POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Lily dan nyonya Natalia


__ADS_3

Mas Sean memeluk ku dari belakang, aku tidak mampu jika melihatnya serapuh ini, bahkan dirinya masih mengunakan alat bantu pernapasan, tetapi nekat melepasnya seperti ini.


" Tolong jangan pergi, Li!" Lirih nya lagi... ya Allah... Aku harus gimana..?


Aku pergi jauh dari mas Sean karena sengaja, agar tidak terus memikirkan nya, agar tidak mendengar lagi kabarnya, aku takut jika seperti ini, melihatnya begini, membuat ku kepikiran, membuatku ikut merasakan sakit ...Ya Allah... kenapa jadi seperti ini!.


Author POV


Lily menekan egonya untuk tetap pergi, dia sekali lagi rela mengalah karena keadaan.


Tuan Sean terlelap dengan tangan yang enggan melepaskan tangan Lily.


Ozzu datang beberapa saat dan ikut duduk di dekat Lily.


Ozzu juga meraih tangan Lily dan menggenggam nya.


" Terimakasih Lily, terimakasih sudah mau mendampingi Papaku."


Ozzu sudah berjanji untuk segera menyelesaikan pendidikannya. Karena dia juga harus segera mengantikan tanggung jawab Papanya, dan membuat pria yang sudah membesarkannya itu ikut bangga. Sering kali cobaan hiduplah yang memberi pelajaran dan mendewasakan.


Ozzu berpaling untuk menatap Papa nya yang sedang terlelap, pria yang sudah puluhan kali menolak berobat, kini bersedia di rawat karena adanya Lily.


Lily melepaskan tangannya yang di genggam


Ozzu.


Semua orang selalu mengucapkan terimakasih karena Lily membuat pria seperti Tuan Sean mengubah pendiriannya, dan semua selalu bermuara dengan kata terimakasih.


Semua hanya tau jika Lily masih mencintai tuan Sean, tanpa memikirkan kebenaran wanita itu memiliki hidup baru di luar sana, bahkan Lily sudah bertekad tidak akan menikah lagi sebelum ini.


" Lily, jangan pergi!, tolong jangan tinggalkan aku!"


Suara tuan Sean samar-samar terdengar, pria itu terus menerus mengigau dan mengatakan hal itu berulang-ulang, Lily yang bersikeras ingin pergi lama-lama hatinya luluh.


" Kembalilah pada Papaku Li, kasihanilah dia, selepas menceraikan mu, aku sudah tidak lagi melihat ada semangat di hidup nya, jika waktu boleh ku putar aku tidak akan pernah menganggu mu, sungguh."


" Sudahlah Zu, jadikanlah ini sebagai pelajaran, meski aku bersikeras menolak, kalian akan tetap membujukku dengan segala cara!"

__ADS_1


Ucap Lily dengan pandangan kearah tuan Sean yang masih memejamkan matanya.


" Apa itu berarti, Iya?" tanya Ozzu penuh binar.


Lily tidak menjawab, tetapi itu Ozzu artikan sebagai jawaban 'iya' " Sungguh Li, aku akan melakukan apapun yang kau minta, meski kau minta aku untuk pergi dari kehidupan kalian, aku tidak keberatan." Mata Ozzu terlihat nanar, hatinya sedang merasa begitu bahagia.


***********


Nyonya Duby menyambut kedatangan Lily penuh kasih, wanita itu ingin segera memanggil Udgam untuk bicara dengan Lily ketika Lily meminta izin sendiri untuk menemui pria itu.


" Apa Lily boleh manggil kak Udgam sendiri Tante?" Tanya gadis itu ramah.


" Li, kamu sudah Tante anggap putri sendiri, apa kamu lupa? pergilah!" nyonya Duby mempersilahkan dengan ramah.


Ternyata Udgam sedang tidur di kursi kebun belakang, yang sengaja pria itu peruntukan untuk beristirahat ketika usai bercocok tanam, atau memanen buah, di ruangan bentuk kubus dengan dinding kaca itu Lily bisa melihat wajah mantan suaminya yang terlelap, Udgam memang hanya singgah sesaat tetapi membekas selamanya untuk Lily.


Udgam tampak lelap, meskipun pria itu tidur dengan setengah kaki menggantung, lama Lily memperhatikan Udgam sampai akhirnya Lily pamit pulang pada nyonya Duby.


