POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Kepuasan


__ADS_3

Lily masih mondar-mandir di depan ranjang, tidak jenak untuk duduk dan tidak enak untuk berbaring, suaminya belum pulang hingga tengah malam, pikiran Lily mulai liar kemana-mana, entah sedang apa suaminya, apa yang dilakukannya sampai selarut ini.


Lily sudah mengirimkan pesan tetapi tidak juga di balas, di telponnya tapi juga tidak di angkat. Membuat Lily semakin khawatir.


[" Ozzu, apa Mas Sean sedang bersama mu?."] Karena terlalu khawatir akhirnya Lily mengirimkan pesan pada Ozzu.


Tidak sampai satu menit, Ozzu langsung menghubunginya.


" Apa Papa belum pulang?" terlihat sekali jika Ozzu ikut merasa khawatir, dari suara pemuda itu yang terdengar gelisah.


" Iya" Singkat Lily.


Meskipun Ozzu kelihatan bandel, tetapi Lily tau seberapa sayang pemuda itu pada suaminya.


" Jangan khawatir, biar aku yang mencarinya. Tidurlah Li, Papa akan baik-baik saja"


Akhirnya Lily mengakhiri panggilan teleponnya lebih dulu.


Lily baru saja tertidur dan segera terjaga lagi ketika merasakan lengan hangat yang memeluknya dari belakang. Semarah dan segelisah apapun dirinya tadi, seketika rasanya kembali untuh jika seperti ini. Lily segera beringsut mendesak ke dadanya yang hangat untuk merasa tenang.


" Kau belum tidur?"


" Aku menunggumu, Mas."


" Maaf aku pulang terlambat."


" Mas..."


" Emm..." Lily melenguh pelan merasakan sentuhan tangan suaminya yang terasa hangat membelai pipi nya.


Tuan Sean agak terburu-buru untuk segera menenggelami istri mudanya, istri muda yang terus ingin di sentuh dan di bahagiakan sampai kapanpun, rasanya sangat tidak rela melepaskannya untuk siapapun. Terdengar egois tetapi itu yang sedang tuan Sean rasakan.


" Istirahat dulu jika masih lelah, sarapan mu sudah diantar ke kamar."


Lily melihat korden jendela kamar yang sudah dibuka, ternyata sudah pagi.


Lily meraih tangan suaminya kemudian menciumnya beberapa kali.


" Apa Mas Sean sudah mau pergi?"


" Ya, tetapi aku akan pulang cepat hari ini." Tuan Sean menunduk untuk mengecup dahi Lily dengan napasnya yang terasa segar beraroma mint.


Lily menempelkan telapak tangan tuan Sean ke pipinya.


Tuan Sean terseyum menghadapi istri mudanya yang kadang masih ingin di manja.


Lily sebenarnya sedang tidak ingin jauh-jauh dari suaminya, mungkin karena Lily takut kembali merasa was-was dengan berbagai kecemasan yang belakangan ini terus menekan perasaannya.

__ADS_1


" Aku akan berpakaian dulu."


" Apa mau ku bantu?"


" Aku tidak akan jadi berpakaian jika kau terus menggoda ku." kali ini tuan Sean kembali menunduk untuk mencium bibir Lily.


" Mas!" Lily mengalungkan tangan kecilnya ke tengkuk suaminya.


Lily menengadah dengan tatapan sayu .


" Aku ingin hamil lagi."


" Jangan dulu." tuan Sean menarik Lily kedalam pelukannya.


" Sudah cukup dengan kita seperti ini saja dulu, aku tidak butuh yang lainnya, kita besarkan putra kita dengan kasih sayang lengkap!"


Bukanya berpakaian seperti tujuannya tuan Sean malah kembali berbaring di samping istrinya.


" Lily .."


" Ya, Mas?"


" Kita ke Paris besok!"


Ternyata selama ini tuan Sean diam-diam mempersiapkan banyak hal untuk bisa membawa Lily dan putranya, tuan Sean akan penasaran jika sampai dirinya tidak berhasil menemui putri Lily.


Satu hari kembali berlalu, Lily benar-benar tidak bisa membuat suaminya merubah keputusannya, pada akhirnya Lily hanya bisa gelisah sepanjang perjalanan mereka.


" Bukan begitu..."


