POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Ozzu


__ADS_3

Ozzu POV


Apa yang lebih menyakitkan di banding perasaan ku ini??


Memiliki rasa yang tak seharusnya, sekuat hati aku memupuk benci untuk nya justru ketulusannya selalu terlihat.


Aku bisa terus berpura-pura membencinya, namun perasaan ku tak bisa ku elak, kata-kata ku memang terdengar menyakitkan saat mengejek atau menghina nya, namun sejujurnya hatiku lah yang lebih terluka, karena perkataan ku sendiri.


Di antara jarak yang terjauh di muka bumi ini adalah hubungan ku dan dia. Dia wanita Papa ku yang ku inginkan.


Banyaknya buku yang telah ku baca untuk mencari cela agar kami bisa hidup bersama, tetapi itu suatu yang mustahil, bahkan meskipun dia tak lagi bersama Papa ku, jarak yang terbentang di antara kami tidak ada yang mampu menghilangkan nya, cintaku tak kan pernah bisa ku gapai, aku dan dia seperti air dan minyak, bisa saling berdampingan namun tidak bisa saling menyatu.


' Ya Tuhaaaaaan! apa yang lebih menyakitkan dibandingkan ini?'


Seperti hari ini, Setibanya dari bandara aku bergegas mencari keberadaan nya, rumah yang di belikan Papa untuk Lily cukup jauh dari rumah Mama, namun yang ku dengar Mama masih kerap menganggu Lily.


Hatiku terasa sejuk meski hanya mendengar suara nya, suara lembut yang bahkan sering terbawa mimpi, dadaku bergemuruh begitu melihat wajahnya yang putih bersih tanpa cela, wanita yang ku benci juga wanita yang sangat ingin ku miliki.


Empat bulan aku tak bisa mendengar suara nya, tak bisa melihat wajahnya. Rasanya aku mulai kehilangan semangat untuk melakukan apapun, beruntungnya ada alasan aku untuk pulang hari ini, sejujurnya bahkan aku sama sekali tidak perduli ada apa di rumah Mama ku, karena aku sendiri tidak tau apakah Mama mengelar pesta atau tidak.


Semenjak aku akan pulang, aku kehilangan selera makan karena terlalu bahagia, dan tidak sabar ingin melihat wajah Lily, setibanya di bandara aku gegas kemari, aku menahan diri agar tak langsung memeluknya, mengatakan sesuatu yang menyakitinya untuk mendengar suara merdunya.


Aku benar-benar sudah tidak waras semenjak bertemu dengan wanita Papa ku.


Segala hal menjadi sangat menyakitkan, Menjauh -rindu, dekat- tersiksa.


Cintaku sedalam samudera, sayang tak bertepi, jika perasaan ini masih terus tak terbendung, bukan tidak mungkin badai akan menerpanya, harus ku kemanakan perasaan ku?... Tuhan bantu aku, sudah tak lagi terhitung doa ku untuk langkah yang ku ambil, tanganku selalu menengadah untuk meminta segala kebaikan, termasuk jika aku harus tetap merelakannya


" Ini" sebuah telur dengan tampilan sederhana di letakkan di meja, di hadapan ku.


Aku menatap Lily angkuh, sengaja tidak mengatakan terimakasih.


Sebenarnya aku benar-benar lapar, karena sudah empat hari lamanya aku tidak selera makan karena terlalu antusias untuk bertemu dengan wanita yang sebenarnya haram ku inginkan apalagi untuk ku miliki layaknya seorang lelaki yang menginginkan wanitanya.


Ku pikir Lily akan segera pergi menghindari ku, nyatanya aku salah, dia masih berdiri untuk melihat aku yang hanya menatap telur yang dia sajikan.


" Katakan jika ada yang salah, aku bisa buatkan yang baru untuk mu"

__ADS_1


Reflek ku angkat kepalaku untuk melihatnya, apa aku tidak salah dengar?, dia ini manusia yang seperti apa, seburuk apapun prilaku ku terhadap nya, dia terlihat tak ambil hati dan masih mau memperdulikan ku.


" Harusnya jika kau tau ada yang salah dengan telur buatan mu, kau tak kan pernah menyajikan nya di hadapan ku" ketus ku , menyembunyikan keresahan hati ku sebenarnya.


" Oh, itu, seperti yang kamu ucapkan sebelumnya, selera ku dan selera mu beda jauh, kalau untuk seleraku itu pas, tapi kan, belum tentu untuk mu"


Satu yang ku sadari dari Lily, dia sebenarnya sosok yang sangat mudah bergaul, dia mudah menyesuaikan diri dan juga pandai merangkai kata-kata yang pas sebelum dia ucapkan, mungkin dia begitu untuk menyetarakan kedudukan dimata khalayak ramai, terutama untuk menempatkan diri sebagai istri Papa ku, meskipun aku belum pernah sekalipun melihat Lily keluar rumah, entah bagaimana monoton nya kehidupan wanita yang seumuran dengan ku ini, di saat anak seusia ku ini sibuk mengembangkan diri, dia justru terkurung, terkekang menjadi seorang istri dan Ibu tiri dari pemuda bejat seperti ku. Oh, bahkan aku ternyata berperan buruk juga untuk hidupnya.


