POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Lily


__ADS_3

Sosok Lily mungkin berada di luar jarak pandangan Tuan Sean, tetapi tidak pernah sedetikpun keluar dari pikirannya.


Mungkin seiring waktu luka hatinya karena kecewa bisa sembuh, akan tetapi rindunya juga tak kunjung reda dan selalu kambuh ketika mata pria itu membuka.


Bagaimana bisa tuan Sean melupakan Lily yang sosoknya seperti bawang merah, setiap kali dikupas kulitnya adalagi kulit baru, dan begitu seterusnya, kebaikan gadis itu berlapis-lapis, begitu juga tingkat kesabarannya.


Siapapun akan hancur jika merindukan sosok bidadari, termasuk tuan Sean.


Tuan Sean terpaku ketika asistennya mengatakan surat perceraian mereka sudah di urus, hati ingin menghentikan namun bibir tidak mengatakan apa-apa.


" Istri muda tuan juga meninggalkan rumah di hari yang sama tuan pergi!"


Seketika tuan Sean luput, ponsel ditangannya meluncur menghantam lantai. Buru-buru tuan Sean menyambar jasnya yang tersampir di sofa kamarnya dan bergegas secepat mungkin untuk pergi.


Tuan Sean tidak sanggup untuk menyetir, dia memutuskan memesan taksi, tubuhnya sedang bersandar lemas di kursi mobil yang membawanya, tuan Sean tidak menyangka Lily memilih pergi sekali lagi.


Di waktu yang sama Lily sedang berada di pasar tradisional tempatnya melarikan diri, bahkan Lily belum tau dia berada di desa apa, tapi yang jelas desa ini masih begitu asri banyak perkebunan teh dan bunga melati disana.


Meski rumah penduduk jarang-jarang tetapi ini tempat yang cukup ramai dan pas untuk menenangkan hati seperti dirinya.


Lily masih mengingat bahwa dia naik kendaraan umum dua kali untuk sampai disini, turun di halte dan kehujanan, ada Ibu-Ibu yang sedang kerepotan bawa belanjaan membuatnya ikut turun dan berniat membantu karena sedang hujan, tidak menyangka dia malah di beri pekerjaan oleh Ibu tersebut.


Lily tidak punya tujuan dan dia bisa bekerja apa saja, jadi dia terima dengan senang hati, meskipun banyak diantara warga yang melihatnya penuh kekaguman tetapi Lily merasa biasa saja, banyak yang mengira Lily keturunan bule, dan Lily tidak mengiyakan ataupun mengelak, terserah pendapat orang.


"Waduh kok tumben pesanan di desa sebrang minta di antar !"


" Di desa dekat pos kamling jembatan pertama dari sini Bu?" Tanya Lily yang ikut menyimak.


" Iya malam lagi Li, apa Ibu tolak saja ya?"


" Nanti biar Lily yang antar Bu" ujar Lily menawarkan diri.


" Ndak usah, warung rame dari tadi pasti kamu capek!"


" Enggak kok Bu!" Lily memang ingin mengisi waktunya untuk menyibukkan diri agar tidak selalu terpuruk dalam kehampaan.


" Sejak ada kamu, warung makan Ibu jadi banjir orderan" Ibu wanti begitu bersyukur dan sangat berterimakasih kepada Lily.


" Ya sudah, kamu istirahat dulu, nanti biar ibu siapkan nasinya 25 bungkus, ini orderan untuk makan malam kayaknya, biasa sudah waktunya panen kebun dijagain biar ngak di arit orang"


" Iya Bu!" jawab Lily yang ikut masuk kedalam rumah.


Pas azan magrib tuan Sean tiba di kediaman nya bersama Lily. Rahangnya mengeras saat Ozzu-lah yang membukakan pintu untuk nya.

__ADS_1


" Papa!" Ozzu senang Papanya pulang dia ingin meraih tangan Papanya tetapi tuan Sean lebih dulu masuk kedalam rumah.


Ternyata tidak hanya Ozzu, bahkan orang tuanya dan mertuanya juga berada di rumahnya.


" Kenapa kalian semua berada di sini?"


Mata tuan Sean menyipit melihat istrinya keluar dari kamar tamu dengan sebuah kursi roda.


' Drama apalagi ini ' batin tuan Sean yang sudah berkali-kali di tipu.


" Ini" belum sempat melangkahkan kakinya menuju tangga, Ozzu menyodorkan sesuatu yang dia kenali. Itu ponsel Lily.


Tuan Sean menatap nanar benda-benda yang Ozzu berikan. 'Apakah Lily benar-benar pergi?'


[ Assalamualaikum..


Mas Sean, maaf tidak bisa menerima apa yang mas Sean berikan untuk Lily, Aku tidak ingin tamak dengan membawa semuanya, Lily membawa hal paling berharga yang sudah sangat cukup untuk Lily. Lily membawa cinta mas Sean. Tolong izinkan Lily mengenang kebersamaan kita selamanya.. Salam dari wanita yang akan menjadi masalalu mu.


Wassalamu'alaikum.]


Tubuh tuan Sean merosot.


