
" Lily.....
" Ya Allah....!"
Udgam langsung menutupi bagian dada Lily yang terbuka, baju Lily sudah terkoyak, meskipun gelap dan juga di guyur hujan Udgam masih bisa melihat wajah Lily yang tertekan.
" Ayo kita masuk mobil." Tidak perduli meskipun keduanya basah kuyup, Udgam tetap menghalangi jatuhnya hujan di atas kepala Lily dengan punggung tangannya.
Lily hanya terus sesegukan, tangan nya memeluk tubuh nya sendiri.
Udgam sendiri tidak menemukan apa-apa di dalam mobilnya, karena dia juga bukan pria kantoran yang akan membawa baju cadangan.
Bibir Lily mengeluarkan darah, lehernya penuh tanda merah hasil perbuatan kotor para pemuda brandalan, Udgam hanya menatap prihatin tanpa berani bertanya apapun, karena menunggu Lily tenang.
" Li, bersihkan dulu bibir mu!" Udgam memberikan kotak tisu.
Bibir Lily bergetar, tangan kecilnya juga gemetaran membuat Udgam berinisiatif untuk membantu.
" Biar ku bantu!"
Udgam baru ingin menempelkan tisu di belahan bibir Lily ketika tiba-tiba puluhan motor datang mengelilingi mobilnya.
" Kak Udgam!" cicit Lily ketakutan.
" Biar aku turun dulu " Ujar Udgam yang di balas gelengan kepala oleh Lily.
" Aku harus turun Li, kita juga tidak bisa kemana-mana, mereka menutup jalan!" ujar Udgam yang melihat barusan motor sengaja di parkir di depan mobilnya.
" Tapi Kak.....
Lily belum sempat menyelesaikan ucapannya, ketika kaca mobil di pukul dengan batu.
Perbuatan anarkis yang membuat Udgam geram.
Udgam segera turun dari mobil, meninggalkan Lily yang sangat ketakutan.
Entah apa yang Udgam bicarakan pada puluhan pria itu, tetapi sepertinya mereka ingin memaksa Lily untuk turun.
__ADS_1
Pintu mobil terus di ketuk oleh mereka, jendelanya dipecahkan mengunakan batu.
Mereka seperti tidak memiliki hati nurani meskipun tau di dalam mobil ada seorang wanita.
" Arak mereka!!, mereka sudah berbuat mesum di kampung kita ini, seret keluar wanitanya!" Seru Bapak-bapak yang ikut memecahkan kaca mobil Udgam.
Udgam tidak diam saja, dia sudah mencoba menjelaskan akan tetapi sepertinya pemuda yang tadi melecehkan Lily memutar balikkan fakta, kini Udgam dan Lily menjadi korban kambing hitam dengan laporan para biang kerok brandalan.
" Kalian sudah berbuat mesum di kampung orang!" teriak salah satu di antara mereka.
" Benar Pak, tadi kami melihat mobil ini bergoyang dari kejauhan dan mendengar rintihan seorang wanita di dalamnya!" fitnah pria muda yang sepertinya salah satu diantara para brandalan yang melecehkan Lily.
" Demi Allah kami tidak melakukan apa-apa!" ucap Udgam yang gegas menghempaskan tangan orang yang berani menyeret paksa Lily keluar mobil.
Semua mata melihat tanda merah di leher Lily dan baju Lily yang sudah robek di bagian dadanya semakin membuat mereka berpikir negatif.
" Seret wanita itu, telanjangi ! kita arak keliling kampung!"
" Tunggu Pak, kalian jangan main hakim sendiri!" Seru Udgam.
" Main hakim katamu!, kita sedang menjaga kesucian kampung kami, adanya manusia macam kalian ini hanya akan menimbulkan Mala petaka!"
" Haiiii...
Pundak Udgam di pukul balok, membuat pria itu terduduk.
Lily menjerit ketakutan.
" Kalian tinggal pilih nikah sekarang juga!, atau di arak keliling kampung!"
" Saya sudah bersuami!" Lirih Lily yang semakin bergetar.
" Oh, jadi lelaki itu selingkuhan mu? subhanallah perempuan akhir jaman, cantik tapi tak ber akhlak!"
