POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Sosok Lily


__ADS_3

" Jadi kamu tinggal di Prancis selama ini?" Tanya tuan Sean yang tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Lily.


Mereka sedang berada di mobil yang akan mengantarkan Lily ke rumah sakit untuk menemui Nyonya Valeria, yang ternyata sahabat dari wanita yang selama ini memberinya kehidupan baru. Nyonya Lubis adalah pemilik perusahaan dimana Helen bekerja, perjumpaan Lily dengan nyonya Lubis ketika wanita itu datang ke apartemen Helen untuk mengambil berkas beberapa desain terbaru yang sudah dia percayakan pada Helen.


Tampilan wanita itu sederhana tidak seperti wanita konglomerat pada umumnya, saat itu Helen sedang tidak berada di rumah, Lily lah yang menemani nyonya Lubis selama menunggu kedatangan Helen.


Nyonya Lubis jatuh cinta pada kebaikan dan keramahan Lily, menawarkan Lily sebuah pekerjaan, sayangnya Lily menolak karena dia sudah bekerja menjadi pelayan di restoran, padahal nyonya Lubis menawarkan gaji yang cukup besar .


Mendengar alasan Lily yang begitu bertanggung jawab semakin membuat nyonya Lubis tertarik pada gadis itu, dari sana Lily mulai bekerja dengan nyonya Lubis, setelah nyonya Lubis membuatnya keluar dari pekerjaan sebelumnya.


" Ya" jawab Lily.


Lily merasakan perasaan yang rumit, perbuatan tuan Sean terasa akrab untuk nya tetapi asing disaat bersamaan, pesan perpisahan yang di kirimkan tuan Sean kembali terbayang di pelupuk matanya, membuat luka hatinya kembali berdarah.


" Maaf Pak, ini sedikit kurang pantas!" Lily menarik tangannya yang dibawa tuan Sean kepangkuan nya.


Pria yang mengawalnya duduk di depan bersama Ozzu, sementara Lily duduk dibelakang bersama tuan Sean. jangan tanya siapa yang mengaturnya, tentu saja pria dewasa yang kini tengah berbahagia karena perjumpaannya dengan kekasih hatinya.


" Aku minta maaf!" ucap tuan Sean. Akan tetapi pria itu kembali menarik tangan Lily.


Lily dibuat putus asa dengan perbuatan tuan Sean, bagaimana bisa pria itu begitu keras kepala untuk tetap mengenggam tangan nya.


" Apa kamu sudah menikah?"


Jujur tuan Sean berharap Lily akan menjawab belum, karena entah mengapa dia tidak ingin Lily di sentuh pria manapun.


" Sudah!" Jawab Lily yang tidak sepenuhnya berbohong.


Tuan Sean menoleh menatap wajah nya yang terbingkai hijab.


" Suamimu pasti pria yang jauh lebih baik dari ku, aku ikut berbahagia untuk kebahagiaan mu Li" kali ini tuan Sean melepaskan genggaman tangannya.


Meski berat, dia harus bisa merelakan Lily. Merelakan dalam artian sebenarnya, iklas karena Lily hidup dengan baik dengan pria yang mungkin lebih segalanya dari dirinya.


" Terimakasih" ucap Lily yang setelahnya hanya melihat keluar jendela.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit. Tuan Sean dan ozzu berjalan menghimpit Lily.


Pria yang bertugas mengawal Lily sebenarnya cukup aneh melihat tingkah dua pria itu, namun mendengar sekilas obrolan mereka di mobil, sepertinya wanita yang menjadi kesayangan bos nya ini ada hubungan masa lalu dengan keduanya.


Lily terlihat begitu cantik, dengan pakaian tertutup dan juga hijab modern yang ia kenakan, bulu matanya dibiarkan berwarna pudar seperti pertama kali tuan Sean bertemu dengan nya, hanya aura wanita itu sekarang jauh lebih berkelas, bahkan dibandingkan saat masih berstatus sebagai istri tuan Sean.


Berbanding terbalik dengan keadaan tuan Sean yang sekarang. Meskipun jas mahal masih membalut tubuh tinggi nya, penampilan Tuan Sean terlihat lebih tua dari usianya, bulu-bulu di wajahnya dibiarkan tumbuh subur, rambutnya agak panjang hanya dirapikan kebelakang dengan memakai jel rambut .


Satu yang membuat Lily merasa asing, bau pria disampingnya berbeda, pria itu dulu begitu harum dengan parfum andalannya, kini wanginya lebih di dominasi oleh bau tembakau, seperti pria perokok pada umumnya.


Nyonya Valeria juga langsung mengenali Lily, wanita itu bahkan memeluk Lily dengan tangis tersedu-sedu.


" Ya Tuhan, ya Tuhan......" Ucap Nyonya Valeria penuh keterkejutan.


Matanya menatap wajah ayu Lily bergantian dengan putranya, entah mengapa setelah semua yang terjadi ia baru bisa melihat daya tarik Lily untuk setiap mata yang memandang, sangat pantas dirinya di perebutkan antara putra dan cucunya.


