POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
POV Pelakor


__ADS_3

Ozzu pergi dari rumah dengan pikiran yang rumit, benarkah dia cemburu? apa mungkin dia memiliki perasaan pada wanita yang kini menjadi ibu tiri nya itu?


Tidak berselang lama setelah kepergian Ozzu, Tuan Sean Pramajha datang. Dahi pria dewasa itu menyerngit saat melihat kehadiran Dokter keluarganya.


'Apa ada yang sakit?' pikirnya


" Selamat siang Tuan Sean" Sapa Dokter Nicko


" Siang, Anda disini?" Tanya Tuan Sean ramah, disertai senyum berwibawa nya


" Iya, menantu Anda pingsan, saya datang untuk memeriksa keadaan nya" Jawab dokter muda itu tersenyum manis


" Menantu?" Beo Tuan Sean tampak bingung


Bi Sum turun dari atas, dan langsung menghampiri mereka


" Tuan, Lily pingsan dan sudah di periksa oleh Dokter" Jelas bi Sum, mengurai kebingungan Tuan Sean. Namun hanya sesaat karena setelah nya mata Tuan Sean tampak begitu terkejut.


" Apa yang terjadi pada Lily bi?"


" Anu Tuan tadi ...


" Natalia menyakitinya lagi?" kali ini suara Tuan Sean sudah terdengar geram, memotong begitu saja ucapan bi Sum.


" Bagaimana keadaan istri ku?" tanya Tuan Sean pada Nicko. Dokter Nicko malah terlihat bingung sekarang


" Nic, bagaimana keadaan istri ku sekarang?"


Kali ini rahang dokter Nicko terbuka dengan tak berwibawa, kaget bercampur heran


Kaget karena ternyata gadis muda didalam itu adalah istri muda Tuan Sean, heran, karena jika itu istri dari Tuan Sean mengapa dia bisa melihat kecemburuan di sikap Ozzu, yang tak lain putra Tuan Sean sendiri.


" Nicko"


" Dia hanya kelelahan, dan juga kepala nya mengalami benturan cukup keras, tapi Anda tidak perlu khawatir, istri Anda pingsan karena terlalu pusing, terlebih juga sempat mimisan. Saya sudah menuliskan resep obat" Jelas Nicko cukup profesional, meski kini hatinya diliputi rasa simpati. Harusnya orang seperti Tuan Sean bisa memisahkan kedua istrinya agar tidak sampai terjadi penganiayaan seperti ini, melihat bekas jambakan di kepala gadis cantik jelita itu jelas menimbulkan iba dan rasa perduli pada Lily yang timbul alami di hati Dokter Nicko.

__ADS_1


Rasanya sulit di percaya saat gadis muda belia itu ternyata istri Tuan Sean, di usia Tuan Sean yang sudah umur, terlihat sangat ganjil jika menikahi gadis muda seumur putra nya, tapi siapa dia yang berhak menilai seseorang?


Tuan Sean langsung naik kekamarnya untuk mencari Lily, yang menurut bi Sum masih belum sadarkan diri. Buru-buru melangkah ke arah ranjang untuk mendekati sang istri yang terbaring lemah. Membuat Yuyun yang menemani Lily menyingkir perlahan dan berpamitan pergi.


" Mas!" Lirih Lily setelah beberapa saat Tuan Sean terus menciumi tangan nya


" Istirahat lagi" Tuan Sean menyapu pipi istri mudanya dengan tatapan bersalah. " Kau menginginkan sesuatu?" Tuan Sean membungkuk untuk mencium sekilas kening istri mudanya


Lily mengeleng.


" Akan ku usir Natalia setelah dia datang!" geram Tuan Sean


Lily buru-buru mengenggam tangan Tuan Sean yang sepertinya hendak berdiri


" Jangan mas!" Lily menengadah hampir seperti memohon agar suaminya tidak melakukan apa-apa pada istri pertamanya


Tuan Sean kembali duduk di bibir ranjang untuk menyentuh pipi Lily yang terasa hangat dan agak lembab.


