POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Ingin menetap


__ADS_3

Ozzu meraih tangan Lily dan mencium punggung tangan nya dengan sikap hormat. Lily sangat layak untuk dihormati, cinta dan ketulusan Lily pada Papanya lah yang justru membuat Ozzu semakin mengagumi wanita itu. Ozzu sanggup mengubur perasaannya dalam-dalam demi kebahagiaan sang Papa.


Ozzu menikah dengan pujaan hatinya setelah Romania selesai mengucapkan dua kalimat syahadat, pernikahan di gelar di kediaman utama tuan Sean, rumah kenangannya bersama nyonya Natalia.


" Terimakasih sudah membersamainya Lily!" ujar Ozzu menatap dua lelaki beda generasi tengah tertidur di ruang bermain.


" Aku akan menetap di Indonesia akhir tahun ini setelah segalanya selesai ku urus!" ujar Ozzu tidak mengalihkan pandangannya pada Papa dan adik laki-lakinya.


" Papamu akan sangat senang mendengar nya." Lily ikut menatap wajah damai suaminya yang sedang terlelap memeluk putra mereka yang berusia dua tahun.


" Kapan bocah itu bangun?"


" Mungkin sebentar lagi, mengapa kau pulang sendirian?" Tanya Lily pada Ozzu yang tidak biasanya pulang seorang diri semenjak setahun lalu menikah.


Pemuda itu terlihat tersipu malu.


"Sebenarnya aku datang untuk menyampaikan kabar gembira untuk kalian."


Lily ikut menyimak dengan antusias.


" Sebenarnya.. Romania sedang mengandung, itu mengapa aku berencana untuk kembali dan menetap untuk berdekatan dengan kalian"


Lily ikut mendekap bibirnya takjub.


" Alhamdulillah!" Serunya tak kalah bahagianya.


Ozzu tersenyum penuh haru melihat reaksi Lily, Lily memang masih sangat muda tetapi dia tetap bisa menjadi Ibu sambung yang baik untuk nya.


Malam itu Lily sedang bersama tuan Sean ketika gemuruh tawa dari Ozzu dan Alfaaro terdengar begitu riuh.


Ozzu memang benar-benar menyayangi adiknya, bahkan sangking sayangnya Ozzu sering kali berdebat dan main kucing-kucingan dengan sang Papa untuk membelikan es krim diam-diam pada sang adik. Saat menikah dengan Romania, Ozzu Pindah ke Jerman, membersamai istrinya yang menyelesaikan pendidikannya.


"Berbaringlah Mas, aku ingin memijit punggung mu!" bisik Lily membujuk suaminya.


Lily membuka tutup botol minyak untuk memijit punggung suaminya, tuan Sean berbaring tengkurap untuk menikmati pijitan sang istri.


Lily baru datang dua hari yang lalu dari Paris, kontrak kerjanya memang sudah selesai, tetapi Lily masih aktif mengunjungi nyonya Lubis.


Setelah cukup lama menikmati pijatan tangan istrinya tuan Sean berbaring terlentang.


Lily tersenyum dan menunduk untuk mencium hidung mancung tuan Sean.

__ADS_1


" Berbaringlah."


Lily menuruti perintah Suaminya, membiarkan pria itu menurunkan bahu gaun tidurnya. Ketika semakin banyak melalui waktu bersama, keintiman suami istri bukan lagi sekedar kebutuhan fisik yang ingin di satukan tapi lebih seperti satu tubuh yang sudah melebur seperti tarikan napas dan detak jantung, hidup dalam satu fisik dan nyawa.


" Putra kita sudah besar, jangan terus mengendongnya mas!" ucap Lily sambil mulai memijat lengan suaminya, setelah sedikit dibalur minyak pijat.


" Aku masih sanggup kalau hanya mengendong Alfaaro, Li. Tetapi sudah tidak mampu jika mau mengendong Mamanya" Canda tuan Sean sambil mencubit lembut pipi istrinya.


" Kau adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku, Terimakasih untuk semuanya dan jangan bersedih untuk apapun, meskipun nanti aku sudah tidak bersama kalian."


Tuan Sean mengenggam tangan Lily dengan erat.


" Kau tidak hanya membuatku kembali merasakan menjadi seorang Ayah, tetapi kau juga memberiku cinta dan pengabdian mu, itu suatu kebahagiaan yang tak terhingga untuk ku, Li."