Sebelumnya Lily tidak pernah berbincang akrab dengan wanita yang pernah menjadi Mama mertua nya, tetapi nasib membawanya pada titik dimana sekarang ia bisa berbicara dengan wanita yang melahirkan tuan Sean itu dengan tenang dan juga di selingi candaan.


" Kamu bisa tinggal di rumah, tidak perlu menyewa hotel" tutur nyonya Valeria pada Lily.


Seketika Ozzu dan tuan Sean melihat kearah Lily.


Tuan Sean keluar begitu saja dari ruangan itu, memilih menemui pria yang mengawal mantan istrinya.


Tuan Sean bermaksud mengorek informasi tentang mantan istrinya, tetapi pria yang menjadi penjaga wanita itu begitu enggan membocorkan kehidupan wanita yang ia jaga, hanya satu yang tuan Sean tau. Lily tidak tinggal bersama suaminya melainkan tinggal bersama sahabat Mamanya.


Apa Lily benar-benar sudah berkeluarga lagi?, atau hanya alasan wanita itu saja untuk menghindarinya?'


" Aku adalah mantan suami Nona Phalosa!"


Hugo sampai tersendak karena sangking kagetnya.


Bagaimanapun penampilan tuan Sean seperti pria berumur lima puluh tahunan sedangkan Nona nya seperti baru berusia akhir dua puluhan, sebenarnya penampilan Lily yang sekarang tak ubahnya seperti anak yang baru lulus sekolah, terlihat jauh lebih muda dari usianya.


Tuan Sean sedikit kecewa melihat reaksi pria yang menjadi pelindung Lily terlihat begitu menyepelekan ucapannya, Hugo seperti mencibirnya secara tidak langsung.

__ADS_1


Lily keluar setelah mendapatkan telepon. Wanita itu duduk di taman rumah sakit. Usai dengan pangilan teleponnya Lily berniat untuk menemui Udgam. Bagaimanapun dia sudah terlanjur berada di sini, dia ingin mengucapkan maaf pada pria itu dan berterimakasih sudah pernah membantunya banyak hal. Udgam adalah pria yang tidak bisa Lily lupakan, meski dia mau, tetapi cinta Lily sudah terpaut pada tuan Sean.


Udgam yang sedang berada di rumah dikejutkan dengan nyonya Duby yang mengatakan ada Lily mencarinya.


Merasa salah dengar, Udgam buru-buru mengejar Mamanya, namun netra nya justru bersiborok dengan netra abu-abu milik Lily.


Dan disinilah mereka berada.


Tempat yang dulu menjadi favorit Lily ketika belajar.


Udgam menatap Lily dengan pandangan yang rumit, setelah sekian lama wanita ini kembali dengan penampilan anggun dan kecantikan yang luar biasa, meskipun bahkan tak terlihat ada sapuan mekeup di wajah alami itu.


" Kak Udgam, Lily datang untuk menyampaikan rasa terimakasih atas semua yang pernah kak Udgam lakukan pada Lily, selain itu apa boleh Lily mendengar ucapan talak kak Udgam untuk Lily?"


Lily tau, meskipun tanpa mengucapkan talak, dirinya dan Udgam sudah resmi bercerai biar bagaimanapun, mereka hanya menikah siri dan lebih dari satu tahun setengah tidak ada kejelasan tentang hubungan mereka termasuk tidak adanya nafkah Udgam untuk Lily, tetapi semua juga karena dirinya yang tidak ada .


Lily juga tidak tau Udgam saat ini masih sendiri atau sudah ada wanita yang mendampinginya, tujuan Lily hanya menenangkan hatinya, ingin mendengar apa yang patut dia dengar.


" Teman!" Lily mengulurkan tangannya untuk menyalami Udgam.


Udgam tersenyum, dan membalas jabatan tangan Lily.


" Saudara!" nego pria itu yang membuat Lily mengangguk.


" Lily ada yang musti Kaka sampaikan pada mu!" ucap Udgam.


" Jika soal masa lalu bisakah kita tidak membahas nya?" Tanya Lily yang diartikan Udgam Lily begitu trauma dengan kejadian lalu hingga membuat wanita cantik itu pergi.


" Aku tidak pernah mengatakan apapun pada siapapun!" ucap Udgam. Dan Lily bersyukur karena itu.


" Aku senang kamu kembali, kak Sean begitu menderita karena kehilangan mu!" Udgam memberikan satu buah strawberry di hadapan Lily yang paling besar diantara buah yang lainnya, tentu Udgam masih ingat buah berwarna merah itu adalah buah favorit Lily.


Lily menerimanya dan langsung memasukkan kedalam mulutnya satu kali suap, tingkahnya masih sama seperti yang dulu Udgam lihat, tampak polos, naif dan mengemaskan. Membuat pria itu terkekeh. Penampilan Lily sudah berubah , tetapi kepolosannya masih sama, Lily tidak pernah bertindak sok jaim, gadis yang apa adanya dan tulus.


Selesai menelan buah asam manis itu Lily baru menjawab pertanyaan Udgam.

__ADS_1


" Lily datang hanya sebentar, besok Lily harus kembali ke Prancis!"


__ADS_2