" Mas tidak boleh menyakiti hati Nyonya Natalia, beliau hanya meluapkan rasa kecewanya pada Lily"


Lily mengeleng, yang membuat Tuan Sean menghela napas berat " Mengapa kamu begitu baik Li?" desah Tuan Sean yang kini ikut menyisip dan berbaring untuk memeluk Istri mudanya,


Istri yang benar-benar masih muda dan sangat ranum, membuat setiap sentuhannya menimbulkan kesan yang mendalam


" Aku akan menghubungi asisten ku untuk menyiapkan rumah untuk mu"


Tuan Sean sudah hendak bangun sudah hendak kembali bangun tetapi Lily langsung membelai rambut di sekitar wajahnya


Bukanya segera menelepon, Tuan Sean justru malah memperhatikan Lily yang berbaring di sampingnya, ia membelai pipi Lily, menelusuri wajahnya yang terdapat beberapa luka lebam, napas Lily terasa hangat dengan mata yang terpejam, rasanya seperti mimpi bagi tuan Sean jika akhir-akhir ini dia begitu ingin terus menguras tenaga, saat di atas ranjang memang sering kali kesenjangan usia bukanlah soal, yang terpenting saling bisa memuaskan. Dan sebagai pria yang selalu menjaga pola hidup, Tuan Sean masih sangat sehat dan mampu untuk menyentuh Lily berkali-kali.


" Aku akan lebih sering mengunjungi mu" bisik Tuan Sean, kali ini Lily ikut membuka matanya


" Harus adil" Dia bukan nya senang justru mengingatkan.


" Mengapa kau begitu sabar?" Tuan Sean begitu takjub dengan kemurahan hati Lily

__ADS_1


" Lily ingin menghapus pandangan orang tentang Pelakor yang perebut suami orang mas"


" Pemikiran publik untuk itu sudah mutlak Li, itu hanya singkatan kata yang artinya sudah kamu ketahui" jelas Tuan Sean


Lily menggembungkan pipinya dengan wajah lucu, mustahil Tuan Sean tidak ingin tersenyum, Lily memang masih sangat muda, terkadang tindakannya masih seperti gadis seusianya, membuat tingkahnya seperti seorang anak, bukan seperti seorang istri.


" Itu tidak boleh kau lakukan saat aku bicara, rasanya aku merasa kau sedang mengolok ku!"


Lily berpaling, kali ini mata Lily terbuka lebar, sepertinya dia pun tidak sadar apa yang sudah dia lakukan


" Lily tidak sengaja" kata gadis itu sambil menggaruk kepalanya sendiri


Mustahil Tuan Sean tidak menyemburkan tawanya, dada pria dewasa itu sampai ikut terguncang, gigi rapinya terlihat bersih dan rapi, dari dulu ketampanan Tuan Sean memang tidak di ragukan, hanya saja untuk sekarang hal itu tersamarkan oleh bulu yang menutupi sebagian besar wajah nya, pria keturunan Turki itu menoel hidung istrinya.


" Aku tidak marah Li"


Lily POV


Mas Sean tertawa dengan suara membuatku sedikit terpaku, suara tawa mas Sean begitu renyah, bagaimana bisa seseorang masih tetap terlihat sangat berwibawa meski hanya sekedar tertawa??


Di cubit nya kecil hidungku, membuatku kembali menatap mas Sean yang sudah meredakan tawanya


" Akan ku berikan apapun untuk mu Li" kata mas Sean.


" Katakan, apa yang kau inginkan?"


" Rumah" rasanya aku ingin mengatakan itu, akan tetapi itu hanya bisa ku ungkapkan dalam hati, mas Sean kembali memeluk ku, mencium ku dengan sayang, ku beranikan diri untuk merapat kepadanya, karena sungguh aku merasa aman di dalam pelukan pria besar ini


" Aku akan benar-benar memberikan apapun yang kau mau, segera aku akan meminta asisten ku untuk mencarikan rumah impian yang pernah kau katakan hari itu, rumah sederhana yang di kelilingi oleh sayur-mayur, buah-buahan dan kolam yang berisi ikan"


Aku terkejut saat mas Sean mengingat dengan lengkap apa yang pernah aku ceritakan tentang rumah yang menjadi impian ku, itu hanya impian ku, aku tidak mengharap mas Sean mewujudkannya, itu terlalu berlebih-lebihan untuk menjadi nyata, dan itu juga sangat mustahil jika aku bisa mewujudkannya.


#######


Like, komentar kalian penyemangat untuk author....

__ADS_1


__ADS_2