POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Bicara


__ADS_3

Mas Sean menatapku yang hanya memakai jubah mandi dengan rambut yang bahkan masih menetes, jujur aku terlena hingga lupa waktu, terlalu penuh pikiranku hingga aku sadar saat tubuhku sudah menggigil kedinginan.


Aku juga tidak tau ini pukul berapa, yang ku tau jika mas Sean sudah dirumah itu berarti hari sudah cukup larut, karena beberapa hari ini mas Sean begitu sibuk


Jujur aku terlalu takut dengan apa yang hendak ku beritahukan kepada mas Sean soal perilaku Ozzu, ini menyangkut kepercayaan seorang Papa pada putranya, namun ini juga tidak bisa ku simpan seorang diri


" Hai" Mas Sean berdiri dihadapan ku , aku yang masih sedikit terkejut merasa cemas dan gugup


" Kau habis menangis Li?" Tanya mas Sean yang tiba-tiba menunduk untuk sekedar memperhatikan wajah ku. Aku jadi tambah gugup untuk menjawab pertanyaan mas Sean.


" Apa yang terjadi pada bibir mu Li?"


Ya Allah....satu pertanyaan saja belum mampu ku jawab mas Sean sudah menanyakan pertanyaan lainya.


Aku tidak salah kan jika memilih jujur?, sumpah demi apapun sebenarnya aku tidak ingin menciptakan jarak untuk seorang anak dengan Papanya, tapi hal ini begitu berat untuk ku tanggung sendirian.


" Mas ini.....


Aku tidak jadi bicara saat dering ponsel mas Sean terdengar.


" Sebentar, sekretaris ku telepon" Mas Sean sedikit menjauh dari ku dan segera membawa benda pipih itu ke telinga nya.


Perasaan ku tidak karuan, takut, cemas, sedih bahkan nelangsa saat ini, mengapa aku harus berada di posisi yang serba sulit seperti ini????


Jika aku memilih jujur otomatis hubungan mas Sean dan Ozzu akan bermasalah, jika aku bungkam, aku takut nasib baik tak lagi memihak ku lain waktu dan aku benar-benar akan menodai kepercayaan mas Sean, tapi apakah jika aku jujur mas Sean akan percaya?


Ya Allah......ku genggam kuat-kuat simpul jubah mandi yang ku kenakan, saat ini aku seperti terdakwa kasus yang menunggu sebuah penghakiman, kenapa harus ada perasaan seperti ini?, mengapa Ozzu harus menginginkan aku yang sudah menjadi istri Papanya?


" Li"


Mas Sean tiba-tiba memelukku, ternyata mas Sean sudah selesai dengan urusan nya


" Rasanya kepalaku mau pecah hari ini, menjadi orang tua pemuda yang beranjak dewasa ternyata cukup sulit. " mas Sean terdengar menghela napas dalam-dalam " kau tau... Ozzu meninggalkan pesta dengan keadaan mabuk, membuat teman-teman nya sibuk menghubungi ku, dari kantor aku langsung bergegas kerumah Natalia dan sampai sana jangankan Ozzu, bahkan Mama nya pun tidak ada" mas Sean meletakkan kepalanya di bahuku


" Aku lelah Li, aku butuh istirahat dan aku ingin tidur memeluk mu" aku sedih mendengar keluh kesah mas Sean, apa mas Sean se lelah itu?


Mas Sean memang terlihat begitu lelah, bahkan beberapa kali menutup bibirnya yang ingin menguap, jika aku tetap memaksa bercerita malam ini ku pastikan mas Sean akan batal beristirahat, itu berarti aku akan menjadi istri yang egois.


" Kenapa dengan bibir ini, hmmmm? jangan buat aku khawatir Li, aku ingin tidur nyenyak malam ini tidak ingin terus memikirkan banyak masalah"

__ADS_1


Tuan Sean PoV


Hari ini benar-benar membuatku sangat lelah, menjelang akhir tahun pekerjaan kantor memang sangat padat, apalagi beberapa hari ini orang kepercayaan ku sedang ada masalah mendesak dan harus izin beberapa hari


Tidak hanya masalah kantor sebenarnya, masalah Natalia juga terus saja membuatku semakin banyak pikiran, istri pertamaku itu tidak berhenti untuk terus meminta uang, jika dulu aku terus membiarkannya karena itu ku anggap sebagai pelampiasan kekesalan nya karena aku yang tak pernah memberikan hak nya, tapi untuk saat ini aku sudah menafkahinya lahir - batin, dan nafkah lahir yang kuberikan juga dengan jumlah yang cukup besar.


Bukanya terlalu perhitungan, namun semakin lama kupikir sikap Natalia semakin tidak terkontrol, bahkan setiap bulan nya asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya berganti-ganti, Natalia terlalu tempramental dan sewenang-wenang sikap yang sudah ada sejak dulu sebenarnya, namun karena kecintaan ku membuatku menutup mata untuk hal se gula itu dulu


Tidak hanya itu, semakin dewasa putraku juga semakin sering berbuat ulah, kerap kali berpindah-pindah jurusan yang pada akhirnya hanya menghabiskan waktu dan juga uang, entah mau sampai kapan aku terus pusing memikirkan mereka, aku bersyukur sekarang ada Lily yang bisa menjadi tempat ku berkeluh kesah, rasanya sedikit aneh karena dia jauh lebih lebih muda dariku, hanya aku butuh seseorang yang bisa ku jadikan tempat mengadu dan Lily adalah gadis yang tepat menurut ku, dia bisa melihat situasi dan tidak bicara jika memang aku tidak tanya pendapat saat aku sedang berkeluh kesah, benar-benar hanya sebagai pendengar, menatapnya saja sudah menyusut lelahku, kelembutannya juga membuat aku selalu rindu pulang ingin meringkuk memeluknya seperti seorang anak, aneh memang. Tapi aku benar-benar merasa seperti itu.


