POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Lily


__ADS_3

Lily merasa dirinya datang di saat yang kurang tepat, bagaimana tidak, saat Lily menginjakkan kakinya di kediaman nyonya Duby, Lily di sambut pertengkaran Udgam dan Anastasya di baranda rumah.


" Mas capek hadapin sikap kekanak-kanakan kamu dek!"


" Kalian yang kekanak-kanakan, bisanya cuma nuntut aku agar cepat hamil, aku ini istri, bukan bukan hewan ternak!"


Padahal suara Udgam sudah nyaring tetapi lebih nyaring lagi suara istrinya.


" Kamu mau kemana?" tanya Udgam.


" Aku tidak akan pulang jika kalian masih tetap maksa aku untuk lepas alat kontrasepsi yang ku pakai!"


" Untuk apa kita kesini Li?" Tanya Ozzu yang sangat bingung ketika baru menjemput Lily di bandara wanita itu minta cepat-cepat kerumah Udgam, sayang ternyata Udgam sedang berada di kediaman nyonya Duby dan mengharuskan mereka menyusul mereka.


Lily berpaling untuk menatap Ozzu.


Wajah Lily basah, dan tidak pernah benar-benar kering sejak menginjakkan kakinya di Indonesia.


" Aku mau membawa kak Udgam ikut ke rumah menemui Mama"


Ozzu tidak sanggup membantah permintaan Lily karena wanita yang pernah menjadi pemilik hatinya itu terlihat sangat kacau.


" Ku rasa bukan waktu yang tepat!" lirih Ozzu yang juga ikut melihat dan mendengar perdebatan sepasang suami istri itu.


Nyonya Duby yang keluar dari pintu rumah menyadari kehadiran Ozzu dan Lily segera melerai pertengkaran putra dan menantunya.


" Mama meminta kalian datang untuk makan siang, bukan untuk bertengkar, lihatlah sangking sibuk bertengkar kalian sampai tidak menyadari kedatangan keluarga"


Nyonya Duby terburu-buru mendatangi Lily dan Ozzu yang berdiri di antara tanaman Udgam yang berjajar rapi di dalam pot-pot besar.


Udgam juga terkejut melihat Lily dan Ozzu, dirinya jadi malu karena secara tidak langsung mengumbar aib rumah tangga nya.

__ADS_1


Anastasya pergi tanpa sepatah katapun, dan kali ini Udgam juga tidak mencegahnya.


Sepanjang pernikahan mereka, hanya Udgam yang terus berusaha mempertahankan hubungan mereka, sementara Anastasya tidak mau pusing dengan semua itu, dalam angan wanita itu adalah pernikahan yang membuatnya keluar dari tekanan kedua orang tuanya, karena dengan menikah Anastasya sudah bukan lagi tanggung jawab mereka dan dirinya tidak takut jika di anggap tak berbakti, tetapi tidak pernah wanita itu pikirkan ada hati laki-laki yang disakiti setiap harinya dengan sikapnya yang membangkang.


Udgam menatap punggung istrinya yang sudah masuk kedalam mobil, tanpa basa-basi bahkan sekedar menyapa tamu mereka, Anastasya sudah seperti kehilangan rasa malu.


Ke sedihan Lily semakin menjadi mendengar perdebatan mereka. Apakah se ingin itu mereka memiliki keturunan?, jika sekarang dirinya datang dan meminta pertolongan akankah Udgam tidak akan merebut putrinya?.


" Lily.." Nyonya Duby memeluk Lily yang bahkan lupa caranya bicara. Wanita itu di hantui rasa ketakutan saat ini, takut jika putrinya tak tertolong, takut jika Udgam tau memiliki anak Udgam akan merebut hak asuh Lyga. Tanpa sadar Lily menggelengkan kepalanya dengan kaki yang melangkah mundur.


" Lyga putriku, aku tidak akan memberikannya kepada siapapun, aku tidak mau!" rapal Lily dalam hati.


Nyonya Duby membawa Ozzu dan Lily masuk, tetapi Ozzu harus menjemput Alfaaro yang sedang tertidur pulas di dalam mobil.


