POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Perasaan dan kejujuran


__ADS_3

Tuan Sean memperhatikan cincin yang pernah diberikan kepada Lily, cincin yang disematkanya saat menikahi gadis itu, cincin itu ditinggalkan Lily diatas meja nakas bersama segala kartu yang pernah tuan Sean berikan, bahkan tuan Sean ketahui tak pernah sekalipun Lily mengunakan uang atau kartu yang pernah tuan Sean berikan kepada istri mudanya. 'Kemana kiranya istri kecil nya itu pergi?' cuma itu pertanyaan yang tercetak tebal di pikiran tuan Sean, bahkan tuan Sean sudah kerumah Lily yang di desa, dan gadis itu tidak ada, bahkan gubuk derita Lily pun sudah hilang, untuk di gunakan pembangunan proyek baru. Tuan Sean memutuskan pulang karena sudah tidak mampu memaksa diri untuk terus menyetir.


Sepanjang sisa malam itu Tuan Sean sama sekali tidak bisa tenang, Bi Sum dan Yuyun juga ikut tidak bisa tidur melihat keresahan tuanya, bahkan berulang kali memeriksa untuk sekedar membuatkan minuman panas dan makanan yang bahkan tak satupun disentuh tuan Sean hingga mendingin. Tuan Sean hanya duduk dan sesekali berdiri gelisah di dekat jendela balkon kamarnya. Ozzu juga belum bisa di hubungi atau bahkan belum pulang sampai hari kembali pagi.


Pagi itu kediaman Tuan Sean terjadi kegaduhan. Nyonya Natalia datang membawa emosi menggebu yang membuat Bi Sum dan Yuyun ikut khawatir. Bagaimanapun tuan Sean sedang tidak baik-baik saja, kehilangan Lily sudah membuat tuanya sedih dan cemas, Bi Sum hanya khawatir tuan Sean akan semakin stress karena ulah istri pertamanya.


" Mana wanita brengsek itu??" Nyonya Natalia membanting vas bunga hingga hancur berkeping-keping, menimbulkan suara pecahan kaca yang cukup mengusik seorang pria yang terlihat baru saja mampu memejamkan matanya.


Bi Sum tergopoh-gopoh untuk mencegah nyonya Natalia yang hendak meraih barang lain untuk di hempasnya.


" Nyonya, Lily sudah pergi dari rumah, dia tidak ada di sini." Bi Sum mendekati istri pertama Tuan Sean dengan harapan bisa membuat sedikit emosi wanita emosional itu melunak.


Alis nyonya Natalia menukik tajam, menatap wajah Bi Sum dengan tatapan angkuh dan tak percaya.


" Kau membohongi ku.?"


" Sungguh nyonya." Sanggah Bi Sum


" Lalu dimana Sean?"


" Aku disini!"


Tuan Sean masih berdiri di atas tangga, namun Bi Sum yakin tuan Sean ikut menyimak kemarahan istri pertamanya.


" Mau kemana?" tanya nyonya Natalia ketika tuan Sean hanya melewatinya.


" Aku mau mencari Lily."


" Memangnya dia kemana?" nyonya Natalia bahkan tidak memperhatikan bagaimana kacaunya keadaan suaminya, dia hanya memuaskan diri untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


" Dia pergi dari rumah sejak kemarin dan belum kembali, aku sedang berusaha mencarinya." Jawab tuan Sean yang ikut menatap istrinya.


" Kok dicari?, bagus dong kalau dia pergi!"


" Oh!" Bi Sum ikut mencengkeram kepalanya, dan ikut geram mendengar komentar nyonya Natalia, Bi Sum membayangkan betapa cemasnya tuan Sean memikirkan istri nya yang sudah tidak memiliki siapa-siapa untuk di kunjungi dan sekarang pergi karena kesalahannya.


*******

__ADS_1


Ozzu tak kalah kacaunya begitu mendengar cerita orang kepercayaan Papanya yang di utus membawanya pulang.


" Apa Papaku sudah lapor polisi?" tanya Ozzu yang ikut khawatir.


" Sepertinya akan segera dilakukan jika belum di temukan, ini sudah lebih dua puluh empat jam."


" Ya Tuhan.." Ozzu hanya ikut merasa sesak mendengarnya.


Ozzu hanya sibuk melihat luar jendela, ponselnya sudah kembali di aktifkan, namun kini giliran Papanya yang tidak bisa di hubungi.


Ozzu gelisah sepanjang perjalanan membawanya kembali, semua yang terjadi pada Lily bersumber darinya, sehingga gadis itu sampai mendapat hinaan dan lebih memilih pergi karena melindungi nama baiknya, memikirkan itu hanya membuat Ozzu semakin merasa bersalah.


