udgam yang kokoh mengangkatnya untuk dibawa ketempat yang lebih bersih, kemudian dibaringkan pelan-pelan.


Dalam jeda beberapa saat tidak ada suara apapun selain guntur dan hujan yang terus menerus menguyur bumi.


Ternyata Udgam ikut menanggalkan pakaiannya, di saat itulah Lily di peluk dengan keadaan yang sama polosnya, tiupan angin dari balik dinding anyam yang sudah bolong terus menerus menerpa tubuh mereka , awalnya Lily merasa lebih baik, namun keadaan nya kembali lagi setelah beberapa saat.


" Bagaimana ini?" itu yang terakhir Lily dengar sebelum dia merasakan Udgam mulai meraba tubuhnya, respon tubuh Lily luar biasa, kehangatan alamiah mulai menjalar kemana-mana.


Meskipun di ambang kesadaran, Lily bisa melihat wajah Udgam yang sedang berada di atasnya, Lily tidak bisa mengucapkan apapun, tetapi dia benar-benar tidak bisa membenci Udgam dengan keputusannya.


Akhir dari perbuatan Udgam pria itu buru-buru mencabut miliknya, memejamkan matanya rapat mendongak keatas. Kenyataannya Udgam tidak dengan sengaja meninggalkan benihnya.


Pria itu bahkan meneteskan air matanya, sebelum mencium kening Lily sesaat sebelum berlalu mandi di bawah guyuran hujan mungkin!.


Setelah Lily pergi ke Paris Lily samasekali tidak tau bahwa dia sedang mengandung, Lily tau kehamilannya pada saat sudah bekerja tiga bulan dengan nyonya Lubis.


Lily yang tiba-tiba pingsan dibawa kerumah sakit oleh beliau dan dari sana Lily baru tau bahwa dirinya mengandung anak Udgam.


Flashback off.


" Lily koma selama hampir tiga bulan setelah melahirkan Lyga, karena tragedi plasenta, Sean.!" Nyonya Lubis ikut bercerita.

__ADS_1


Tuan Sean memejamkan matanya menikmati sensasi sedih dan haru mendengar perjalanan hidup istrinya, ternyata Lily mengalami banyak hal, bahkan sampai hampir merenggut nyawanya.


Lily juga tidak bisa membenci Udgam, karena sebenarnya Udgam adalah orang yang berperan penting dalam hidup Lily.


Secara tidak langsung karena Udgam lah Lily bisa mengenyam pendidikan, karena Udgam lah Lily bisa pintar berbahasa asing, pria itu ada, saat Lily dalam keadaan terpuruk merasa dibuang oleh suaminya sendiri.


Dan sebenarnya Lily memang tidak ingin kembali bersama siapapun, meskipun dengan tuan Sean. Tetapi lagi-lagi perjalanan takdir Lily tidak terputus hanya dengan terhalang jarak, jodohnya masih bersama mantan suaminya, pria yang Lily cintai dengan sepenuh hati.


" Maaf!" Gunam Lily yang tengelam di dada hangat suaminya.


" Aku akan menjadikannya putri ku!" tekat tuan Sean.


" Jangan beritahu siapapun!" Mohon Lily.


" Kita bisa membesarkan anak-anak kita disini, Li"


" Mas.." Lily kehabisan kata-kata saat mendengar ucapan suaminya.


" Kau tidak ingin membawa Lyga karena takut Udgam tau perihal putrinya, kau tidak perlu membawanya ke Indonesia, kita bisa menetap di sini untuk nya!"


Tidak menunggu waktu Lily langsung menghambur kedalam pelukan pria yang sangat dicintainya, pria yang sudah merenggut semua yang ada padanya, hatinya, jiwanya, pikirannya, bahkan seluruh kehidupannya.


" Kalian beristirahat lah, biar anak-anak bersama ku!" tawar nyonya Lubis.


