
Lily baru keluar dari kamar mandi ketika dia merasa matanya berkunang-kunang. Lily coba menyeimbangkan badan nya dengan berpegang dinding.
Sejak tau kondisi suaminya, sebenarnya Lily sangat sedih, hati nya selalu was-was, saat matanya terbuka selalu memeriksa napas suaminya yang berbaring di sisinya. Lily jadi tak nyenyak tidur, napsu makannya menurun.
Lily belum tau bagaimana cara membujuk suaminya, pria itu menutupi kondisinya dan tetap enggan membahas tentang kesehatan nya.
Kesedihan yang berat ditanggung dan sulit untuk dijabarkan, Lily berkenan kembali karena ingin pria itu sehat, bukan justru tidak jujur seperti ini.
Lily sangat mencintai tuan Sean, itu sebabnya dia rela kembali, memilih salah satu keputusan yang dua-duanya membuatnya merasa bersalah. Namun malah seperti ini!.
Kaki Lily terasa kebas dan menjalar ke perutnya, saat menunduk dia melihat darah yang mengalir dari pangkal pahanya.
" Lily terengah-engah dengan pandangan yang semakin buram, air matanya mengalir, buru-buru dia berpegang pada dinding dan berjalan untuk meraih ponselnya.
*******
Di rumah sakit
Tuan Sean sedang mengurus kepulangan jenazah nyonya Natalia.
Ponsel tuan Sean yang di dalam jasnya bergetar.
Tuan Sean masih sibuk mengurus administrasi, sementara Ozzu yang membawa barang-barang Mamanya dan Papanya langsung mengambil ponsel Papanya yang sedang masuk panggilan dari nomor Lily.
Ozzu menghapus air matanya, dan menyusut hidungnya yang berair sebelum menjawab.
" Maaf Li, Papa ......
Ozzu tidak sempat menyelesaikan ucapannya ketika Lily bilang dirinya sedang pendarahan. Pemuda itu kalang kabut, bagaimana musibah bisa datang bersamaan seperti ini.
Bagaimana ini?? Ozzu tidak bisa memberitahu Papanya, sedangkan dia juga masih sangat syok, belum sanggup menyetir.
Saat Ozzu sedang panik-panik nya, Ozzu melihat kedatangan Udgam dan nyonya Duby.
" Om.." Ozzu menghampiri Udgam yang sedang berjalan bersama Nyonya Duby.
" Ozzu, Apa sudah bisa dibawa....
" Om, tolong Lily, dia sendirian di rumah, dia pendarahan" ujar Ozzu dengan napas tersengal-sengal, memotong pertanyaan Udgam
" Apa..??"
__ADS_1
Udgam dan nyonya Duby ikut terkejut.
" Cepat , Nak!" nyonya Duby ikut panik. Beliau mendorong bahu Udgam untuk bergegas menolong Lily.
" Bi, temani aku!" Udgam meminta Bi Sum ikut, karena dia tidak mungkin pergi sendirian.
Sejak nyonya Natalia terkena setruk ringan, Bi Sum dan Yuyun ikut kerumah Nyonya Natalia, datang ke rumah Lily yang lama dua kali satu Minggu untuk bersih-bersih.
Sedangkan di rumah Lily yang baru memang belum memiliki asisten, tuan Sean masih ingin menikmati kebersamaan bersama Lily seorang. Tidak tau jika petaka bisa datang kapan saja!.
*******
Bibir Lily terlihat pucat, pipinya yang biasanya merona kini seperti berkabut, matanya terpejam rapat namun air matanya mengalir.
Udgam langsung meraih tubuh itu yang tak sadarkan diri dengan memeluk perutnya.
" Bi tolong. Carikan apapun untuk menutup rambut Lily!" Udgam meraih seprai untuk menutupi tubuh Lily yang hanya memakai dres rumahan yang cukup pendek.
Bi Sum menyambar sembarang kain untuk di berikan kepada Udgam.
Udgam langsung melarikan Lily kerumah sakit yang sama dimana tuan Sean berada.
Sesampainya di rumah sakit, Lily langsung ditangani, sementara Udgam seperti seorang suami yang sedang mencemaskan istrinya.
" Pa, Lily ada disini!" Ozzu menghampiri Papanya yang sudah selesai mengurus kepulangan jenazah nyonya Natalia.
" Seharusnya Lily jangan diberitahu dulu!" Tutur tuan Sean seperti menegur Ozzu.
" Pa, tidak ada yang memberi tahu Lily soal Mama, tapi..." Ozzu bimbang harus jujur atau tidak pada Papa nya, tetapi jika ada apa-apa pada Lily dia akan merasa sangat bersalah.
