
Ozzu membawa pacarnya untuk mengunjungi kedua orang tuanya.
Gadis cantik yang bernama 'Romania filen '
" Bagaimana dengan kedua orang tua mu?" Tanya tuan Sean menatap pasangan muda di depannya.
" Mereka sudah tidak ada, tetapi aku yakin jika mereka masih ada mereka akan setuju dengan keputusan ku, karena mereka bukan orang tua yang pengekangan!" gadis itu berkata dengan lugas.
Ini bukan hal remeh, bagi tuan Sean. Seorang gadis muda bersedia menikah dengan putranya dan mau memeluk agama mereka itu suatu yang luar biasa.
Romania menatap Lily kurang suka dan itu di ketahui oleh tuan Sean.
" Dia istri ku, Mama Ozzu!"
Mata gadis itu terbeliak, entah apa yang ia pikirkan.
Ozzu tertawa.
" Nia selalu cemburu ketika aku menemani Momy jalan Pa, karena ya...!" pria itu tak melanjutkan perkataannya, memilih mengangkat bahunya.
" Ozzu hanya memanggilku Lily jika sedang di luar Mas!" Lily ikut mengadukan kelakuan putra sambung nya.
Seketika gadis itu menunduk malu.
" Maaf Tante!" cicitnya menatap sungkan.
" Aku tau rahasia Papaku untuk membuat istrinya awet muda, kamu tenang saja sayang, aku putra Papaku, jadi aku juga memiliki suntikan ajaib seperti Papa yang bisa membuatmu awet muda nanti nya meski kita sudah menikah puluhan tahun."
Mustahil jika tuan Sean dan Lily tidak terpingkal mendengar gombalan Ozzu.
" Au, mas!" Lily meringis di sela tawanya ketika merasakan perutnya mengencang.
Tuan Sean menghentikan tawanya dan terlihat khawatir. " Apa ini waktunya?" tanya pria itu. Bahkan beliau belum sempat menyampaikan permintaan nyonya Lubis pada Lily"
Ozzu dan Romania ikut panik.
" Kita kerumah sakit. Ozzu ambilkan persiapan melahirkan Momy mu yang Papa siapkan di ruang bayi"
" Ya , Pa." Tanpa ba-bi-bu Ozzu juga langsung menuruti permintaan Papanya.
Lily di bawa kerumah sakit, kontraksinya sudah semakin sering meskipun baru pembukaan dua.
" Saya ingin agar istri saya di operasi saja dokter!" tukas tuan Sean ketika dokter mengatakan proses nya akan memakan waktu beberapa jam untuk menunggu pembukaan lengkap.
" Tetapi istri anda sudah mengalami pembukaan!" jelas sang dokter. Tentunya kalau sudah ada pembukaan dan keduanya sehat saja operasi adalah solusi paling akhir, karena pastinya nanti sakitnya dua kali untuk pasien.
Tentu saja permintaan tuan Sean direspon aneh untuk Nyonya Valeria dan yang lainnya, pikir mereka kalau bisa normal mengapa harus operasi? tetapi semua keputusan tetap berada di tangan tuan Sean. Lily pun juga tidak keberatan dengan permintaan suaminya.
Akhirnya Lily dibawa keruang operasi, hampir 45 menit operasinya baru selesai, cukup lama untuk operasi Caesar pada umumnya.
__ADS_1
Dokter menghampiri tuan Sean yang ikut berdiri menanyakan kondisi istri dan anaknya.
" Kepuasan yang tepat yang anda ambil Pak, seandainya memaksakan lahir normal akan sangat berbahaya untuk kondisi istri Anda!"
Kata dokter tersebut yang membuat tuan Sean bingung.
"Plasenta nya menempel dan cukup sulit di angkat, ibu hamil dapat mengalami perdarahan hebat setelah melahirkan akibat sebagian atau seluruh plasenta yang masih menempel. Tidak hanya perdarahan, istri Anda pun bisa terkena infeksi, masalah pembekuan darah, gagal paru-paru, dan gagal ginjal, beruntung anda menyarankan operasi untuk kelahiran putra Anda, sekarang anak dan istri Anda dalam keadaan baik-baik saja!" jelas sang dokter yang membuat tuan Sean bisa bernapas lega. Tetapi tidak dipungkiri ada tanda tanya besar di benaknya tentang hubungannya dengan permintaan nyonya Lubis. Kenapa sahabat Mamanya itu seolah mengetahui apa yang akan terjadi jika Lily melahirkan normal?.
Lily dipindahkan ke ruang rawat, sementara putra mereka dibawa keruang khusus anak.
Semua tengah bersuka cita menyambut kelahiran putra kedua tuan Sean, nyonya Valeria terus saja tersenyum ketika ikut mengintip bayi mungil kemerahan yang masih di letakkan di ruangan khusus.
Tiga hari di rawat di rumah sakit, Lily dan bayinya di izinkan pulang.
Mereka sedang merencanakan aqiqah untuk putra tuan Sean dan Lily.
Nyonya Duby, Udgam, dan istrinya ikut hadir untuk memberikan selamat pada mereka.
" Sean, dia sungguh mewarisi ketampanan mu, tetapi lihatlah kulitnya putih bersih seperti Lily!" Komentar nyonya Duby yang mengendong bayi tuan Sean.
" Nak kamu tidak ingin mengendong nya, agar bisa cepat nular!" Nyonya Duby menawarkan menantunya untuk mengendong anak Lily dan tuan Sean, tetapi wanita itu terlihat enggan.
