
Author POV
Lily membiarkan saja suaminya berbuat sesuka hatinya, karena sebenarnya dia juga sangat rindu dengan cara pria itu menyentuhnya, tiga bulan bukan waktu yang sebentar untuk dirinya yang di kategorikan masih pengantin baru untuk tiba-tiba di asingkan seorang suami, kini seperti mendapatkan kembali obat kerinduan yang bertumpuk-tumpuk.
" Hmmmmm" Tuan Sean melenguh, dengan mata terpejam, mereka hanya saling mencium, saling menyentuh tetapi bagi Lily sudah seperti tersengat listrik di sekujur tubuhnya.
Bagaimana Lily bisa lepas dari pria seperti Tuan Sean, jika pria inilah yang mengajarinya untuk merasa ketagihan dengan cara pria itu menyentuhnya, walaupun di lain sisi Lily tidak pernah tahu seperti apa perasaan tuan Sean yang sesungguhnya.
Namun kesenjangan usia pasti mempengaruhi pola pikir seseorang. Bagi tuan Sean yang sudah cukup tenang dan dewasa mungkin hanya sebuah kepercayaan saja sudah cukup, tetapi tentu berbeda bagi Lily yang segala sesuatu masih butuh ketegasan meski dalam hal sepele.
Tuan Sean tidak ingin terburu-buru, dia ingin Lily nyaman dulu seperti tiga bulan yang lalu dimana hubungan ranjang adalah hal yang selalu mereka perbuat di setiap kali kesempatan, Lily pasti masih terkejut dibawa pulang tiba-tiba seperti ini.
" Aku membawakan barang-barang Lily"
Udgam datang sebelum makan malam
" Padahal aku bisa mengambilnya sekalian mengembalikan mobil mu" Tuan Sean ikut menerima beberapa barang Lily.
Udgam hanya tersenyum menatap Kaka sepupunya.
" Ini untuk mu Lily, sengaja ku petik tadi sore, karena sepertinya kamu akan jarang kerumah"
Udgam memberikan dua buah kotak mika yang berisi strawberry yang di petik dari halaman rumah nyonya Duby.
" Jadi mulai besok Lily pergi ke kampus sendirian?" tanya Lily.
" Aku yang akan mengantar mu" Lily menoleh melihat tuan Sean.
" Tapi kantor mas Sean berlawanan arah dengan kampus"
" Tidak masalah" jawab tuan Sean tanpa beban.
Udgam tersenyum memperhatikan mereka.
" Kalau begitu aku pamit"
" Biar ku antar sampai depan"
Tuan Sean ikut mengantarkan Sepupunya sampai di halaman rumah.
" Udgam, ku harap apa yang pernah kamu ucapkan itu hanya sebuah gurauan" Ucap tuan Sean yang membuat langkah Udgam berhenti.
Udgam tidak membalikan tubuhnya, hanya berhenti sejenak sebelum melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
********
Tuan Sean buru-buru naik ke lantai atas untuk menemui Lily yang sepertinya sudah masuk kedalam kamar.
Tuan Sean menutup pintu kamarnya pelan-pelan sebelum segera menyergap pinggang Lily dan mengangkatnya untuk di lempar keatas tempat tidur.
" Ao.." Lily pura-pura mengeluh, tetapi tuan Sean segera menyusul dan menangkapnya lagi.
" Apa kau belum ingin tidur?" Bisik Tuan Sean di telinga Lily.
" Sebentar lagi aku masih ingin seperti ini" Lily balas melingkarkan kedua lengannya ke pinggang suaminya kemudian menenggelamkan wajahnya.
Hal sederhana yang membuat mereka menyelami kedamaian, padahal hanya sedang saling memeluk, namun bagi keduanya seperti sebuah obat mujarab yang mampu menyembuhkan segala rasa sakit, mereka saling menyayangi, sebuah perasaan lembut berbalut ketulusan atau tidak berharap balasan.
Lengan besar tuan semakin kuat memeluk tubuh istri kecil istri mudanya, dengan meresapi segala perasaan dan juga rasa yang sulit untuk di jabarkan. Seharusnya di usia nya sekarang tuan Sean tidak merisaukan debaran dada yang membuatnya seperti pemuda yang sedang kasmaran, tetapi bahkan hanya dengan memeluk istri mudanya dada tuan Sean berdebar-debar tak terelakkan.