Terlalu mudah mendapatkan orang yang mencintai di saat tubuh masih bugar dan sehat, tapi tidak akan mudah untuk menemukan orang yang tetap mencintai di saat kondisi tidak sempurna lagi.


" Mas Sean kok ngomong gitu..Mas buat Lily takut!" jujur Lily, mencium kedua mata suaminya yang terpejam.


" Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" pancing tuan Sean.


" Apa, Mas?" Lirih Lily.


" Apa kau tersinggung jika aku menanyakan tentang masa lalu mu?" tuan Sean menatap Lily dengan seksama.


Lily mengeleng.


Tuan Sean menyentuh sudut bibir istrinya.


" Siapa nama pria yang dulu pernah menikahi mu?" Tanya tuan Sean pelan.


" Mas!" Lily terlihat sangat keberatan dengan pembahasan yang dibahas suaminya.


Tuan Sean mengangguk mengerti.


" Oke, jika kamu tidak ingin aku menanyakan itu, tetapi tolong jawab pertanyaan ku yang satu ini, siapa gadis kecil yang bernama Lyga?"


Seketika tubuh Lily menegang, sorot matanya tampak nanar, bibirnya sedikit bergetar dengan rona wajah yang pudar.


Tuan Sean menangkup kedua pipi Lily kemudian mencium lembut bibirnya.


" Tolong, beri aku kejujuran mu, Li. Aku tidak akan marah, aku justru akan merasa lega, apapun jawaban mu nantinya asal jujur!"

__ADS_1


Tuan Sean terbatuk-batuk dan Lily langsung merengkuh tubuh suaminya.


" Maafkan aku Mas!" Lily menangis di pelukan tuan Sean.


Respon istri nya membuat tuan Sean semakin merasa bersalah, benarkah selama ini Lily memiliki buah hati yang rela wanita itu tinggalkan demi dirinya?.


Setelah tangis Lily reda, tuan Sean mencium kening istrinya dengan tarikan napas dalam.


" Apa Lyga putrimu?" tanya tuan Sean sekali lagi.


Lily menatap pria dewasa itu dengan pandangan nanar, sebelum akhirnya mengangguk.


Dada tuan Sean seperti tertumbuk batu besar, menyadari seberapa besar pengorbanan Lily untuk nya.


Pantas saja, nyonya Lubis tau seberapa bahaya jika Lily dua tahun lalu memaksakan melahirkan normal.


" Kenapa kau sama sekali tidak pernah bercerita, apa kau akan tetap berbohong kepadaku hingga akhir Li?"


Lily mengeleng kuat, Lily tidak ingin membohongi siapapun, tetapi untuk membawa putrinya ke Indonesia bukanlah hal yang tepat.


" Bawalah putri mu kesini, aku akan memberikan namaku untuk nya, dia juga putriku!" tutur tuan Sean.


" Lyga sudah diadopsi Nyonya Lubis sejak bayi mas, Lily tidak ada hak sama sekali" Lily tidak bisa membawa putrinya, dengan alasan apapun.


Tuan Sean mendesah panjang.


" Apa mantan suamimu tau jika anak kalian di adopsi?"


Lily hanya menatap suaminya , tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.


Baru dua bulan belakangan ini kesehatan tuan Sean mulai menurun, mungkin karena dia sangat bahagia hingga tidak merasakan sakit yang berarti ketika tumor yang kembali tumbuh di kepalanya itu kembali merenggut kesadarannya pelan-pelan. Tuan Sean tidak mau di rawat, dia ingin berada di samping istri dan anak-anaknya. Tuan Sean ingin pergi dalam pelukan istri yang sangat dicintai dan sudah begitu sabar mencintainya tanpa henti dalam kondisi apapun.


" Mas Sean percaya jika Lily bilang mencintai mas?" tanya Lily yang dijawab anggukan mantap dari suaminya.


" Maka, aku hanya ingin mas tau hal itu saja, aku tidak ingin mas ikut sedih mengintip masa lalu ku, cukup aku yang merasakan, aku hanya ingin membagi kebahagiaan ku saja bersama mas, luka itu sudah sembuh sejak ikrar kedua mas lakukan!"


Mustahil jika tuan Sean tidak ingin panjang umur dicintai begitu besar oleh istrinya yang cantik dan masih muda belia.


#######


Apa sudah boleh end??

__ADS_1


__ADS_2