"Anastasya ngak berani Ma." jawab istri Udgam dengan mengangkat tangannya.
" Biar Udgam yang gendong!" Melihat penolakan istrinya Udgam langsung antusias meraih bayi kecil yang begitu imut untuk segera di bawa ke gendongannya.
Canda tawa memenuhi kamar tuan Sean bersama Lily, kebahagiaan dan kehangatan sedang melikupi hati mereka.
" Jadi Pa, siapa nama adik ku?" Tanya Ozzu yang ternyata sama sekali belum berani untuk menyentuh saudaranya.
" Alfaaro Pramajha" ucap tuan Sean yang ikut menatap putra keduanya yang masih sangat kecil.
Ozzu hendak protes, tetapi sepertinya urung.
" Apa kau memiliki usulan lain?" tanya tuan Sean.
" Alfa" lirih Ozzu. Kemudian pemuda itu tersenyum.
Udgam terlihat pandai menimang bayi, saat tadi di gendong oleh Udgam baby Alfaaro terlelap tenang, setelah di letakkan bayi kecil itu menggeliat.
" Doakan agar cepat gendong cucu juga ya Li!" tutur nyonya Duby pada Lily yang tengah dipeluknya.
" Iya Tante!" ucap Lily kikuk karena sejak tadi terlihat istri Udgam yang sama sekali tidak terlihat nyaman di antara mereka.
Baby Alfaaro dibawa kekamar khusus yang dibuatkan tuan Sean untuk Putra nya, di ikuti mereka, Lily yang hampir memejamkan matanya setelah diminta tidur oleh tuan Sean masih mendengar saat Anastasya merengek pada Udgam.
" Awas ya mas, jangan sampai karena habis lihat bayi mas pulang minta aku untuk melahirkan bayi!"
Suara itu tidak terlalu nyaring, namun tetap bisa Lily dengar.
__ADS_1
Lily pikir kehidupan rumah tangga Udgam selama ini sangat harmonis, tetapi mendengar ucapan Anastasya barusan kenapa terasa ganjil, apakah sebenarnya pernikahan mereka tidak bahagia?.
Udgam pulang bersama istrinya, sementara nyonya Duby berkata ingin menginap.
Anastasya ingin mengunjungi kedua orang tuanya dan Udgam menurutinya, lagi pula rumah tuan Sean memang cukup dekat dengan kediaman kedua orang tua Anastasya.
Kedatangan kedua ya di sambut hangat oleh kedua orang tua Anastasya.
" Kalian dari mana?" Pak Bram begitu semangat di kunjungi oleh Udgam dan putrinya.
" Kebetulan kami dari rumah Kak Sean, Ayah!" Jawab Udgam ramah.
" Waah..apa sudah lahiran istri nya?, Mama juga ngak sabar pingin gendong cucu!" Mama Anastasya ikut menyambut anak dan menantunya.
" Iya Ma, doain ya agar kami segera di beri kepercayaan!" Jawab Anastasya memeluk Mamanya.
Udgam tersenyum pedih melihat drama istrinya, apa wanita itu tidak bersimpati melihat Mama nya dan kedua orang tuanya sendiri yang begitu ingin memiliki cucu, sementara yang sebenarnya wanita itu justru mengunakan alat kontrasepsi karena belum ingin mengandung.
Awalnya Udgam sangat bahagia ketika menikah dengan Anastasya, wanita itu sangat sopan dan lembut, hingga pandangan Udgam berubah setelah mereka melewati malam pertama.
Udgam memang belum mencintai istrinya, tetapi akan terus berusaha menumbuhkan benih cintanya untuk sang istri, tetapi yang di dapat Udgam adalah kenyataan pahit bahwa istrinya mau menikah karena bosan terkekang.
Sejak menikah sikap Anastasya berubah, memang sih dia masih sopan tetapi mulai susah diatur, pulang pergi bersama temannya, jalan, berbelanja kemanapun yang wanita itu inginkan, tidak perduli meskipun Udgam melarang nya.
Keduanya memang berumahtangga seperti pasangan pada umumnya, namun dengan tegas Anastasya tidak ingin hamil untuk waktu dekat, dia masih ingin menikmati masa mudanya, itu membuat mereka selalu beralasan saat di tanya tentang anak.
" Sampai kapan kita akan seperti ini Anastasya?" tanya Udgam begitu mereka sampai di kamar.
" Ya sampai aku siaplah!" Jawab Anastasya cuek.
" Kamu ngak kasihan melihat mereka yang berharap seperti itu?" tanya Udgam lembut.
" Ngak, siapa suruh mereka terlalu berharap. Aku masih mau bebas mas, mas Udgam ngertiin aku dong, sejak kecil aku di tuntut ini itu, aku capek mas, aku juga ingin bebas!"
" Dek, memiliki anak bukan berarti kamu akan terkekang, aku juga akan berusaha menjadi Ayah yang selalu ada untuk anak kita, agar kamu bisa tetap bisa menikmati masa muda mu!" tutur Udgam lembut.
Anastasya tertawa.
" Kalau begitu mas Udgam aja yang hamil!"
Udgam meraup wajahnya ketika harus terus berdebat dengan istrinya, pada akhirnya pasti bikin emosi.
#######
Mau lanjut atau end ini???
Jangan lupa jejak cintanya untuk author yaaa....
happy reading
__ADS_1