" Mana Lily?" Tanya tuan Sean yang ikut mencari keberadaan istrinya.
" Ayo Pa!" Pada akhirnya, Ozzu tetap memilih memberi tahu Papanya, dan membawa Papanya untuk melihat keberadaan Lily.
Tuan Sean melihat Udgam yang duduk menunduk bersama Bi Sum, sama sekali tidak ada Lily di sana.
" Om!" seru Ozzu, yang membuat Udgam berdiri dan melihat kedatangan tuan Sean.
" Kak Sean, Lily masih di tangani, kita berdoa saja supaya pendarahannya bisa cepat di hentikan."
" Ada apa ini..ada apa dengan Lily?" tanya tuan Sean dengan wajah yang kembali tegang.
__ADS_1
" Tenang, sebaiknya kita berdoa, supaya Lily dan kandungannya tidak apa-apa"
Walaupun nyonya Valeria awam dengan dunia medis, tapi dia faham dengan resiko kasus seperti ini.
Punggung tuan Sean melorot, hatinya berdenyut nyeri, cobaan kembali datang menerpa hidupnya, apa lagi ini ya Allah....!" jerit tuan Sean dalam hati, dia tidak akan sanggup jika sampai terjadi apa-apa pada Lily.
" Tenangkan dirimu dulu, Sean!" nyonya Valeria menarik tuan Sean untuk diajak duduk, dia juga minta seseorang untuk mengambilkan air mineral karena tuan Sean terlihat pucat dan kurang sehat.
"Minumlah dulu!" Nyonya Valeria membuka tutup botol untuk segera di serahkan kepada putranya.
" Kau juga harus menjaga kondisi mu!" nasehat Nyonya Valeria, yakin Lily jadi seperti ini karena banyak pikiran yang sudah di pastikan karena kondisi suaminya.
Ozzu langsung menghampiri Papanya.
" Pa, biar aku yang mengurus pemakaman Mama, Papa disini saja jaga Momy"
Tuan Sean mengeleng tidak setuju, meski berat meninggalkan Lily, tetapi mengantarkan istri lainnya keperistirahatan terakhir juga tidak bisa ia lewatkan.
" Aku akan ikut mengurus Mamamu dan ikut mengantarkannya keperistirahatan terakhir nya!"
Ozzu menitihkan air mata haru nya.
Papanya adalah sosok yang luar biasa, pemikirannya sangat bijak, meskipun Ozzu yakin saat ini pria itu tengah bersedih karena keadaan Lily namun masih Sudi mengantar istri nya yang lain, istri yang benar-benar akan diantarkan ketempat dimana sudah tidak bisa kembali meskipun hanya satu detik.
" Tolong izinkan aku untuk ikut mengantar, ini terakhir kalinya aku melihat Mama Ozzu!" mohon Lily yang tetap di jawab gelengan kepala oleh Udgam.
Saat membuka matanya, orang pertama kali yang Lily lihat adalah Udgam, Lily merasa Dejavu, tetapi langsung bertanya kemana suaminya, dan akhirnya Udgam menceritakan semuanya.
" Tolong dengarkan aku, Lily." Udgam meraih tangan Lily dan menggenggamnya. " Demi anak yang kau kandung, demi Kak Sean, kau harus tetap disini agar segera pulih"
Meski Lily ingin bersikeras tapi kekhawatiran Udgam memang masuk akal.
Lily ingat sebesar apa kebahagiaan tuan Sean ketika mengetahui dirinya tengah hamil, Udgam benar Lily tidak boleh egois, karena jika anak mereka sampai kenapa-kenapa suaminya pasti akan semakin terpuruk.
Lily ternyata tidak di izinkan pulang, keadaan nya masih di pantau, tuan Sean datang saat hampir tengah malam, pria itu buru-buru mendekat dan menciumi wajah Lily.
" Kau membuatku sangat cemas Li, tolong perhatikan dirimu agar aku tenang!" Bibir tuan Sean terasa dingin saat mencium kening Lily.
" Mas Sean, Nyonya Natalia...
" Sttttttttt, Natalia sayang sama kamu, bahkan dia menuliskan sebaris doa sebelum tiada, doa harapan, Natalia ingin terlahir kembali jadi anak mu!" Terang tuan Sean.
__ADS_1
" Tolong jangan membuatku khawatir sayang..." lirih tuan Sean sambil menyeka air mata Lily.
Udgam yang hendak pamit pulang urung saat melihat keduanya sedang bercengkrama, Udgam akhirnya hanya menepuk bahu Ozzu sebelum pulang.