POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Setelah tiga bulan.


__ADS_3

" Kau cantik Lily."


Pujian itu meluncur begitu saja, dari wanita yang menjadi teman Lily.


Ini adalah hari pertama Lily ke kampus setelah sebelumnya dia mengejar paket untuk mendapatkan ijazah SMA.


Lily benar-benar tidak menyangka jika dia bisa melanjutkan pendidikannya, yang bahkan tidak pernah tersirat meski dalam mimpinya. Takdir memang tidak ada yang tau, Lily adalah gadis baik dan tulus, segalanya musibah yang pernah dilaluinya dianggap Lily sebagai pelajaran hidup, mustahil nasib baik tidak menghampiri gadis tulus itu.


Ini juga sudah tiga bulan Lily hidup tanpa kepastian dari suaminya, selama ini Udgam yang selalu berperan penting untuk nya, ia yang mengajarkan Lily banyak hal. Berkat Udgam juga Lily fasih berbahasa Inggris dan juga piawai mengetik mengunakan laptop.


" Sepertinya pujian seperti ini sudah biasa kamu dengar, sehingga kau tidak perlu terkejut saat aku mengatakan nya!"


"Oh, bukan begitu." Lily buru-buru mengoreksi, karena sungguh dirinya jarang mendapatkan pujian seperti itu, hanya saja tadi Lily tidak tau harus bereaksi seperti apa saat di puji demikian.


" Kekasih mu juga sangat tampan."


Kalimat yang mampu membuat Lily menoleh seketika.


" Dia bukan kekasihku, dia Kaka ku."


Bukan komentar pertamakali ketika dia sedang berjalan bersama dengan Udgam dan ada yang menanggapi, pernah suatu ketika Udgam membawanya makan di sebuah restoran, sang pelayan menyarankan untuk duduk di dekat panggung yang sedang ada hiburannya agar mereka bisa menikmati momen yang lebih romantis.


Udgam yang selalu menyemangati Lily, membuat pikiran Lily terbuka, pria itu berkata ' pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan gelar tetapi penting menjadi sarana untuk menambah wawasan, pendidikan pun dapat mengasah kemampuan dalam menyelesaikan masalah, meningkatkan perekonomian, hingga menciptakan kesempatan kerja yang lebih baik' Saran Udgam yang bisa membuat hati Lily bergairah untuk mengisi hidupnya dengan ilmu yang berkualitas.


Sejak Lily di titipkan di rumah nyonya Duby, tak sekalipun suaminya mengunjunginya, Lily hanya menyandang status istri, namun sama sekali tidak di perdulikan.


Bukan Lily tidak sedih. Bahkan gadis itu selalu bertanya-tanya di sepanjang malamnya, kapankah kiranya suaminya akan menjemput?, Lily sudah begitu rindu, namun hingga kini batang hidung tuan Sean tidak pernah terlihat.


Jangankan menjenguk, mengirimkan pesan saja tidak tuan Sean lakukan.


Ternyata melanjutkan pendidikan tidak terlalu menakutkan saat di jalani, di hari pertamanya Lily menyimak dengan baik penjelasan dosennya, semuanya berjalan dengan lancar, dan Lily menyelesaikan hari pertamanya dengan tanpa hambatan.


" Apa kau di jemput?" tanya teman Lily yang bernama Rika.


" Ya" Lily memang sedang menunggu Udgam untuk menjemputnya.


" Kenapa kamu tidak tinggal di asrama saja Li?"

__ADS_1


" Aku tinggal bersama keluarga"


Tidak lama mobil Udgam datang, Lily segera berpamitan pada Rika.


" Kau mau ikut dengan ku untuk kembali ke asrama?" tawar Lily dengan murah hati.


" Tidak Li, cukup kau sampaikan salam ku pada Kaka mu" ucap Rika nyengir kuda.


" O" hanya itu tanggapan Lily sebelum bergegas untuk menghampiri mobil yang menjemputnya.


Lily buru-buru masuk di samping kursi kemudi tanpa melihat wajah yang menjemput, sampai pada saat pria itu berbicara barulah Lily berpaling dengan terkejut.


" Aku senang, kamu langsung mendapatkan teman di hari pertama mu"


Lily POV


" Aku senang, kamu langsung mendapatkan teman di hari pertama mu"


Aku benar-benar tidak menyangka seseorang yang hampir tiga bulan tak memberiku kabar, kini datang tanpa ku duga.


Mas Sean menatap ku dengan pandangan yang belum bisa aku artikan. Kemana dia selama ini?aku bahkan hampir lupa dengan aromanya.