Adik nya itu sangat tampan, perpaduan antara Papanya yang rupawan dan Lily yang cantik, tidak di pungkiri Ozzu juga sangat menyayangi saudara nya yang datang sedikit terlambat itu, dan sebenarnya Ozzu juga menyayangi Lily sebagaimana mestinya, rasa sayang seorang putra pada istri Papa nya. Ozzu juga tidak suka melihat Lily bersedih, Namun untuk menerbitkan senyum di bibir wanita itu dirinya juga bukan siapa-siapa, bahkan ketika ingin memeluk tubuh Lily sekedar menenangkan saja ternyata dia tidak bisa.


Lily duduk meremas jari-jari tangannya saat Udgam sudah ikut duduk bersama dengannya, padahal belum apa-apa tetapi Lily begitu ketakutan.


" Ini untuk mu.." Buah strawberry segar di sodorkan Udgam di hadapan Lily.


Mengingat putrinya Lily kembali lemah, saat ini putrinya sedang terbaring tidak berdaya, Lily tidak bisa egois, dirinya harus segera meminta bantuan Udgam.


" Hai.." Udgam yang tadinya tersenyum beralih khawatir ketika Lily justru menangis.


" Kak, Tante, ada yang ingin Lily sampaikan" Wajah Lily yang basah air mata mengundang kekhawatiran semuanya bahkan Ozzu hanya mampu mengepalkan tangannya sekuat tenaga agar tidak segera merengkuh wanita yang begitu berarti di hidup Papanya. Entah mengapa Lily terlihat sangat kacau, Ozzu merasa bersalah saat mengingat prasangka buruknya pada Lily, ternyata Lily tidak bisa datang kala itu bisa jadi karena sebuah keadaan.


" Katakanlah, Li."


Lily mendongak.


" Bisa kita bicara di rumah Mama?"

__ADS_1


Dan disinilah mereka saat ini.


Nyonya Valeria yang sudah menyiapkan amarahnya untuk sang menantu urung ketika Lily justru datang dan langsung memeluknya dengan tangis tersedu-sedu.


" Maaf Mi, maafkan Lily yang ingkar janji pada Mami, Lily tidak bermaksud membuat Mami kecewa dan sampai jatuh sakit, Anak Lily sakit dan Lily tidak bisa meninggalkannya begitu saja!" tangis Lily.


" Cucuku sakit, kenapa kamu tidak katakan terus terang, Mami jadi berpikir yang tidak-tidak, jika kamu jujur Mami tidak mungkin marah dengan mu!" nyonya Valeria ikut kaget mendengarnya, bagaimana bisa Lily tidak jujur dan memilih diam dan rela di salahkan.


Lily menciumi tangan Mama mertuanya, tidak perduli tangan nyonya Valeria menjadi basah karena linangan air matanya.


Sudah tak terukur seberapa banyak air matanya tumpah, ternyata menjadi seorang Ibu yang takut kehilangan anak, bisa membuatnya di titik terlemah.


Sebenarnya nyonya Duby dan Udgam belum paham mengapa mereka ikut di bawa Lily kerumah Nyonya Valeria tetapi setelah lama menunggu keduanya diminta Lily ikut masuk kedalam kamar.


" Al, ikut bermain sama Kak Ozzu ya, Mama mau bicara sama Oma!"


Putra Lily langsung melompat ke gendongan Ozzu, meskipun Ozzu juga ingin tau apa yang membuat Lily bersedih, tetapi pemuda itu tetap menuruti permintaan Lily untuk menjaga adiknya.


Setelah Ozzu membawa keluar Alfaaro, baru kemudian Lily menatap wajah-wajah yang melihatnya dengan bingung.


" Sebelumnya Lily minta maaf.."


Lily berusaha agar suaranya tidak bergetar, tetapi terasa sia-sia karena nyatanya dirinya tetap menangis.


" Terutama untuk Kak Udgam.."


Udgam yang disebut namanya ikut mendongak menatap Lily dengan pandangan bingung.


" Lily datang ingin meminta tolong pada kak Udgam, dan memohon maaf pada kalian semua karena selama ini Lily tidak pernah jujur"


Nyonya Valeria mengenggam tangan menantunya, seperti menyalurkan ketenangan, meskipun sempat kecewa pada menantunya, melihat Lily yang seperti ini hatinya ikut sedih.

__ADS_1


########


Janji UPP lagi kalo banyak komentar.


__ADS_2