Bi Sum ikut bahagia melihat keharmonisan tuan Sean dan Lily, sepanjang hari ini. Meskipun terpaut usia yang sangat jauh, tuan Sean yang dewasa dan penyayang dengan Lily yang begitu muda namun mampu menyeimbangi suaminya. Bahkan dari tindakan kecil yang dilakukan gadis muda itu pun juga mencerminkan kasih sayang yang besar dan tulus untuk suaminya.
Bukan Ozzu jika tidak suka datang dan pergi sesuka hati.
" Bibi, apa Lily benar-benar pulang?"
" Ya, tetapi mereka sepertinya sudah beristirahat" Jelas bi Sum yang menatap khawatir putra Tuan nya.
Ketika memutuskan untuk menikahi Lily, tuan Sean juga tidak pernah tahu jika dia bisa semudah itu menyayangi gadis itu sebesar ini, bukan karena dia masih sangat muda dan cantik, tetapi karena kelembutan hati dan keteguhan jiwanya lah yang membuat tuan Sean benar-benar jatuh hati. Dia tidak ingin Lily pergi dan meninggalkan nya. Diam-diam tuan Sean meraba perut Lily.
" Aku tidak mau ada nama lelaki lain di hatimu, aku ingin kau segera hamil anak ku"
Lily membuka matanya, kemudian ikut memperhatikan suaminya.
" Kenapa mas Sean bicara seperti itu?"
Tuan Sean membelai rambut yang melintang di wajah Lily.
" Aku hanya ingin mengatakannya saja"
Tuan Sean terus menatap istrinya, istri muda yang bisa begitu menyenangkan untuk sekedar di pandang dan selalu terasa manis meski sudah berapa kali di rasakan.
Lily ikut memperhatikan suaminya.
" Mas Sean terlihat mengkhawatirkan sesuatu" Komentar Lily dengan jemari yang ikut meraba dada suaminya.
Tuan Sean tidak menjawab, pria dewasa itu hanya memejamkan mata menikmati sentuhan lembut tangan Lily.
__ADS_1
Begitu Lily berhenti menyentuh, tuan Sean juga langsung membuka matanya, membuat keduanya berpandangan dan saling menyelami perasaan masing-masing.
" Mas Sean" pekik Lily begitu tuan Sean mencium leher jenjangnya.
Dengan terburu-buru pria itu membuatnya polos, tuan Sean juga membuka bajunya sendiri begitu cekatan.
" Ao, pedih mas"
Lily mengeluh karena tuan Sean yang terlalu buru-buru.
" Tahan sebentar"
Tuan Sean tetap mendorong keinginannya, hingga semua tengelam di dalam milik istrinya yang masih serat.
Kamar yang biasa sunyi kini dipenuhi suara ricuh dari sepasang anak manusia yang melepas rindu.
Pagi harinya Ozzu sudah menunggu mereka di meja makan
Tuan Sean menatap Lily untuk segera di raih tangan nya, sementara Ozzu hanya melihat mereka dengan diam-diam.
" Aku kemari hanya memastikan keadaan Papa, kemarin Mama menghubungi ku jika Papa sempat demam tinggi" Ozzu langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
Tuan Sean mengangguk dan menuntun Lily untuk duduk di sampingnya.
Ozzu menatap Lily penuh kekaguman, waktu tiga bulan benar-benar merubah gadis muda itu semakin mempesona.
" Aku sudah ceritakan semua pada Papa, kau tak perlu khawatir" Ungkap Ozzu menatap Lily yang duduk tepat di hadapannya.
Lily hanya menoleh kearah tuan Sean dan pria itu ikut mengangguk membenarkan.
" Habiskan makanan mu, aku akan mengantar mu ke kampus"
" Biar bersama ku saja Pa, kebetulan aku ada urusan di dekat kampus Lily"
Tuan Sean mengerutkan keningnya sebelum akhirnya mengangguk, sementara Lily syok mendengar tawaran Ozzu.
" Mas Lily bisa pergi sendiri" ucap Lily
" Kau takut padaku?" Tanya Ozzu.
" Bukan begitu"
" Bareng aku aja kalau gitu?" Semua langsung bereaksi begitu suara asing ikut bicara.
__ADS_1