Nyonya Duby sendiri merasa ada yang aneh dari sikap Lily, wanita itu juga menyaksikan bagaimana Lily yang mengamati putranya. itu memang bukan pandangan kotor, tatapan Lily bukan tatapan mendamba, lebih ke tatapan seorang adik pada kakaknya, tetapi mengapa Lily tidak membangunkan Udgam? mengapa Lily justru hanya memandangi nya?


*************


" Terimakasih kamu sudah bersedia menikah dengan Sean, ini anggaplah sebagai rasa terimakasih ku!" Ucap nyonya Natalia pada Lily.


" Apa itu perlu?" Tanya Lily dengan wajah datar. " Saya tau anda sedang terluka saat ini Nyonya! jadi saya pikir anda tidak perlu memakai topeng bahagia, sebagai wanita saya tau tidak mudah mengizinkan suami kita menikahi wanita lain, terlebih saya tau bagaimana dulu anda berjuang untuk menyingkirkan saya!" Lily menatap lekat wajah wanita yang menatapnya terkejut.


Mungkin nyonya Natalia pikir, Lily masih Lily yang sama seperti dulu. Ia salah besar, Lily sudah tumbuh menjadi Wanita yang tahan banting dan berpikiran luas.


Di gertak seperti itu, nyonya Natalia jelas terpojok, ucapan Lily benar. Wanita mana yang rela suaminya menikah lagi?, Tidak ada.


Air mata nyonya Natalia menitih. Siapa yang akan perduli dengan perasaannya meskipun dia tidak menyetujui pernikahan suaminya?. Tidak akan ada. Dirinya tidak memiliki hak apapun untuk menyuarakan isi hatinya.


Lily menghembuskan napas nya dalam, sebelum membuka kembali suaranya.


" Meskipun saya di minta banyak orang, saya tetap memikirkan perasaan anda nyonya, untuk itu saya datang kesini"


Nyonya Natalia langsung mengangkat wajahnya.

__ADS_1


" Sejujurnya saya juga tidak mau harus kembali menyakiti perasaan anda, saya tidak mau kembali menjadi seorang pelakor lagi!"


" Tidak, Li. Kali ini aku yang meminta mu, melamar mu, untuk menikah dengan suami ku, aku tidak akan lagi menghinamu" sanggah nyonya Natalia.


Lily tersenyum tipis kemudian meraih tangan nyonya Natalia untuk di genggam.


" Maafkan saya, maaf, saya harus kembali menyakiti hati anda lagi"


Nyonya Natalia menarik Lily kedalam pelukannya, tangis wanita itu pecah tanpa bisa di cegah, andai dulu dia tidak terlalu gengsi untuk mengakui bahwa perubahan besar suaminya berkat kehadiran Lily.


Lily yang membuat tuan Sean yang sudah lama mengabaikannya berubah manis dan bahkan menggaulinya kembali.


Hubungan yang hambar sedikit menghangat, tetapi dia begitu tamak dan menutup mata tentang pengaruh baik wanita ini.


" Aku yang meminta maaf padamu Li" ucap nyonya Natalia terisak sedu.


Bi Sum dan Yuyun ikut terharu melihat dua wanita itu saling berpelukan, Lily memang gadis yang baik dan tulus. Mustahil orang tidak menyukainya.


Sementara tuan Sean yang baru bangun dan tidak menemukan Lily di kamar rawatnya hampir saja mencabut selang infusnya jika saja Ozzu sedikit terlambat.


" Pa" pemuda itu datang bersama dua orang pria yang tampak asing.


Tuan Sean menyerngit melihat ketiganya masuk bersamaan.


Ozzu segera menghampiri Papanya dan mengeluarkan sesuatu dari sebuah paper bag yang ia bawa.


Sebuah jas hitam dan peci hitam di ulurkan pada Papanya.


Belum sempat bertanya, dua orang wanita datang dan langsung menurunkan bawaannya.


" Buat Papaku agar tampak fresh dan tidak pucat." ucap Ozzu yang kian membuat tuan Sean keheranan.


" Kata Lily maharnya cukup dengan cukur kumis dan jenggot Papa!" Kali ini Ozzu mengeluarkan pisau cukur.


" Ozzu apa yang kau lakukan?" Tanya tuan Sean.


" Menyiapkan pengantin Pria!"

__ADS_1


" Pengantin!" kutip tuan Sean.


__ADS_2