Jika bisa Ozzu ingin membelanya, ingin melakukan segalanya untuk Lily, tapi sekali lagi dia sadar itu bukan haknya, meskipun jika bersama Lily dia harus terus menutupi perasaannya, itu lebih baik. Karena Lily adalah wanita luar biasa yang mungkin hanya seorang di dunia.


" Pa" akhirnya Ozzu bisa langsung berhadapan dengan tuan Sean.


Meskipun tidak mengatakan apapun, namun Ozzu tau Papanya sedang menunggu kedatangannya.


" Sebenarnya apa yang terjadi?" Ozzu ikut duduk di sebelah tuan Sean yang sudah tidak bisa fokus.


Tidak tau dimana Lily menghilang, dan tidak tau juga dimana harus mencari, ketika Ozzu bahkan tuan Sean tidak pernah tau tentang siapa dan dimana biasanya Lily pergi ketika harus mengadu seperti ini.


Ozzu juga sudah bertekad akan menerima apapun kemurkaan Papanya, dan tidak membela dirinya dengan keadaan apapun.


" Bersikaplah dewasa, aku yang membesarkan mu, dan apa pernah aku mengajarimu untuk bertindak kurang ajar seperti itu?"


Tuan Sean juga segera menampar kedua pipi Ozzu dengan sangat kencang hingga suaranya terdengar dari seisi ruangan.


Bi Sum ikut syok mendengar kejujuran Ozzu dan tidak berani membelanya dihadapan tuan Sean, karena biar bagaimanapun menginginkan ibu tirinya sendiri adalah masalah yang bukan main-main.


" Ya Tuhan....." Tuan Sean ikut meraup wajahnya kasar, kepalanya yang sudah berdenyut-denyut nyeri terasa semakin menyiksa, semuanya sudah terjadi, biar bagaimanapun Ozzu tetap putranya dan Lily juga bukan sesuatu yang bisa asal diberikan sebagai seorang suami dan seorang laki-laki.


" Pa...." Ozzu langsung menangkap tubuh tuan Sean yang tiba-tiba roboh.


Ya, pada akhirnya tuan Sean pingsan karena terlalu lemas dan banyak pikiran, juga karena sejak kemarin perutnya dalam keadaan kosong tanpa terisi sebutir nasi atupun setetes air.


********

__ADS_1


Udgam ikut terkejut, saat Lily berkata bahwa suaminya lah yang memberi pilihan untuk dirinya pergi atau di usir.


Nyonya Duby juga tak menyangka keponakannya bisa se tega itu.


" Kamu bisa tinggal sampai kamu tenang Li, kalian harus tetap menyelesaikan masalah ini dengan hati dingin, Tante yakin Sean hanya salah bicara" Hibur nyonya Duby dengan bijak.


" Kamu juga bisa melanjutkan pendidikan, kamu masih sangat muda, buktikan jika kamu layak menjadi istri Kak Sean, belajar bukan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk membuka lapangan pekerjaan." Udgam juga ikut memberi nasehat.


" Udgam benar, biar bagaimanapun kamu harus bisa menyeimbangi Sean, karena istri Sean tidak hanya kamu, Natalia akan terus merendahkan mu jika kamu tidak membungkam mulutnya dengan kemampuan mu." Nyonya Duby meraih tangan Lily untuk di genggam.


" Lily masih mau disini. Apa boleh.?"


" Tentu, tenangkan hatimu, jika butuh sesuatu kamu bisa minta tolong Udgam."


Mata Lily berkaca-kaca, terharu dengan semua kebaikan nyonya Duby dan Udgam.


Udgam tersenyum manis untuk sekedar menghibur Lily sebelum kemudian ponsel di sebelahnya berkedip menandakan ada pesan masuk.


" Kak Sean masuk rumah sakit, karena tak sadarkan diri."


Seketika suasana berubah hening.


' Bagaimana ini?' Risau hati Lily mengetahui kabar suaminya dirawat di rumah sakit. ' Apa yang terjadi dengan pria yang membuatnya sedih sekaligus khawatir itu?'


#########


Mohon maaf atas keterlambatannya..


aplikasi nya baru author perbarui, sedikit eror sehingga tidak bisa di buka seharian.....


...........


Sambil nunggu author update, bisa mampir di karya teman author yang satu ini yaaa.. karya yang di tulis oleh: Bubu.


Karya baru yang bisa di ikuti sejak awal, jangan lupa di tambahkan di rak buku.....


happy reading......

__ADS_1


l



__ADS_2