
" Bagaimana?" Tanya bi Sum dengan antusias , begitu Lily keluar dari kamar mandi dan di jawab gelengan lemah oleh Lily
" Oh, jangan berkecil hati, kau masih sangat muda Li" Hibur Bi Sum pada istri muda Tuan nya.
" Tapi aku telat dua Minggu bi" sepertinya Lily juga ingin segera hamil, mengingat dia ingin membahagiakan Tuan Sean, karena dengan cara dirinya hamil Sepertinya Tuan Sean akan bahagia, terlepas bagaimana perasaan Tuan Sean terhadap dirinya Lily tidak terlalu memikirkan, yang Lily inginkan adalah membalas segala kebaikan Pria dewasa itu.
" Oh aku sangat mengerti perasaan mu, tetapi aku rasa Tuan Sean tidak menuntut mu agar segera hamil anaknya"bi Sum ikut menatap wajah redup Lily.
Lily hanya mengulas senyum kecil.
" Apa Tuan Sean hari ini akan kerumah Nyonya Natalia?"
" Sepertinya begitu bi" Lily membuang alat tes kehamilannya di tong sampah dekat wastafel
" Apa kamu tidak merasa cemburu saat suamimu mendatangi istrinya yang lain Li?" agaknya bi Sum ikut penasaran dengan perasaan istri muda tuanya.
" Nyonya Natalia lebih berhak dari pada Lily bi"
" Aku tanya soal perasaan mu Li"
Lily tersenyum lebar
" Lily tidak apa-apa bi, suatu keharusan mas Sean bersikap adil"
Dada bi Sum ikut membuncah, mendengar jawaban yang begitu iklas dari istri tuanya, tidak menyangka Lily memiliki hati yang lembut dan bijak.
" Oh, Tuan Sean beruntung memilih istri seperti mu Li"
Lily menekuk bibirnya " Justru Lily yang beruntung di nikahi oleh mas Sean"
Jawaban tulus itu membuat bi Sum ikut bahagia.
Sudah lima bulan Lily menjadi istri Tuan Sean, keadaan rumah tangga nya cukup bahagia , mereka pindah ke rumah yang di hadiahkan Tuan Sean untuk Lily, bi Sum hanya datang sesekali untuk bersih-bersih begitu juga Yuyun.
__ADS_1
Sebenarnya tak jauh beda dimanapun Lily tinggal karena nyonya Natalia masih sering merecoki kehidupan Lily, Lily masih terus di hina dan di perlakukan seenaknya, jika dia sedang sendirian di rumah, seperti kemarin. Saat tuan Sean telat datang kerumah Nyonya Natalia, istri tua tuan Sean itu datang mengamuk dan menyalahkan semuanya pada Lily, meskipun sebenarnya Lily sendiri tidak tau dimana suaminya dan mengapa bisa pulang telat.
Tetapi hari ini beliau sedang di kabarkan kurang enak badan, tuan Sean izin untuk menjenguknya.
" Biasanya Tuan muda akan pulang jika nyonya Natalia ber ulang tahun." tutur Bi Sum yang membuat Lily menoleh
" Kapan nyonya Natalia ulang tahun bi?" tanya Lily.
" Apa kamu tidak tau? hari ini ulang tahun nyonya Natalia, makanya aku tanya apa tuan Sean akan kerumah Nyonya Natalia"
Mata Lily berkedip-kedip. Tadi pagi sebelum berangkat suaminya berkata kalau sepulang kantor akan kerumah Nyonya Natalia karena sang istri sedang tidak enak badan, jadi yang sebenarnya ingin menjenguk atau ingin merayakan ulang tahunnya? mengapa suaminya harus bohong jika memang dirinya ingin merayakan hari kelahiran istri pertamanya?
Masih termenung dengan pikirannya sebuah suara membuatnya terkejut.
" Kau tidak di undang ke pesta Mama?"
Lily menatap pemuda yang menjulang di hadapannya. Kaget dengan kehadiran putra tirinya tiba-tiba
" CK, kau sangat menyedihkan, disana Papa dan Mama pesta kau malah terkurung di tengah hutan seperti ini" ejek Ozzu.
" Ini rumah impian ku, kau harusnya meralat ucapan mu, bukan di tengah hutan melainkan di tengah kebun dan taman" ucap Lily mengoreksi ejekan Ozzu.
