POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Membujuk


__ADS_3

Lily, menggeser posisi tidurnya dan minta tuan Sean berbaring di sampingnya. Lily tau suaminya sedang sangat berduka, bagaimanapun nyonya Natalia adalah ibu dari putranya, cinta pertama nya, dan juga wanita yang belasan tahun membersamainya.


" Berbaringlah mas, aku ingin tidur memeluk mu" lirih Lily.


Tuan Sean tidak mengatakan apapun, selain langsung menuruti permintaan istrinya.


Wajah tuan Sean terlihat pucat saat Lily menangkup pipinya.


" Siapa yang ku peluk jika mas tidak ada, siapa yang mendengar keluh kesah ku jika mas Sean tidak ada, kemana aku harus mencari mu ketika aku sedang rindu, siapa yang akan memeluk ku saat tengah malam?" Lily bergumam dengan air mata yang mengalir.


" Mas Sean sedih di tinggalkan nyonya Natalia, bagaimana jika aku yang mas tinggalkan, dimana tempat ku pulang..? mas Sean adalah rumah untuk ku!"


Ketika memutuskan untuk kembali menikahi Lily, tuan Sean hanya berpikir ingin bahagia meski hanya sebentar, ingin berada di sisi orang yang dicintainya dan mencintainya, Lily gadis yang sangat luar biasa, tidak seperti siapapun, bukan karena Lily masih muda dan cantik kelembutan hati dan keteguhan jiwanya lah yang membuat pria seperti Tuan Sean begitu jatuh cinta. Dia juga tidak ingin pergi dan tidak rela meninggalkannya. Diam-diam tuan Sean meraba perut Lily.


" Akan ada dia yang mencintaimu tanpa henti!"


Lily justru menangis mendengar ucapan tuan Sean dan kembali sedih luar biasa.


Tuan Sean tidak tau bagaimana kacaunya hati Lily, Lily sangat takut memikirkan bagaimana jika suaminya tiada, tidak akan ada tangan yang memeluk dan menghapus air matanya, tidak ada telinga yang akan mendengarkan kerewelannya, pria yang selalu membuatnya ingin menangis dan tertawa itu akankah benar-benar pergi?


" Kenapa waktu tidak berhenti saja!" Isak Lily. yang hanya dibalas tuan Sean dengan pelukan yang semakin erat.


Pagi harinya


Tuan Sean memandikan Lily dan membantunya berpakaian.


" Dokter sudah mengizinkan kau pulang, tetapi kau harus sarapan dahulu!"


Lily hanya mengangguk dan tersenyum pada tuan Sean, jika tuan aja mengabaikan ketakutannya, dia bisa apa?


Sampai mereka pulang, tidak ada obrolan sama sekali diantara keduanya, kecanggungan mendominasi.


Sesampainya di rumah, Lily juga langsung di bawa kekamar, tidak ada protes dari Lily, Lily menuruti saja keinginan suaminya.

__ADS_1


Setelah tuan Sean pergi, Bi Sum mendekati Lily dan memeluknya. Membiarkan Lily menangis Karina Bi Sum tau sejak tadi Lily telah berusaha keras untuk tidak menangis. Lily sudah bertekad untuk tidak menjatuhkan air mata di depan suaminya yang bahkan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


" Kau harus sehat, Lily. Kau harus kuat" nasehat bi Sum. Lily memang harus kuat karena bagaimanapun dia harus berjuang untuk membujuk suaminya agar mau berobat.


Tuan Sean tidak mau mengambil resiko jika harus melakukan operasi, tumor itu berada di otaknya, meski ukurannya cukup kecil, tetapi resiko yang di timbulkan paska operasi lah yang menjadi ketakutan terbesar nya. Tuan Sean tidak mau hidup menjadi beban siapapun lebih baik dia pergi untuk menanggung sakitnya seorang diri.


Sel kanker juga bukan sesuatu yang bisa benar-benar di bersihkan dengan pengangkatan, apa lagi jika letaknya ada di Otak, tentu resikonya jadi lebih besar karena banyak pusat saraf yang bisa terganggu karena efek samping tersebut. Bahkan yang sudah melakukan pengangkatan sel tersebut masih tetap memiliki persentase lebih tinggi untuk tumbuh kembali dan bagaimanapun pengaruh usia juga bisa memicu tumbuhnya sel kanker. Tentu tuan Sean sadar diri jika saat ini berada di usia dengan kerentanan tinggi.


