
Ozzu membawa Lily untuk menemui Papanya, saat Lily masuk kedalam rumah bersama dengan Ozzu, Lily melihat nyonya Natalia yang sedang menyusun bunga.
Meskipun ini rumah yang dibelikan tuan Sean untuk nya dulu, akan tetapi Lily tidak heran jika ada nyonya Natalia, karena Lily secara tidak langsung memang mengembalikan rumah ini pada tuan Sean, dan dia tidak akan keberatan siapapun yang tinggal dirumah ini atas izin tuan Sean.
Nyonya Natalia meletakkan bunga yang akan ia gunting tangkainya dan beralih menghampiri Lily.
Melihat nyonya Natalia menghampirinya, Lily sedikit waspada, jika dulu dia bisa terus di tindas wanita itu. Tidak untuk sekarang. Ia bukan lagi gadis naif dua tahun lalu. Ia sudah tumbuh menjadi lebih kuat dan kuat setiap harinya. Kali ini, siapapun yang mencari masalah dengan nya, ia pasti akan membuat orang itu membayar berkali lipat dari yang orang itu lakukan.
" Kau...... Lily?"
Nyonya Natalia menelisik penampilan Lily dengan seksama.
Lily mundur ketika nyonya Natalia mendekatinya. Ozzu yang melihat Mamanya menghalangi jalan Lily kembali menghampiri Lily.
" Tolong untuk saat ini jangan buat keributan, aku sudah berusaha keras untuk membawanya mau bertemu Papaku. Please nyonya, aku mohon demi Papaku!"
Hati nyonya Natalia tertohohok mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir putranya, dia tidak ada maksud untuk membuat keributan. Ia justru senang akhirnya Lily ketemu, ia juga kaget dengan penampilan Lily yang sekarang tampak cantik dan anggun.
Ozzu baru ingin kembali bersuara saat tiba-tiba Bi sum kembali memanggilnya.
" Tuan Sean batuk darah!" Panik Bi Sum menuruni tangga.
Ozzu segera menarik tangan Lily dan membawanya naik kekamar yang di tempati tuan Sean.
Lily menatap punggung pria yang berjongkok di depan closed. Ia tidak mengatakan apapun, hanya menatapnya dengan tenang.
Sampai saat Ozzu memberitahu Papanya jika Lily berada di sini, baru saat itu Lily ikut menarik kedua sudut bibirnya, namun tidak ikut mendekat seperti yang dilakukan Ozzu.
Tuan Sean masih terbatuk-batuk meskipun pria itu mencoba menekan dadanya dengan telapak tangan berusaha melihat keberadaan Lily.
Bi Sum ingin memeluk wanita itu, ketika tau jika dia adalah Lily, tapi merasa sungkan karena Lily terlihat begitu sangat berbeda.
Bi Sum menitihkan air matanya melihat kehadiran Lily, sama dengan yang lainnya, Bi Sum juga berharap Lily bisa mengubah pendirian tuanya.
__ADS_1
" Lily!" Meskipun terlihat letih dan tak bertenaga tuan Sean mendekati Lily dan mencoba mengukir senyum, wajah pria itu masih tampak basah, kemeja biru tua yang ia gunakan juga ikut basah dibagikan atasnya.
" Ah, aku sedang kurang enak badan, maaf tidak sopan ada tamu malah di tinggal sibuk sendiri."
Meskipun Lily hanya diam, tetapi wanita itu melihat bagaimana pria itu begitu kepayahan meski hanya untuk bicara.
Tuan Sean membaringkan tubuhnya yang lemah dan Lily menegurnya.
" Lebih baik anda berganti pakaian dahulu, kemeja anda basah!"
Lily yang tadi melihat keberadaan Bi Sum, kini sudah tidak menemukan wanita paruh baya itu, bahkan Ozzu juga pergi, ada apa dengan mereka semua, bagaimana mungkin mereka malah meninggalkan dirinya hanya berduaan seperti ini?.
Tuan Sean memang akan hendak bangun, namun terlihat begitu tak bertenaga membuat Lily tidak tega dan memilih membantunya.