Entah mengapa aku selalu nyaman berada di sisinya, hal yang dulu ku pikir tak lagi ku perlukan. Lily hadir memberi warna di hidupku yang begitu suram, meramaikan kehidupan ku yang kesepian


Harusnya aku tidak boleh menjeratnya seperti ini, namun aku bisa apa? rasa yang ku pikir sudah tidak akan lagi tumbuh di hatiku justru menyeruak hingga ke pori-pori, aku benar-benar menginginkannya, jika kemarin-kemarin rasanya aku hanya ingin Lily memberiku seorang anak saja cukup, dan akan kulepaskan setelah nya, tapi sekarang rasanya itu sangat menyakitkan jika ku bayangkan, karena ternyata aku benar-benar terikat dengan istri muda ku.


" Jangan khawatir mas, ini hanya tergigit saat Lily makan tadi" suaranya yang merdu membuatku tersenyum, udah dua kali bibir indah itu terluka, rasanya sangat di sayangkan jika hal yang ku suka, terluka, tetapi untuk saat ini aku benar-benar ingin beristirahat sehingga tidak ingin terus menasehati istri belia ku.


Ku tarik istri kecilku yang hanya memakai jubah mandi, tidak perduli rambutnya yang masih tampak basah, aku sudah sangat lelah dan ingin segera memeluknya


" Selamat tidur mas, mohon ridho nya apa yang sudah mas berikan pada Lily dari ujung rambut hingga ujung kaki"


Suara pengantar tidur yang selalu membuat tidur ku nyenyak saat bersama nya.


********


Tuan Sean langsung terlelap, sementara Lily keluar dari kamar untuk memastikan pintu depan sudah di kunci


Saat keluar dari kamar, bertepatan dengan Ozzu yang ternyata juga keluar dari kamar sebelahnya, Lily merasa terkejut saat menatap Ozzu, namun dia mencoba terlihat baik-baik saja.


Ozzu menatap Lily dengan ekor matanya.


" Kau mengatakannya pada Papaku?" tanya Ozzu langsung tanpa basa-basi. " Katakan saja, aku sama sekali tidak takut"


Ozzu tampak normal berbeda dengan saat pertama kali masuk kedalam rumah


Suara tawa Ozzu membuat Lily waspada


" Aku sama sekali tidak minum alkohol" ujarnya menatap Lily penuh permusuhan.


" Ozzu ada yang ingin ku katakan padamu"

__ADS_1


Melihat keseriusan di mata Lily membuat Ozzu mengikuti langkah Lily


" Harus aku duduk?" Tanya Ozzu


" Apa yang membuatmu nyaman saja" jawab Lily


" Apa yang ingin kau katakan?" tanya Ozzu menatap Lily


" Ini tentang siapa aku yang sebenarnya"


"Apa hubungannya dengan ku?"


" Kau harus tau, karena ini berhubungan dengan Papamu"


" Katakanlah!" pinta Ozzu


" Ozzu apa yang kamu ketahui tentang kemiskinan?" Tanya Lily menatap tepat di mata putra suaminya.


" Apa aku sedang ujian?"


Lily berdiri dan itu langsung membuat Ozzu pun ikut berdiri


" Kurasa tidak akan ada gunanya aku mengatakan nya padamu" kesal Lily.


" Kau marah karena aku tak menjawab pertanyaan gila mu?...Okeee aku jawab" Ozzu langsung menghempaskan tubuhnya dan di susul Lily "Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata miskin adalah tidak berharta. Arti lainnya dari miskin adalah serba kekurangan, Kamu puas??"


Lily tersenyum kemudian menghapus air matanya yang juga ikut luruh, hampir satu jam Lily bicara dari hati kehati dengan Ozzu, menceritakan segala hal tentang masa lalunya sebelum bertemu dengan tuan Sean.


" Karena Papamu tidak mau masuk ke gubuk deritaku, maka untuk pertama kalinya aku bisa duduk di rumah makan yang besar, bahkan aku makan gratis" ucap Lily yang di sertai candaan kecil.


" Kau tau Zu, jika pria pertama yang ku temui itu kamu, mungkin aku juga akan menawarkan hal yang sama yang pernah ku tawarkan pada Papamu, tapi ini semua sudah diatur bukan, mengapa aku bertemu dengan Papamu lebih dulu itu sebuah takdir"


Ozzu menatap ketegaran Lily


" Aku akan pergi Ozzu, jika perlu saat ini juga, aku tidak ingin menjadi sebab anak dan Papa bertengkar" Lily berkata demikian dengan perasaan yang terasa remuk, apakah sanggup dia benar-benar pergi.


" Apa kau mencintai Papaku?"


######

__ADS_1


Author selalu minta like dan komentar kalian untuk penyemangat .


happy reading...


__ADS_2