POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Keputusan


__ADS_3

Satu Minggu berlalu saat Lily sedang berjongkok di depan Lyga untuk pamit pergi mengunjungi Nyonya Valeria.


" Jaga kesehatan disana" Pesan nyonya Lubis.


" Hubungi Aku jika sudah sampai!" Laki-laki yang bernama Regan ikut membuka suara.


Sejak pertemuannya satu Minggu yang lalu, Regan terang-terangan menunjukkan adanya ketertarikan pada Lily, meski Lily menyadari itu, tetapi Lily tidak begitu saja ingin menjalin hubungan dengan seorang pria, khususnya saat ini karena hatinya masih utuh milik tuan Sean.


Setelah mencium kedua pipi putrinya Lily segera menyeret kopernya dan satu tangannya mengandeng tangan Alfaaro.


Lily baru akan memasuki ruang tunggu, saat kepanikan terjadi ketika tiba-tiba Lyga kejang.


" Ya Tuhan..." Regan berlari mengejar Lily dengan panik, Petugas bandara sempat menghadang nya, Regan menunjukkan seorang anak kecil kejang dipelukan nyonya Lubis.


Pada akhirnya Lily benar-benar membatalkan kepergiannya.


Akibatnya Lily mendapat makian kekecewaan dari Ozzu yang sudah merasa di permainan oleh Lily, mereka semua sudah mempersiapkan kedatangan Lily, tetapi tiba-tiba Lily dengan mudahnya berkata penerbangannya batal.


Lily menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Regan membawa Alfaaro untuk duduk di samping Lily.


" Apa yang terjadi dengan Lyga, Al.?"


Sudah tiga jam lamanya Lily menunggu hasil lab pemeriksaan medis Lyga.


Regan tampak ragu mengatakan, terlihat dari beberapa kali dirinya buka tutup bibir.


" Reee.." tuntut Lily.


" Lyga mengidap Anemia"


Air mata Lily tumpah, cobaan apalagi ini?


Regan menatap prihatin wanita yang duduk di sampingnya, sebagai seorang dokter Regan tau penyakit anemia memang bisa sembuh, tetapi untuk kasus anak-anak biasanya sedikit lebih sulit, usia Lyga baru lebih lima tahun, anak seumurannya masih belum bisa mengenali kondisi tubuhnya, tidak paham dengan rasa lelahnya, cenderung aktif meski sebenarnya kondisi tubuhnya tidak mampu.


Sejak awal bertemu dengan Lyga sebenarnya Regan cukup curiga dengan kesehatan putri Lily, gadis kecil itu wajahnya putih pucat, tetapi melihat Lily yang memiliki warna kulit demikian akhirnya Regan pikir itu gen.


" Beberapa hari terakhir Lyga memang sudah makan!" Lirih Lily yang meremas jari-jari tangannya.


" Kupikir, itu karena dirinya sedih karena aku tidak bisa membawanya ikut ke Indonesia!"


" Belum terlambat, masih banyak jalan untuk Lyga sembuh, kita bisa lakukan transfusi darah dan kemoterapi"


Perih hati Lily mendengar ucapan Regan, putrinya yang masih kecil harus menghadapi sakit seperti ini.


Akhirnya Lily justru melupakan tujuannya untuk pulang ke Indonesia.

__ADS_1


Di Indonesia nyonya Valeria menangisi foto mendiang tuan Sean, merasa sakit hati pada Lily yang seolah melupakannya, sudah satu bulan sejak Lily membohonginya akan datang, sampai sekarang tidak ada kabar lagi dari menantunya itu.


" Bahkan istri mu sudah tidak mau perduli dengan kerinduan Mama pada putramu Sean!" Tangis nyonya Valeria mengadukan kekecewaan hatinya pada Lily.


Ozzu dan Romania hanya mampu menatap sendu Omanya yang menangis, bahkan sampai sekarang pun mereka belum diberi kepercayaan lagi untuk memiliki calon anak.


Ozzu menatap foto pernikahan Papa nya dan Lily dengan tatapan kecewa.


" Kau melupakan kami karena sudah memiliki kehidupan barukah?" tanya Ozzu pada potret Lily.


Masalahnya Ozzu juga tidak bisa meninggalkan Omanya untuk menyusul Lily, sudah beberapa kali menghubungi nyonya Lubis tetapi wanita itu bilang Lily sudah tidak tinggal bersamanya dan tidak tau kemana wanita itu pergi membawa saudaranya.