" Biar saya ambilkan kemeja anda"
Sebenarnya tuan Sean sedang sangat bahagia karena ada Lily di sampingnya, namun bersamaan dengan itu dia juga sedang mengubur dalam-dalam keinginannya untuk kembali memiliki gadis itu.
Lily yang masuk kedalam wardrobe meremas dadanya, sejak tadi ia menahan tangis, keadaan tuan Sean lebih buruk dari pada yang ia bayangkan. Pria itu benar-benar tampak menyedihkan dan Lily tidak sanggup banyak bicara takut ia akan runtuh.
Cepat Lily menghapus air matanya, setelah meraih satu kemeja tuan Sean dari gantungan dan bergegas keluar.
Lily terpaku saat menemukan tuan Sean sudah tertidur, wajah lelahnya begitu kentara, bibir pria itu sedikit terbuka, ada dengkuran halus yang beberapa kali Lily dengar.
Lily menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar. Sama sekali tidak banyak berubah, semua masih tampak sama. Bahkan di ruang wardrobe tuan Sean masih membiarkan utuh pakaian miliknya.
Lily meletakkan kemeja ganti tuan Sean yang ia ambil di pinggir tempat tidur, matanya kembali memperhatikan wajah pria itu. Lily ingin segera pergi, karena jika dia lebih lama tinggal, dia tidak menjamin jika hatinya sanggup untuk melihat pria itu menderita sendirian.
Lily tidak ingin lagi menjadi seorang pelakor, cukup sekali itu saja.
" Lily jangan pergi!"
Lily membeku di tempatnya, apa yang tuan Sean katakan, padahal pria itu sedang tidur.
__ADS_1
" Aku ingin mati di atas pangkuan mu, maafkan aku yang tidak bisa memilihmu saat itu!" Tuan Sean membuka matanya, melihat Lily yang masih berdiri di samping tempat tidurnya dengan pandangan kurang jelas, tuan Sean berpikir sedang berhalusinasi. " Lily tetaplah di sisiku. Jangan pergi"
Jika Lily bisa dia ingin menghilang . Mengapa dulu pria itu membuangnya begitu saja, mengapa jika pria itu mencintainya tidak menemuinya dengan cara baik-baik dan mengatakan alasan melepasnya. Mengapa pria itu hanya mengirimkan nya sebuah pesan seperti dia adalah orang yang tidak begitu berarti di hidup pria itu.
Sebagai seorang istri Lily jelas merasa tidak diinginkan ketika bahkan suaminya tidak memberinya sebuah pelukan kasih sayang ketika akan mengakhiri pernikahan mereka.
Kini setelah semua berjalan sesuai kehendaknya, mengapa pria itu seolah bertindak seperti begitu mengharapkannya.
Dimana pria itu saat dirinya butuh sandaran? bukanya memeluknya pria itu justru mengirimkan pesan perpisahan.
Sekali lagi Lily terluka karena mencintai, sudah ia rasakan beratnya merelakan setelah menemukan, pedihnya kehilangan setelah memiliki rasa.
Andai Lily punya kuasa dia benar-benar tidak ingin berada di posisi ini lagi.
" Jangan menangis!"
Tiba-tiba tuan Sean sudah berdiri untuk menghapus air matanya.
Lily menangkup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan nya.
" Saya sudah ambilkan anda baju ganti"
Tuan Sean tidak beranjak, justru wajahnya semakin dekat dengan wajah Lily, sedetik kemudian Lily baru sadar saat pria itu mengecup bibirnya.
" Ini tidak benar Pak!" ucap Lily mendorong sedikit kuat dada tuan Sean.
Pria itu tersenyum dan tidak marah.
" Saya harus pergi!" tegas Lily.
Sampai Lily berbalik tuan Sean tidak juga mengatakan apapun. Namun setelah beberapa langkah Lily berjalan suara sesuatu terdengar menghantam lantai, Lily segera berpaling dan sudah melihat pria itu tersungkur dengan hidung bersimbah darah.
" Mas Sean!!"
__ADS_1