POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Jujur


__ADS_3

"Jawab!" tegas tuan Sean.


" Aku....." Lily menatap pria yang kini melihatnya dengan pandangan gelisah.


Lily meraih tangan suami nya yang menangkup pipinya, membawa tangan itu untuk di kecup.


" Mas, kenapa masih ada keraguan jika kita sudah bersama, apa adanya aku disini tidak cukup membuktikan rasa ku untuk mas Sean, apa yang harus ku tunjukkan pada mas Sean agar mas bisa mempercayai ku, aku bahkan meninggalkan semua untuk mas Sean, aku rela kembali untuk mas Sean, apa jika aku tidak memiliki cinta aku bakal ada disini? "


Lily mencium kedua pipi suaminya " Mas Sean, percayalah, banyak yang Lily korbankan untuk berada di sini!"


Lily tidak ingin menangis, tetapi entahlah wanita itu tetap saja meneteskan air mata.


" Jika aku ingin memakan nasi goreng tadi, itu bukan karena aku ingin membohongi mas Sean, aku hanya ingin menghargai jerih payahnya mas, apa tadi aku ada bilang rasanya enak?, tidak kan? itu hanya caraku untuk membuat mas Sean bahagia, karena kebahagiaan mas adalah kebahagiaan ku juga!"


Bohong jika tuan Sean tidak semakin jatuh cinta pada Lily, pria itu kembali memeluk istri kecilnya dan menciumnya bertubi-tubi.


" Aku hanya terlalu takut Li!" Tuan Sean berkata terus terang, dia sedang ketakutan jika seandainya Lily mau menikah dengan nya karena rasa kasian, dan setelah dia sembuh, Lily akan pergi.


Tuan Sean kembali masuk kedalam kamar ketika Lily memintanya segera minum obat.


Perasaan tuan Sean sudah tenang ketika Lily menjelaskan bagaimana gadis itu benar-benar tulus dan tidak sedang bersandiwara untuk menipunya.


Sore itu, Lily sedang berbicara melalui ponsel saat tuan Sean baru selesai mandi.


Lily terlihat sesekali tersenyum, tuan Sean yang melihat senyuman manis istrinya semakin gemas, bahkan tanpa disadarinya kakinya sudah melangkah untuk mendekat dimana istrinya berada.


Memeluk tiba-tiba adalah hobi baru pria itu sekarang, Lily yang di peluk, menoleh dan mencium sekilas pipi suaminya dan melanjutkan obrolannya melalui ponsel.


Lily kegelian saat tuan Sean memainkan telinganya, beberapa kali gadis itu mengeluh, namun tak diindahkan oleh suaminya.


Tuan Sean sedang merasa diabaikan itu sebabnya menganggu. Padahal dari tadi Lily juga memperhatikannya.


" Bay!" Lily memilih mengakhiri panggilan teleponnya dari pada orang yang di sebrang sana mendengar kasak kusuk karena dirinya yang kepayahan dengan kejahilan suaminya.


Sekarang pandangan Lily fokus pada suaminya.


Pria itu tersenyum menang.


" Natalia minta cerai!" Tiba-tiba tuan Sean berbicara. Seketika tubuh Lily menegang.


Tuan Sean menarik Lily untuk duduk di balkon dan pria itu duduk di sampingnya.


" Kenapa tiba-tiba?" tanya Lily, Lily hanya takut ini karena kehadirannya kembali.

__ADS_1


" Aku akan mengabulkannya!"


" Mas!"


Tuan Sean meraih tangan Lily untuk di tautkan pada kelima jemari nya.


" Dulu aku tidak benar-benar menceraikannya juga karena ada alasan" Pria itu tampak menerawang. " Setelah melahirkan Ozzu, Natalia sempat pendarahan, dokter cepat mengambil tindakan dan dari sana aku mendapat informasi bahwa Natalia akan sulit untuk hamil kembali"


Lily menyimak tanpa menyela.


" Hal itu tidak di ketahui nya sampai dengan sekarang, karena tanpa mengetahui itu saja dia begitu membenci Ozzu, apalagi jika sampai tau!"


" Tetapi kenapa Nyonya Natalia baru minta cerai sekarang?"


" Entahlah!" tuan Sean terlihat tenang dalam menjawab beda dengan Lily yang deg-degan.


" Aku ingin kamu menjadi wanita satu-satunya Li" ucap tuan Sean.


" Apa tidak bisa jika kita hidup sama-sama mas, mas hanya harus berusaha adil?" lirih Lily.


Tuan Sean mengeleng.