" Aku sudah mencarinya kemana-mana tetapi belum juga menemukannya, kami baru tau Lily pergi pagi hari ketika menunggu Papa sarapan!" Ozzu menjelaskan pada Papanya, tampak sekali pemuda itu sedang mengiba pada Papanya, Ozzu sedang ingin meminta maaf, tetapi tuan Sean sama sekali tidak menatapnya barang sejenak.


Tuan Sean tidak mengatakan apapun, selain bergegas cepat naik keatas.


Semua melihat kehancuran hati seorang suami sekaligus seorang Ayah dari anak laki-laki. Siapapun tau pria itu sedang berada di titik luka paling dalam.


Dan sekali lagi yang paling merasa bersalah adalah Ozzu.


Air mata Ozzu jatuh, namun buru-buru di hapus sebelum ada yang melihat, namun semua jelas melihat itu, termasuk nyonya Natalia yang ikut menyesali semua perbuatannya.


Lily sudah mengantarkan makanan di kampung yang dimaksud, sangat di sayangkan ban motornya kempes hingga dia sedikit kemalaman.


" Sendiri neng?" tanya mang bengkelnya saat Lily sudah membayar ongkos tambal ban nya.


" Iya Pak!"


" Hati-hati, di pos depan agak laju ya neng, banyak anak muda nongkrong takut di ganggu!"


Lily tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Lily mulai menstater motor metik nya dan mulai menjalankannya pelan-pelan, maklum jalan di desa ini agak berbatu jadi tidak bisa membawa kendaraan laju- laju apalagi hari sudah gelap takut ada pejalan kaki atau betuan yang bisa membuat roda motor tergelincir.

__ADS_1


Sampai di pos yang dipenuhi anak muda Lily bersyukur karena tidak mendapat gangguan sama sekali, tetapi saat beberapa saat dia menyadari ada dua motor yang mengikutinya dari belakang, Lily sudah memacu motornya dengan agak cepat tetapi sepertinya mereka yang membuntuti nya lebih hapal jalanan yang Lily lewati, motor Lily di jegat dua buah motor. Ternyata para pemuda itu bergonceng tiga, enam orang menghampiri Lily yang masih duduk di atas motor karena baru saja mengerem mendadak.


" Cantiknya oeee..." teriak salah satu pemuda yang membuat Lily waspada.


" Ini-ni yang jadi kembang desa kampung sebelah!" ungkap yang lainnya.


" Tolong jangan ganggu saya, saya harus segera pulang!" ucap Lily yang mencoba menepis tangan pria yang ingin memegangnya.


" Jangan buru-buru manis, kita bersenang-senang dulu, nanti kami antarkan pulang!"


" Tidak!" tolak Lily tegas.


" Jangan buat kami bermain kasar!" bentak salah satu pemuda yang seumuran dengan Lily.


" Aku akan teriak!" ancam Lily.


Keenam nya kompak tertawa


" Teriak lah...siapa yang akan mendengar mu!" tawa mereka semakin keras


Tangan Lily terus menepis tangan lancang mereka-mereka, karena kalah jumlah mereka berhasil menarik kunci motor Lily.


Lily di seret di pinggir jalan bersemak, seperti nasib buruk, alam pun tak memihak Lily, hujan mulai turun tanpa di undang.


Baju Lily di sayat dengan tanpa perasaan, dibawah guyuran hujan Lily memberontak dengan sekuat tenaga tetapi beberapa dari mereka sudah terlanjur berbuat lancang.


Lily menangis sesenggukan, dengan menendang-nendang pria yang akan menarik celana Levis yang ia kenakan, tetapi lagi-lagi jumlah mereka yang banyak membuat Lily kwalahan.


Bibirnya juga sudah di bekap, tangannya sudah di jerat begitupun kedua pahanya yang di tindih dua laki-laki sekaligus, Lily sudah hampir menyerah saat tangan pemuda lainnya lancang menggerayangi tubuhnya, Lily hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah. Lily sudah putus asa, namun tiba-tiba cahaya lampu mobil terlihat membuat para pemuda mencoba membawa tubuh Lily semakin masuk kedalam semak, tetapi ternyata mobil itu berhenti dan membuat para pemuda itu mulai panik.


" Tolong!!!!" Lily berusaha berteriak meskipun bibirnya di bungkam


" Woee!" Seorang pria turun dari mobil dan memukuli satu persatu pemuda yang sudah melecehkan Lily, badan pria itu tinggi besar, di tambah aura kejantanannya yang semakin membuat pria itu berkarisma.


Para pemuda itu mulai panik dan segera kabur satu persatu, karena ternyata pria itu pandai berkelahi, Lily tidak mampu melihat dengan jelas siapa yang membantunya, tetapi wangi parfumnya terasa familiar.


Pria itu segera menghampiri tubuh Lily yang sudah berantakan, saat lelaki itu melepas jas nya dan mengulurkan pada Lily, baru saat itu keduanya saling berpandangan.


" Lily....


######


Cerita aja. Author lanjutan jika banyak like dan komentar... sebenarnya jujur nih reader, Novel ini adalah novel author yang paling sedikit like nya, jadinya author sering berpikir berhenti saja dan bikin novel baru lainnya....

__ADS_1


Hehe cuma ini sudah tamat di imajinasi, sayang kalo ngak lanjut.


__ADS_2