Ozzu tergelak" terserah apa katamu, yang jelas aku mengasihani nasib mu" Ozzu berjalan melewati Lily seperti sang tuan rumah dan duduk di meja makan.
Lily memejamkan matanya sejenak, mengatur segala emosi dan ekspresi, tidak Mama tidak anak, tidak ada bedanya, tetap akan memandang Lily layaknya seorang rendahan .
" Bi aku ingin makan" ucap Ozzu pada bi Sum yang masih bisa di dengar Lily.
Lily berjalan mendekati meja makan.
" Bukankah di rumah nyonya Natalia sedang ada pesta, mengapa kau sampai kelaparan, apa di pesta orang kaya tidak ada makanan?" kali ini Lily datang untuk membalas ejekan Ozzu.
" Orang seperti mu tidak akan pernah tau pesta orang kaya seperti keluarga ku" hina Ozzu menatap tajam istri muda Papa nya.
__ADS_1
" Justru karena aku tidak tau, makanya aku bertanya, apa di pesta orang kaya tidak ada makanan?" Lily ikut duduk di hadapan Ozzu yang sedang memandang dingin dirinya.
" Apa kau keberatan jika aku makan disini?, apa yang terhidang di sini juga milik Papa ku, aku bisa menikmatinya, rumah ini, segala isinya aku juga berhak memakainya, karena kaulah yang numpang dan tinggal menikmati tanpa perlu bersusah payah, sedangkan Papa ku yang bekerja keras memeras tenaga dan keringat nya untuk ini semua, siapa kau???.....hanya istri muda yang di sembunyikan dan dijadikan pemuas kebutuhan primitif saja oleh Papaku"
Ucapan Ozzu jelas menyakiti hati Lily, namun Lily tidak gentar dan justru mengulas senyum. Meski sebenarnya Lily juga berhak marah atas perlakuan dan perkataan Ozzu. Tapi Lily pilih mengalah dan tidak membalas. Bi Sum sebenarnya juga sadar dengan kemarahan putra tuan nya, namun bi Sum pikir Ozzu hanya marah karena belum bisa menerima kehadiran Lily, karena biar bagaimanapun tuan Sean menikahi wanita yang puluhan tahun lebih muda yang lebih layak menjadi putri nya ketimbang di jadikan istri .
Ozzu menunjuk Lily dengan ujung garpu nya.
" Kau tidak akan menang melawan ku, peperangan ini akan tetap aku yang memenangkan nya" tuding Ozzu.
" Aku tidak pernah ingin melawan mu, ataupun siapapun, bahkan aku juga tidak pernah membalas apa yang sudah kamu atau Nyonya Natalia lakukan" Lily ikut mendongak dari menu yang tadi sempat di tatapnya.
Ozzu tersenyum miring, meskipun dia terlihat angkuh, tetapi dia membenarkan apa yang di ungkapkan Lily, Lily memang sama sekali tidak pernah membalas atau membalas prilakunya atau Mamanya.
" Selamat makan, aku harus kembali ke kamar ku"
"Tunggu"
Ozzu menghentikan langkah Lily, Lily tidak berpaling hanya berdiri diam di tempatnya
" Aku ingin makan telur mata sapi, bisa kau membuatkannya untuk ku? tanya Ozzu menatap punggung istri muda Papanya
" Tentu"
Jawaban Lily membuat Ozzu terperangah, Lily terlihat tidak keberatan. Bahkan langsung menyanggupi, padahal Ozzu kira Lily akan langsung meminta Ozzu untuk minta di buatkan bi Sum, namun ternyata Lily bahkan langsung bersedia tanpa mengejeknya atau mengatainya yang bukan-bukan.
Ozzu membiarkan Lily pergi ke dapur, sementara ia diam terpengkur di kursi meja makan, otaknya terus menerka-nerka. ' se sabar itukah istri muda Papanya?' Sebenarnya Ozzu tadi sempat mendengar apa yang di obrolkan bi Sum dan Lily di dalam kamar, karena tadi Ozzu masuk begitu saja dan tidak menemukan siapa-siapa di lantai bawah hingga dia menuju lantai atas dan tanpa sengaja mendengar apa yang Lily bicarakan dengan bi Sum.
######
Tolong jangan lupa jejak cintanya untuk author yaaa...
love you reader..
__ADS_1