
Udgam dan Nyonya Duby saling melempar senyum, mereka sama-sama memperhatikan reaksi Lily saat mendengar suaminya di rawat di rumah sakit.
" Tetaplah bertahan Li, Tante tau kamu sudah mencintai suami mu, itu sebabnya Kamu bahkan rela sakit demi melihat Sean bahagia" Komentar nyonya Duby mengelus lengan atas Lily.
" Tante, Lily hanya..." bahkan Lily tidak memiliki bantahan apapun untuk menyangkal ucapan nyonya Duby.
" Katakan bagaimana perasaan mu sekarang?" Nyonya Duby memperhatikan Lily.
Lily mengeleng.
" Ingin ku antar ke rumah sakit?" Tanya Udgam yang ikut melihat kecanggungan Lily.
Lily kembali mengeleng.
Lily benar-benar tidak bisa tidur sampai hampir menjelang pagi, Lily sudah sempat duduk sebelum kembali merebahkan tubuhnya dan membekap wajahnya sendiri dengan perasaan bimbang. Heran Lily' mengapa dia tidak bisa berhenti untuk khawatir pada suaminya? meskipun dirinya bisa berada disini juga karena perkataan tuan Sean.
Ketika Lily berani menawarkan diri untuk menjadi istri seseorang, dia sudah banyak berpikir, dia tau hidup adalah pilihan. Karenanya dia harus sadar dengan pilihan hidupnya, artinya berani bertanggung jawab dan menjalani kewajibannya jika menjadi seorang istri dari pria yang mau menerimanya, maka Lily juga harus berani untuk memperjuangkannya.
" Apa kamu tidak bisa tidur nyenyak?" Udgam bertanya dengan membuka piring di hadapannya.
Lily ikut mengangkat wajahnya, sebelum ikut menoleh pada Nyonya Duby.
" Ya" Lily memilih jujur. Udgam dan nyonya Duby masih menyimak.
" Aku ingin tau keadaan mas Sean" Lanjut Lily dengan suara tertahan.
Siapapun pasti akan langsung menyukai Lily, dia cantik, lembut, dan terlihat sangat polos dengan kesederhanaan nya yang sangat jujur. Lily tidak neko-neko seperti mayoritas gadis jaman sekarang, bahkan sekedar berdandan saja tidak, kecuali sekali ke salon bersama tuan Sean sebelum menikah.
Namun Lily cantik dengan ke original dirinya, alisnya tebal meski aslinya berwarna pudar, bulu matanya lentik, bola mata abu-abu dengan rona pipi yang semerah bibir alami nya.
" Kamu bisa menemuinya" tutur nyonya Duby lembut.
" Jangan tahan perasaan mu, kak Sean berhak mendapatkan perhatian istrinya" Udgam ikut menanggapi, meskipun mulutnya sedang penuh makanan yang baru disuap pemuda itu.
" Makanlah dulu, nanti akan ku antar" Udgam ikut melihat piring Lily yang masih kosong.
Baru kemudian Lily menyendok nasi untuk di tuang ke piringnya.
" Lily" panggil Udgam begitu mereka sudah berada di mobil yang menuju ke rumah sakit.
Mereka tidak hanya berdua, karena Udgam minta di antar sopir.
" Ya" Lily menoleh untuk menanggapi.
__ADS_1
" Pikirkan tentang tawaran ku untuk mengajarimu mengunakan laptop dan belajar untuk melanjutkan sekolah mu, kupikir itu hal yang sangat penting untuk mu, kamu masih muda, kamu bisa bicarakan dahulu pada Kak Sean, kupikir dia bukan tipe orang kolot yang akan membatasi keinginan mu."
Lily mengangguk, meskipun sebelumnya Lily tidak pernah ingin memikirkan tentang pendidikan namun begitu Udgam dan nyonya Duby memberinya wawasan tentang pentingnya menimba ilmu, rasa untuk belajar kembali menggebu.
Sesampainya di kamar rawat tuan Sean, Lily beberapa kali mengatur napasnya agar tidak gugup, Udgam hanya menunggu di parkiran, tanpa ingin ikut campur.
Setelah dirasa siap Lily mendorong pintu kaca itu dengan pelan, namun belum sempat mengucapkan salam, Lily melihat sepasang suami istri yang sedang berciuman mesra, meski tidak melihat wajahnya secara langsung, namun Lily tau pria dan wanita itu adalah tuan Sean dan nyonya Natalia.