Dia bukanlah sosok wanita penakut, dia tak jarang menjawab apa yang ku tanyakan, hanya saja aku merasa dia selalu salah, mungkin hanya aku yang terlalu besar rasa, terlalu emosional dan membencinya karena alasan label, karena dia seorang 'Pelakor'.


" Biasa aja" ucapku menilai rasa telur yang dimasak oleh Lily, sebenarnya rasa telur mata sapi dimanapun samakan ya? tapi untuk masakan Lily aku merasa telur ini sangat enak, atau mungkin aku saja yang sedang lapar.


" Kamu mau lagi?" Tanya Lily padaku.


" Tidak usah, enyah kau dari hadapan ku, aku ingin makan, mau muntah aku lihat....


" Aku mengerti"


Ku lihat Lily beranjak, dia pun memotong ucapan ku segera, satu yang kutahu, dia pastilah tersinggung karena aku yang terkesan tak tau terimakasih.


Aku menatap punggung kecil yang mulai menjauh tanpa menoleh lagi kebelakang, di balik Punggul kecil itu pastilah menanggung beban berat saat ini, sedikit besar aku ikut andil, tapi aku sendiri tidak bisa berbuat banyak, hanya pura-pura benci yang bisa ku lakukan, untuk menutupi segala yang ku rasakan.


Entah jam berapa Lily memejamkan matanya, tetapi saat ter bangun dia mendapati suaminya memeluknya erat. Tuan Sean terlelap dengan lengannya yang memeluk pinggang rampingnya.


Diam-diam Lily memperhatikan wajah laki-laki yang menjadi suaminya, wajah tampan rupawan yang selalu enak di pandang, bahkan meskipun sedang tidur seperti itu.


Kadang, Lily hanya merasa semakin buruk jika harus terus menjadi kekesalan seorang istri ataupun seorang putra karena dirinya yang dianggap merebut seorang kepala rumah tangga, Lily seperti ingin menyerah dan pergi meninggalkan semua . Lily yakin masih bisa hidup dengan cara apapun, tidak harus mewah, namun mungkinkah dia sanggup untuk pergi, meninggalkan tuan Sean yang sudah begitu baik menerimanya. Ternyata rasanya sangat sakit ketika Lily membayangkan untuk melepaskan pria dewasa yang kini tengah memeluknya.


" Tidur lah" Bisik tuan Sean, yang membuat Lily agak terkejut.


Napas hangat berhembus, digantikan senyum kecil.


" Apa yang sedang kau lihat?" Mata tuan Sean mulai terbuka.


" Mas Sean" jujur Lily.


" Kau sedang menghitung jumlah garis keriput di wajahku?" tuan Sean kembali memejamkan matanya .

__ADS_1


" Apa ada?" Tanya Lily polos, yang membuat tuan Sean kembali untuk membuka matanya agak lebar.


" Apa belum ada?" tanya Tuan Sean antusias.


" Lily tidak memperhatikan nya"


" Lantas apa yang kamu perhatikan?"


" Hanya ingin melihat mas Sean saja" Lily kembali menelusup masuk kedekapan suaminya


" Apa menunggu ku membuat mu bosan?" tiba-tiba tuan Sean ingin tau perasaan Lily, sikap manja Lily selalu membuatnya beruntung


" Sedikit, apa boleh Lily ikut mas Sean kemanapun?" jawab Lily sambil menengadah untuk melihat suaminya. Hal kecil yang mampu membuat dada tuan Sean menghangat.


" Bagaimana keadaan nyonya Natalia?" Tiba-tiba Lily ingin tau suaminya kerumah istri pertamanya untuk beneran menjenguk atau sekedar merayakan hari ulang tahunnya.


" Aku sama sekali tidak ingat jika hari ini dia berulang tahun, dia membuat berita bohong agar aku datang kesana" jawaban tuan Sean ternyata jujur pada Lily. Dan Lily sama sekali tidak meragukan jawaban suaminya.


" Apa beliau mengadakan pesta?"


" Ya, karena nya aku tidak jadi menemuinya dan memilih pulang dan tidur dengan mu"


" Mas Sean pulang dari tadi?" agaknya Lily agak terkejut.


" Setengah jam saat kamu meninggalkan Ozzu di meja makan..Apa Ozzu buat masalah?".


" Itu berarti mas Sean langsung pulang ke sini? "


" Ya, aku tidak mungkin pesta dengan pakaian seperti ini" tuan Sean melirik pakaian yang ia kenakan.


" Kenapa tidak membangunkan Lily" protes Lily begitu melihat suaminya masih mengenakan pakaian yang sama saat berangkat di pagi hari.


" Tidak apa-apa, apa Ozzu tidak membuat masalah, ku dengar dari bandara dia langsung kesini?"


Tentu saja Lily terkejut, karena ejekan Ozzu yang menyindir Lily tidak di ajak pesta, sedangkan ternyata pemuda itu langsung kesini terlebih dahulu.


#######

__ADS_1


Jangan lupa, like, komentar dan vote untuk author ya...


komentar kalian penyemangat untuk author..


__ADS_2