
Lily segera masuk kedalam kamar tuan Sean ketika dokter mengizinkannya.
Tuan Sean masih belum sadarkan diri, menurut Dokter, beliau akan sadar dua puluh empat jam setelah operasi, operasi nya dilakukan hampir sembilan jam, mengingat posisinya yang begitu rentan.
Lily menatap pria dewasa yang sedang berbaring lelap, wajah tuan Sean bengkak, bibirnya pucat sama sekali tak ada rona merah disana.
" Aku disini untukmu, dan akan selalu menemani mas Sean" bisik Lily lirih di telinga suaminya.
Lily enggan meninggalkan suaminya barang sedetik, ingin terus menemani dan terus disisi suaminya, seperti janjinya yang tidak akan perduli meskipun suaminya akan mengalami ketidak sempurnakan nantinya.
Satu hari berlalu, dan saat ini Lily begitu tegang untuk menunggu suaminya membuka matanya.
Lily mengenggam tangan tuan Sean yang berkedut kecil dan sangat lemah.
Kelopak matanya mulai bergerak meski tidak sampai terbuka.
" Mas Sean, ini Lily!" bisik Lily.
Jantung Lily dag, dig, dug , karena mata suaminya tak kunjung terbuka.
" Mas.." lirih Lily menahan tangis.
Dokter menghampiri mereka dan segera memeriksakan keadaan tuan Sean.
" Tidak perlu khawatir, semuanya normal, kami akan tetap memantau perkembangannya"
Lily hanya kembali mengangguk.
Setelah kepergian Dokter, Lily melihat mata tuan Sean terbuka kecil.
" Mas Sean!"
Bibir pucat itu tersenyum meskipun samar.
" Mas bisa dengar Lily?" tanya Lily dengan perasaan tak karuan.
__ADS_1
Betapa bahagianya Lily saat pria itu mengangguk, Lily langsung meraih tangan suaminya untuk dicium bertubi-tubi.
" Terimakasih sudah berjuang untuk kami!" Isak Lily.
Tuan Sean masih kesulitan bicara, penglihatan nya juga masih kabur, hanya bisa mengangguk lemah.
Dengan penuh kasih sayang Lily merawat suaminya, kadang-kadang pria itu mengigil tiba-tiba, meskipun cuacanya sedang musim panas, kadang merintih sakit ketika nyeri kepalanya kembali datang, tak sedikit pun Lily meninggalkan nya, dan setia mengurusnya sepanjang waktu.
Lily tidak pernah lelah mendampingi proses pemulihan suaminya, meskipun dalam keadaan nya yang berbadan dua. Rasanya memang agak berat ketika melihat pria yang biasanya bisa melakukan apapun kini hanya bisa terkulai di atas ranjang , terbaring pasrah untuk memulihkan kondisi tubuh nya.
Lily tidak pernah putus doa untuk mendoakan suaminya agar segera sehat dan sembuh seperti sedia kala. Bahkan seluruh dokter dan perawat ikut kagum dengan keyakinan dan kegigihan Lily untuk merawat dan membantu proses pemulihan suaminya. Cinta Lily dan keikhlasannya tidak tertandingi, dia wanita sempurna yang yang dimiliki pria seperti Tuan Sean.
Satu bulan setelahnya, Tuan Sean sudah di izinkan pulang ke Indonesia oleh Dokter, namun Lily masih ingin menghabiskan waktu lebih lama di Korea, untuk benar-benar memastikan bahwa suaminya sehat.
Ozzu sudah mampu mengemban tanggung jawabnya dengan layak, banyak pujian dari para kolega nya, tuan Sean bisa tenang untuk waktu yang cukup lama, karena nyatanya tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Ozzu kembali menjemput Papanya setelah dua bulan paska operasi, tuan Sean terlihat lebih muda dengan kaos santai yang dikenakan, pria itu menanggalkan kemeja dan jasnya, terlihat begitu berkharisma dengan baju sederhana.
" Aku menitipkan kebahagiaan nya padamu, Lily. Karena aku tau seberapa besar dia menyayangi mu!" Kata Ozzu ketika beriringan masuk kedalam rumah.