" Apa Lily masih belum bisa di hubungi?" Tanya Udgam yang ikut duduk di samping nyonya Valeria. Lagi-lagi karena banyak pikiran nyonya Valeria harus masuk kerumah sakit karena tekanan darahnya.


Ozzu hanya mengeleng melihat kearah Omanya.


" Lily sangat keterlaluan!" geram Ozzu.


Udgam juga berpikir demikian, apa susahnya sekedar berkunjung, biarpun suaminya sudah tidak ada Lily tidak seharusnya memutuskan hubungan keluarga.


Sementara di belahan bumi lainnya Lily sedang menangis di pelukan Regan.


Sudah dua bulan Lyga menjalani perawatan, setiap hari Lyga semakin kehilangan berat tubuhnya. Wajah Lyga tampak tirus tanpa sehelai rambut pun di kepalanya.


Hati Lily hancur melihat keadaan putrinya.


" Tidak ada cara lain Li, kamu harus meminta bantuan pada Ayah Lyga!"


Suara Regan membuat Lily memejamkan matanya rapat.


" Demi putrimu" tekan Regan, yang membuat air mata Lily kembali tumpah.


Regan dan nyonya Lubis sudah melakukan banyak hal untuk mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang untuk Lyga, tetapi hingga kini mereka tidak mendapatkan pendonor yang cocok. Saat ini harapan hidup Lyga adalah Udgam.


Tetapi jika Lily datang kepada Udgam, itu berarti rahasia yang selama ini Lily tutup rapat akan terbongkar.


Tuhaaaaaan...


Lily menangis frustasi.


Lily menyalakan ponselnya yang sengaja dimatikan beberapa waktu lalu. Begitu ponselnya menyala berbagai pesan menyudutkan dari Ozzu memenuhi pesan WhatsApp nya.


[" Wanita pembohong, karena mu, Oma kembali terkena serangan darah tinggi."]


Lily membaca pesan yang baru dikirim oleh Ozzu.


Lily sudah hancur tambah hancur.

__ADS_1


" Pergilah...Aku akan menjaga Lyga" tutur Regan lembut.


" Ree..Aku.."


" Bawa Alfaaro bersamamu, jujurlah pada mereka, apa yang terjadi sudah menjadi takdir yang sudah digariskan untuk mu"


Lily memeluk Regan dengan perasaan bersyukur, selama Lyga sakit, Regan begitu banyak membantunya, pria berprofesi sebagai seorang dokter gigi itu terus mensupport nya tidak hanya dengan tenaga tetapi pria itu selalu siaga kapanpun Lily butuh bantuan. Bahkan sudah seperti suami yang menjaga istri dan anaknya yang sedang sakit hingga Regan rela tidak pulang.


Malam itu Lily menghubungi Ozzu, mengabarkan jika dia akan pulang, Ozzu segera mengalihkan panggilan nya menjadi pangilan Video.


Lily mengangkat nya.


Saat Ozzu ingin memakinya saat itu Ozzu urungkan saat menatap wajah sembab Lily di layar ponselnya.


" Aku terbang besok" ucap Lily dengan bibir bergetar.


" Li. Apa kau baik-baik saja?"


Ozzu urung memaki Lily karena melihat Lily yang terlihat habis menangis. Bahkan sedang menangis.


" Iya!" Jawab Lily yang ikut menatap nanar Ozzu.


" Li.."


" Aku rindu mas Sean Ozzu, aku rindu Papamu" ucap Lily terisak dengan air mata yang berjatuhan.


Ozzu tidak mengira jika Lily masih mengingat Papa nya, Ozzu pikir Lily sudah menemukan seseorang yang baru sehingga melupakan mereka Keluarga dari suaminya.


" Kalau begitu pulanglah, kau belum berziarah ke makam Papa!" tutur Ozzu yang lupa dengan amarahnya.


Ozzu menyerngit mendengar suara monitor yang di pasang di tubuh Lyga.


" Kau berada di rumah sakit?" tanya Ozzu. Rasa kesal Ozzu pada Lily berubah menjadi rasa khawatir.


" Li, kau sakit?"


" Besok aku mengatakannya" Ucap Lily menatap Ozzu masih dengan mata basah.


" Kau ingin bicara dengan Oma?" tanya Ozzu.


" Besok saja!" lirih Lily menyusut cairan yang mengalir dari hidungnya.


" Istirahatlah, tidak apa jika kamu tidak pulang besok jika kondisi mu tidak memungkinkan!" Akhirnya Ozzu justru menasehati Lily.


" Aku akan tetap pulang besok!"


########

__ADS_1


Minta komentar nya boleh???


__ADS_2