Aku benar-benar tidak sengaja ketika menepis tangan nya saat hendak meraih tangan ku.


Ini seperti tidak nyata, bagaimana mungkin mas Sean menjemputku, saat bahkan dia tak pernah sekalipun menghubungi ku.


Aku melihat wajah mas Sean yang terlihat terkejut karena penolakan ku, tetapi bagaimana lagi, aku terlalu kaget.


" Kau mau langsung pulang, atau kita makan dulu?"


" Aku ingin langsung pulang!"


Rasanya begitu aneh saat aku bertemu mas Sean setelah sekian lama berpisah, mengapa dia baru datang menemui ku?, mengapa dia begitu tega membiarkan istrinya di titip bagaikan sebuah barang?.


Sepanjang perjalanan, aku sama sekali tidak bicara, mas Sean juga hanya diam, sepertinya beliau tau aku sedang merasa canggung.


" Maaf baru bisa menjemput mu" Mas Sean menghentikan mobilnya dihalaman rumah.

__ADS_1


Mataku terbelalak ketika menyadari ini rumah yang pernah ku tinggali bersama nya, ini rumah mas Sean, bukan rumah Tante Duby.


Aku berpaling menatap mas Sean, mas Sean juga menatapku.


" Kenapa pulang kesini?" Akhirnya aku tidak tahan untuk tetap diam.


" Karena disinilah tempatmu sebenarnya."


Bukan begitu maksud ku, tetapi mengapa baru sekarang dan kenapa begitu mendadak tanpa memberi tahu.


" Mas ini tidak lucu" aku tidak suka dimainkan seperti ini, aku juga punya hati, setelah di campakkan begitu tega kini tiba-tiba mas Sean ingin aku kembali padanya, kenapa begitu egois?


Aku tidak tau kerap kali merindukannya di setiap malam air mataku selalu menemani, bahkan tadi malam pun masih menangisinya, kenapa dia begitu susah hilang dari hatiku, kupikir mas Sean benar-benar sudah melupakan ku dari hidup nya. Tapi kini bahkan dia membawaku pulang, hal yang sudah kutunggu-tinggu sampai aku lelah menanti.


" Li, aku sangat merindukanmu"


' Egois!' ingin aku berteriak itu padanya, tetapi bahkan suaraku tengelam entah kemana.


Aku bukan kacang lupa kulitnya, namun aku terlalu tersiksa dengan semua ini, aku lebih baik menjadi istri simpanan dari pada istri yang di lupakan, aku benar-benar tidak tau jika ada perasaan seperti ini, ku pikir, setelah menikah orang hanya butuh hidup bersama tanpa ada perasaan yang ingin di perdulikan seperti ini.


Ternyata aku kembali menangis. Entah mengapa stok air mata untuk mas Sean selalu sedia di mataku, padahal sudah berbulan-bulan air mata ini jatuh untuk nya, tetapi ternyata tak kunjung kering.


Author POV


Tuan Sean menghapus air mata Lily, tuan Sean juga membelai helaian rambut Lily dan menyisipkan nya kebelakang telinga. Lily hendak protes saat kemudian dirinya melihat sesuatu terjatuh dan mengalir dari mata tuan Sean.


' Tuan Sean menangis?'


" Aku tidak sanggup melepas mu Li. Tidak akan pernah sanggup"


Baru kemudian Lily sadar ternyata tuan Sean terlihat begitu tirus, bibir yang tiga bulan lalu masih merona kini tampak pecah-pecah, bulu-bulu di wajah tuan Sean kembali tumbuh dan dibiarkan begitu saja tanpa dirapikan.


Tuan Sean terlihat berantakan, bahkan matanya terlihat cekung dengan lingkaran hitam yang terlihat kentara, apakah tuan Sean sama tersiksanya seperti yang dia rasakan?. Lily tidak berani menyimpulkan namun entah mengapa, hatinya mengerakkan tubuhnya untuk memeluk tubuh pria yang sudah merenggut hati dan pikirannya.


" Ya Tuhan..." Hanya itu yang tuan Sean serukan ketika istri yang begitu di rindukan berada di dalam pelukannya, Lily mau memeluknya, seperti sebuah keajaiban yang membuat pria dewasa itu sampai tersengal-senggal karena luapan kebahagiaan nya, meski air matanya tidak serta merta berhenti mengalir, namun bisa jadi air mata yang menetes setelahnya adalah luapan kebahagiaan yang tak terukur.


#######

__ADS_1


Tinggalkan jejak cintanya untuk author yaaa....


__ADS_2