" Aku merasa beruntung karena semua itu!" Lily tersenyum dan menatap Ozzu.
Kandungan Lily memasuki HPL .
Lily tersenyum ketika melihat tuan Sean sedang menara persiapan melahirkan Lily.
Pria itu sudah terlalu sibuk sepanjang hidupnya, sudah waktunya bersantai dan menikmati hidup dalam keterangan yang sederhana bersama istri yang begitu mencintainya.
Ozzu sudah menjadi pria yang bertanggung jawab dan bisa di andalkan bahkan bisa membuat tuan Sean bangga. Walaupun belum bisa sepenuhnya melepaskan Ozzu, tuan Sean bisa memantaunya dimana saja.
Lily menghampiri suaminya dan mencuri satu kecupan di pipi kiri tuan Sean, saat ingin menghindar tuan Sean lebih dulu melingkarkan lengannya di perutnya yang membulat.
Lily tertawa kecil, merasa kalah cepat dengan suaminya.
Sampai detik ini rasanya kadang tuan Sean tidak bisa percaya bisa begitu jatuh cinta dengan gadis muda yang akan memberinya seorang putra lagi, gadis muda yang kadang ikut membuatnya bertingkah seperti bocah.
__ADS_1
" Cium lagi sebelahnya!" titah tuan Sean sambil menyodorkan pipi kanannya.
Lily meringis dan mengeleng tanpa dosa.
Tuan Sean pura-pura cemberut, dan itu membuat Lily semakin tertawa.
Tuan Sean mencium lengan Lily yang melingkar di lehernya.
" Aku akan menghukum mu dengan mogok memberi ciuman!" ancam tuan Sean yang terdengar mengelikan untuk nya sendiri.
Tetapi tidak untuk Lily, bibirnya sudah manyun lima sentimeter. Sejak hamil Lily selalu kecanduan untuk diciumi suaminya, menghirup aroma tubuh suaminya, memeluknya di setiap akan tidur dan ciuman bertubi-tubi ketika matanya terbuka di pagi hari.
" Bawa aku ke kamar mas!" rengek ya yang tidak bisa di tolak oleh tuan Sean.
Lily memekik geli ketika bibir hangat suaminya terus mencium wajahnya pria itu sengaja mengesekkan bulu-bulu yang terasa kasar sehabis di cukur di pipi Lily. Tapi Lily tidak menolak ketika terus di cium dan di gendong dibawa masuk kedalam kamar.
" Apa kau tidak apa-apa?" Tanya tuan Sean yang belum reda dari apa yang baru saja mereka lakukan.
" Aku baik-baik saja Mas, jangan cemas!" meskipun rasanya luar biasa, tetapi Lily merasa senang bisa membuat tuan Sean meledak beberapa kali.
" Besok kita bisa melakukannya lagi?" Pinta Lily.
" Jangan dulu, aku takut menyakiti kalian!"
" Dokter bilang harus sering-sering!"
Tuan Sean mencubit hidung mancung istrinya. Tuan Sean kembali teringat soal nyonya Lubis yang tiba-tiba menghubungi nya beberapa hari yang lalu.
Bukan hal yang baru sebenarnya, tetapi sedikit aneh ketika wanita itu memberikan pesan untuk nya, supaya apapun yang terjadi nanti, Lily tidak boleh melahirkan normal, dia diminta segera menjadwalkan untuk operasi istrinya. Sedangkan Lily begitu antusias untuk melahirkan secara normal.
Tetapi dia tidak bisa mengabaikan saja peringatan Nyonya Lubis, karena wanita itulah yang selama ini mengurus Lily saat gadis nya terpuruk, mungkin itu hanya wujud kecemasan seorang ibu angkat pada putri angkat nya, lagian selama ini Lily selalu menjaga kesehatan nya dan juga rajin untuk memeriksakan bayi mereka.
" Mas!" tuan Sean menatap istrinya yang terlihat mengantuk.
Tuan Sean mengecup dahi Lily dengan tarikan napas yang begitu dalam.
__ADS_1
" Aku akan melakukan apapun untuk membuat mu bahagia!" ujarnya yakin.
Lily mengangguk dengan wajah yang masih tengelam di dada suaminya.