" Jangan Tante, aku ingin lebih mengenal putri ku" Ucap tuan Sean yang kini melangkah mendekati gadis cantik yang terpaut dua tahunan dengan putranya.


" Mas Sean, Lyga pandai berbahasa Indonesia!" ucap Lily.


" Oh ya..." Tuan Sean tersenyum menarik tangan kecil itu untuk di genggamnya.


" Lyga!" Panggil tuan Sean pada putri kecil dihadapannya.


Putri Lily tidak langsung menjawab, melainkan menatap lama tangannya yang di genggam tuan Sean.


" O- Om" Cicitnya.


" Panggil aku Papa, Okee..!"


Lyga menatap nyonya Lubis dan Lily bergantian seperti minya izin, dan dengan senang hati Lily mengangguk.


Bibir kecil itu tertarik keatas, Putri Lily sangat cantik, karena Udgam juga memiliki wajah yang sempurna sebagai seorang Pria.

__ADS_1


" Pa-pa.." Lirihnya dengan mata yang berbinar.


" Momy Lyga punya Papa!" girang anak itu, yang membuat, air mata Lily terjatuh.


Tuan Sean memeluk Lyga dengan tulus, apapun yang terjadi Lyga adalah putrinya, secara tidak langsung dia tetap memiliki ikatan darah dengan Lyga, Lyga adalah putri sepupunya.


" Aku benar-benar Papa mu nak!" lirih tuan Sean, yang ikut terenyuh dengan kebahagiaan putri kecilnya.


Nyonya Lubis memeluk Lily, sebenarnya nyonya Lubis tidak rela melepaskan Lily untuk kembali menikah dengan Sean, tetapi bagaimanapun mereka masih berjodoh. Padahal awalnya nyonya Lubis meminta Lily pergi ke Indonesia agar bisa menghilangkan ketakutan Lily akan negaranya sendiri, tetapi justru berakhir dengan pertemuannya pada mantan suaminya, lagi-lagi takdir yang sudah mengatur semuanya, meskipun nyonya Lubis dan nyonya Valeria berbeda keyakinan, tetapi mereka sahabat yang sangat baik.


Malam itu Lily tidur dengan perasaan bahagia yang tak bisa ia jabarkan. Lengan suaminya di peluk dua buah hatinya.


Lyga yang tak pernah merasakan kehadiran sosok seorang Ayah jelas langsung merasa nyaman dengan tuan Sean yang memang memiliki karakter hangat.


Jika selama ini Lily menyembunyikan Lyga karena memang Lyga memiliki seluruh kemiripan dengan Udgam, gadis kecil itu mewarisi seluruh kesamaan dengan Udgam siapapun tidak bisa menyangkal jika Lyga adalah jiplakan Udgam saat kecil, hanya saja mereka berbeda jender .


" Berbaringlah di dadaku, kau jangan merasa iri dengan anak-anak karena meminjam lenganku, lengan ini selamanya tetap milikmu, ketika mereka mendapatkan pasangan masing-masing, tetap hanya kau pemilik seluruh yang ada pada diriku!"


Mustahil jika Lily tidak merasa malu ketika di tegur seperti itu dengan suaminya.


Ternyata tuan Sean masih terjaga, padahal Lily yakin tadi suaminya sudah memejamkan mata.


Meskipun begitu, Lily tetap beringsut mendekat dan pelan-pelan berbaring di atas tubuh suaminya.


" Aku senang diperebutkan seperti ini!"


" Mas Sean memang sangat layak."


" Benarkah?"


" Kalian segalanya bagi ku!" Ucap Lily yang sudah berbaring di dada suaminya.


" Kita akan hidup berempat, jangan khawatirkan apapun" nasehat tuan Sean.


Lily mengangguk dengan mata terpejam.


" Tidurlah" tuan Sean meniup-niup puncak kepala istrinya.


######


Mau lanjut, atau end??

__ADS_1


__ADS_2