Udgam memilih diam, di posisi sekarang membantah tak ada guna, karena warga sudah terlanjur emosi.
" Ayo jawab!" bentak pria yang terlihat paling tua di hadapan Udgam.
__ADS_1
Udgam menatap Lily yang menangis pilu, dua-duanya bukan pilihan baik, tetapi membiarkan Lily di telanjangi itu lebih buruk lagi.
Mereka memang tampak kejam, tetapi semua ada sebab, dan sebab fitnah lah yang membuat mereka terjebak di kondisi ini.
" Saya akan menikahi nya sekarang juga!"
Udgam benar-benar tidak menyangka jika dia akan mendapat hari istimewa menyakitkan seperti ini, tidak menunggu waktu dia di seret bahkan tanpa alas kaki untuk dibawa kesebuah mushola kecil di tengah perkebunan. Malam itu dia benar-benar menikahi Lily sah secara agama. Pernikahan yang tidak hanya mendadak tetapi juga karena keterpaksaan.
" Bagaimana para saksi sah?"
" Sah.....
Apa yang lebih menyedihkan ketika bahkan pengantin wanitanya dengan keadaan basah kuyup, bukan gaun indah yang menutupi tubuh mungilnya, namun justru jas biru dongker basah yang menjadi atasannya, tidak ada sepatu kaca, alas kaki pun Lily tak pakai.
Udgam pikir semua sudah selesai, akan tetapi ternyata dia salah, mereka berdua di paksa tinggal di gubuk kecil di tengah kebun yang tidak ada rumah lain di sekitarnya.
" Ini adalah hukuman terakhir, besok pagi kalian baru boleh masuk kampung, untung kami tidak menghakimi kalian dengan hukum rajam" ucap ketua RT sebelum meninggalkan Lily dan Udgam bersama mobil bak terbuka yang menampung orang-orang yang membawa Lily dan Udgam kerumah gubuk ini.
Bahkan mereka tidak memberikan secuil pakaian ganti. Jika saja mereka benar-benar melakukan zina mungkin hukuman seperti ini sepadan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukan apa-apa.
" Astagfirullah!!" Udgam tidak berhenti beristighfar, tidak pernah terbayang dia akan mengalami hal seperti ini.
Udgam melirik wanita yang kini sudah menjadi istri nya meski secara siri dengan tatapan prihatin, Lily sudah sangat kedinginan, tetapi Udgam juga tak punya apa untuk membantunya, mereka sama-sama basah.
*********
Tuan Sean menatap nanar kisi-kisi jendela kamarnya, pria itu baru saja pulang dari mencari keberadaan istrinya.
Sudah terhitung hampir empat bulan dia tidak mendapatkan kabar dari orang-orang kepercayaannya, tuan Sean semakin hari jatuh semakin dalam oleh penyesalan. dia benar-benar tidak bisa menanggung beban hati nya.
Kian hari tubuhnya menyusut, tidak bisa tidur , tuan Sean pergi merokok, pria itu menjadi perokok akhir-akhir ini.
Tuan Sean membutuhkan Lily, merindukan semua yang ada pada gadis itu, kehangatan tubuhnya, ia rindu memeluk tubuh mungil gadis itu ketika tidur. Ia rindu melihat wajah Lily ketika hendak tidur dan bangun di pagi hari. Ia rindu, rindu semua hal tentang Lily.
Tuan Sean merasa hidupnya kembali gelap sekarang, ia butuh Lily untuk memeranginya seperti hari yang sudah ia lewati bersama gadis itu, Lily seperti semangat hidupnya, ketika Lily memilih pergi menarik diri, tuan Sean seakan kehilangan jiwa nya.
" Sean" panggil lirih nyonya Natalia ketika melihat suaminya dari balkon kamar yang di tempatinya.
__ADS_1
Pria yang sebelumnya begitu anti rokok kini justru merokok, semenjak bercerai dari Lily suaminya berubah total, pria itu seperti abai dengan keadaannya, tidak ada lagi Sean yang memperhatikan pola makannya, tidak ada lagi Sean yang gemar berolahraga, tidak ada lagi Sean yang dermawan, hari-hari pria itu kini di habiskan dengan bekerja dan melamun.