Jantung Lily bergemuruh, namun untuk mengurungkan niatnya Lily sudah sangat terlambat, karena ternyata di belakangnya, wanita yang pernah menemuinya sudah berdiri dengan tatapan tajam.
" Kau puas membuat putraku dan cucuku berseteru.?"
Lily belum sempat menjawab ketika suara Ozzu ikut terdengar.
" Tolong jangan salahkan Lily Oma, ini semua murni salah ku.?"
" Ozzu, kau membela wanita ini?"
" Oma, saat ini hanya Lily harapan kita untuk membuat Papa kembali memiliki semangat untuk membuka matanya."
POV Lily.
Aku terkejut mendengar ucapan Ozzu. Apa itu berarti mas Sean belum sadarkan diri?, apakah yang kulihat tadi tidak seperti yang ku pikirkan.
" Ma, Papa butuh Lily!" Aku bisa mendengar suara Ozzu yang agak bergetar, sepertinya Ozzu habis menangis.
" Dia tidak butuh, Sean hanya butuh aku dan calon anaknya, tidak butuh kehadiran wanita lain."
Nyonya Natalia tidak memberiku jalan untuk masuk, dan aku baru sadar jika mas Sean hanya terbaring dengan mata terpejam, melihat wajah mas Sean aku ingin mendekat, ternyata aku ingin mengenggam tangannya. Namun apakah mas Sean tidak marah jika aku masih ingin di sisinya.?
Aku menatap nyonya Natalia dan Ibu mas Sean yang menatapku tajam keduanya tidak mengizinkan aku menemui mas Sean, hanya Ozzu yang terus meminta dua wanita itu untuk membuka pintunya, namun semuanya sia-sia karena nyonya Natalia langsung memaki-maki Ozzu dengan ucapan tak pantas.
Aku ikut syok, Ozzu sampai harus menunduk dalam mendengar segala makian yang tidak seharusnya keluar dari bibir mamanya sendiri.
Aku yang tidak tahan akhirnya menarik tangannya.
" Sudah Zu, aku bisa datang lain kali, titip Papamu" Ucapku dengan hati yang terasa berat dan ada beban.
Ozzu mencegah ku.
" Jangan pergi Li, Papa membutuhkan mu." Ozzu memohon.
Aku ingin tinggal, tapi bagaimana? bahkan kamar mas Sean sudah terkunci dari dalam.
__ADS_1
****
Nyonya Natalia POV
Aku tidak bisa membiarkan gundik suamiku kembali setelah perjuangan panjang yang kulakukan.
Saat ini Mama mertua mau mempercayai ku lagi, bahkan bersedia membantuku menyingkirkan gundik kecil itu dari kehidupan Sean, aku tidak akan membiarkan semuanya sia-sia.
Yang ku sayangkan adalah Ozzu berada di pihak gundik itu, mengapa anak itu begitu bodoh dan bisa jatuh cinta dengan wanita rendahan seperti itu?
Begitu pintu kamar ku kunci aku hanya tersenyum pada Mama mertuaku, bagaimanapun aku lega, ada wanita ini yang bisa memperkuat posisiku.
Ini belum seberapa, aku berharap Sean akan segera sadar dan aku bisa menjalankan rencana ku bersama wanita ini. Rencana untuk membuat Sean benar-benar membenci gundik kecil itu hingga ke pori-pori.
Ponselku kembali menyala, Ozzu tidak berhenti merengek untuk mengizinkan gundik itu masuk, aku lama-lama muak dengan kebodohannya, jika saja dia bukan hal penting yang bisa ku jadikan alasan agar tetap menjadi istri Sean, maka sudah lama Ozzu ku singkirkan dari hidupku.
" Lily"
Ku pejamkan mataku rapat.
Aku menatap jengkel Sean yang terus saja memanggil nama gundiknya, ingin aku sobek bibir itu hingga tak mampu menyebut nama Lily lagi.
Ah sial!' rencana ku untuk membuat Lily cemburu harus gagal karena wanita tua ini harus kembali masuk dan membuat Lily sadar bahwa Sean masih belum siuman.
Ohhh brengsek!.
######
Apakah Lily benar-benar tidak bisa menemui suaminya?
Tinggalkan komentar anda....
Happy reading..
Haiiii
Ada novel temen author nih, masih baru lhoo ...
Yuk kepoin..
Jangan lupa tambah ke favorit ya...
__ADS_1