Lily sedang tidak bisa berkata-kata, karena dirinya memang tidak ada niat sana sekali untuk membawa atau memperkenalkan putri kecilnya pada suaminya. Mungkin jika putrinya mirip dengan nya Lily bisa saja mengajak nya tinggal bersama tuan Sean tapi ini....


Lily tak bisa mengelak jika sampai suaminya bertemu dengan putrinya, Lily tidak akan bisa lagi menutupi apapun, karena hanya dengan melihat putrinya suaminya pasti akan tau siapa ayah biologis putrinya, masalahnya Lily masih sangat ingat jika dahulu penanam benih itu sengaja tidak meninggalkan jejak, lebih tepatnya pria itu tidak meninggalkan bibit itu secara sengaja, pria yang menjadi ayah biologis anaknya dengan cepat mencabut miliknya agar tidak sampai tinggal. Tetapi kembali lagi. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia".


Segalanya tidak direncanakan, begitu juga hadirnya Lyga.


Sepanjang perjalanan menuju dimana putrinya di besarkan Lily sama sekali tidak berani menatap suaminya.


Bagaimana nanti dia harus memulai cerita, hanya mengingatnya saja sudah membuat hatinya terasa teriris belati.


Alfaaro duduk bermain lego nya, putranya terlihat begitu riang akan bertemu dengan Kaka perempuannya.


Jika biasanya Lily datang dengan perasaan bahagia kini dirinya datang dengan perasaan hancur.


Lily menahan napas ketika pintu apartemen nyonya Lubis dibuka.


" Nona Phalosa..." seru maid yang selama ini mengurus apartemen Nyonya Lubis.

__ADS_1


Lily tersenyum tipis, menahan gemuruh dadanya.


" Madam dan Lyga ada ?" Suara Lily engan sekali muncul.


" Madam baru saja membawanya pergi untuk berbelanja!"


Rasa lega merasuk di dada Lily setidaknya dirinya ada jeda waktu untuk menjelaskan pada suaminya.


Lily masuk kedalam kamar yang selama ini menjadi kamarnya. Tuan Sean mengikuti dari belakang dan ikut meneliti setiap sisi ruangan.


" Mas Sean!" Panggil Lily. Sebelumnya Lily sudah menitipkan Alfaaro pada baby sitter nya.


Tuan Sean mengenggam tangan istrinya yang melingkar di pinggang nya.


Tuan Sean membalikkan badannya menghadap Lily yang sedari tadi seperti enggan bersuara, tetapi tuan Sean memahami perasaan istrinya.


Tuan Sean juga sudah bersumpah akan menerima putri Lily, akan menganggap putri Lily seperti putri kandungnya sendiri, tidak akan membedakan antara sang putra dan sang putri, tuan Sean akan mengganti waktu yang tidak bisa Lily berikan pada putrinya karena memilih hidup dengan nya.


" Putriku bernama Lysianalaga Danruv" ucap Lily.


" Aku akan memberikan nama belakang ku untuk nya!"


Lily segera mengeleng.


" Mas Sean, bisa mas berjanji jika kita tidak akan membawa Lyga ke Indonesia?" tanya Lily penuh harap.


Tuan Sean menatap istrinya lama sebelum kembali membuka suara.


" Apa kau takut dengan keluarga mantan suamimu?"


Lily mengangguk cepat.


" Jadi, dia warga negara Indonesia?"


Lily kembali mengangguk.


" Aku akan menjadikannya putri ku, tidak akan ada yang tau identitas Lyga nantinya" tuan Sean menenangkan, namun jelas itu tidak bisa menenangkan hati Lily.


" Lyga tidak bisa pulang kerumah kita mas, apapun yang terjadi Lyga harus tetap disini!" keras Lily.


Tuan Sean dibuat bingung dengan keputusan istrinya, bukankah niatnya bagus, dia ingin Lily bisa merawat kedua anaknya dengan tenang dan bisa memberi kasih sayang yang utuh pada Lyga seperti kepada Alfaaro.


" Mas Sean, sebenarnya Lyga adalah..."


" Momy......


Lily belum selesai bicara saat dua anak kecil menyelonong masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Yang paling terkejut diantara mereka adalah tuan Sean.


" Li, dia......


__ADS_2