
Semua orang sedang berbahagia menyambut berita kehamilan Lily, termasuk nyonya Valeria.
Namun ternyata kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Sore itu tiba-tiba tuan Sean pingsan sesaat sebelum masuk kedalam mobilnya yang akan di naikin nya menuju rumah nyonya Natalia.
Tuan Sean dilarikan kerumah sakit.
Ternyata Dokter mengatakan kondisi tuan Sean yang sebenarnya.
" Ini tidak boleh terjadi, Papa tidak boleh meninggalkan kita dengan cara seperti ini!" Racau Ozzu dengan mata memerah.
Lily hanya diam dan memeluk perutnya sendiri.
" Aku akan mencarikan pengobatan terbaik untuk Papa! Oh Tuhan..." Ozzu tidak berhenti mengoceh, pemuda itu sangat syok dengan keadaan Papa nya.
" Apa yang kau pikirkan Li?" Tanya Ozzu dengan tangan yang mengenggam tangan Mama tiri nya.
" Ternyata aku tidak bisa melihatnya seperti ini!"
" Kita akan membawa Papa kemanapun, dia tidak boleh meninggalkan mu dalam kondisi hamil seperti ini!" desis Ozzu.
Tuan Sean memang terlihat hanya pingsan biasa, tetapi ternyata pria itu sedang menyembunyikan rahasia besar dari mereka semua.
******
Tuan Sean baru membuka matanya, ketika tiba-tiba Lily langsung menghambur kedalam pelukannya.
" Kenapa begini.." Isak Lily" kenapa jadi seperti ini..?"
Tuan Sean tidak bicara, dirinya jadi merasa bersalah dan berdosa pada Lily, tuan Sean tidak ingin ada kesedihan seperti ini makanya dirinya menyembunyikan penyakit yang sebenarnya pada semua, tuan Sean masih memeluk Lily dan kini ikut melihat putranya yang sedang memandangi nya penuh kekecewaan.
" Maaf!" Ucap Tuan Sean pada istri dan putranya, namun ucapan tuan Sean sama sekali tidak bermakna untuk Lily dan Ozzu.
__ADS_1
Kebenarannya Tuan Sean tidak hanya sakit karena infeksi paru-paru , pria itu juga baru mengetahui bahwa ada tumor di kepalanya dan mulai tumbuh jadi sel kanker.
Lily masih meringkuk di pelukan tuan Sean, tidak ingin kemana-mana, Lily tidak sanggup memikirkan suaminya, Lily takut kehilangan pria seperti Tuan Sean.
" Maafkan aku karena tidak punya kuasa untuk menahan perasaan ku untuk mu Lily." Tuan Sean membelai pipi Lily, menyisihkan air matanya yang terus mengalir meskipun matanya sudah sangat sembab." Kau masih sangat muda Lily, kau berhak bahagia meskipun nanti aku sudah tiada!"
Ketika Lily bangun, hari sudah kembali pagi dan tuan Sean masih memeluknya, Lily meraih tangan suaminya dan menciumnya berulang-ulang , tuan Sean tetap diam sampai ia mendengar isakan rendah Lily dan punggung tangan nya yang menjadi basah karena air mata Lily.
" Jangan menangis, kau harus kuat untuk nya" Tuan Sean meraba perut Lily. " Jaga dia untukku"
Memang tidak pernah tau jika menyangkut umur manusia, tapi ketika tau bahwa mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersama, mustahil jika tidak bersedih.
Tuan Sean menunduk untuk meraih bibir Lily, menautnya lembut dengan penuh perasaan dalam hingga tak terjangkau oleh akal jika ia bisa mencintai istri mudanya sebesar ini dan tidak rela meninggalkannya pergi.
Lily menerima semua sentuhan dari suaminya dengan penuh cinta untuk menguraikan seluruh perasaan yang ingin saling di curahkan untuk meredam kegelisahan.
Sebenarnya tuan Sean juga baru mengetahui ada sel kanker di kepalanya satu hari sebelum pernikahan nya kembali dengan Lily, itu membuat tuan Sean nyaris gila tiap kali ingat harus meninggalkan orang-orang yang menyayangi nya.
" Makanlah yang banyak , jaga kesehatan!" tuan Sean menuangkan nasi di piring Ozzu, yang hanya di angguki oleh putranya.