Tuan Sean berpikir tindakan operasi hanya akan mempercepat ketidak berdayaan dan tuan Sean tidak mau menghabiskan sisa hidupnya menjadi seseorang yang tidak berguna, lumpuh dan sebagainya.


" Kau hanya harus menyakinkan Papa, apapun yang terjadi kita akan membersamainya Li!" Ozzu juga datang dengan langkah gontai.


" Ozzu, aku ikut berduka untuk Mama mu!" lirih Lily yang bahkan masih berada di pelukan Bi Sum.


" Kau orang yang paling berjasa di hidup ku Li, karena permintaan mu waktu itu aku bisa dekat dengan Mama di ujung usianya"


Ozzu mendongak menghalau jatuhnya air matanya.


" Terimakasih!" ucap pemuda itu yang bahkan tetap menangis.


Tuan Sean kembali pulang malam.


Pria itu baru saja mandi saat Lily menyusul merangkak di atas ranjang.


" Apa seandainya aku sakit mas akan keberatan jika mengurus ku?" Lily ikut tidur di samping suaminya.


" Tidak, apa yang kau pikirkan?" tuan Sean langsung menoleh untuk melihat wajah istrinya.


" Aku juga tidak keberatan jika harus mengurus mu mas, setidaknya selama jantung ini berdetak. Aku akan mengurus mu dengan segenap jiwa dan raga ku" Lily ikut meletakkan telapak tangan nya di atas dada suaminya yang bergemuruh.


" Aku mencintaimu, tidak perduli sebesar apa resiko pengobatan mas nanti, aku hanya ingin selalu bersamamu!"


" Maafkan aku, Lily!" ucap Tuan Sean dengan menghela napas pasrah.

__ADS_1


" Tidak, aku tidak akan memaafkan mu jika kau tidak memperjuangkan hidupmu untuk kami pria besar!"


Lily duduk di atas tubuh suaminya kemudian menyingkap gaun tidurnya untuk mengusap perutnya sendiri.


" Apa salah jika aku egois, aku hanya ingin Ayah anak ku berjuang untuk hidup!" ucap Lily dengan bibir bergetar.


" Lily..." tuan Sean ikut meraba perut istrinya yang terasa hangat.


" Berobatlah demi kami mas, demi aku yang sangat mencintaimu!"


Entah mengapa tuan Sean menjadi sedih, dicintai gadis muda sebesar itu. Rasanya dia menjadi pria paling pengecut saat harus menyerah karena keadaan.


Tuan Sean menyentuh tepi bibir Lily, dan Lily sedang membantu tuan Sean membuka jubah mandinya.


Lily beringsut mendekat untuk menangkup rahang suaminya dengan telapak tangan kemudian mengecup puncak hidung dan bibirnya, menyapukan napas lembutnya menciumi setiap jengkal wajah tuan Sean.


Tuan Sean membiarkan Lily bermain -main diatas wajahnya, pria itu juga sedang merasa tenang dengan kemanjaan istrinya.


" Kita akan pergi ke Korea" ucap tuan Sean tiba-tiba.


Lily langsung mendongak menatap mata teduh suaminya, hati Lily berdebar, ini seperti keajaiban, saat pada akhirnya suaminya setuju berobat.


Lily langsung memeluk leher suaminya, menciumnya dalam seperti tidak ingin berakhir.


Akhirnya tuan Sean setuju untuk melakukan operasi, mereka berangkat setelah tujuh hariannya nyonya Natalia, tuan Sean membawa Lily turut serta, Ozzu juga ikut menemani.


Tidak putus Ozzu terus berterimakasih kepada Lily, doa dan kesabaran istri yang baik Sepertinya memang lebih di dengar.


Setelah menjalani pemeriksaan selama satu Minggu, operasi tuan Sean akhirnya dilaksanakan. Lily juga bersumpah akan tetap mencintai suaminya, bagaimanapun kondisinya nanti, asal pria yang dicintainya diberi hidup.


Ozzu juga terus menemani Lily, melakukan banyak hal untuk wanita yang sangat di cinta Papanya.


" Minumlah Li!" Ozzu menyodorkan air mineral yang sudah dibukakan tutupnya.

__ADS_1


" Terimakasih!"


__ADS_2