" Aku tidak mau menyakitinya lebih dalam, bersamanya hanya membuatku semakin berdosa, karena hatiku justru condong pada mu!"


" Nyonya Natalia sedang tidak sehat"


" Ya, dan itu yang menjadi alasannya untuk menggugat cerai ku, mengatakan bahwa dirinya sudah tidak mampu melayaniku dengan baik"


" Mas, Lily boleh meminta sesuatu?" tanya Lily


" Katakan, sayangku!" tulus tuan Sean.


" Jangan pernah mengabulkan keinginan Nyonya Natalia".


Dua minggu sejak permintaan Lily itu, tuan Sean benar-benar tidak menanggapi permintaan cerai Nyonya Natalia sesuai keinginan Lily.


Saat ini Lily sedang berada di Prancis, dan tuan Sean mengunjungi rumah istri pertamanya.


" Mas Sean!" Nyonya Natalia langsung memeluk tubuh suaminya.


Wanita itu ingin bercerai tetapi sangat kelihatan jika dia merindukan kehadiran suami nya.


Karena janji nya pada Lily, tuan Sean juga membalas pelukan istrinya.

__ADS_1


Malam itu mereka sedang makan malam ketika tiba-tiba nyonya Natalia kembali memeluk tubuh Tuan Sean. Wanita itu menangis tersedu-sedu, membuat tubuh nya terguncang hebat.


" Ada apa?" tuan Sean ikut mengusap lembut punggung wanita yang dulu adalah seorang model terkenal itu.


Rasa cinta memang sudah tidak ada pada wanita itu, namun tuan Sean sejujurnya masih menyayangi nya, karena bagaimanapun wanita ini adalah ibu dari Putra nya, wanita yang rela mengandung darah dagingnya, meskipun mungkin sebenarnya karena terpaksa.


" Ternyata ketika rasa cinta tidak dibalas itu sakit" Isak wanita itu di pelukan suaminya.


" Maafkan aku mas, maaf sudah menyakitimu belasan tahun"


" Sebenarnya ada apa Natalia?" tanya tuan Sean yang melerai pelukan istrinya.


" Aku-aku mencintaimu" nyonya Natalia berujar gugup, takut jika suaminya marah, namun ternyata tidak. Tuan Sean tersenyum lebar.


" Jadi ini alasan mu meminta cerai?" tanya pria itu santai.


" Level tertinggi mencintai adalah merelakan mas, aku rela melepaskan mu asal kamu bahagia bersama dengan Lily!"


Mungkin tuan Sean akan sangat bahagia, tetapi pasti beda dengan Lily, gadis baik hati itu menentang keras tuan Sean menceraikan istrinya.


" Aku rindu" ucap tuan Sean seperti obat mujarab yang membuat wajah sembab Nyonya Natalia berbinar.


Ternyata yang dikatakan Lily benar, sebuah keterpaksaan, jika dijalani nanti akan terbiasa. Tuan Sean juga menyebut nama Natalia ketika menggauli wanita itu, membuat senyum indah terukir di bibir wanita yang pernah diagungkan namanya.


" Kapan Lily pulang mas?, aku sudah rindu!" nyonya Natalia sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya yang akan berangkat ke kantor.


" Tadi pagi sudah dengar suaranya kan, kok masih rindu?" tanya tuan Sean ketika meraih air di gelas untuk di teguk.


" Aku memang merindukan putriku mas!" seru Nyonya Natalia.


Segalanya berbalik arah, dulu wanita itu begitu membenci kehadiran Lily, namun sekarang Lily sudah seperti bagian dari hidup nya, hubungan nya dengan Lily tidak hanya sebatas berbagi suami, tetapi gadis itu selalu membagi kebahagiaan untuk nya.


Nyonya Natalia tau, Lily lah yang melarang tuan Sean menceraikannya, bahkan Lily juga yang selalu mendorong suaminya untuk datang padanya.


Lily madu yang berbagi rasa manis, bukan madu yang ingin meneguk manisnya seorang diri.


" Aku belum bertanya, mungkin satu Minggu lagi dia akan datang " ucap tuan Sean, kurang yakin.


" Mas, terimakasih, mas Sean sudah mau menemani hari ku lagi!" nyonya Natalia mengatakannya dengan tulus.


" Aku sudah memaafkan mu Natalia!" tuan Sean juga sudah bisa memaafkan istrinya, karena kesalahan itulah dia bisa mengenal Lily, jika tidak ada keretakan rumah tangganya tuan Sean tidak mungkin melirik wanita manapun, karena dirinya tipe pria yang setia dan tidak mata keranjang.


Ada hikmah di balik musibah.

__ADS_1


__ADS_2