Nyonya Valeria jadi tidak sanggup menatap putranya, air matanya terus menerus mengalir. Mereka semua terpukul, karena selama ini tuan Sean tidak pernah mengeluhkan sakit pada tubuhnya. Padahal sel tumor yang menekan saraf di otak bisa menciptakan sakit yang luar biasa. Bagaimana mungkin tuan Sean mampu menahannya seorang diri.
Padahal yang sebenarnya tuan Sean sering menyingkir sejenak dari mereka semua jika rasa sakitnya mulai tidak tertahankan.
Ozzu terus memperhatikan Papanya dan lama-lama dia tidak sanggup hingga berdiri lebih dulu meninggalkan sarapannya yang belum jadi ia sentuh.
*******
" Natalia..." panggil tuan Sean yang baru mengunjungi istri pertamanya setelah beristirahat dua hari di rumah semenjak pulang dari rumah sakit.
" Natalia..!" panggil nya beberapa kali lagi karena menemukan kamar yang sunyi.
__ADS_1
Kamar sangat sunyi hanya terdengar suara keran air di wastafel yang gemericik.
Tuan Sean langsung menerobos masuk ke kamar mandi dan menemukan Nyonya Natalia sudah terkulai lemas di lantai dengan pakaian basah kuyup.
Tuan Sean segera mengangkat tubuh nyonya Natalia yang sudah lemas dan pucat, membawanya berlari menuruni tangga sambil berteriak-teriak memanggil Bi Sum.
Bi Sum muncul dengan tergopoh-gopoh, melihat Nyonya Natalia di dalam gendongan tuanya.
" Hubungi Ozzu, minta dia menyusul ke rumah sakit!"
" Ya, Tuan.." Bi Sum gugup tapi tetap buru-buru melaksanakan perintah tuanya.
Tuan Sean menyetir sendiri membawa Istrinya yang sudah tidak sadarkan diri ke rumah sakit terdekat. Tuan Sean juga panik, syok, dan takut tapi ia harus tetap tenang karena dirinya juga harus bisa mengontrol emosi nya supaya tetap stabil.
" Bagaimana dengan Mama?" Ozzu baru datang, langsung meluncur ke rumah sakit ketika di beri kabar bi Sum.
Tuan Sean cuma mengeleng dan Ozzu ikut duduk di samping Papanya dengan lemas. Tak berapa lama seorang perawat keluar dan memberitahukan kondisi nyonya Natalia.
" Bagaimana Sus?" Ozzu dan tuan Sean berdiri bersamaan.
Suster itu mengeleng. " Maaf tekanan darahnya terlalu tinggi hingga menyebabkan gagal jantung, beliau sepertinya sempat terjatuh hingga menyebabkan keterkejutan dan membuat beliau sesak napas, hingga tiada!"
Ozzu mundur dan terduduk kembali di tempat duduknya, sementara tuan Sean buru-buru masuk untuk melihat kondisi istrinya.
Tuan Sean menitihkan air matanya saat melihat wajah pucat wanita yang sudah memberinya seorang putra, Tuan Sean pikir dirinya yang akan pergi lebih dulu meninggalkan mereka tapi ternyata memang tidak pernah ada yang tahu rahasia umur.
" Maafkan aku yang sudah membuatmu bersedih," sesal tuan Sean mengenggam tangan nyonya Natalia yang sudah mendingin. " Aku memaafkan apapun yang pernah kau lakukan padaku, aku iklas, pergilah dengan tenang Natalia"
Tuan Sean mencium kening istrinya yang sudah tiada. Merapalkan doa di samping telinga istrinya. Meskipun sudah tidak ada cinta, belasan tahun bersama jelas menyiksa kan kenangan manis meskipun lebih banyak pahitnya, tetapi wanita ini juga pernah membuatnya tergila-gila, bahkan beberapa bulan terakhir mereka kembali dekat, tuan Sean menyayangi nyonya Natalia, menghargai perubahannya, dan mulai terbiasa dengan perhatian wanita itu.
Air mata tuan Sean mengalir.
__ADS_1
Disaat semua orang mengkhawatirkan keadaan nya, istrinya justru di panggil lebih dulu kepangkuan nya.